Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 21


__ADS_3

Di sekolah, Kiki, Kinta dan Sindy berbincang-bincang mengenai Naira. Siapa Rifky, dan kenapa dia terlihat begitu peduli pada Naira?


Mereka semua sibuk memikirkan kejadian kemarin, apa Naira sudah punya suami? Lalu kapan nikahnya?


Hah! Membingungkan.


Tak lama datang Rizal memasuki kelas, secepat mungkin Kinta menarik tangan pemuda itu menuju tempat mereka bergosip.


"Ngapain, sih, tarik-tarik?" tanya Rizal dengan kesal, karena lengan bajunya sedikit kusut ditarik Kinta.


"Biasa aja!" ketus Kinta.


Dia paling tak suka diajak ribut sedikit. Bisa-bisa bikin kacau dah kalau ngomong kasar sama dia.


"Iya, ini dah biasa, kali." Rizal memutar bola matanya. "Kenapa?" tanyanya lembut.


"Lo tahu nggak, tentang Naira?" tanya Kiki to the point.


"Lah, mana gue tahu, 'kan kalian temannya." Rizal mengangkat kedua bahunya. Merasa lucu dengan pertanyaan Kiki.


"Maksudnya ... tentang cowok yang di rumah sakit kemarin, yang perhatian banget sama Naira itu, loh," ujar Sindy menjelaskan.


"Owh, itu. Emang kalian nggak tahu?" tanya Rizal menyipitkan sebelah matanya.


Mereka menggeleng serempak. "Emangnya ada apa?" tanya balik Kinta.


'Jadi mereka nggak tahu, gue kasih tahu nggak, ya?' batin Rizal dengan gaya yang tampak berfikir.


"Heh! Malah bengong, lo." Kinta mengibaskan tangannya di depan wajah Rizal, membuat sang empu sedikit terperanjat.


"Gue nggak tahu, ah. Tanya aja langsung sama Naira kalau dia 'dah sembuh, gue laper, belum sarapan." Rizal meninggalkan mereka ber-tiga.


Dia tak ingin memberi tahu teman-teman Naira sebelum waktunya.


Nanti bikin kacau lagi.


"Ihhh ...." Kinta, Kiki dan Sindy menatap Rizal dengan cengo. Tak lupa umpatan khusus diberikan untuk Rizal.


****


Sementara di rumah sakit, Ayu sedang mencari ruangan tempat Naira dirawat inap. Sebuah senyuman mengembang di wajah cantiknya saat menemukan tempat yang dia cari.


Ceklek!


"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Ayu yang datang untuk menjenguk Naira.


Dua hari Rifky tidak masuk kantor membuat Ayu bertanya ke mana Rifky sebenarnya. Dia mengetahui Rifky ada di rumah sakit dari Herman---papa Naira---yang sudah memulai pekerjaan kantornya kembali.


Ayu berniat menjenguk saudara Rifky yang sakit dengan tujuan tak lain adalah untuk memikat hati sang pujaannya.


Ya, Ayu mengira Naira adalah saudara Rifky, jadi dia tak tahu kalau sebenarnya Rifky sudah menikah.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ayu, ngapain ke sini?" tanya Rifky melihat Ayu datang.

__ADS_1


"Mau jenguk adeknya, nggak papa, 'kan, Pak?" balas Ayu tersenyum.


"Iya, nggak papa," jawab Rifky singkat dan kembali menatap Naira.


Saat ini hanya Rifky yang menjaga Naira di rumah sakit, kedua orang tua mereka pulang ke rumah untuk sementara waktu.


"Ini, Pak. Makan dulu, Bapak belum makan, 'kan?" Ayu menyerahkan makanan pada Rifky yang dibawanya dari rumah.


Rifky menerimanya, tak enak jika ditolak. Toh, dia juga belum makan dari tadi.


"Makasih," ucap Rifky.


"Iya, Pak. Sama-sama." Ayu tersenyum simpul pada Rifky. Rasanya senang sekali saat orang yang dia sukai memperlakukannya dengan lembut. Baru kali ini Rifky tak acuh padanya, biasanya sikap pria itu begitu dingin.


Mereka duduk di samping brankar Naira, terlihat Ayu sering mengelap keringat Naira menggunakan tisu yang membuat Rifky sedikit tersenyum padanya.


Rifky memakan makanan yang diberikan Ayu. Ayu yang melihatnya merasa sangat senang dan terus memperhatikan Rifky yang sedang mengunyah.


Tangan wanita itu terulur untuk mengelap sisa-sisa makanan yang menempel di bibir Rifky.


"Ayu!" Rifky yang tidak tahu langsung menatap Ayu, membuat wanita itu merasa malu.


"Maaf, Pak," ucapnya pelan dan menyingkirkan tangannya.


"Namanya siapa, Pak?" tanya Ayu mengalihkan perhatian Rifky pada Naira.


"Naira," jawab Rifky datar.


"Tidak. Baru dua hari ini, tapi dia belum juga sadar ...." Rifky berucap dengan sedih.


"Sabar, Pak." Kembali lagi tangan wanita itu menyentuh pundak Rifky.


Rifky mengangkat sebelah bahunya seakan menyuruh Ayu menurunkan tangannya. Jujur, dia tidak nyaman dengan keberadaan Ayu di sisinya. Wanita itu terlalu perhatian padanya membuat Rifky merasa terusik.


"Apa kamu tahu siapa dia?" tanya Rifky spontan dan melihat ke arah Naira.


"Tidak, Pak. Memangnya dia siapa? Saudara Bapak?" Ayu menaikkan sedikit alisnya.


"Dia istri saya!"


Deg!


"Hah!? I--istri?" Ayu bertanya seakan tak percaya.


"Iya. Jadi saya minta kamu jangan terlalu berlebihan dalam bersikap sama saya. Perasaan saya hanya untuknya," jelas Rifky menatap Ayu yang kebingungan.


"A--apa, ini benar?" tanya Ayu sekali lagi.


"Iya." Rifky sedikitpun tak melihat lawan bicaranya. Dia sibuk menggenggam tangan istrinya dan mencium tangan itu.


Mata Ayu mulai berkaca-kaca dan tiba-tiba menangis tanpa suara. Mendengar pengakuan Rifky barusan membuat mata hatinya tertoreh.


Rifky menoleh dan mendapati wanita di sampingnya menangis. Dia bingung. Kenapa? Ada yang salah dengan ucapannya?

__ADS_1


"Ayu ...," panggil Rifky lirih.


"Maaf, Pak. Aku t'lah mencintai orang yang salah."


Mendengar pengakuan itu, hati Rifky sedikit bergetar. Apa selama ini Ayu mencintainya? Hingga begitu peduli padanya. Dia akui, Ayu memang baik.


"Permisi, Pak." Ayu melangkah ke luar diiringi derai air mata yang tak mau berhenti.


"Ayu!" Rifky mencoba memanggil wanita itu, tapi Ayu tak mengindahkan panggilannya.


"Maafkan aku, Ayu. Aku tak bermaksud melukai perasaanmu," lirih Rifky saat Ayu menghilang dari pandangannya.


Ayu mendudukkan dirinya di kursi rumah sakit, hatinya saat ini benar-benar luluh.


Mengapa nasib cintanya tak pernah berpihak padanya, mengapa air mata kepedihan selalu jatuh karena cintanya. Apa dia salah dalam memilih? Apa dia salah dalam mencintai?


Kenapa luka yang dulu sempat dia obati, hadir lagi di dalam hatinya?


Kenapa orang yang dia cintai selalu dimiliki orang lain?


Dulu, dia telah merasakan luka karena cinta, dan sekarang luka itu hadir lagi.


Mengapa kekecewaan hadir menyapanya, saat dia menemukan kebahagiannya ada pada orang yang dia cintai?


Apa dia tidak ditakdirkan untuk dicintai?


Ayu mengusap air matanya dan berusaha mengukir senyum. Padahal tujuannya tadi ingin bertemu dengan Rifky untuk mengikis rindu, tapi malah sakit yang dia dapat.


Ya, ini rumah sakit, tapi dokter tak akan mampu mengobati sakitnya. Sakit ini berbeda, tak ada obat ataupun penawar untuk lukanya.


Bahkan langit pun ikut mendung, seolah merasakan apa yang dirasakan Ayu saat ini.


Akhirnya Ayu meninggalkan rumah sakit itu dengan membawa serpihan lukanya.


"Aku harus kuat!" ucapnya seraya berjalan menjauh.


Setengah perjalanan, petir menyambar begitu kuatnya membuat Ayu ketakutan. Baju yang dia pakai telah basah oleh air yang mengguyur tubuhnya.


Penglihatannya semakin memudar diiringi cuaca yang semakin gelap.


Tubuhnya yang kedinginan itu berjalan gontai dengan kaki yang tak kuat lagi melangkah, terus dia paksakan.


Buk!


Wanita itu terjatuh, air hujan dan angin terus menerpa dirinya yang sudah tak sadarkan diri.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2