
Bertepatan pada jam 2 malam, Rifky terjaga dari tidurnya. Dia memandangi wajah istrinya yang masih terlelap dalam dekapannya, sekilas senyuman muncul dari sudut bibir itu.
"Kamu memang lucu, Sayang. Sikapmu itu selalu bisa meluluhkanku," gumam Rifky setelah mencium dahi Naira.
"Eugh ...," lenguh Naira perlahan membuka matanya dan mendapati Rifky yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Awwss." Naira merasakan sakit di bagian perut dan langsung memegangi perutnya sambil meringis.
"Kenapa?" tanya Rifky ketika istrinya tiba-tiba meringis kesakitan.
"Perutku, sakit banget," adu Naira memegangi perutnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Coba!" Rifky yang khawatir langsung menyibak selimut mereka dan membuka baju Naira sebagian.
"Jangan!" larang Naira sambil menahan tangan kekar Rifky.
"Nggak papa. Biar sakitnya mereda." Rifky tetap bersikeras membuka baju Naira hingga terlihat perut rampingnya. Kemudian ia mengelus pelan perut Naira.
"Gimana?" tanya Rifky memastikan.
"Mendingan," jawab Naira singkat.
Rifky tersenyum menatap Naira yang menikmati sentuhannya. Lalu ....
Dia mencium perut putih Naira yang membuat Naira terkejut. "Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Naira hendak menggeser tubuhnya, tapi Rifky menahan pinggangnya sampai Naira tak dapat menghindari perlakuan itu.
Rifky menempelkan telinga kanannya di sana, sesekali dia mendengar perut Naira yang keroncongan.
"Mas," panggil Naira berusaha mengangkat kepala Rifky.
"Apa ...?" sahut Rifky.
"Minggir dulu sebentar, aku mau ke kamar mandi," pinta Naira.
"Mau menghindar?" selidik Rifky, lalu menatap lekat mata Naira. Wajah keduanya berdekatan sekarang, nafas hangat mereka saling menerpa satu sama lain.
Naira menggeleng pelan, kemudian membolakan matanya saat Rifky mengukir senyum yang tak dapat dia artikan.
Rifky menyentuhkan hidungnya pada hidung Naira. Bibir keduanya bertemu, lalu Rifky melakukan ciuman sepihak tanpa balasan dari Naira.
Pria itu meletakkan kedua tangan istrinya di kedua sisi kepalanya. Menautkan tangan mereka berdua dan menggenggamnya sangat erat.
__ADS_1
"Aww." Naira meringis saat perutnya terasa sakit kembali.
Mungkin dia salah makan, atau apalah kemarin.
"Kenapa, Sayang? Sakit lagi?" tanya Rifky bangkit dari tidurnya.
Naira hanya mengangguk lesu dan membungkukkan tubuhnya karena menahan sakit. Bahkan kristal bening terlihat mengalir dari sudut matanya.
Rifky yang melihatnya merasa kasihan dan segera mengambil sesuatu di meja rias Naira.
Dia mengoleskan minyak kayu putih di perut rata Naira dan sedikit memijat.
"Sakit, Mas ...," rengek Naira sambil menangis.
"Kamu tidur aja, biar sakitnya ilang!" perintah Rifky, dan langsung dituruti oleh Naira yang mulai memejamkan matanya kembali.
Sementara Rifky terus mengelus perut Naira sampai istrinya itu benar-benar tertidur.
Melihat istrinya telah tertidur pulas, Rifky melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu dan akan melaksanakan sholat tahajud. Dia membiarkan Naira tertidur karena merasa kasihan terhadap istrinya itu.
Pagi harinya ....
Naira hari ini tidak masuk sekolah, karena kelas Xll memang dibolehkan mau sekolah atau tidak. Toh tinggal menunggu kelulusan saja.
"Ke mana?" Naira menatap suaminya heran. Pagi-pagi ngajak jalan ke mana? Apa mau mengajaknya ke kantor?
"Ke rumah Papa, tadi malam Papa nelfon nyuruh kita ke sana," jelas Rifky sambil memberikan baju untuk Naira.
Naira memang tak mendengarkan siapa yang menelfon semalam karena dia langsung lari ke kamar mandi. Jadi dia tak tahu kalau itu papanya.
"Ayo pake bajunya! Apa mau aku yang pakein?" Rifky tersenyum dan menggoda istrinya, karena Naira hanya diam saja dari tadi.
"I--iya." Naira menatap Rifky kesal dan membuka lipatan bajunya. "Mas, keluar, dong ...," pinta Naira saat Rifky terus melihatnya. Dia begitu malu jika harus ganti baju di depan mata Rifky.
"Kenapa emang? Nggak ada salahnya aku di sini," timpal Rifky memutar bola matanya.
"Ih, malu!" ketus Naira memanyunkan bibirnya.
"Cepat atau lambat, aku akan melihatnya!" bisik Rifky di telinga Naira. Tak lupa sambil tersenyum jahil.
"Nyebelin!" umpat Naira pelan. Hal itu langsung mengundang kekehan kecil dari Rifky.
__ADS_1
Rifky menarik hidung mancung Naira dan berlalu ke luar, sedangkan Naira menatapnya dengan sebal.
Setelah mereka bersiap-siap, Rifky dan Naira berpamitan pada Bi Ira untuk menuju rumah Herman.
****
"Gimana, Ra?" tanya Marlin menatap anaknya. Sekarang mereka berada di kamar setelah membantu Bi Ijah membereskan alat-alat dapur.
Sedangkan Rifky dan Herman, mereka sudah berangkat ke kantor selesai dari sarapan tadi.
"Apanya yang gimana?" tanya balik Naira. Dia tak mengerti arah pembicaraan mamanya.
"Apa kamu sudah memenuhi kewajibanmu sebagai istri?" Marlin menatap Naira serius.
Naira menggeleng. "Belum!"
"Loh, kenapa belum? Apa Rifky tidak memintanya?" Marlin terus mengintrogasi anaknya.
"Hampir, sih," jawab Naira sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hampir bagaimana? Tidak ada kata hampir dalam hal itu! Apa kamu menolak suamimu?" Marlin melemparkan berbagai pertanyaan yang membuat Naira bingung. Akhirnya Naira hanya menggeleng.
"Ra! Kamu jangan pernah menolak keinginan suamimu! Dosa, tahu?" Marlin mengingatkan.
"Ng--nggak, Naira nggak nolak, kok, Ma. Cuma Naira nggak siap ...," ujar Naira pelan.
Hufft ....
Marlin melepaskan nafasnya sejenak dan memandang anaknya yang menunduk. "Sayang ... maafin Mama sama Papa, ya? Harusnya saat ini kamu masih bermain-main dengan teman-temanmu. Mungkin kamu belum mempunyai keinginan untuk menikah," ujar Marlin memegang bahu anaknya.
"Nggak, kok, Ma. Naira bahagia sama Mas Rifky. Dia orangnya baik, pengertian, penyayang, Naira nggak pernah nyesal akan hal ini," ungkap Naira dan memeluk mamanya senang.
"Makasih, ya, Sayang. Kamu memang anak Mama yang paling baik," puji Marlin tersenyum pada Naira. Lalu mengecup singkat pipi anaknya itu.
"Semua karena Mama dan Papa. Naira sayang kalian," ucap Naira tersenyum. Mereka kembali berpelukan dan tak terasa air mata bahagia menghanyutkan mereka.
Naira sadar, kalau selama ini pilihan Mama dan papanya adalah yang terbaik. Orang tuanya memang sudah melakukan yang terbaik untuknya. Dia patut berterima kasih atas hal itu.
.
.
__ADS_1
.
TBC.