Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 78


__ADS_3

Rifky dan Naira pamit pulang setelah beberapa lama mengobrol di rumah Iyan. Mereka juga akan bersiap untuk mengaji karena hampir memasuki waktunya.


Naira terus memperhatikan wajah Rifky yang serius dalam menyetir. Benar-benar tampan. Wajar saja suaminya itu diinginkan wanita lain.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rifky yang membuat Naira mengalihkan pandangannya.


"Enggak papa!" Naira menjawab jutek, dan dia dapat mendengar helaan nafas dari suaminya.


"Kak Iyan cuma mau jahil sama kamu, nggak bermaksud apa-apa," kata Rifky lembut, seolah dapat menebak apa yang dipikirkan Naira.


"Tapi aku sebel!"


"Hahaha .... Itu dia, tujuannya memang membuat kamu kesal. Apa kamu lupa berapa kali kita menjahilinya di pengajian?" Rifky terkekeh.


"Kan Mas yang jahil. Bukan aku!" jawab Naira cemberut. Matanya menatap datar wajah Rifky, hingga ekspresi yang ditampilkan tampak begitu lugu. Apalagi tangan mungilnya itu memilin ujung jilbab. Sungguh, seperti gadis kecil yang sangat imut.


"Kamu, 'kan istriku, Sayang." Rifky tersenyum manis, menjangkau kepala Naira dengan tangan kirinya.


"Ayo turun!" Naira mengangguk, melepas seatbelt dan membantu Rifky mengangkat barang mereka. Terlihat Bi Ira menghampiri untuk membantu, tapi semuanya mampu dibawa oleh Rifky sendiri.


"Ini buat Bibi." Naira tersenyum sambil memberikan paperbag pada Bi Ira.


"Buat Bibi, Neng?" tanya Bi Ira semringah. Wanita itu membuka paperbag yang ternyata berisi baju baru.


"Iya. Jangan lupa dipake, ya?" Naira tertawa kecil, berjalan masuk bersama Bi Ira. Sedangkan Rifky sudah mendahului mereka.


"Makasih, ya, Neng?" ucap Bi Ira bangga. Bi Ira mengelus kepala Naira dengan halus, sayang sekali dia pada majikan yang seperti anak kandungnya itu.

__ADS_1


Naira tersenyum. Lantas pergi ke kamar. Terlihat kalau Rifky sudah melepas bajunya dan bersiap untuk mandi.


"Mandi bareng?" Rifky menatap Naira. Istrinya itu diam sesaat, lalu mendekat perlahan dan refleks memeluk tubuhnya.


"Ganteng banget, sih, Masss?" ucap Naira merengek. Bibirnya manyun dengan mata mengerjab pelan, menatap wajah Rifky yang lebih tinggi darinya.


"Hahaha, kamu ini kenapa, sih? Hm?" Rifky memeluk pinggang Naira, mengecup singkat tepi bibir istrinya itu beberapa kali.


"Ayo mandi! Nanti kita telat berangkatnya," ajak Rifky kemudian. Karena Naira tak kunjung melepaskan, Rifky terpaksa mengangkat istrinya itu dan terkekeh geli.


Dua puluh menit kemudian, mereka berdua menuruni anak tangga dengan pakaian rapi. Naira berpamitan pada Bi Ira, setalah itu menyusul Rifky yang sudah menunggunya di garasi.


Sesaat sebelum masuk mobil, Naira mendongak ke langit. Gumpalan awan di atas sana begitu kelabu dan bergerak perlahan-lahan, sebentar lagi langit akan menumpahkan airnya yang sudah lama tak bersua dengan bumi.


Jalanan kota yang sangat padat akan kendaraan juga terlihat gelap, bahkan beberapa kali Rifky menginjak rem karena lampu merah. Namun, hal itu tidak membuat mereka mengurungkan niat.


"Iya. Bentar lagi kita sampai, kok." Rifky masih fokus pada kemudi, berbelok ke kanan di mana telah terlihat masjid indah beserta anak-anak yang berteriak girang. Mungkin tak sabar memulai pengajian supaya cepat pulang.


Rifky dan Naira turun dari mobil, menyambut uluran tangan dari anak-anak dan mengajak mereka masuk kembali ke surau.


Ustaz Hanan, Rifky dan Iyan segera mengarahkan murid-muridnya agar berdiam di tempat duduk, sebab kegiatan mengaji akan dilangsungkan untuk menyingkat waktu.


Suara mendengung dari para anak-anak terdengar samar, mereka belajar sendiri sembari menunggu giliran. Kebiasaan baik yang dibentuk ternyata menumbuhkan pelajaran bagi mereka. Tak hanya mengaji, tapi juga tentang menghargai waktu.


Selesai kegiatan di dalam surau, mereka berpindah ke masjid untuk melaksanakan salat ashar bersama. Langit tampak semakin gelap. Bertepatan pada rakaat kedua, guyuran hujan mulai menyapu bumi.


Makin lama, tempat itu sudah dipenuhi genangan air. Anak-anak sebagian ada yang pulang karena dijemput, ada juga yang membawa payung sebagai persiapan, hingga sedikit memudahkan langkah mereka dalam terpaan hujan.

__ADS_1


Berbeda dengan Rifky dan Naira. Mereka berdua harus menunggu hujan sedikit reda agar tidak terlalu basah saat masuk mobil. Sementara Iyan dan Ustaz Hanan sudah izin pulang.


Tidak masalah jika Rifky sendiri yang terkena hujan, tapi lelaki itu memikirkan istrinya. Apalagi harus berlari menuju mobil mereka. Bagaimana kalau tergelincir?


"Kapan pulangnya kalau gini, Mas?" Naira berdiri dari duduknya, berjalan beberapa langkah mendekati cucuran atap.


"Tunggu bentar lagi, ya, Sayang? Hujannya masih besar-besar, tuh," ucap Rifky mendekati Naira.


"Semoga nggak lama," gumam Naira.


"Kamu nggak kedinginan, 'kan? Sini coba!" Rifky menarik tubuh Naira, lalu mendekapnya hangat.


"Bukan kedinginan ... tapi pengen makan ...." Naira menempelkan dagunya di dada Rifky, menatap wajah suaminya itu sambil tertawa.


"Lapar?"


Naira menggeleng. "Enggak. Tapi mau dibuatin kue sama kamu."


"Nanti, ya?" kata Rifky tersenyum, kemudian menenggelamkan wajah Naira di dalam dekapannya.


"Kamu tau nggak, Mas?" Naira mendongak kembali.


"Apa?"


"Kamu itu selembut surah Ar-rahman, bila mana dibaca sangat mendamaikan hati. Layaknya kamu ... jika kupandangi ...." Naira tersenyum malu, menyembunyikan rona merah di pipinya saat Rifky tertawa.


"Udah berani gombal, ya?" ucap Rifky terkekeh. Naira hanya tertawa kecil, kemudian memejamkan mata saat Rifky mengecup lembut keningnya. Untung suasananya sedang hujan, sehingga tidak ada seorang pun yang menyaksikan kemesraan mereka di sana.

__ADS_1


Canda tawa keduanya kian terdengar seiring hujan yang mulai reda. Bahkan karena rasa nyaman, Naira tak ingin melepaskan pelukan meski Rifky mengajaknya pulang.


__ADS_2