Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 13


__ADS_3

Hari ini Naira sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Keadaannya sudah berangsur membaik.


Rifky dan Naira berjalan menelusuri setiap koridor di rumah sakit itu. Langkah mereka seketika terhenti kala mendapat panggilan dari seseorang yang suaranya tak asing lagi bagi Naira.


"Naira!" Tama yang melihat Naira dan Rifky berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Naira.


"Tama! Kamu ngapain di sini?" tanya Naira kepada pria yang ada di hadapannya itu. Sementara Rifky hanya bisa menyaksikan keduanya tanpa bersuara.


"Harusnya aku yang tanya. Kamu ngapain di sini? Kamu sakit?" Tama hendak menyentuh tangan Naira. Namun, segera Naira menghindar dan menjauh dari pria itu.


"Aku nggak papa." Naira tersenyum ramah pada Tama, sementara pemuda itu sudah begitu bahagia dapat menikmati senyum malaikat pujaan hatinya. Sekilas dia melirik Rifky dan tersenyum miring seolah mengejek.


"Tapi wajahmu sangat pucat, Naira ...," ujar Tama yang terlihat begitu perhatian pada Naira. Tak lain adalah untuk membuat Rifky panas.


"Dia istri saya! Tak perlu kamu perhatian lebih padanya!" tekan Rifky dan menarik tangan Naira untuk segera keluar dari rumah sakit itu.


"Aku tahu! Kalian itu menikah atas dasar paksaan, bukan karena rasa saling mencintai!" Tama meneriaki dua orang yang sudah menjauh dari hadapannya. Dia tahu bahwa Naira dan Rifky menikah terpaksa karena Naira masih SMA.


Rifky yang mendengar itu refleks menghentikan langkahnya. Wajahnya merah menahan emosi yang hampir meledak. Ingin sekali ia membungkam pria itu, tapi dengan cepat Naira menahannya dan mengajak Rifky keluar dari tempat itu.


"Hah! Lo jaga Naira baik-baik, sebelum dia beralih ke tangan gue!" teriak Tama yang sudah seperti orang gila. Pria itu tersenyum remeh menatap punggung kedua orang yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.


Kalau bukan ada Kiara yang menunggunya di ruang perawatan, mungkin Tama sudah menyusul Naira sekarang, tapi urusannya dengan gadis itu belum juga terselesaikan.


Tama berjalan menuju ruangan Kiara, terlihat gadis itu sedang menyandarkan diri di brankar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tama dan duduk di samping brankar Kiara.


"Sudah mendingan, tapi kepalaku masih terasa sakit," jawab Kiara.


Tama membuang pandangannya, kapan gadis ini akan sembuh total? Jujur, dia sudah muak dengan semuanya. Apalagi fikirannya sekarang sedang diracuni oleh Naira.


****


"Kamu ngapain, sih, pake acara ngomong segala sama pria itu?" ketus Rifky pada Naira. Saat ini mereka berada di mobil menuju ke rumah.


"Ya ... mau gimana lagi, Mas. Aku, 'kan nggak enak kalau cuma diam aja?" jawab Naira pelan. Dia takut Rifky salah faham dengannya.

__ADS_1


"Huh!" Rifky membuang pandangannya dan melajukan kecepatan mobilnya. Sesuatu yang bergejolak mulai memenuhi rongga dadanya.


"Mas, nggak usah marah. Aku nggak akan suka, kok, sama Tama," ucap Naira tersenyum.


Rifky menatap Naira datar, lalu dia menghembuskan nafasnya pelan dan membalas senyuman Naira.


Tak terasa mobil mereka telah memasuki halaman rumah. Bi Ira menyambut kepulangan mereka dengan senang hati dan suka cita.


Rifky membukakan pintu mobil untuk Naira dan menggandeng istrinya itu.


"Bisa jalan nggak?" tanya Rifky disertai kekehan kecil.


"Bisa, Mas." Naira tersenyum dan menerima uluran tangan suaminya.


"Neng, Naira ... udah pulang? Bibi kangen, Neng!" Bi Ira berlari menghampiri Naira dan memeluk Naira sayang.


"Ihh, Bibi. Baru juga tiga hari," ucap Naira geli.


"Bibi kesepian, Neng." Bi Ira menampilkan acting sedihnya.


"Udah ... kan, Naira udah pulang," ucap Naira dan kembali memeluk Bi Ira.


"Ehem! Udah peluk-pelukkannya?" Suara Rifky menghentikan aksi mereka. Naira melepaskan pelukannya dan menampilkan deretan gigi putihnya pada Rifky.


"Maaf atuh, Den," ujar Bi Ira tersipu malu.


"Nggak papa, Bi." Rifky tersenyum dan segera mengajak Naira ke kamar, karena Naira masih butuh banyak istirahat sekarang.


Kemudian Bi Ira pergi ke dapur menyiapkan makan siang untuk mereka.


"Mas, besok aku sekolah, ya?" pinta Naira setelah mereka sampai di kamar.


"Emang udah kuat?" tanya Rifky menanggapi. Naira hanya mengangguk dan segera menidurkan dirinya di ranjang.


"Tapi aku nggak suka, ya kalau kamu ketemu sama si Tama itu." Rifky memasang wajah kesalnya kala membayangkan rupa pria itu.


"Aku juga nggak mau, kok ketemu sama dia. Tapi dia yang selalu nemuin aku," jawab Naira memanyunkan bibirnya. Matanya sudah hampir berair sekarang.

__ADS_1


Cup!


Rifky menyambar bibir manis itu yang membuat Naira terperanjat.


"Udah! Istirahat sekarang, Mas mau mandi dulu," ucap Rifky sambil menoel pipi Naira dan masuk ke kamar mandi.


Naira hanya diam dan menatap kepergian Rifky dari hadapannya. Kemudian mengistirahatkan diri sambil menatap langit-langit kamarnya.


Tak beberapa lama, Rifky keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang dililitkan sepinggang.


"Aaaa ...!" Naira spontan berteriak dan menutup mata dengan jari-jari mungilnya.


"Kenapa teriak-teriak? Cempreng banget lagi!" Rifky memegangi telinganya yang berdenyut akibat suara khas Naira.


"Ngapain cuma pake handuk, sih? Mata aku ternodai," jawab Naira, masih dengan tangan yang menutup wajahnya.


Rifky berjalan mendekat dan membuka tangan Naira. Naira memelototkan matanya saat mengetahui Rifky sudah berada di depannya.


"Mas, mau ngapain?" tanya Naira gugup, sementara Rifky hanya tersenyum jahil.


Buk!


Dia menindih tubuh Naira dan menatap intens istrinya itu.


"Mas." Naira berusaha duduk, tapi tubuh Rifky terlalu berat untuk dia geserkan.


Ketika Rifky hendak melajukan aksinya, tiba-tiba ....


"Ada apa teriak-teriak, Neng?" tanya Bi Ira yang langsung membuka pintu tanpa ketukan.


"Ahh! Maaf," ucap Bi Ira gelagapan. Rifky segera bangkit dari atas tubuh Naira dan segera memakai bajunya. Sedangkan Bi Ira segera pergi dari sana sambil mengelus dada karena gugup.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2