Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 77


__ADS_3

Berhubung pekerjaan kantor tidak terlalu banyak, hari ini Rifky pulang lebih awal dari biasanya. Dengan perasaan gembira Naira menyambut kepulangan Rifky, tidak biasanya Rifky pulang kurang dari jam satu siang.


"Mas! Kok udah pulang?" Naira melonggarkan pelukan, mendongak pada Rifky sembari menampilkan deretan giginya.


"Kenapa? Nggak suka Mas pulang?" tanya Rifky bercanda.


"Ya enggak gitu ... aku seneng banget malahan," jawab Naira manja. Kembali lagi dia memeluk tubuh kekar suaminya itu.


Rifky tertawa, mengelus sayang kepala Naira dan mengajaknya ke kamar. Seperti biasa, bajunya akan dilepas dan diganti oleh Naira, tentu dengan syarat yang Naira tetapkan. Menciumnya!


"Mas! Nanti jalan-jalan, ya?" pinta Naira berharap.


"Mau ke mana lagi?"


"Ke mall. Beliin aku baju baru. Ya-ya?" Naira terus membujuk. Mengerjab-ngerjabkan matanya dengan ekspresi seimut mungkin.


Rifky sendiri dibuat terkekeh atas tingkah Naira, kalau punya keinginan, istrinya itu pasti akan berusaha kuat. Termasuk menggodanya.


"Ayolah, Masss?" Naira merengek.


"Iya-iya. Tapi makan siang dulu," ucap Rifky menyimpulkan. Naira mengangguk dan tersenyum girang, senang sekali jika kehendaknya dituruti.


Mereka makan siang bersama Bi Ira. Lantas bersiap-siap untuk jalan-jalan. Lebih tepatnya hanya Naira yang bersiap-siap, sementara Rifky tidak perlu.


"Mas?"


"Apa?" Rifky menoleh, menatap Naira yang merengut sembari melentangkan kedua tangan. Rifky tersenyum sebentar, lalu mendekat dan meraih tali gamis yang dipakai istrinya itu.


"Udah cantik belum, Mas?" tanya Naira berniat menggoda.


Rifky tidak langsung melepaskan pelukan, detik berikutnya, pipi mulus Naira sudah dipenuhi kecupan singkat.


"Kalau diliat-liat kamu makin gemuk, ya?" Rifky memperhatikan tubuh Naira. Sementara Naira mulai berpose layaknya anak kecil yang dipuji, hingga Rifky tertawa renyah atas sikapnya.


Mereka berdua langsung menuju garasi setelah berpamitan pada Bi Ira, kemudian membelah jalanan kota untuk mencapai tempat tujuan.


Selama perjalanan Naira terus tersenyum, menatap kiri-kanan jalan yang dipenuhi kendaraan lainnya. Nyanyian ringan dari mulutnya ikut menyatu dalam semilir angin yang masuk lewat jendela mobil, menambah suasana riang bagi hati Rifky. Bahkan tak terasa jika mereka sudah tiba.


"Udah sampai. Ayo!" ajak Rifky sambil melepas seatbeltnya. Naira menoleh, menatap suaminya itu dengan senyum mengembang.


"Kamu mau beli apa, Sayang?" tanya Rifky membimbing Naira.


"Kalau dibolehin semua yang aku ingin!" jawab Naira enteng.


Rifky menatapnya. "Iya, tapi kalau nggak terlalu butuh jangan dibeli, ya? Jangan berlebihan."


"Iya, Mas. Aku ingat, kok dalilnya. Pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." Naira tersenyum, merasa bangga pada hapalannya. Apalagi saat mendapat elusan pelan dari Rifky.


"Iya, istriku memang pintar!" puji Rifky terkekeh.

__ADS_1


"Dari dulu."


"Iya ...."


Naira dan Rifky tertawa bersama sebelum suara mereka tertelan oleh keramaian. Naira segera mengajak Rifky ke deretan tas-tas cantik. Menarik sekali jika dia mengenakannya.


"Mas. Boleh beli yang ini?" Naira memperlihatkan tas hitam yang dia pegang.


"Nggak pilih yang lebih besar? Buat ngaji, 'kan?"


"Iya. Coba ambilin yang itu!"


Rifky mengambilkan tas sandang dengan warna yang sama. Bertukar pendapat pada Naira sebelum akhirnya memutuskan.


Mereka meninggalkan tempat itu menuju gantungan baju, membeli beberapa jenis pakaian dan kaus kaki untuk keduanya.


"Mas! Beliin aku make-up juga, ya?" pinta Naira pelan.


"Iya, ayo!" Senyum bahagia makin memancar dari wajah Naira. Dia sempat mengira kalau Rifky tidak mengiyakan sebab make-up miliknya masih lumayan banyak. Namun, dugaannya itu meleset. Rifky bahkan memilihkan make-upnya.


Semua keperluan sudah hampir terkumpul, mulai dari pakaian hingga shampo dan alat mandi mereka. Kali ini Naira yang kelelahan, sampai meminta sendiri pada Rifky agar mengajaknya pulang. Mungkin karena kehamilannya dia cepat merasa lelah.


Setelah melakukan pembayaran, Rifky membawa barang-barang belanjaan mereka. Sedangkan Naira membawa beberapa paperbag saja.


"Kok aku jadi haus, Mas? Mau minum dulu, ah!" Naira mengeluarkan minuman sebagai pengganjal kerongkongannya. Rifky juga ikut berjongkok di depan Naira supaya istrinya itu merasa nyaman.


"Udah?"


"Udah, Mas?" tanya Naira ketika Rifky masuk mobil.


"Udah. Kita langsung pulang?" Rifky memastikan.


"Iya. Mau tiduran aku," keluh Naira. Rifky tersenyum, menatap perut Naira yang tampak rata, pasti ulah bayinya itu.


Belum juga menginjak pedal gas, handphone Rifky berdering menandakan ada panggilan. Lelaki itu terpaksa mematikan mesin mobil dan mengangkat telepon. Ternyata Iyan.


"Ada apa, Yan?" tanya Rifky setelah menjawab salam. Terdengar sahabatnya itu memintanya agar datang ke rumah, dengan alasan supaya Rifky tahu alamat rumahnya.


Tanpa banyak bicara, Iyan mengirimkan alamatnya pada Rifky. Membuat Rifky menghela nafas sambil menatap wajah istrinya.


"Sayang? Kak Riyan nyuruh kita main ke rumahnya. Kamu mau, nggak?" Rifky bertanya hati-hati.


"Ke rumah Kak Iyan?" ulang Naira.


"Iya."


Naira menatap wajah suaminya itu, kemudian mengangguk tanda setuju. Naira tahu jika Rifky tak mungkin menolak ajakan sahabatnya, dia faham itu.


"Ya udah, kita jalan sekarang, ya?" Rifky tersenyum senang, menghidupkan kembali mesin mobil dan melaju sesuai petunjuk jalan yang Iyan kirim.

__ADS_1


Tak beberapa lama mereka tiba. Rifky mengajak Naira masuk setelah memastikan kalau itu benar-benar rumah Iyan.


"Assalamualaikum ...?" salam Rifky. Terdengar sahutan lembut dari dalam, kemudian muncul Iyan dan Ayu yang menyambut mereka dengan hangat.


Keduanya dipersilahkan menduduki sofa, hingga tak lama beberapa gelas minuman tersaji anggun di depan mata.


"Silahkan diminum ...." Ayu tersenyum, lalu duduk di samping suaminya untuk ikut mengobrol.


"Bi Yati ke mana, Yan?" tanya Rifky, merasa heran saat yang membuatkan mereka minuman adalah Ayu.


"Itulah yang hendak kuceritakan," jawab Iyan.


"Cerita apa?"


"Hahaha, jiwa penasaranmu masih sama, ya?" kekeh Iyan, membuat Rifky menatapnya sebal. Kalau bukan ada Ayu dan istrinya, sudah dari tadi Rifky mengomel.


"Begini, Ky. Barusan kami melakukan tes DNA, yang ternyata Bi Yati itu adalah ibu dari Rani," ucap Iyan memulai.


"Hah? Ibunya Rani?" Rifky menatap serius. Begitu juga Naira.


Iyan menghembuskan nafas sesaat. "Iya. Saat kami bermain di taman, Rani tiba-tiba datang. Kukira kenapa, ternyata dia mencari fotonya yang terjatuh. Foto itu ditemukan oleh Bi Yati, yang ternyata mengetahui siapa-siapa yang ada di dalamnya. Itu tak lain adalah dia, Rani, dan suaminya."


"Terus?" Rifky mendesak.


"Ya ... supaya semuanya jelas, aku putuskan untuk melakukan tes. Dan hasilnya positif. Ternyata Rani dibohongi oleh orang yang mengajaknya ke kota ini. Mereka bilang kalau orang tua Rani sudah meninggal, padahal ayahnya saja yang meninggal. Bahkan mereka membuat kuburan palsu, Ky."


"Astagfirullah ...." Naira dan Rifky berucap bersamaan.


"Kenapa bisa begitu? Apa Rani tidak tau siapa Bi Yati?" tanya Rifky bingung.


"Ternyata Rani sempat amnesia karena kecelakaan. Jadi dia hanya mengingat wajah orang tuanya lewat foto yang dia simpan. Nama aslinya Nia Ramadani, Rani itu hanya nama panggilan," jelas Iyan.


"Ah, aku jadi bingung sendiri, Yan!" Rifky menggaruk kepalanya.


"Ya sudah. Yang penting kamu udah tau, 'kan?" ucap Iyan tersenyum, tentu sebuah senyum jahil.


"Jadi, Bi Yati ikut Rani?" Rifky menghabiskan pertanyaannya.


"Iyalah. Kasihan juga mereka dipisahkan begitu. Syukurlah sekarang sudah dipertemukan lagi."


"Iya," balas Rifky lega.


"Mungkin itu penyebabnya, dia kurang kasih sayang, sampai melakukan apa pun untuk mendapatkanmu." Iyan menahan senyum, menatap Naira yang sudah memasang wajah cemberut.


"Bicara apa kamu, Yan?" sanggah Rifky melotot. Lelaki itu memberi isyarat pada Iyan tentang keberadaan Naira.


"Iya. Kamu dulu---"


"Masss." Ayu tersenyum paksa sambil mencubit pinggang Iyan, membuat suaminya itu tertawa renyah. Apalagi menyaksikan ekspresi kesal Naira.

__ADS_1


Kali ini Iyan melihat sendiri bagaimana Rifky ditaklukkan oleh Naira, bahkan Naira memegangi tangan Rifky sampai suaminya itu bingung harus berbuat apa.


Apakah Rifky harus membujuk Naira? Sementara di depan mereka ada Riyan dan Ayu. Akhirnya Rifky membujuk dengan gerakan tangan, sembari menatap sebal ke arah Iyan yang terkekeh.


__ADS_2