
Satu jam lebih Naira menunggu kepulangan Rifky. Selesai melaksanakan sholat dzuhur, ia duduk di teras rumahnya, sesekali melihat ke arah gerbang memastikan kedatangan suaminya. Naira sudah sangat ingin makan bakso yang ia titipkan pada Rifky tadi. Namun, Rifky lama sekali!
"Mas Rifky mana, sih? Lama banget!" oceh Naira sambil celingukan. Tatapannya tak lepas dari pintu gerbang.
Seraya menunggu, Naira memainkan ponselnya untuk mengusir kebosanan. Barusan juga dia mendapat kabar dari salah satu sahabatnya---Kiki---bahwa dia akan melanjutkan jenjang pendidikannya ke Singapura. Naira dan kedua sahabatnya yang lain merasa sedih dengan kepergian Kiki. Namun, mereka tetap mendo'akan yang terbaik untuk sahabat mereka itu.
Kiki akan berangkat besok lusa ke Singapura, dia akan tinggal bersama kakaknya yang sudah lama bekerja di sana. Dengan deraian air mata, Naira membaca setiap pesan-pesan yang ditulis Kiki lewat chat whatsAppnya. Rasanya begitu sesak jika harus berpisah dengan Kiki. Siapa yang tidak sedih berpisah dengan sahabat?
Naira mematikan handphonenya dan mengusap air mata yang telah membasahi pipi. Isakan kecil juga hadir memberi alunan kesedihan yang dia rasa. Tiga tahun bersama di sekolah bukanlah waktu yang singkat, dan dia benar-benar telah mengenal kebaikan-kebaikan Kiki padanya. Lalu, mereka kini harus berpisah ....
Tit! Tit ....
Suara klakson mobil Rifky membuyarkan lamunan Naira. Secepat mungkin Naira menghapus air matanya dan tersenyum menyambut kepulangan suaminya.
"Mas! Mana baksonya?" tanya Naira setelah mencium punggung tangan Rifky.
"Nih!" Rifky meraih kantong plastik di dalam mobil dan memberikannya pada Naira.
Naira tersenyum dan berterima kasih, tapi Rifky melihat sesuatu yang ganjal di balik senyum Naira. Rifky menatap mata istrinya yang terlihat memerah, sepertinya habis menangis.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rifky sambil mengelus kepala Naira.
"Nggak papa, kok. Hem ...." Naira tersenyum dan menggandeng tangan Rifky untuk mengajaknya masuk. Rifky membalas senyuman Naira, lalu mengecup sekilas pipi istrinya itu.
Naira mencuci tangannya sebelum menikmati bakso yang dibelikan Rifky. Ibu hamil harus benar-benar menjaga kebersihan agar calon bayinya sehat.
"Eum ... aromanya." Naira menghirup aroma bakso yang masih hangat itu. Benar-benar menggoda seleranya.
Naira mulai mencicipi kuah baksonya tanpa mengajak Rifky lagi. Dia tidak peduli di mana Rifky berada, yang penting baginya adalah makan!
"Eh! Kok aku banyak makan, sih?" tanya Naira pada diri sendiri. "Apa jangan-jangan karena kamu, ya, Dek! Kamu yang bikin Mama banyak makan, ntar Papa kamu malah nyalahin Mama, lagi ...." Naira terkekeh sambil mengelus perutnya. Bahkan dia sudah mengajari calon anaknya untuk memanggil mama dan papa.
__ADS_1
Sepertinya bayinya nanti akan sangat lucu jika sudah lahir ke dunia, dan akan lebih lucu lagi jika anaknya perempuan. Namun, mau perempuan atau laki-laki, Naira akan tetap bersyukur akan hal itu.
"Nggak papa, kita lanjut aja makannya." Naira melanjutkan makannya yang tertunda, tanpa dia sadari kalau Rifky sejak tadi berada di belakangnya sambil menahan senyum.
"Mama kamu alasan, Dek. Dia emang banyak makan dari dulu, kamu jangan mau disalahin, ya?" Rifky duduk di sebelah Naira dan memeluk pinggangnya. Laki-laki itu terkekeh menimpali ucapan Naira. Apalagi menyaksikan Naira yang menekuk wajahnya sambil mengunyah.
"Enak aja! Emang dedeknya yang pengen, kok," sungut Naira memanyunkan bibirnya.
"Hahaha!"
Cup!
"Lanjutin makannya, sekaligus suapin." Rifky membuka mulut dan meminta Naira menyuapinya.
"Huu ... Papa kamu juga mau, Dek!" Naira membalas cibiran Rifky sambil memasukkan potongan bakso ke mulut suaminya itu.
"Nah! Kalau Papa kamu baru alasan! Kalau Mama enggak, ya ...?" Naira kembali mengelus perutnya dan menatap Rifky. Seakan-akan anaknya itu telah membelanya.
****
Ayu menghela nafasnya setelah menyelesaikan pekerjaan kantor. Tugasnya lumayan banyak karena Rifky tak masuk kantor hari. Namun, dia dapat memaklumi keadaan Rifky.
Ayu keluar dari kantor sekitar jam 3 sore. Wanita itu menjalankan mobilnya dan berniat untuk pulang. Ya, Herman memang memberikan kendaraan beroda empat itu untuk Ayu. Kasihan juga jika Ayu harus bolak-balik kantor dengan taxi. Apalagi dia seorang perempuan.
Ayu menghentikan laju mobilnya tepat di depan toko swalayan untuk membeli keperluannya. Toko itu adalah toko favoritnya. Selain harga yang terjangkau, toko itu juga dilewati saat dia pergi ataupun pulang dari kantornya.
Setelah memilih belanjaan, Ayu menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
"Ini, Mbak!" Ayu tersenyum sambil menyerahkan belanjaannya pada petugas kasir. Dia menunggu penotalan belanjaannya yang masih mengantri.
"Ayu ...." Seseorang di sampingnya memanggil dengan lembut, karena takut salah mengenalinya.
__ADS_1
Ayu menoleh. "Tante Erna?" Dia menyalami punggung tangan wanita paruh baya yang memanggilnya tadi. Wanita yang dulu telah menolongnya saat ia terpingsan di jalanan.
"Beneran kamu, Yu? Kirain ... Tante salah panggil." Erna bergurau.
"Iya, Tante. Tante belanja juga?" tanya Ayu sembari membayar belanjaannya.
"Enggak, kok! Ini toko punya Tante. Tapi Tante jarang ke sini," jawab wanita itu tersenyum.
"Owh ... gitu. Ayu baru tau, Tan. Padahal udah sering, loh belanja di sini. Produknya? Hem!" Ayu mengacungkan jempol kirinya dan disambut tawaan oleh Erna.
"Yuk! Duduk di sana dulu, sekalian Tante mau bilang sesuatu sama kamu." Erna mengajak Ayu untuk duduk di depan tokonya.
"Serius amat, Tan. Hahaha!" Mereka tertawa dan berjalan menuju kursi.
Erna segera menyampaikan maksudnya pada Ayu. Gadis itu sedikit dibuat terkejut atas perkataan Erna. Dari mana wanita itu mengenalinya begitu dalam? Sampai tahu kesehariannya.
"Ayu ... nggak salah dengar, 'kan, Tante?" tanya Ayu memastikan.
Erna tersenyum dan mengelus punggung gadis itu. "Tidak, Yu. Tante tau kamu itu gadis baik-baik," tuturnya.
Ayu mengangguk. Matanya terlihat memerah menahan bening embun. Sebegitu baiknya wanita ini padanya, padahal mereka baru dua kali bertemu dan saling kenal, tapi dia sudah mendapat kepercayaan yang begitu besar dari Erna.
"Ya udah. Ini udah sore, kamu boleh pulang. Jangan lupa apa kata Tante tadi, ya?" Erna tersenyum dan memeluk Ayu dengan sayang. Gadis yang baru dikenalnya itu berhasil membuatnya kagum karena ketekunan dan kebaikannya. Dia bangga pada Ayu.
"Ayu pulang dulu, Tan? Dah ...." Ayu melambaikan tangan dan memasuki mobilnya. Sekali lagi dia tersenyum haru mengingat kebaikan Erna padanya. Ayu tidak akan lupa, dia sangat berterima kasih pada Erna---wanita yang sudah seperti sosok ibunya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
TBC.