Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 83


__ADS_3

Naira sudah bisa dibawa pulang meskipun tenanganya belum pulih. Namun, masih perlu perawatan yang cukup agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Seorang dokter baru saja mengganti infusnya, membantu Naira berbenah agar dapat menggendong bayi mungil yang baru berumur satu hari itu.


Semua keluarga telah berkumpul di ruangan tempat Naira dirawat, terutama orang tuanya. Marlin dan Rasya harus membantu anak mereka itu dalam beberapa minggu ke depan, sampai Naira benar-benar bisa ditinggalkan.


"Sini, Azka sama Nenek dulu, yuk. Biar Mama bisa istirahat." Rasya tersenyum sembari mengulurkan tangannya, berniat menyambut bayi kecil dalam gendongan Naira.


Naira mencium sekilas pipi bayinya, kemudian dengan perlahan diberikan kepada mama mertua. Tangan Naira belum terlalu kuat untuk menggendong anaknya lebih lama, sebab jarum infus masih melekat mantap di sana.


Bayi mungil yang telah menyandang nama Razka Alvarendra itu tiba-tiba menangis, mengharuskan Rasya mendiamkannya.


"Jangan nangis, ya, Sayang. Tambah ganteng ini ...." Rasya terkekeh, mencubit pelan hidung kecil milik cucunya.


"Ini susunya, Ma." Rifky menyerahkan botol susu pada mamanya, tersenyum, lalu menoel dan mencium pipi mulus putra kesayangan. Lelaki itu juga tak melupakan istrinya, dia melakukan hal yang sama pada istri kecilnya itu.


"Assalamualaikum ...." Terdengar salam bersahut-sahutan dari pintu utama.


"Waalaikumussalam."


Rifky beranjak menemui sang tamu yang tak lain adalah teman-teman kantornya---Verry, dan kawan-kawan. Lelaki itu menyalami satu per satu tamu laki-laki, menyambut dengan senang kedatangan mereka. Sedangkan yang lain menghampiri Naira duluan.


"Selamat, ya, Pak!" ucap Verry mewakili yang lain.


"Terima kasih, Ver. Silahkan duduk!"


Mereka mengangguk, bersalaman kepada Herman dan Ustaz Hanan sebelum mendudukan diri.

__ADS_1


"Aduh, anaknya lucu sekali, ya? Udah dikasih nama belum?" tanya salah seorang dari mereka.


"Udah, Tante ...," jawab Naira menirukan gaya anak-anak.


"Namanya Razka Alvarendra. Aku cowok ganteng, Tan." Rasya menambahkan, mengizinkan tamu mereka melihat dan mencium cucunya itu.


"Diminum dulu, ya?" Marlin dan kedua pembantunya segera menyuguhkan minuman.


"Terima kasih, Tante. Jangan terlalu repot."


"Ah, enggak. Jarang-jarang kita kumpul begini, 'kan?" balas Marlin terkekeh. Lalu duduk bergabung di dekat Naira.


"Ibunya udah sehat, ya?"


"Alhamdulillah, udah lumayan," jawab Naira pelan. Bahkan suara tangis Azka lebih kencang daripada suaranya.


"Assalamualaikum."


"Yan?" Rifky menyambut kedatangan sahabatnya, berpelukan sebentar pada Iyan dan mengajaknya duduk.


"Selamat, ya, Ky!" ucap Iyan tulus.


"Makasih, Yan."


"Mbak Ayu? Duduk sini, Mbak!"


Semua orang mengenali Ayu karena dia mantan asisten Rifky di kantor Herman dulu. Salah seorang dari mereka membantu Ayu untuk duduk, karena sekarang wanita itu sedang berbadan dua.

__ADS_1


"Gimana, Naira? Udah pulih?" tanya Ayu tersenyum.


"Alhamdulillah, udah pulih, kok," balas Naira. Tangannya berjabat pelan dengan tangan Ayu.


"Bayinya mana, ya? Kok nggak keliatan?" Ayu menoleh kiri-kanan, kemudian tertawa saat mendapati bayi Naira sudah berkeliling ruangan itu. Semua orang senang menggendongnya.


"Owalah ... pinter banget, ya. Nggak nangis dianya." Ayu membungkuk sedikit agar bibirnya mencapai wajah Azka.


"Siapa namanya, Tan?" tanya Ayu pada Marlin.


"Razka Alvarendra. Panggilannya Azka," sahut Marlin tersenyum.


"Bagus banget namanya. Siapa yang kasih?"


"Siapa lagi kalau bukan papanya?"


Mereka tertawa bersama saat Marlin mengatakan itu. Mengobrol santai dan menikmati hidangan saat bayi kecilnya ditidurkan kembali.


Naira menatap Azka yang tidur di sampingnya, dia tersenyum. Sekarang Naira cukup terhibur atas keramaian dan kesenangan orang-orang yang menengok putranya, berbicara pada mereka sampai jarum infus yang menusuk tangannya sudah tak terasa.


Kehadiran Azka di dunia benar-benar menambah kebahagiaan mereka, bahkan juga orang lain. Benar kata mamanya waktu itu, tangis yang Naira rasa dahulu, berubah kebahagiaan karena kehadiran buah hatinya. Naira menatap Marlin, tersenyum manis seakan mengucapkan terima kasih pada mamanya itu.


"Assalamualaikum ...." Suara lembut nan halus terdengar tak asing lagi di telinga. Terlihat Bi Yati masuk sambil memasang senyum ceria, diikuti oleh Rani di belakang.


Wanita itu juga menampilkan senyum termanisnya, dan yang membuat kagum lagi adalah balutan hijab syari menempel anggun di tubuh tinggi tersebut.


Rani tampil cantik sekali, berjalan sopan melalui tempat duduk para laki-laki, dan menyapa semuanya setelah berada di dekat Naira.

__ADS_1


Wanita itu memeluk dan mencium Naira, begitu pun pada Ayu. Dia meminta maaf, hingga menghadirkan bulir air mata di pipinya.


Semua tersenyum haru atas kedatangannya dengan penampilan berbeda. Hal itu berhasil menyunggingkan senyum bangga dari seseorang di sana. Ya, seseorang yang mengagumi kecantikannya sejak lama ....


__ADS_2