Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 57


__ADS_3

Suara deruman mobil terdengar dari arah luar. Rani tersenyum lega saat melihat beberapa karyawannya datang. Beruntung dia sempat menghubungi mereka tadi.


"Tanyakan saja pada mereka, Pak! Mereka melihat, Rifky sendiri yang menggoda saya tadi!" Rani mengkode-kode karyawannya. Sementara Rifky tercengang mendengar apa yang Rani ucapkan.


"Benar, Pak!" jawab salah satu dari mereka. Herman menatap mereka bergantian. Benar-benar bodoh! Mereka pikir dia akan lebih mempercayai mereka daripada menantunya sendiri? Herman tahu betul sifat dan watak menantunya itu. Tak mungkin Rifky melakukan ini semua.


"Kejadiannya di rumah kamu, Rani. Sedangkan istrinya bilang kalau Rifky pergi ke masjid setelah pulang dari meeting bersamamu tadi pagi. Lalu, bagaimana kalian bertemu kembali?" ucap Herman tersenyum. Tersirat suatu arti dalam senyumnya itu. Dia menatap Rifky yang sudah faham akan maksudnya.


"Tidak, Pak. Tadi---"


"Kita cek saja hardisk ini!" Iyan datang membawa benda kecil di tangannya, yang tak lain adalah rekaman dari CCTV rumah itu.


Rani melotot. Tatapannya tertuju pada pembantunya yang menunduk pasrah. Ternyata Iyan membujuk wanita itu hingga dia berhasil menemukan rekaman CCTV di rumahnya. Tak hanya itu, Iyan juga membawa komputer miliknya. Hah!


Rani sudah tak dapat berkilah saat jari-jemari Iyan mengutak-atik komputernya dan memaksanya untuk mengatakan sandi-sandi komputer tersebut.


Rani menatapnya dengan khawatir. Penglihatannya tak lepas dari layar komputer yang sedang digeledah oleh Iyan. Bisa apa dia sekarang?!


"Tidak ada apa-apa! Hanya ada rekaman di tanggal yang lalu," ucap Iyan. Rifky menghela nafas berat, dia melihat Rani yang tersenyum dengan senangnya.


Wanita itu menatap karyawannya satu per satu. Kemudian mengedipkan matanya sebagai kode mereka. Ternyata karyawannya-lah yang telah menukar hardisk itu untuk menyembunyikan jejek. Tak salah dia membayar mereka dengan mahal.


"Benar, 'kan, Pak? Saya tidak berbohong. Rifky memang memp*rk*sa saya, Pak ... dia harus tanggung jawab ...," lirih Rani sembari memainkan acting sedihnya. Rifky yang sudah geram pun ingin sekali meluapkan amarahnya pada wanita itu. Namun, dia harus sabar, agar dia dapat melihat kebenaran dari semua ini. Jangan sampai Rani membalik fakta karena tindakannya yang ceroboh.


"Rifky! Apa kamu benar-benar tidak ingat apa yang terjadi?" tanya Herman menatap menantunya itu.


"Tidak, Pa. Sewaktu aku pulang dari masjid, mobilku tiba-tiba mogok di jalanan. Setelah itu seseorang memukul tengkukku, dan ketika terbangun sudah berada di sini," jelas Rifky seadanya.


"Bohong! Kalau kamu tidak tanggung jawab, lalu siapa? Bagaimana kalau aku---"


"Itulah yang terjadi, Nyonya. Bukankah tadi Nyonya dan suruhan Nyonya sendiri yang membawa dia kemari?" timpal pembantunya.

__ADS_1


Rani melotot menatap wanita paruh baya itu. Kemudian melihat Iyan yang tersenyum puas. Sial! Laki-laki ini selalu memanfaatkan keadaan saat dia lengah.


"Mengaku saja, Rani. Kau akan kumaafkan," ucap Rifky lembut.


Rani menatap Rifky dengan tatapan sedih. Beberapa kali wanita itu menggeleng dan terus berkilah. Namun, belum sempat dia membuat alasan, Iyan lebih dulu mengancam karyawannya untuk mengatakan yang sesungguhnya.


"Katakanlah! Atau aku akan menyeret kalian ke pengadilan dengan Bi Yati sebagai saksinya! Masalah ini tidak sepele, ini tentang harga diri! Mengaku? Atau kalian akan malu!" Iyan menatap mereka dengan buas. Sementara Rani semakin dibuat terkejut saat Iyan mengetahui nama pembantunya. Sebenarnya siapa laki-laki ini?


"Bagaimana?" ulang Riyan mendesak.


"I--iya. Kami tidak tau semua ini, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah!"


"Di mana hardisk aslinya?" Iyan menadahkan tangannya. Detik berikutnya dia menerima sebuah hardisk dari karyawan Rani itu.


"Tidak! Jangan memutar rekaman itu ...." Rani memohon saat Iyan hendak memasang hardisk di komputernya. "Maaf ...," lirihnya dengan air mata. Wanita itu tertunduk malu. Menyesali perbuatannya yang membodohi diri sendiri. Dia mengira Rifky tidak bisa setegas ini, tapi dugaannya meleset sangat jauh.


"Jadi kamu mengakui kesalahanmu?" tanya Herman, dan mendapat anggukan pelan dari Rani.


"Tapi apa kamu tau kalau Rifky adalah suami anak saya? Dan yang kamu lakukan ini sangat tidak wajar, Rani!" Herman meninggikan oktafnya saat mengingat Naira yang menangis tersedu sedan karena masalah ini.


Rani mendongak. Menatap Herman dengan tatapan terkejut. "Ma--maksud, Bapak? Rifky ...?"


"Ya. Dia menantu saya!" tegas Herman. Rani sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Tadinya dia berpikir kalau Rifky adalah orang lain yang dipekerjakan oleh Herman. Ternyata menantunya!


"Sudahlah. Aku minta maaf kalau membuatmu seperti ini. Tapi aku minta, kamu merubah diri kamu, Rani," ucap Rifky menyudahi. Dia begitu kasihan melihat Rani yang sudah kacau dan ketakutan. Apalagi ini menyangkut tentang dirinya.


"Maafkan saya, Pak ...," ungkap Rani lirih. Dia kembali terisak sembari menyesali perbuatan bodohnya.


"Lalu, dengan masalah mobil Rifky? Apa kalian juga---"


"Iyan!" tegur Rifky.

__ADS_1


Iyan hanya nyengir kuda saat mendapat tatapan dari sahabatnya itu. Jujur, dia tak habis pikir dengan sifat Rifky. Apa Rifky tidak emosi pada Rani? Sedangkan dia saja yang tidak mengalami merasa geram.


"Sekarang saya minta kerja sama kita dibatalkan. Aku tidak ingin terjadi masalah lagi di antara kita." Rifky menghela nafasnya. Lalu menatap Herman seolah meminta persetujuan dari Papa mertuanya itu.


"Nanti Papa yang urus! Sekarang kita pulang, Naira sudah menunggumu!" kata Herman yang diangguki oleh Rifky.


"Sampai sini aja, nih? Nggak---"


"Sudahlah, Yan!" Herman merasa geram pada Iyan yang terus-terusan ingin mengungkit masalah. Sementara Iyan terkekeh menyaksikan ekspresi Herman.


"Siapkan baju-bajumu, Bi! Ikut saya sekarang!" ucap Iyan pada Bi Yati.


"Baik, Den!" Bi Yati tersenyum dan beranjak dari duduknya.


"Ada apa ini, Iyan?" tanya Herman bingung. Begitu juga dengan Rifky.


"Bi Yati akan pindah dan bekerja di rumahku. Kebetulan aku belum punya pembantu!" jawab Iyan.


"Tenang saja! Dia akan mengembalikan uang yang telah kamu kasih!" Iyan menatap Rani saat wanita itu ingin membantah. Membuat Rani seketika bungkam.


Beberapa menit, Bi Yati keluar dari kamarnya dengan tas yang lumayan besar. Semua itu adalah pakaiannya.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak akan bekerja di sini lagi. Terima kasih sudah menampung saya dan memberi saya pekerjaan." Bi Yati pamit pada Rani. Lalu mengeluarkan uang gajinya yang diberikan Rani beberapa hari lalu.


"Tidak perlu, Bi. Untuk Bibi saja!" Rani tersenyum dan memberikan kembali amplopnya. Bi Yati sendiri terkejut saat Rani memeluknya dan mengucapkan kata maaf.


"Ayo, Bi!" ajak Iyan. Kemudian berjalan sejajar bersama Rifky dan Herman. Sementara Bi Yati mengikuti mereka.


"Benarkanlah mobil Rifky. Aku ingin istirahat!" Rani menyuruh karyawannya untuk mengembalikan mobil Rifky, dan beranjak menuju kamar dengan air matanya.


Dia meratapi kebodohan yang telah ia lakukan pada Rifky, harusnya dia tidak melakukannya. Akhirnya apa? Dia hanya mendapat penyesalan.

__ADS_1


Senyum getir terbit dari bibir Rani. Terkadang untuk membuatnya sadar, dia memang harus mengalami dulu apa yang namanya kesalahan. Dari situlah dia dapat belajar untuk lebih menghargai dirinya sendiri.


__ADS_2