Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 56


__ADS_3

"Neng! Ada apa, Neng? Kamu kenapa?" tanya Bi Ira khawatir. Wanita itu memeluk erat Naira yang terus menggeleng-geleng.


"Mas Rifky ... Mas Rifky, Bi ...." Naira menangis dalam pelukan Bi Ira. Sesekali memukul tangan Bi Ira untuk melampiaskan emosinya.


"Iya, ada apa sama Den Rifky?" tanya Bi Ira lembut.


Naira menghentikan tangisnya dan menatap Bi Ira sembari bersusah payah bernafas. Naira menghapus kasar air mata yang membanjiri pipinya, lalu menarik nafas cukup lama.


"Tadi ... tadi ada suara wanita di telepon Mas Rifky." Naira berusaha mengeluarkan suaranya yang tercekat.


"Udah, Neng. Kita cari tau dulu di mana Den Rifky. Neng nggak usah nangis, ya?" Bi Ira membujuk Naira yang ingin menangis kembali.


"Tapi gimana, Bi ...?" isak Naira.


"Tenang dulu, ya, Neng. Kita tunggu sebentar lagi, kalau Den Rifky nggak pulang baru kita bilang sama Tuan dan Nyonya," ucap Bi Ira memaksudkan Herman dan Marlin.


Naira mengangguk, dan berbaring saat Bi Ira menuntunya untuk tidur. Dia lelah.


Sedangkan di sisi lain, Rani tersenyum sumbringah karena berhasil membuat Naira panik. Dia yakin, Naira akan mengira Rifky telah berbuat macam-macam dan akan meminta cerai dari Rifky. Wanita itu tersenyum puas karena sebentar lagi rencanya akan berhasil. Dia akan memiliki Rifky sebagaimana yang dia inginkan.


Rani menaruh handphone Rifky di atas nakas dan kembali menatap tubuh Rifky yang tidak memakai baju lagi. Hanya celana panjang yang disisakan wanita itu. Selebihnya telah dia lucuti.


Rani berbaring di samping Rifky dan memeluk erat tubuh kekar tersebut. Menciumi dada bidangnya, hingga tanda merah bermunculan akibat bekas lipstik yang tertinggal.


"Sebentar lagi istrimu itu akan membencimu, Sayang. Dan kamu akan memilikiku!" Rani tersenyum sinis. Tangan halusnya menyentuh wajah Rifky dan berakhir dengan memeluk leher laki-laki itu.


Rani menenggelamkan wajahnya di dada Rifky yang tanpa alas apa pun itu. Kemudian tertidur karena rasa nyaman yang ia dapatkan.


"A--akh!" Rifky mengerjabkan matanya yang terasa berat untuk dibuka. Laki-laki itu memegangi tengkuknya sembari meringis pelan.


"Nai---" Ucapannya terhenti saat menyadari wanita yang mendekapnya bukanlah Naira. Rifky menatap setiap inci ruangan itu, ternyata bukan kamarnya.


Laki-laki itu mengangkat pelan kepala seseorang yang bertumpu di dadanya. Lalu mendorongnya saat mengetahui orang tersebut. Rifky memeriksa seluruh tubuhnya dan terkejut ketika melihat baju dan sarungnya tak ada lagi. Dia menatap tajam Rani yang perlahan terbangun.


"Rifky! Kamu sudah---"


Plak!


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rifky sembari menjambak kuat rambut Rani.


"Sa--sakit, Rifky?" Rani memegangi tangan Rifky yang menjambaknya.


"Jawab!" marah Rifky.


"Apa kamu tidak ingat? Kita baru saja---"


"Kau wanita tidak tau diri! Menyesal aku mengenalmu, Rani! Katakan dengan jujur! Apa yang kau perbuat!" Rifky semakin menguatkan jambakannya dan menatap marah wanita yang meringis itu.


"Ki--kita ... baru saja berbagi kehangatan," ucap Rani sambil menahan sakit di kepalanya.


"Tidak! Aku tidak pernah melakukan hal bodoh itu padamu! Aku minta kau jelaskan dengan jujur!" bentak Rifky marah.


"Kita ... me--memang me--melakukannya ...."


Habis sudah kesabaran Rifky terhadap wanita itu. Dia meraih syal merah di dekatnya dan mengikat kedua tangan Rani dengan paksa.


"Rifky ... apa yang kamu lakukan?" tanya Rani ketakutan.


"Sebagaimana yang kau perbuat!" jawab Rifky tersenyum devil.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu mengikatku jika ingin memintanya. Aku akan memberikannya asal kamu menikahiku!" kata Rani yang terus memberontak.


"Cih! Kau terlalu lama bermimpi! Sekarang katakan! Di mana alamatmu ini?" Rifky mencekram dagu Rani membuat wanita itu mendongak. Tangannya yang sudah terikat di belakang sudah tak mampu ia gerakan. Rani hanya bisa pasrah.


"Katakan!" bentak Rifky saat Rani tak kunjung memberi tahu.


"Di ... di jalan Kenanga." Rani menjawab karena Rifky semakin kuat menjambaknya.


"Nomor berapa?"


"Empat belas."


Rifky melepaskan tangannya dari rambut Rani, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Iyan. Mata laki-laki itu tertuju pada panggilan Naira beberapa jam lalu. Dia menoleh pada Rani dengan tatapan menusuknya.


"Kau akan menerima akibatnya, jika istriku sampai tau!" desis Rifky. Dia menghubungi Iyan agar datang ke sana untuk membantunya.


"Assalamu'alaikum, Yan?" Rifky memanggil Iyan ketika teleponnya tersambung.


"Wa'alaikumussalam. Iya-iya, aku tau kamu mau izin. Nggak papa, kamu lagi banyak kerjaan, 'kan?"


"Bukan!"


"Ini anak-anak udah hampir selesai mengajinya." Iyan terus berbicara tanpa mendengarkan Rifky. Ia mengira kalau Rifky hendak izin mengaji seperti biasanya.


"Tol--emph!" Rifky segera membekap mulut Rani ketika wanita itu hendak teriak.


"Jangan coba-coba jika kamu tidak ingin mati!" Rifky menekan kata-katanya. Bahkan Rani pun tak menduga kalau Rifky bisa seperti ini. Rifky yang dia kenal adalah laki-laki baik dan lembut. Namun, sekarang?


Jeritan demi jeritan wanita itu tak lagi terdengar karena terhalang sumpalan kain. Rifky benar-benar menyiksanya, hingga dia tak mampu berbuat banyak.


"Yan! Tolong datang ke alamat rumah nomor 14. Di jalan Kenanga!" Rifky kembali menempelkan handphonenya di telinga.


"Cepat, Yan. Aku butuh bantuan! Bawa bajuku juga! Tapi jangan sampai istriku tau!" Tanpa menunggu jawaban, Rifky langsung mematikan ponselnya. Kemudian beralih pada Rani yang menjerit-jerit minta dilepaskan.


Rifky tak menghiraukan keadaan Rani lagi, justru dia mempererat syal yang mengikat tangan dan kaki wanita itu. Tak peduli sakit atau tidak.


Air mata mengalir dari pelupuk mata Rani, tatapannya terlihat memohon dan meminta maaf. Namun, Rifky tak peduli.


Sementara Iyan yang masih dilanda kebingungan, langsung pamit dari pengajiannya. Ustaz Hanan pun ikut bingung mendengar penjelasan Iyan.


"Rifky kenapa?" tanya Ustaz Hanan.


"Nggak tau, Om. Katanya minta dijemput. Tapi anehnya, minta dibawakan baju," jawab Iyan sekenanya.


"Terus?"


"Entahlah. Iyan pamit dulu, ya, Om. Assalamu'alaikum." Iyan menyalami punggung tangan Ustaz Hanan dan pamit duluan. Ustaz Hanan mengizinkan meskipun dia kebingungan pula. Kenapa dengan Rifky?


Iyan melajukan mobilnya menuju rumah Rifky. Tujuannya untuk mengambilkan baju yang Rifky minta. Namun, dia semakin dibuat bingung ketika melihat orang tua Naira ada di sana juga. Ditambah Naira yang sedang menangis.


Apa Rifky diusir? Pikirnya.


"Om, Tante!" Iyan menghampiri mereka dan menyambut pelan tangan Herman.


"Iyan! Kamu ke sini? Kamu tau Rifky di mana?" tanya Herman langsung.


"Justru Iyan mau ambil baju Rifky. Katanya minta jemput di rumah nomor 14, jalan Kenanga," jawab Iyan bingung. Dia yang tak tahu-menahu soal Rifky hanya mengatakan yang sejujurnya.


"Ma ... Mas Rifky, Ma. Dia ... dia ...." Naira tak mampu melanjutkan ucapannya ketika teringat suara-suara wanita di telepon Rifky tadi.

__ADS_1


"Sayang, kamu tenang dulu, ya?" Marlin mendekap tubuh putrinya dengan dekapan sayang.


"Pa, bagaimana?" tanya Marlin pada Herman. Orang tua Naira juga kebingungan saat mendapat kabar ini dari Naira. Kejadiannya juga tidak jelas.


"Kamu tau alamatnya, Yan?" tanya Herman.


"Tau, Om. Tadi Rifky sendiri yang bilang!" jawab Iyan.


"Ya udah. Om ikut kamu ke sana, ya?" Iyan mengangguk, lantas meminta baju Rifky yang diambilkan oleh Bi Ira.


"Aku ikut, Pa!" Naira mendekat pada Herman.


"Tidak perlu, Sayang. Biar Papa sama Kak Riyan yang ke sana." Herman menatap Marlin agar menenangkan Naira. Kemudian dia dan Iyan berangkat ke tempat yang Rifky sebutkan.


****


"Di mana kunci kamar ini?" Rifky menggeledah laci-laci di kamar Rani untuk mencari kunci kamar itu, tapi tak menemukannya.


"Emph!" Rani yang masih menangis hanya menggelang, membuat Rifky semakin kesal padanya.


"Katakan di mana?" sentak Rifky. Lalu mengangkat bantal sesuai arahan mata wanita itu. Ternyata disimpan di sana!


"Rifky! Rifky!" Teriakan di luar sana. Rifky dapat mendengar kalau itu adalah suara dari sahabatnya. Laki-laki itu membuka pintu kamar dan menghampiri pintu utama untuk menemui Iyan.


Ceklek!


"Rifky!"


"Papa!" Rifky menatap Herman yang tampak terkejut melihatnya.


"Sedang apa ka---"


"Dia memperk*s*ku!" Rani berjalan sambil menangis. Terlihat di belakangnya ada pembantu yang mengikuti.


"Rani! Rifky!" Herman menatap mereka untuk meminta penjelasan.


"Tidak, Pa! Dia memfitnahku! Dia yang---"


"Jangan percaya, Pak. Dia harus tanggung jawab! Bagaimana kalau aku---"


"Sini kamu!" Rifky menarik pembantu yang ada di belakang Rani. "Apa kamu tau yang terjadi tadi?" tanya Rifky serius.


"Dia tidak tau apa---"


"Diam!" Rani menghentikan ucapannya karena tatapan Rifky yang begitu tajam.


Wanita itu tampak takut kalau-kalau pembantunya itu mengatakan semuanya. Ah! Dia lupa memberi tahu wanita itu.


"Katakanlah yang sebenarnya," pinta Rifky lembut.


"Saya tidak tau, Tuan. Tadi ...." Wanita itu melirik Rani yang memelototkan matanya.


"Tidak usah takut padanya! Katakan apa yang sebenarnya terjadi!" Iyan yang faham keadaan Rifky angkat bicara. Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang difitnah.


Rani hanya terdiam seribu bahasa. Berharap agar kebenaran yang dia sembunyikan tidak terungkap.


"Rumah mewah seperti ini, tentunya ada CCTV. Kita lihat saja, Rifky!" Iyan mengitari dan melihat-lihat ruangan rumah itu. Kemudian beralih menatap Rani yang terlihat was-was.


Sembari memakai bajunya, tatapan Rifky tak lepas dari Rani. Apalagi menyadari tanda-tanda merah yang menempel di sekitar dadanya. Meskipun dia dididik untuk memuliakan wanita, tapi dia tak akan diam jika menghadapi wanita seperti Rani. Sungguh! Rifky tak menyangka kalau Rani bisa seliar ini. Dia pastikan! Rani harus menerima akibat dari semua ini!

__ADS_1


__ADS_2