Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 58


__ADS_3

Karena mobilnya masih dalam perbaikan, Rifky pulang bersama Iyan dan Herman. Laki-laki itu duduk di kursi belakang bersama dengan Bi Yati. Sepanjang perjalanan ketiganya bertanya-tanya pada Bi Yati, sampai mereka mengetahui permasalahannya bagaimana.


"Hah! Rifky ... Rifky .... Bagaimana bisa kamu terjebak sama wanita itu? Sampai pingsan pula?" Iyan menyetir sembari mengomeli Rifky. Sedangkan Rifky hanya membiarkan ocehan sahabatnya itu berlalu begitu saja.


"Naira sudah tahu ini, Rifky. Papa minta kamu membujuknya jika dia marah," ucap Herman menoleh pada Rifky.


"Apa Naira sudah tau semuanya, Pa?"


"Entahlah. Papa rasa tidak semuanya," jawab Herman.


Rifky menghela nafas. Laki-laki itu mengusap wajahnya dan menyibakkan rambut ke belakang. Keadaannya sudah sangat kacau, apalagi memikirkan istrinya di rumah. Bukan tidak mungkin Naira akan marah, 'kan?


"Kalau aku jadi kamu, aku tidak tau nasib wanita itu bagaimana." Iyan tersenyum remeh.


"Kasihan padanya, Yan. Kamu tidak liat apa keadaannya tadi?" balas Rifky.


"Sudahlah. Itu dia Naira!"


Rifky mengikuti tatapan Herman yang mengarah pada istrinya. Terlihat Naira sedang dipeluk mamanya sambil menangis, hingga wajahnya bermandikan air mata. Rifky menunduk sebentar. Iba sekali melihat istrinya seperti itu. Apalagi Naira sekarang sedang hamil muda.


Begitu mobil terhenti, Rifky cepat-cepat turun dan menghampiri Naira dengan tatapan lembut. Laki-laki itu perlahan mendekati Naira yang melemparkan tatapan marah padanya.


"Sayang ...?"


"Dari mana kamu, Mas?!" Naira menepis tangan Rifky yang ingin memeluknya. Jari-jari mungil itu menghapus derai air mata di pipi dengan bibir sedikit bergetar. Dadanya makin sesak saat Rifky menatapnya kasihan. Dia memang menginginkan pelukan dari suaminya itu, tapi hatinya sedang marah.


"Sayang, kamu tenang dulu. Kita bicarakan ini baik-baik, ya?" Marlin berkata lembut sembari mengelus pelan pundak Naira.


Naira menatap mamanya, dia merasa cukup tenang ketika mendapati senyuman teduh dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Kita masuk dulu, Sayang!" ajak Herman tersenyum.


Sebelum melangkah masuk, Rifky sempat meneteskan air mata. Dia benar-benar lemah jika sudah berhadapan dengan istri kecilnya itu. Rifky begitu menyayangi Naira, hingga dia akan ikut rapuh jika Naira menolaknya.


"Semua ada jalannya, Ky!" Iyan menepuk pundak Rifky dan menampilkan senyum untuk menguatkan sahabatnya itu. Iyan tahu, kelemahan seorang laki-laki memang terletak pada wanita yang dicintai.


Rifky dan Iyan berjalan bersamaan, kedua lelaki itu kembali terdiam menatap Naira yang duduk di dekat mamanya, seolah tak ingin lagi dekat dengan Rifky.

__ADS_1


"Bersihkan dulu dirimu, Nak!" ucap Herman pada Rifky. Rifky mengangguk. Lalu berjalan menuju kamarnya setelah menatap sejenak sang istri yang sama sekali tidak melihatnya.


"Naira. Marah itu ada saatnya. Kamu belum mendengarkan penjelasan dari suamimu, 'kan?" Herman menatap Naira yang masih ditenangkan Marlin.


"Sebaiknya kamu bersikap seperti biasa pada Rifky. Papa tau kamu marah, tapi tanyakanlah dengan baik-baik. Jangan membentak suamimu, apalagi bersikap tidak pantas padanya. Ingat! Dia bertanggung jawab penuh atas dirimu! Bukan lagi Papa dan Mama!"


Herman memanfaatkan kepergian Rifky untuk menasehati putrinya itu. Naira hanya diam saja, yang mungkin dalam diamnya itu sedang mencerna setiap perkataan dari papanya.


Hening! Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Kedua orang tua Naira membiarkan Naira untuk berpikir lebih jernih. Mereka tahu, Naira tidak sepenuhnya faham akan arti sebuah keluarga. Dari itu mereka harus menengahinya.


"Kalau gitu ... Iyan sama Bi Yati mau pamit dulu, Om." Iyan menghabiskan minumannya dan pamit undur diri.


"Mau pulang sekarang, Yan?" tanya Herman.


"Iya, Om. Udah sore ...," balas Iyan tersenyum. Laki-laki itu menyalami punggung tangan Herman dan mengajak Bi Yati ikut bersamanya.


"Terima kasih, Yan! Hati-hati!" ucap Herman menampilkan senyumnya.


"Iya, Om. Pulang dulu, Tante!"


"Iya," balas Marlin ramah.


"Wa'alaikumussalam ...."


Iyan dan Bi Yati keluar dari rumah Rifky. Untuk yang ke sekian kalinya wanita paruh baya itu sangat berterima kasih pada Iyan, pemuda baik yang telah menolongnya beberapa waktu lalu, ketika ia dalam keadaan kelaparan.


Beberapa menit bertempur dengan air shower, akhirnya Rifky turun dengan tampang segarnya. Laki-laki itu tersenyum menatap Naira yang meliriknya, kemudian menduduki sofa yang hanya bermuatkan satu orang.


"Iyan mana, Pa? Udah pulang?" tanya Rifky.


"Iya, baru saja," balas Herman.


"Minum dulu, Den. Biar pikiran tenang ...." Bi Ira menaruh minuman untuk Rifky sembari bergurau kecil.


"Terima kasih, Bi," ucap Rifky terkekeh. Begitu juga Herman dan Marlin. Sementara Naira masih memasang wajah datarnya.


"Papa sama Mama mau pulang. Ini juga sudah sore. Kalian baik-baiklah di sini," pesan Herman menatap anak dan menantunya.

__ADS_1


"Iya, Pa. Maaf sudah merepotkan." Rifky tersenyum paksa. Dia merasa tak enak hati pada mertuanya itu.


"Nggak papa, lain kali hati-hati," kata Herman yang diangguki oleh Rifky.


Herman dan Marlin pamit pulang setelah meninggalkan beberapa pesan untuk anak mereka itu. Bukan tak ingin membantu, tapi Herman mengerti kalau Rifky bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Hati-hati, Ma!" teriak Naira sembari melambaikan tangannya.


"Iya, Sayang. Kalian baik-baik, ya?"


Naira tersenyum melihat mobil Herman yang melaju. Lalu melangkah masuk meninggalkan Rifky tanpa sepatah kata pun.


"Naira ...," panggil Rifky mengikuti istrinya. Naira tetap meneruskan jalan dan tidak mempedulikan Rifky.


"Sayang ... kamu dengerin Mas dulu." Rifky meraih pundak Naira ketika mereka sudah sampai di kamar.


"Jangan sentuh aku sebelum Mas jelaskan semuanya!" bentak Naira.


"Iya, Sayang .... Maafin Mas, ya? Mas akan jelaskan semuanya, tapi kamu jangan diamin Mas seperti ini," pinta Rifky lirih. Matanya menatap tepat mata coklat Naira, mencari tatapan cinta di sana.


"Aku belum mandi!" Naira meraih handuknya dan meninggalkan Rifky ke kamar mandi.


Sungguh. Dia tidak tahan mendengar suara lembut dari Rifky. Naira mengunci pintu rapat-rapat dan mulai menyalakan shower. Air matanya kembali turun, menyatu dengan air yang mengguyur tubuh kecilnya.


'Maafin aku, Mas,' batinnya menjerit.


Beberapa menit menyelesaikan mandinya, Naira keluar dari kamar mandi dengan handuk saja. Sekilas dia melirik Rifky yang duduk di sofa, lalu beralih pada baju tidur yang sudah tergeletak rapi di atas ranjang. Dengan helaan nafas pelan, Naira meraih baju yang telah disiapkan suaminya itu.


Dadanya kembali berguncang. Haruskah dia tetap mengabaikan suaminya?


"Jangan berlama-lama, nanti kedinginan." Suara Rifky yang sudah ada di belakangnya membuat Naira tersentak kaget. Matanya langsung terbelalak ketika Rifky mengambil alih pakaiannya dan memakaikan pada tubuhnya.


"Aku bisa sendir!" ketus Naira. Kemudian merampas kembali pakaiannya dari tangan Rifky. Naira hendak pergi, tapi Rifky memeluknya dengan erat.


"Sampai kapan kamu seperti ini, Sayang? Mas nggak kuat jika kamu bersikap dingin dan acuh begini ...." Rifky menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naira. Menggenggam lembut jari-jari mungil itu dengan air mata yang telah hadir kembali.


Naira terdiam. Memejamkan netranya yang terasa menghangat. Ingin sekali dia berbalik dan membalas pelukan Rifky. Namun, tubuhnya terasa kaku dan bimbang.

__ADS_1


Naira menangis dalam hati. Dia butuh waktu untuk memulihkan semuanya, butuh waktu untuk meredamkan marahnya, butuh waktu untuk kembali ke dalam dekapan mesra suaminya itu.


__ADS_2