
Pagi hari yang cerah, seorang gadis masih setia menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan mata yang enggan terbuka, dia tak lain adalah Naira.
Saat ini Naira masih tertidur pulas, selesai bangun subuh, Naira memilih untuk tidur kembali karena kepalanya yang terasa sangat pusing.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, terlihat Rifky berjalan mendekati Naira untuk membangunkan istrinya itu.
"Naira, bangun udah pagi," panggil Rifky pelan, dia menggoyangkan tubuh Naira agar gadis itu segera bangun.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Rifky yang masih terus membangunkan istrinya.
"Hmm ...." Naira memelas dan kembali menarik selimutnya.
"Bangun, udah pagi!" ucap Rifky, yang mendapat gelengan pelan dari Naira.
"Kamu kenapa?" tanya Rifky bingung saat Naira tak mau bangun.
"Kepalaku sakit, Mas." Naira memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Matanya rada-rada ingin terbuka.
"Kamu sakit?" Rifky mengelus rambut Naira lembut. "Kalau gitu nggak usah sekolah dulu, biar Mas ijinin nanti," ujar Rifky yang dibalas anggukan oleh Naira.
"Kita ke rumah sakit, ya?" usul Rifky dan langsung mendapat penolakan dari Naira.
"Nggak usah, Mas. Ini cuma sakit kepala biasa, kok," ujar Naira.
"Yakin?" tanya Rifky tersenyum.
"Iya," jawab Naira dan kembali memejamkan matanya. Rasa sakit di kepalanya kian menjalar, memaksa Naira untuk memejamkan matanya kembali.
"Mas mau ke kantor, Sayang. Kamu beneran nggak papa? Nggak mau ke rumah sakit dulu?" tanya Rifky meyakinkan Naira, dia takut terjadi apa-apa dengan istri kecilnya itu, meskipun kemarahannya belum sepenuhnya reda.
"Aku nggak papa, Mas," jawab Naira tersenyum. "Mas berangkat aja sekarang." Naira menggenggam tangan Rifky dan tersenyum manis pada suaminya itu.
"Ya udah. Kalau gitu Mas berangkat, ya. Kamu baik-baik di rumah sama Bi Ira. Kalau ada apa-apa kabarin, Mas!" Sekali lagi Naira mengangguk untuk menjawab perkataan Rifky.
Rifky menundukkan badannya dan mengecup kening Naira.
"Jangan lupa makan, ya, Sayang." Rifky mengelus pucuk kepala Naira dan sekali lagi mencium pipi tembem itu.
Setelah itu Rifky ke luar dan berangkat ke kantornya, tak lupa setelah berpesan pada Bi Ira untuk menjaga Naira.
Di sisi lain, Tama sedang mengendarai mobilnya yang tak tertuju ke mana arahnya. Dia benar-benar kecewa saat ini. Pria itu ingin sekali menemui orang yang sangat ia cintai-Naira. orang yang berhasil memikat hatinya pada saat pertemuan pertama. Dia ingin mencurahkan semua perasaannya selama ini, berharap Naira mau menerimanya.
Namun, itu tidak mungkin! Bahkan Naira sendiri enggan bertemu dengannya sekalipun. Pria itu saja yang terlalu mengharapkan cinta seseorang yang tidak mencintainya, tapi apa salah jika ia berharap? Berharap orang yang dicintainya dapat dia miliki seutuhnya.
"Aghh!" Tama memukul kuat setir mobil.
Karena terlalu banyak memikirkan Naira, Tama tak sadar kalau dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dan ....
__ADS_1
"Aaaaa ...."
Bruk!
Dia menabrak seseorang yang sedang bersepeda pagi di jalan itu, jalan itu memang agak sepi sehingga banyak pejalan kaki yang menelusurinya.
Orang yang dia tabrak terpental ke pinggiran jalan dan tak sadarkan diri. Tama turun dari mobilnya dan melihat siapa yang telah dia tabrak.
Ternyata itu adalah seorang gadis yang sedang olahraga pagi. Ah, bagaimana ini?
Tama memangku kepala gadis itu yang sudah penuh dengan darah segar. Dirabanya pergelangan tangan gadis itu, nadinya masih berdenyut. Untunglah!
Tama mengangkat tubuh gadis itu dan memasukkannya ke mobil miliknya. Segera ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat untuk memastikan keadaan orang yang dia tabrak.
"Suster!" Tama memanggil Suster yang bertugas di rumah sakit tersebut, dan segera beberapa suster menghampirinya dengan membawa brankar.
Tama meletakkan tubuh yang penuh darah itu di atas brankar agar segera ditangani.
Tama mendudukan diri di kursi luar untuk menunggu pemberitahuan dari dokter. Sesekali Tama mengusap wajahnya kasar, dia sedang dilanda kebingungan saat ini.
Belum kelar ia bergelut dengan pikirannya tentang Naira, kini harus memikirkan keselamatan gadis itu pula. Bahkan bajunya yang sudah penuh dengan darah tak ia hiraukan. Tama Benar-benar panik!
Ceklek!
Pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan seorang dokter. Tama segera menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan gadis tersebut.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Tama sedikit panik.
"Ahh, syukurlah," ucap Tama lega.
"Kalau begitu saya permisi," kata dokter dan berlalu pergi.
Tama masuk ke ruangan di mana tempat gadis itu di rawat, dia memperhatikan wajah gadis yang tengah terbaring lemah itu dengan seksama. Siapa dia?
Tak ingin berlama-lama memikirkan hal itu, Tama memilih pulang untuk membersihkan dirinya dan akan kembali ke rumah sakit.
****
"Neng, Naira. Makan dulu!" Bi Ira membawa nampan berisi nasi serta lauknya ke kamar Naira. Karena Naira tak kunjung ke luar kamar, akhirnya Bi Ira memilih mengantarkan makanan Naira ke kamarnya. Dia berfikir, mungkin Naira capek.
Wanita paruh baya itu menaruh makanan di atas nakas dan membangunkan Naira yang sejak tadi belum bangun.
"Neng," panggilnya memegang tangan Naira.
"Panas sekali!" Bi Ira langsung panik dengan keadaan Naira sekarang, dia menyentuh kening Naira yang terasa sangat panas.
"Neng!" panggil Bi Ira yang sama sekali tak mendapat respon dari Naira.
Dengan segenap kekhawatiran, Bi Ira segera menuju ruang tamu dan menghubungi Rifky menggunakan telpon rumah.
__ADS_1
Dret ... dret ....
Rifky yang sedang fokus dengan layar laptopnya melirik ponselnya yang bergetar.
Dia segera mengangkat telponnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel itu.
"Assalamualaikum, Bi. Kenapa?" tanya Rifky pada Bi Ira di seberang telpon.
"Wa'alaikumussalam! Den, cepat pulang, Den. Neng Naira sakit," sahut Bi Ira dengan suara yang terdengar panik.
"Apa! I--iya, Bi. Saya pulang sekarang." Rifky mengakhiri panggilan dan segera keluar dari ruangannya.
Dia menyerahkan semua urusan kantornya pada sekretaris kepercayaannya.
Rifky melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah. Dia sangat khawatir dengan keadaan Naira sekarang.
"Assalamualaikum, Bi. Naira mana?" tanya Rifky saat sudah tiba di rumah.
"Wa'alaikumussalam. Neng Naira ada di kamar." Rifky berlari menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Begitu membuka pintu kamar, dia langsung berlari ke arah Naira.
"Naira!" Rifky segera menghampiri istrinya dan melihat wajah Naira yang sangat pucat.
Dia segera mengangkat tubuh istrinya itu untuk di bawa ke rumah sakit.
***
Saat sampai di rumah sakit, Naira langsung di tangani dokter di ruang perawatan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rifky menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan Naira.
"Istri Anda mengalami demam tinggi dan perlu perawatan yang cukup," ujar dokter itu.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dokter!"
"Iya, Pak. Itu memang sudah menjadi tugas kami." Dokter itu tersenyum dan diangguki oleh Rifky.
"Apa saya boleh masuk?" tanya Rifky.
"Iya, silahkan, Pak." Dokter menadahkan tangannya seraya menunduk hormat. Rifky memasuki ruangan Naira dan melihat istrinya yang terbaring lemah di brankar.
Dia menggenggam erat tangan Naira dan beberapa kali mencium tangan mungil itu.
Perlahan ... bening embun terjatuh dari pelupuk mata Rifky. Dia sangat khawatir melihat kondisi Naira sekarang.
"Maafin, Mas, Sayang," ucapnya seraya mencium tangan Naira.
.
.
__ADS_1
.
TBC.