
Saat ini Rifky dan Naira telah sampai di kediaman mereka. Mereka berdua disambut hangat oleh Bi Ira yang selama ini memang menantikan kesembuhan Naira.
"Eh, eh! Kok sempoyongan?" tanya Rifky menopang tubuh Naira yang hampir terjatuh.
"Nggak tahu, nih. Pengen digendong kayaknya," ucap Naira dan menggedikkan kedua bahunya sambil tertawa geli.
"Hahaha, Naira-Naira! Kamu ini ada-ada aja!" Rifky tertawa sebentar dan langsung mengangkat tubuh mungil istrinya ala bridal style.
"Kan, gini enak, nggak harus capek-capek jalan." Naira tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Rifky.
"Kalau mau digendong, nggak usah basa-basi." Rifky menaiki anak tangga dan menuju kamar mereka.
Lalu menidurkan Naira tanpa beralih dari atas tubuh istrinya itu.
"Mas! Minggir, dong!" Naira mendorong dada Rifky yang menindih tubuh kecilnya.
Rifky mengukir senyum yang sulit diartikan. Dia malah membelai wajah cantik istrinya dan menyibak rambut yang menutupi wajah Naira.
"Mas ...," panggil Naira.
"Hemm." Rifky masih terus mengamati wajah Naira, menyentuh kening, mata, hidung dan bibir Naira.
"Kamu kenapa, sih, Mas?" tanya Naira heran.
"Aku ... aku, mau ...." Rifky menggantungkan ucapannya. Tatapannya tak lepas dari bibir mungil Naira yang sangat menggoda selera itu.
"Jangan bilang mau i---"
Belum sempat Naira menyelesaikan ucapannya, Rifky sudah dahulu menci*m bibirnya.
"Mmph, Mas!" Rifky melepaskan tautannya saat Naira memukul-mukul pundaknya.
"Kenapa?" tanya Rifky menatap Naira.
"A--aku, mau mandi dulu," ucap Naira yang hanya sebagai alasan saja agar Rifky melepaskannya. Kebetulan selama di rumah sakit dia tidak pernah mandi.
Rifky tersenyum simpul dan kembali mengecup kening Naira. "Baiklah, mandi sana!" titah Rifky yang langsung turun dari tubuh Naira.
Segera Naira bangkit dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Huh! Untung, aja." Naira mengelus dadanya yang terasa berguncang.
Dia melaksanakan ritual mandinya yang berlangsung beberapa menit saja.
Saat Naira hendak mengambil handuk. Ternyata handuknya lupa dia bawa.
"Duh, gimana, nih?" gumam Naira bingung.
Ceklek!
__ADS_1
Dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip.
"Sudah selesai?" tanya Rifky melihat kepala Naira yang nongol di pintu.
"Belum!" jawab Naira singkat dan cepat-cepat menutup pintu kembali.
"Orangnya masih ada lagi. Gimana, ini?" Naira menggigit telunjuknya dan berfikir bagaimana caranya dia bisa keluar tanpa dilihat Rifky.
Setelah mondar-mandir tak jelas, akhirnya dia memberanikan diri memanggil suaminya, karena Naira sudah merasa kedinginan.
"Mas!" panggil Naira dari dalam kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Rifky sedikit berteriak.
"Handukku ketinggalan, tolong ambilin, Mas!" titah Naira.
Rifky berjalan mendekat sambil membawa handuk istrinya.
"Buka pintunya!"
"Tapi ... Mas, jangan ngintip, ya?" Naira membuka pintu sedikit agar Rifky mengulurkan handuknya.
"Emangnya kenapa kalau ngintip?" tanya Rifky sambil tersenyum jahil.
"Mas!" Naira kembali menutup pintu dan bersender di belakangnya. Bibirnya berbentuk sebuah kerucut karena kesal pada Rifky.
"Iya, nggak ngintip, kok. Ini handuknya."
Dia ke luar kamar mandi hanya dengan handuk saja. Rifky menatap Naira yang memegang handuknya kuat-kuat agar tidak terlepas.
"Mas, keluar dulu!"
"Memangnya kenapa, sih?"
"Aku mau pake baju," jelas Naira.
"Ya udah pake aja, susah amat," sewot Rifky, lalu fokus lagi pada handphonenya.
"Aku nggak bisa, Mas." Naira menarik pelan tangan Rifky agar mau ke luar.
"Nggak bisa apanya? Apa mau aku pakein?" tanya Rifky tersenyum genit.
"Ih, udah keluar sana! Bentar aja." Naira tetap menyuruh suaminya untuk ke luar.
Rifky yang mendengar nada bicara Naira langsung ke luar kamar. Daripada Naira ngambek? Lebih baik dia mengalah.
Mungkin istrinya itu masih terlalu malu padanya.
***
__ADS_1
Rifky membaringkan tubuhnya di samping Naira untuk tidur. Tentunya setelah mereka makan malam dan sholat isya.
"Capek, nggak?" tanya Rifky sambil memeluk pinggang Naira.
"Dikit," jawab Naira dan sedikit menggeser tubuhnya. Semakin ia bergeser, semakin dekat pula Rifky padanya.
"Mas, lepasin, dong!" Naira mencoba menyingkirkan tangan Rifky dari atas perutnya.
"Kenapa?" tanya Rifky menatap Naira.
"Nggak nyaman," jawab Naira singkat.
Bukannya melepaskan, Rifky malah mempererat pelukannya, bahkan kakinya ikut memeluk Naira.
"Mas, aku kepanasan kalau kek gini!" adu Naira sambil bergeser pelan.
"Kalau kepanasan buka baju!" jawab Rifky dengan entengnya. Sebuah senyum manis terbit dari bibir laki-laki itu.
"Hah! Mas ini kesambet apa, sih?" tanya Naira kesal.
"Emang apa?" Rifky memejamkan matanya dan masih memeluk erat istrinya. Tanpa melihat Naira yang kesal dibuatnya.
"Kenapa, Mas posesif banget, sih?" tanya Naira bingung.
Rifky membuka matanya dan menatap lekat mata coklat Naira. "Karena aku ... rindu sama kamu, Sayang."
Selesai mengatakan hal itu, Rifky menci*m bibir Naira sekilas.
"Lepasin aku, dong, Mas!" Naira melepaskan pelukan Rifky, tapi sama sekali tak berhasil. Rifky kini memposisikan wajahnya di atas wajah Naira, membuat Naira membelalakkan matanya.
Nafas Naira sudah tak beraturan lagi, dadanya bergemuruh menahan gugup.
"Aku nggak akan ngapa-ngapain, Sayang. Kamu nggak usah gugup. Keringat kamu udah banjir, nih." Rifky mengelap keringat di kening Naira.
Naira menelan salivanya dan mengangguk kecil.
"Tidur, ya! Besok udah mau sekolah, 'kan?" Pertanyaan Rifky langsung diangguki oleh Naira.
Naira tak bisa berkata apa-apa, mulutnya terkunci sempurna sekarang.
Sekali lagi Rifky mengcup bibir Naira, dan membaringkan tubuhnya di samping istri kecilnya itu.
"Good night, Sayang." Rifky tersenyum menatap Naira yang mulai memejamkan matanya. Namun, tangannya masih saja melingkar pas di pinggang ramping milik Naira. Dia memang menginginkan istrinya itu, tapi masih mampu menahan karena alasan Naira belum menyelesaikan sekolahnya.
.
.
.
__ADS_1
TBC.