
"Assalamualaikum." Rifky memasuki rumahnya dan mengucapkan salam. Dia pulang dari kantornya sekitar jam dua siang. Karena tugasnya sudah berpindah saat menjelang sore hari, yaitu mengajar ngaji anak-anak seperti biasanya. Ya, Rifky tak melupakan tugas mulia itu meskipun dia sangat sibuk bahkan juga sangat lelah.
"Wa'alaikumussalam," sahut Bi Ira dari dalam, "udah pulang, Den?" sambut Bi Ira tersenyum.
"Iya, Bi. Naira mana?" tanya Rifky, sebab Naira tidak menyambutnya pulang. Biasanya Naira akan segera menghampirinya saat dia baru pulang kerja.
"Neng Naira lagi istirahat. Katanya tadi kepalanya pusing," jawab Bi Ira dan diangguki oleh Rifky.
Rifky segera menapaki anak tangga untuk menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, terlihat Naira tertidur pulas sambil memeluk bonekanya. Rifky tersenyum sekaligus menggeleng karena Naira masih seperti anak kecil.
Rifky melangkah mendekati Naira, mengelus lembut rambut istrinya yang masih terlelap itu.
Kecupan lembut ia tempatkan di kening Naira. Rifky meraih tangan kecil Naira untuk menggenggamnya, kemudian tersenyum tulus.
"Aku mencintaimu, Sayang." Rifky bergumam dan mencium punggung tangan istrinya itu.
Naira yang merasa terusik, mengeliatkan tubuhnya yang terasa kaku dan perlahan membuka mata. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya untuk menetralkan penglihatan dan mendapati Rifky yang sedang duduk di sampingnya.
"Mas Rifky? Udah pulang?" Naira mendudukkan dirinya dan bersandar di headboard.
"Iya. Baru aja," jawab Rifky tersenyum.
"Mas, lama banget pulangnya," rengek Naira dan langsung memeluk Rifky. Rifky membalas pelukan Naira sambil mengelus punggung istrinya itu. Tak biasanya Naira seperti ini. Mungkin belum sepenuhnya sadar.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rifky.
Naira mendongak dan menatap Rifky. "Kangen ...," rengeknya sambil memajukan bibirnya. Secepat kilat Rifky menyambar bibir mungil itu, membuat sang pemilik bibir tersebut langsung mengubah ekspresi wajahnya.
"Masa baru bentar aja, udah kangen?" ucap Rifky menggoda.
"Sebel, ah!" ketus Naira. Lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Rifky.
"Ayo bangun! Mandi dan siap-siap berangkat ngaji!" titah Rifky melepas pelukannya. Naira mengangguk dan tersenyum manis.
__ADS_1
Sebelum Rifky beranjak dari duduknya, Naira mencium pipinya sekilas. Lalu tersenyum kikuk.
"Udah berani sekarang, ya?" Rifky mencubit pelan hidung istrinya dan terkekeh. Naira tidak menjawabnya, dia langsung menuju kamar mandi untuk menutupi pipinya yang sudah bersemu merah.
Rifky terkekeh pelan melihat tingkah Naira. Lucu sekali, dia yang berbuat, dia pula yang terjerat. Aduh!
Cukup lama menunggu Naira menyelesaikan ritual mandinya, Rifky sudah merasa gerah dan segera membuka pakaiannya. Dia menuju pintu kamar mandi dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Ceklek!
Bruk!
"Aww!" Naira yang hendak keluar tak sengaja menabrak dada bidang Rifky, karena Rifky baru saja ingin mengetuk pintu.
"Sakit." Naira mengelus-ngelus keningnya yang terbentur dada Rifky. Sementara Rifky sama sekali tidak merasa bersalah, laki-laki itu malah tersenyum menatap istrinya.
Naira langsung sadar dan memegangi handuknya yang hampir terlepas. Kemudian memelototkan matanya ke arah Rifky.
"Kenapa?" tanya Rifky sambil memegang bahu Naira. Pria itu terlihat mengulum senyumnya.
"Hehem, dandan yang cantik, Sayang. Tapi buat aku aja," balas Rifky sambil menoel hidung mancung Naira.
"Iya ... mandi sana!" Naira berlenggang pergi dari hadapan Rifky. Sementara Rifky melangsungkan niatnya untuk membersihkan diri.
****
Naira membaca Al-qur'an dengan teliti dan pelan-pelan. Saat ini dia masih ikut mengaji sambil membantu Rifky mengajari anak-anak yang lainnya.
"Kalau yang ini, gimana bacanya?" tanya Naira memperlihatkan Al-qur'annya pada Rifky.
"Ini namanya alif lam qamariyah, seperti cintaku padamu, terbaca dengan jelas!" Rifky menggombali Naira seraya menoel hidung mancungnya. Tak lupa sebuah senyuman manis ia tampilkan.
"Cieee ...." Anak-anak yang ada di pengajian itu langsung tertawa menyoraki mereka.
__ADS_1
"Mas ... aku nanya serius, ih!" Naira menatap Rifky dengan sebal.
"Kalau mau gombal-gombalan, nanti, ya! Ini surau, Woy!" Iyan yang mendengar pun ikut sewot.
"Iya, ya! Kita salah bermesraan di sini. Mas lupa kalau ada jomblo." Rifky melirik Iyan yang duduk agak jauh darinya. Sekilas senyum jahil terbit dari bibir Rifky.
Iyan merotasikan matanya jengah. Ini, nih! Yang dia tak suka dari Rifky, suka jahil! Sama, sih, dengannya.
Sedangkan Naira tersenyum geli melihat kecekcokkan dua sahabat itu. Memang indah punya sahabat dekat, Naira pernah merasakan itu, bahkan sampai sekarang.
"Ada apaan, Rifky? Iyan?" Ustaz Hanan yang mendengar suara mereka yang agak kuat, ikut bertanya.
Mereka memang beda-beda tempat saat mengajar, Rifky dan Iyan di sebelah kanan, sedangkan Ustaz Hanan di depan. Mereka mengajar sesuai tingkatan anak-anak, kalau yang sudah fasih membacanya, Ustaz Hanan lah yang mengajar. Sedangkan Iyan dan Rifky mengajari anak-anak yang masih tahap awal.
Naira dahulu sempat mengaji dengan Ustaz Hanan saat pertama kali belajar. Ya, karena Naira malu jika harus belajar dengan Rifky ataupun Iyan. Kan, nggak mungkin?
"Nggak papa, Om," jawab Iyan tersenyum, lalu melanjutkan mengajarnya. Sebelum itu, tatapan sengit ia lemparkan untuk Rifky dan hanya ditanggapi kekehan kecil oleh Rifky.
"Jadi gimana, Mas?" Naira mengulangi pertanyaannya.
"Iya, ini bacaan alif lam qamariyah. Alif lam qamariyah merupakan hukum bacaan tajwid di mana huruf lam (ل) harus dibaca dengan jelas ketika bertemu dengan huruf hijaiyah seperti ba (ب), jim (ج), kha (ح), kho (خ), 'ain (ع), ghoin (غ), fa (ف), qof (ق), kaf (ك), mim (م), wawu (و), hamzah (ء), ha (ه), ya (ي)," jawab Rifky. Naira mengangguk lalu kembali fokus dengan bacaannya.
Beberpa jam mereka melangsungkan pengajian, kini sudah masuk waktunya sholat ashar. Mereka sholat berja'mah di masjid dengan Rifky sebagai imamnya.
Hingga menjelang sore hari, mereka berpulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa support terus, ya🤗