
Kini, Naira sudah siap untuk pergi mengaji, dia sudah memakai baju gamis berwarna pink beserta kerudung pinknya.
"Naira, cepat sedikit, Sayang!" panggil Marlin dari balik pintu kamar Naira.
Marlin juga sudah siap dengan baju syar'inya, dia berniat untuk mengantar Naira pergi mengaji dikarenakan Naira belum tahu alamatnya di mana.
"Bentar, Ma. Ini jilbab susuh di pake!" sahut Naira dari dalam, suara gadis itu terdengar sedikit kesal.
Marlin membuka pintu dan membantu Naira memakaikan hijabnya.
"Mana, sini Mama pakein!"
Naira mendekatkan wajahnya pada Marlin dan segera wanita itu membenahi kerudung yang dipakai putrinya.
Setelab itu mereka berdua berangkat ke masjid menggunakan mobil, baru setengah perjalanan Naira menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti, Sayang? ayo cepat! Kita udah telat, nih," ucap Marlin melihat kearah Naira.
"A--aku, takut, Ma," jawab Naira gugup dan menggigit telunjuk kanannya. Raut kecemasan semakin jelas terpancar di wajah Naira.
"Kamu nggak usah takut, Sayang, ada Mama kok," ucap Marlin menenangkan putrinya dan mengelus pundak Naira sayang.
Naira tersenyum tipis melihat Mamanya, dalam hati ia berdo'a semoga semuanya akan baik-baik saja.
Saat tiba di depan masjid itu terlihat Ustadz Hanan sudah menyambut kedatangan mereka beserta dua pemuda disampingnya.
'Gimana, nih,' batin Naira bimbang.
"Ayo, sayang!" Marlin menarik tangan Naira mendekat pada Ustadz Hanan.
"Assalamualaikum," sapa Marlin menghampiri mereka.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka semua diiringi senyum tipis.
"Ayo, silahkan masuk!" ujar Ustadz Hanan sopan.
"Iya, terima kasih, Pak."
"Ayo, kamu masuk, Sayang!" titah Marlin pada Naira.
"Mama?" Naira menatap Marlin, ada rasa takut dan malu menyelimuti dirinya saat ini.
"Mama tunggu di sini, Sayang. Masa Mama mau masuk juga? Kan, yang mau belajar itu kamu." Marlin menggenggam tangan Naira erat, berusaha menyemangati Naira agar gadis itu tak merasa takut.
Naira masuk kedalam surau itu.
Yaps! Tempat Naira mengaji adalah surau yang terdapat disamping masjid yang sangat besar, di sana banyak sekali anak-anak yang ingin belajar mengaji.
Semuanya anak-anak, tak ada yang seusia dirinya.
'Memalukan!' Naira menggigit bibir bawahnya dan duduk bergabung bersama mereka.
Saat tiba giliran Naira mengaji, dia mengeluarkan Iqro' nya dan hal itu sentak membuat para murid di sana tertawa.
"Masa udah gede masih iqro', sih?" ucap salah satu dari mereka dan mengundang tawa yg lain.
"Heh! Kalian diam!" tegur Rifky dan Iyan yang sedari tadi berada di sana.
"Siapa yang ngajarin begitu?" Rifky memelototkan matanya membuat semuanya terdiam.
"Nyebelin banget, sih!" umpat Naira menatap mereka sengit.
"Udah, kamu baca sekarang, ya," ucap Ustadz Hanan tersenyum.
"Maaf, Pak Ustadz," ucap Naira lembut, "apa di sini nggak ada Ustadzahnya?" tanya Naira memberanikan diri.
"Di sini yang mengajar hanya saya, Rifky dan Iyan, disini 'kan semua muridnya anak-anak, jadi tak ada Ustadzahnya, karena kalau remaja seperti kamu sudah tidak mengaji lagi." Ustadz Hanan menjelaskan dengan sopan.
__ADS_1
Naira mengangguk paham dan membuka iqro' nya.
"Tapi saya nggak bisa bacanya, Pak Ustadz ...," keluh Naira menunduk malu.
"Kalau sudah bisa bukan belajar namanya, Naira," ujar Ustadz Hanan.
"Apa kamu sudah pernah mengaji?"
"Iya, tapi saya belum bisa membacanya, kalau hurufnya saya tahu, Pak."
Ustadz Hanan hanya mengangguk menanggapi perkataan Naira.
Pelan tapi pasti, Naira mulai membaca iqro' nya. Beberapa kali dia mengulangi bacaan itu karena kesalahan. Meskipun demikian, Ustadz Hanan tak memarahinya.
Selain mengaji, mereka juga melaksanakan sholat Ashar berjama'ah di masjid sana. Sampai waktunya pulang, Naira segera keluar dan menghampiri Mamanya yang sedang mengobrol bersama para ibu-ibu yang juga mengantar anak mereka ngaji.
"Mama, ayo pulang!" ajak Naira pada Mamanya.
"Udah selesai ngajinya?" tanya Marlin dan berdiri menghadap Naira.
"Udahb" ketus Naira.
"Kamu kenapa, Ra?" Marlin melihat Naira yang menunjukkan muka kesalnya.
"Itu, Ma. Para anak-anak Nyebelin itu, masa Naira di ketawain sih, Ma," adu Naira pada Mamanya sembari mengerucutkan bibir.
"Memangnya kamu kenapa, Sayang? Kok sampai diketawain," tanya Marlin mengelus pucuk kepala Naira yang di tutupi hijab
"Udah, ah, Ma. Nggak usah dibahas, bikin Naira bete aja!" ucap Naira kesal.
"Ayo pulang, ah!"
Marlin menghela nafas melihat Naira yang seperti anak kecil, mungkin Naira malu kali.
Bayangin kalau kalian ada di posisi Naira saat ini, gimana perasaan kalian?
"Aaaa ...."
Bruk
"Naira!" pekik Marlin yang melihat Naira terjatuh. Namun, tidak membantu Naira karena seseorang yang mendahuluinya.
Naira memejamkan matanya, detik demi detik tapi ia tidak merasakan sakit sama sekali, melainkan tubuhnya telah dipangku seseorang.
Saat Naira membuka mata, netra keduanya bertemu dan terjadilah saling pandang memandang.
"Pak Ustadz?" cicit Naira masih dalam dekapan Rifky.
"Astagfirullah hal'azim," ucap Rifky tersadar atas apa yang terjadi.
"Ma--maa." Naira menunduk.
"I--iya. Hati-hati!" jawab Rifky gugup dan berlalu pergi.
"Naira, kamu nggak papa, Sayang. Ada yang luka, sakit?" tanya Marlin khawatir.
"Naira nggak papa, Ma," jawab Naira tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Ayo kita pulang, Sayang!" ajak Marlin memangku Naira.
Naira segera melajukan mobilnya, dan berlalu dari tempat itu.
***
"Kamu kenapa, Ky?" tanya Ustadz Hanan pada putranya itu.
Sejak tadi Rifky terlihat melamun dan kurang fokus menyetir.
__ADS_1
"Hem, nggak papa, Pa," sahut Rifky melihat Papanya sekilas.
"Paling mikirin bidadari syurga!" cetus Iyan yang duduk di kursi belakang.
Iyan adalah teman sekaligus tetangga Rifky, makanya mereka pulang bareng dan satu mobil.
Lagian Ustadz Hanan sudah menganggapnya seperti anak sendiri, karena kerajinan dan ketekunan Iyan dalam belajar, sehingga Ustadz Hanan senang terhadapnya.
Dia tinggal bersama Paman dan Bibinya, sementara kedua orang tuanya sudah meninggalkan dia sejak Iyan masih kecil.
"Bidadari syurga, hahb Ada-ada aja kamu,Yan." Ustadz Hanan terkekeh atas perkataan Iyan.
"Udah, Pa. Nggak usah didenger, tu anak memang suka ngada-ngada," sanggah Rifky mengomel.
"Ya elah, Om. Masa Om nggak tahu, sih?
Gini, ya, Om. Sejak kedatangan bidadari syurga hari ini, si Rifky jadi keliatan gundah gulana gitu," beber Iyan pada Ustadz Hanan.
"Tadi aja ada kejad---"
"Shutt ... diem!" Rifky berbalik sejenak dan memelototi Iyan.
Sementara yg ditatap acuh tak acuh saja.
Ustadz Hanan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak serta tetangganya itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai ke tempat tujuan.
***
Segera hari mulai gelap, lampu-lampu rumah menyala memberi penerangan kepada penghuninya, serta kendaraan yang berlalu lalang dijalanan menghiasi belahan kota Jakarta yang padat akan penduduk ini.
"Bagaimana, kegiatan kamu hari ini, Nak? Apa menyenangkan?" tanya Herman sembari menyeruput tehnya.
Kini keluarga itu sedang berkumpul bersama di ruang keluarga.
Naira yang tadi fokus ke arah TV langsung melihat ke arah Papanya yang bertanya.
"Menyenangkan? adanya menyebalkan!" cibir Naira menampakan raut muka gemesnya.
"Loh, kenapa?" tanya Herman keheranan.
"Naira diketawain tadi sama anak-anak, gara-gara Naira nggak bisa ngaji." Naira mengadukan semuanya pada Papanya.
"Hhhh, masa sih, Sayang?" Herman mengelus kepala putrinya.
Bukannya membela sang Papa malah ketawa.
"Ihh, kok ketawa, sih, Pa?!" rengek Naira manja, baru kali ini anak itu bersikap manja pada Papanya.
"Nggak papa, yang penting kamu semangat belajarnya, ya, Sayang. Biar tambah pinter dan nggak di ketawain lagi," ujar Herman dan kembali terkekeh.
"Ya, udah, ini sudah malam. Kamu tidur sana, besok jangan lupa bangun pagi!" ucap Marlin menyuruh Naira tidur.
Naira menekuk mukanya dan berjalan menuju kamarnya.
Herman kembali tertawa melihat tingkah lucu Naira.
Segera ia menghabiskan tehnya dan mengajak Istrinya untuk istirahat.
Mereka semua terlelap dalam tidur yang indah ....
.
.
.
__ADS_1
TBC.