
Iyan dan Bi Yati baru saja sampai di rumah. Iyan mengajak Bi Yati turun dari mobil untuk menghampiri Ayu yang sudah menunggu kepulangannya.
"Sore banget pulangnya, Mas?" Ayu memeluk Iyan dengan rengekan manja. Wajahnya ia tenggelamkan di dada bidang Iyan sembari menghirup aroma tubuh suaminya itu.
"Takut, ya, Sayang?" Iyan terkekah dan mencubit pelan hidung Ayu, hingga menimbulkan rona merah di pipi wanita itu.
"Siapa, Mas?" tanya Ayu menatap Bi Yati.
"Iya, ini Bi Yati. Mulai hari ini dan seterusnya kamu nggak akan sendiri kalau Mas lagi mengajar. Bi Yati yang akan menemanimu," ujar Iyan tersenyum.
Dia memang sengaja mengajak Bi Yati untuk menemani Ayu, sekaligus menjadi ART di rumah mereka yang baru ditinggali satu hari ini.
Kebetulan wanita itu sudah dikenalnya beberapa waktu lalu, Iyan menemukan Bi Yati dalam keadaan terkapar di pinggir jalan sewaktu ia pulang dari masjid. Setelah ditelusuri, ternyata Bi Yati memang mencari pekerjaan di kota untuk mencukupi kebutuhan hidup, sebab ia ditinggal pergi oleh suami yang telah dijemput Sang Ilahi. Sementara anaknya sudah bertahun-tahun tak pulang dari perantauan. Entah di mana sekarang.
Ketika mereka dipertemukan lagi di rumah Rani, Iyan memilih membawa Bi Yati ke rumahnya karena tidak mempercayai Rani.
"Bi, kenalin, Ayu." Ayu tersenyum dan mengulurkan tangannya. Dengan senang Bi Yati menerima uluran tangan lembut itu dan tersenyum tulus. Dia benar-benar bersyukur, akhirnya mendapat pekerjaan yang pasti di tempat yang tepat pula.
"Ya udah. Kamu antar Bi Yati ke kamarnya, ya? Mas mau ke kamar dulu," ucap Iyan pada istrinya.
Ayu mengangguk, dan mengantar Bi Yati ke kamar yang letaknya tak jauh dari dapur.
"Belum dibersihin, Bi. Soalnya kita baru pindah tadi pagi." Ayu terkekah sebentar.
"Nggak papa, Non. Bibi bisa bersihin, lagipula nggak terlalu kotor," balas Bi Yati.
"Ah, hem ... panggil Ayu saja, Bi. Jangan non." Ayu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa aneh dengan panggilan Bi Yati padanya, sebab selama ini dia tak pernah dipanggil demikian.
__ADS_1
"Nggak papa--em ... Neng! Iya, Neng aja, ya?" usul Bi Yati terkekeh. Bingung sendiri menentukan panggilan untuk majikannya itu.
"Ya udah. Biar Ayu bantu." Ayu merapikan kamar tersebut bersama Bi Yati. Sifatnya yang senang membantu, membuat mata Bi Yati berkaca-kaca. Andai yang sedang tersenyum padanya sekarang adalah anaknya, dia akan sangat bahagia. Namun, itu hanyalah angan belaka. Bahkan mungkin, dia tak akan bertemu lagi pada putri yang dicintai.
Menjelang malam hari, ini adalah malam pertama bagi Iyan dan Ayu menempati rumah baru mereka itu. Sehabis makan malam, mereka duduk di balkon kamar sembari menatap keindahan langit yang diterangi cahaya bulan. Sangat cerah! Sama seperti hati kedua pasangan itu.
"Kira-kira Rifky dimarah istrinya apa enggak, ya?" Iyan bergumam.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Ayu yang mendengar suara pelan suaminya itu.
"Keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja. Tadi Rifky diculik oleh wanita," kata Iyan yang membuat Ayu melongo.
"Diculik wanita? Gimana maksudnya?" Ayu terkekah. Namun, terselip kebingungan dari ekspresi wajahnya. Tidakkah terbalik perkataan suaminya barusan? Sangat lucu jika laki-laki diculik wanita, 'kan?
"Iya. Rifky bilang mobilnya mogok sehabis pulang sholat dzuhur. Tiba-tiba ada yang memukulnya dan ketika terbangun sudah ada di kamar wanita," jelas Iyan, dia menggeleng karena tak habis pikir.
"Kamu ingin tau sekali, ya?" Iyan terkekah. Lalu menarik pipi Ayu dan menempatkan ciuman di sana. "Ya ada. Urusannya juga sudah selesai, tapi nggak tau kalau Rifky dan Naira."
"Banyak sekali wanita yang menginginkan Rifky? Naira harus menjaga asetnya itu." Ayu menutup mulutnya untuk menghindari suara tawa yang keluar, dia jadi teringat waktu dia menyukai Rifky. Entah kenapa, Ayu menjadi kasihan pada Naira.
"Entahlah. Wanitanya saja yang tidak tau malu. Sudah tau laki-laki beristri. Malah diembat!" Ucapan Iyan terdengar geram. Apalagi membayangkan wajah Rani saat sedang memfitnah sahabatnya.
"Memangnya dia siapa, Mas? Dari mana Rifky mengenalnya?" tanya Ayu penasaran.
"Mas juga nggak tau. Kalau nggak salah namanya Rani. Iya ... Rani," jawab Iyan seingatnya.
"Owh ... wajar kalau yang itu." Ayu mengangguk-angguk. "Sejak awal aku juga nggak suka sama Mbak Rani."
__ADS_1
"Kamu kenal dia?" tanya Iyan mengernyit.
"Iya kenal, lah. Dia, 'kan klien kami. Mbak Rani, tuh su---"
"Ghibah ... ayo? Hmm?" Iyan menarik pelan dagu Ayu agar menatapnya.
"Hehe. Kebablasan, Mas," ucap Ayu nyengir. Kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Iyan saat Iyan menatapnya terus. Dia masih malu untuk ditatap oleh suaminya itu. Apalagi disertai senyuman.
"Masuk, yuk. Lama-lama kedinginan di sini." Iyan mengajak Ayu masuk. Karena istrinya itu masih tertunduk malu, spontan Iyan mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang. Ayu terdiam beberapa detik. Lalu menutupi wajahnya dengan selimut saat Iyan menertawakan tingkahnya.
****
Rifky menatap tubuh kecil Naira yang telah ditutupi selimut. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu kamar sembari menghembuskan nafas berat. Sejak ia pulang dari masjid dan makan malam bersama, Naira masih mendiamkannya. Biasanya Naira akan minta disuapi dan bermanja-manja padanya, tapi tidak malam ini.
Harus bagaimana lagi dia membujuk istri kecilnya itu? Rifky sudah berusaha menjelaskan. Namun, Naira tetap tak peduli. Rifky mengerti, mungkin Naira butuh waktu untuk berdamai dengan ini. Dia faham itu, tapi dia tak kuat jika harus diacuhkan oleh sang istri. Dia rindu pelukan dan sikap manja istrinya itu. Saat Naira merengek padanya, tangan kekarnya sudah siap untuk menyambut tubuh mungil Naira. Dia ingin hal itu ....
Pelan. Rifky mendekati Naira yang terbaring. Disibaknya selimut yang menutupi wajah Naira, dan mendapati istrinya itu sedang menangis. Naira langsung merampas kembali selimutnya, menutup lagi wajahnya yang bermandikan air mata. Lama-lama, suara tangis mulai terdengar, hingga isakan kecil memenuhi kamar mereka itu.
"Naira ...." Rifky menarik tubuh Naira dan mendekapnya hangat. "Maafin Mas, Sayang ... maafin Mas ...."
"M--mas ...." Sejenak Naira menghentikan ucapannya karena tercekat rasa pilu. Rifky mengecup kepala Naira dengan lembut. Air matanya luluh begitu saja saat mendengar Naira memanggilnya.
"Aku nggak ma--marah sama ka--kamu, M--mas ...," ucap Naira sesugukan. Jarinya menggenggam erat baju Rifky di bagian dada, dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Rifky mencium lama pucuk kepala Naira, membelai rambut indahnya dan menghapus jejek air mata istrinya itu.
Naira terdiam. Menikmati setiap sentuhan lembut dari Rifky. Dia juga merindukan suaminya itu, dia membutuhkan pelukan kasih sayang dari Rifky. Rifky yang mengerti pun mendekap erat tubuh Naira serta menciumi wajahnya. Mereka saling memberi kekuatan dan kedamaian dengan menyatukan rindu mereka yang sempat bertaburan.
__ADS_1