
Jam menunjukan pukul 21.27 WIB. Naira dan Rifky bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka malam itu juga. Sedangkan Ustaz Hanan dan Rasya sudah pulang sejak sore tadi.
Sebenarnya Naira bingung, kenapa Mama dan papanya menyuruh meraka pulang malam ini? Bukankah tak mengapa jika mereka menginap di sini? Namun, Marlin malah mengatakan bahwa ada kejutan untuk mereka. Ya, sudahlah!
Setelah selesai bersiap-siap, mereka langsung meminta izin untuk pulang. Naira dan Rifky bergantian menyalami punggung tangan Herman. Marlin juga tak lupa memeluk dan mencium putrinya yang akan berpisah dengan mereka malam ini.
"Kita pulang dulu, ya, Ma, Pa?" pamit Naira dan mendapat anggukan pelan dari Mama dan papanya.
Rifky menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dan hati-hati. Mengingat hari juga sudah agak malam, dan jarak ke rumah mereka memakan waktu setengah jam perjalanan.
"Bagaimana perasaanmu, Sayang?" Rifky membuka suara dan melirik istrinya yang duduk di samping kemudi.
"Baik-baik saja," jawab Naira singkat.
"Maksudnya bahagia atau tidak?" Rifky mengulang pertanyaan dengan yang lebih jelas lagi.
"Sangat bahagia." Naira tersenyum sumbringah.
Rifky membalas senyuman istrinya dan tangan kirinya berhasil mengelus pucuk kepala Naira.
"Aku jadi nggak sabar pengen cepat sampai. Kira-kira apa, ya, yang dimaksud kejutan oleh Mama tadi?" Naira meletakkan telunjuk kanannya di dagu dan tampak berfikir.
Sedangkan Rifky menahan senyum saat mengetahui itu. Biarlah Naira penasaran saat ini, tapi nanti dia pasti akan sangat terkejut saat mengetahui semuanya.
"Bentar lagi kita sampai," ujar Rifky tersenyum.
Benar! Beberpa menit berlalu, mobil mereka telah memasuki halaman rumah yang dituju.
Rifky langsung menempatkan mobilnya di garasi. Lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk Naira.
Naira turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih pada Rifky. Kemudian mereka memasuki rumah bersamaan dengan Rifky yang membawa barang-barang milik Naira. Sementara Naira hanya membawa hadiah dari Mama dan papanya saja. Sudah tak sabar juga ingin membuka dan melihat isinya.
Rumah terlihat sunyi, karena tidak ada penghuninya selain mereka berdua. Bi Ira malam ini masih menginap di rumah Herman untuk membantu Bi Ijah dan Marlin beres-beres.
Mereka berjalan menapaki anak tangga, dan berakhir di kamar mereka.
__ADS_1
Ceklek!
Naira membuka pintu kamar, dan suasana dalam kamar itu berbeda dari kamarnya sebelumnya. Saat ini kamar itu telah dipenuhi lilin yang kemerlap indah dengan penerangan yang remang-remang, serta ranjang tempat mereka tidur telah dipenuhi kelopak bunga mawar yang membentuk hati.
Naira tertegun. Ada apa ini? Perlahan dia melangkah untuk melihat lebih dekat, dan ... apa ini? Bunga melati bergelantungan indah menghiasi kamar itu. Siapa yang telah menghias kamar mereka sedemikian rupa?
Apakah ini yang dimaksud kejutan oleh mamanya? Kalau iya, kejutan macam apa ini? Mungkin menurut Naira ini terlalu berlebihan.
Naira meletakkan dua paperbag dari mamanya di atas nakas, dan melangkah ke kamar mandi.
Rifky? Di mana dia? Entahlah, mungkin kembali ke bawah.
Selesai mencuci kaki dan tangannya, Naira berencana membuka hadiah dari mamanya. Pertama dia membuka kotak merah yang berbentuk hati. Ya, itu dari papanya.
"Kalung?" Naira bergumam. Ternyata dia mendapat hadiah kalung dari papanya, dan kalung itu sangat indah menurut Naira.
Naira mengukir senyum dan meletakkan kembali kalung itu pada tempatnya. Mungkin besok-besok baru dia pakai.
Tangannya beralih membuka paperbag berwarna coklat dari mamanya.
Karena penasaran, Naira memakai baju itu dan mulai bercermin. Dia membulatkan matanya seraya menggeleng. Mengapa seperti ini bentuknya?
Tanpa sepengetahuannya, ternyata sepasang mata mengawasinya sejak tadi dan menyunggingkan senyum di bibir indahnya. Siapa lagi kalau bukan Rifky? Karena hanya mereka berdua yang tinggal di rumah ini.
'Bersiaplah, Sayang.' Dengan langkah pelan Rifky mendekat ke arah Naira, agar Naira tidak mengetahui kehadirannya saat ini.
Naira beralih membuka paperbag yang kedua. Tepatnya pemberian dari mertuanya. Sebuah gamis dan hijab cantik dengan warna kecoklatan, sangat menarik untuk dikenakan.
Saat Naira hendak mencobanya, tiba-tiba sepasang tangan kekar telah melingkar di pinggangnya.
"Hah! Mas Rifky?" Naira tersentak kaget saat mengetahui Rifky telah memeluknya. Apalagi dia masih menggunakan baju kurang bahan itu.
"Iya, Sayang. Kenapa?" Rifky menelusupkan wajahnya di leher jenjang milik Naira dan menghirup aroma tubuh istrinya itu.
"Bagaimana dengan kejutannya?" Tangan Rifky mulai menari di atas perut ramping Naira membuat Naira semakin gugup. Bagaimana ini? Mamanya telah menjebaknya. Ini bukan kejutan Mama ... tapi jebakan.
__ADS_1
Pantas saja Rifky tidak memasuki kamar bersamanya, ternyata dia menunggu Naira, dan kamar ini? Sengaja dibuat begini.
'Ah, Naira ... kenapa kamu tidak berfikir dari tadi.' Naira memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Desiran darah hangat mulai menyapu seluruh tubuhnya. Baju yang sedari tadi ia genggam perlahan terlepas tanpa sadar.
"Mas, aku be--belum mencoba baju itu," ucap Naira terbata-bata.
"Baju ini lebih cantik!" Naira lebih kaget lagi saat Rifky membalikkan tubuhnya. Kakinya cukup gemetar untuk menahan keseimbangan tubuhnya saat ini. Kedua matanya menangkap senyum yang sulit untuk dimengerti dari tepi bibir Rifky.
"Mas Rifky ...?"
Rifky hanya tersenyum melihat ekspresi Naira. Benar-benar tegang! Sudah dapat dipastikan kalau jantungnya tengah maraton sekarang.
Perlahan, tapi pasti, Rifky mendekatkan wajahnya pada Naira. Lebih dekat, sangat dekat ....
Cup!
Rifky me****t b***r istrinya dengan sangat lembut. Naira yang tak bisa menghindarinya hanya pasrah dan membiarkan Rifky melancarkan aksinya.
"Mas, aku ... aku ...."
Naira tak melanjutkan ucapannya saat Rifky mengangkat tubuhnya ke atas ranjang dan langsung menindih tubuh kecilnya.
"Mas, aku takut ...," lirih Naira mencoba menghindar, tapi Rifky menahan kedua tangannya dan kembali mencium bibir istrinya. Turun ke leher, dan ....
SENSOR ....🤣
Tak baik ada bocil yang baca 🙂
.
.
.
TBC.
__ADS_1