Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 09


__ADS_3

"Assalamualaikum," salam Rifky setelah sampai di rumah. Dia baru saja pulang dari kantor dan akan langsung pergi ke surau untuk mengajar ngaji.


"Wa'alaikumussalam," jawab Naira dan Bi Ira bersamaan.


Naira menyalami punggung tangan Rifky dan menyambut kepulangannya dengan hangat. Sedangkan Rifky mencium kening Naira sayang.


"Mas, mandi dulu, ya. Aku mau bikin kopi buat Mas," ucap Naira tersenyum.


"Iya, hati-hati," ujar Rifky memperingatkan Naira.


Naira mengangguk dan segera pergi ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Sebagai istri, Naira harus berbakti pada suami.


Sepuluh menit sudah Rifky menyelesaikan ritual mandinya, dia sudah siap dengan baju kokonya serta peci hitam yang bertengger di kepalanya, sangat tampan!


"Ini kopinya, Mas." Naira menyerakan secangkir kopi pada Rifky dan langsung di terimanya.


"Enak. Benaran kamu yang buat?" tanya Rifky sambil tersenyum ke arah istrinya.


"Hehe, diajarin Bi Ira," jawab Naira nyengir.


Rifky tersenyum dan mengelus pucuk kepala istrinya itu.


"Kamu siap-siap sana, kita berangkat ngaji!" titah Rifky yang langsung diangguki oleh Naira.


Rifky mengahabiskan kopinya sembari menunggu Naira turun. Tak lama kemudian, Naira sudah menampakkan diri dengan baju syar'inya dan tersenyum pada Rifky. Benar-benar cantik! Sampai Rifky tak berhenti menatapnya.


"Mas," panggil Naira pelan.


"Iya," jawab Rifky tersadar dari lamunannya, lalu menampilkan sebuah senyuman pada Naira.


"Udah ngopinya?" tanya Naira yang dijawab anggukan oleh Rifky.


"Ya udah. Kita berangkat sekarang!" ajak Rifky membimbing tangan Naira.


Mereka berpamitan pada Bi Ira dan segera berangkat mengaji.


***


Saat sampai di surau, semua murid di sana bersorak menyambut kedatangan Rifky dan Naira. Memang beberapa hari ini Rifky tak mengajar dan sudah dirindukan oleh para muridnya.


Selain lembut, Rifky juga mengajar dengan penuh kesabaran, sehingga membuat anak-anak di sana betah untuk mengaji.


Di sana juga ada Ustadz Hanan bersama Iyan, Rifky menyalami keduanya dan mencium punggung tangan sang Papa, sementara Naira menunduk sopan pada mereka.


Saat mengaji, Naira terlihat begitu akrab dengan para murid di sana dan belajar mengaji bersama. Naira tidak malu lagi, karena dia sungguh-sungguh ingin belajar.


Rifky yang melihat itu tersenyum senang, begitu juga dengan Ustadz Hanan. Ternyata usaha mereka semua berhasil untuk membuat Naira mau belajar, tidak sia-sia perjuangan kedua orang tuanya selama ini.


Sedikit demi sedikit Naira mulai berubah, dari sifat yang pemarah malah menjadi sangat ramah, bahkan anak-anak di sana terlihat senang dengan kehadirannya.


Tepat pukul 5 sore, urusan mengaji mereka selesai dan semua saling berpamitan untuk pulang. Rifky dan Naira menjalankan mobilnya menuju rumah mereka, sementara Ustadz Hanan pulang bersama Iyan.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Naira meminta Rifky berhenti di depan supermarket, tujuannya adalah membeli jajanan.


Rifky menuruti keinginan istri kecilnya itu, kalau tidak bisa-bisa Naira marah dan ngambek pada Rifky.


Setelah selesai, Rifky mengajak Naira pulang, dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan keduanya sejak tadi.


"Sial!" umpat seseorang itu menggepalkan tangannya dan berlalu pergi.


***


Saat ini Rifky dan Naira sedang duduk di sofa ruang tamu, mereka menonton TV sembari menikmati camilan yang baru dibeli tadi.


Rifky memencet remote beberapa kali dan menampilkan film kartun kesukaan Naira, 'Marsha and the Bear'.


"Marsha, Marsha!" teriak Naira menepuk-nepuk tangan sambil mengunyah.


Langsung saja Rifky memindahkannya cepat ke film yang lainnya. Kesal sekali dia melihat anak nakal seperti Marsha, tapi Naira malah senang sama Marsha. Ya, mungkin karena sama-sama bandel.


"Ihh, kenapa dipindahin? Sini!" Naira memukul tangan Rifky dan merampas remotenya.


Namun, Rifky menjauhkan remote dari jangkauan Naira, agar dia tak bisa mengambilnya.


"Mas ...!" Naira berteriak hingga suaranya menggema di dalam ruangan itu.


"Kenapa, sih teriak-teriak?" tanya Rifky yang kesal melihat Naira, sesekali dia menutup telinga karena suara Naira yang cempreng itu.


"Marsha ...," ucapnya memanyunkan bibir yang belepotan karena makanan.


"Ihh, apaan, sih. Nanti keburu abis marshanya." Naira berusaha meraih remote yang ada di tangan Rifky.


"Biarin," ketus Rifky tak peduli.


"Hmm, nyebelin banget!" Naira berbalik dan duduk membelakangi Rifky, tapi Rifky masih acuh tak acuh saja, pria itu sama sekali tak peduli dengan tingkah Naira sekarang.


Naira terdiam, dan tak lama terdengar isakan kecil dari bibirnya, sesekali gadis itu mengusap kasar air matanya yang jatuh.


Rifky menoleh dan mengernyitkan keningnya, kenapa? Apa gara-gara Marsha?


"Naira ...," panggil Rifky menyentuh bahu Naira.


"Nggak usah pegang-pegang!" ketus Naira menepis tangan Rifky. Dia masih setia menangis bahkan suaranya lebih jelas.


"Kamu kenapa?" tanya Rifky lembut.


Tanpa menggubris pertanyaan Rifky, Naira langsung berdiri dan hendak pergi, tapi Rifky cepat-cepat mencekal tangannya dan membawa Naira ke pangkuannya.


"Lepasin!" bentak Naira memberontak. Namun, Rifky semakin mempererat pelukannya dan menatap mata istrinya yang sudah basah itu.


"Kenapa?" tanya Rifky menatap Naira.


Bukannya menjawab Naira malah semakin kuat menangis, dia memukul-mukul dada Rifky dan mengatakan kalau Rifky jahat.

__ADS_1


Sangat tak masuk akal. Hanya karena Marsha, Rifky dicap jahat oleh Naira. Ah, siapa pula yang membuat film kartun itu?


"Shut shut ... maafin, Mas, ya." Rifky mengelus pucuk kepala Naira.


"Nggak mau!" ucap Naira yang masih sesugukan.


"Naira. Kamu liat, Mas." Rifky mendongakan kepala Naira untuk menatapnya.


"Kamu harus belajar lebih dewasa, Sayang. Masa gara-gara Marsha kamu marah gini?" ujar Rifky pelan.


"Kok aku yang disalahin?" Naira menatap Rifky sengit.


"Bukannya nyalahin, cuma kamu nggak boleh kayak gini, kamu udah besar, Sayang," tutur Rifky menghapus jejak air mata Naira.


Naira terdiam, dia berfikir bahwa apa yang dikatakan Rifky ada benarnya juga, dia harus lebih dewasa sekarang. Hah! Kenapa juga dia bersikap bodoh seperti ini? Memalukan!


Naira mengalungkan tangannya di leher Rifky dan menenggelamkan wajahnya di sana.


"Nggak marah lagi, 'kan?" tanya Rifky memeluk istrinya itu. Naira hanya menggeleng dan tetap menyembunyikan wajahnya.


Rifky tersenyum dan mengecup kepala istrinya sesaat.


Beberapa detik kemudian, adzan berkumandang menandakan telah masuk waktu sholat. Rifky mengajak Naira untuk melaksanakan ibadah sholat magrib dan mematikan TV yang menyebabkan Naira marah.


Untuk kali ini Rifky tidak sholat di masjid, karena selain tempatnya agak jauh, juga sudah masuk waktu sholat. Tak mungkin jika harus berangkat ke masjid saat ini.


Selesai sholat, Rifky mengajari Naira membaca Al-qur'an untuk memperlancar bacaannya. Naira sempat menolak, tapi Rifky memaksanya.


"Kan, tadi sore udah ngajinya, Mas," rengek Naira malas.


"Naira ... belajar itu tak ada batas waktu, Sayang." Rifky terus membujuk istrinya itu agar mau membaca Al-qur'an.


"Ihh, Mas ...." Naira masih enggan untuk menurut.


"Mau baca Al-qur'an atau kuajak malam pertama?" Rifky melemparkan pertanyaan yang membuat Naira takut. Cepat-cepat Naira berdiri dan duduk di sebelah Rifky.


Sementara Rifky tersenyum geli melihat tingkah Naira, dia berhasil mengerjai istri kecilnya itu.


Naira membaca kitab suci itu dengan pelan dan hati-hati. Namun, masih banyak bacaan yang salah karena tidak fokus.


"Sekali lagi salah, Mas cium, nih!" ucap Rifky sambil mencubit hidung mancung istrinya.


"Mas! Jangan bikin aku tegang." Naira memukul pelan Rifky, sementara sang empu malah tertawa menanggapinya.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2