
"Eughh ...." Naira terbangun dari tidurnya, senyungging senyum terlukis di bibirnya saat mendapati tangan Rifky masih memeluk pinggangnya.
Naira mengamati wajah dengan mata yang masih tertutup itu. Perlahan, telunjuknya berhasil menyentuh hidung mancung milik Rifky.
Ingin sekali Rifky menertawakan tingkah istrinya ini, tapi niat itu segera diurungkannya.
Sebenarnya Rifky sudah terbangun sejak tadi, hanya saja dia merasa enggan beranjak dari tempat tidur dikarenakan belum sampai waktu subuh.
Ketika Naira hendak menyentuh bibir Rifky, tiba-tiba Rifky membuka matanya. Naira spontan menyingkirkan tangannya dan berpaling ke arah lain.
"Udah bangun?" tanya Rifky tersenyum.
"Hmm." Naira hanya berdehem tanpa melihat suaminya.
"Tumben bangun duluan? Biasanya ...." Naira yang merasa tersindir menatap tajam Rifky. Alasannya karena dia sangat gugup sekarang. Apakah Rifky mengetahui perbuatannya barusan?
"Kenapa emang?" ketus Naira.
"Nggak papa," jawab Rifky cekikikan. Rifky menggenggam tangan kiri Naira dan mencium punggung tangan itu. Naira membelalakkan matanya saat wajah Rifky berposisi di atas wajahnya.
"Aww, sakit!" ringis Naira saat Rifky menggigit hidungnya.
"Makanya! Jadi istri jangan suka ngomong kasar sama suami, nggak baik. Dosa, loh," ucap Rifky menasehati istrinya.
"Ya udah, maaf ...," ungkap Naira pelan.
"Nah, gitu dong," balas Rifky sambil mendudukkan dirinya.
"Nye nye nye," cibir Naira pelan saat Rifky membelakanginya, tapi suara itu masih terdengar oleh Rifky.
Rifky menatap Naira dalam, jangan ditanya ekspresi Naira sekarang. Selain gugup dia juga takut karena Rifky menatapnya.
"Dasar bocah kecil!" Rifky menarik pelan pipi Naira, tapi masih meninggalkan bekas merah di sana.
Naira tak berani menjawab, dia hanya diam saja.
'Untung cuma dicubit!' batin Naira lega, dia mengusap-ngusap pipinya yang dicubit Rifky.
Naira menyibak selimutnya dan beranjak dari tempat tidur. Saat dia berjalan menuju pintu kamar, tiba-tiba Rifky memeluknya dari belakang.
"Hah! Mas, lepasin," ucap Naira yang merasa geli karena Rifky sudah tidak menggunakan bajunya.
"Mau ke mana?" tanya Rifky sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naira.
"Tu--turun," jawab Naira gelagapan.
"Ngapain turun? Kan, belum mandi." Rifky masih tetap memeluk istrinya dan menghirup aroma leher Naira, hal itu berhasil membuat Naira tegang.
"Iya, ha--aku mau mandi, dulu." Naira mencoba melepaskan pelukan Rifky. Namun, Rifky semakin erat memeluknya.
"Mandi bareng?" tawar Rifky. Pria itu beralih mencium pipi Naira, sementara Naira mencondongkan tubuhnya menghindari perlakuan suaminya.
"Aku nggak mau, Mas. Kalau Mas mau mandi, mandi aja duluan," elak Naira pelan.
Rifky membalikkan tubuh Naira dan menatap lekat mata coklat itu. Bibir Rifky sedikit terangkat saat melihat gadisnya sedikit tegang.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Rifky sambil terkekeh. Dia tetap memeluk pinggang Naira dan sesekali mencium bibir mungil nan manis itu.
Naira mengerjab-ngerjabkan matanya dengan nafas yang tak beraturan.
Ah, kenapa dengan Naira? Padahal Rifky sudah sering mencium ataupun memeluknya, bukankah itu hal yang wajar?
"Hahaha." Tawa Rifky pecah saat melihat Naira mematung dengan mulut sedikit terbuka.
Rifky mengelus dan merapikan rambut Naira yang berantakan khas bangun tidur. "Kamu mandi aja duluan, Mas mau siapin berkas-berkas dulu," ujar Rifky.
Naira mengangguk dan melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya.
Rifky tersenyum tipis menatap punggung Naira yang menghilang di balik pintu kamar mandi, lalu dia menuju ruang kerjanya untuk menyiapkan berkas-berkas yang akan di perlukan hari ini.
****
"Selamat pagi, Pak," sapa Aldy dan menyalami rekan kerjanya itu.
"Pagi juga, Pak," jawabnya tersenyum ramah.
Saat ini Aldy dan Tama sudah berada di perusahaan yang mereka akan ajak kerja sama. Semuanya sudah siap untuk membahas apa saja yang akan mereka lakukan selanjutnya tentang kerja sama mereka.
Saat di meja pertemuan, Tama terkejut karena rekan kerja mereka adalah Rifky. Ternyata perusahaan yang papanya maksud itu adalah perusahaan papa Naira.
__ADS_1
"Apa kita akan bekerja sama dengan perusahaan ini, Pa?" tanya Tama sedikit berbisik.
"Iya!" jawab Aldy singkat.
'Sial!' umpat Tama dalam hati, kalau bukan karena papanya, mungkin dia akan segera pergi dari sini, tapi dia tidak begitu berperan dalam kerja sama ini, toh perusahaan sepenuhnya masih dijalankan oleh papanya.
Selesai dengan proyek yang mereka bicarakan, Tama dan Aldy langsung undur diri, begitu juga Rifky dan Herman. Mereka kembali kepada kerja masing-masing.
Bruk!
Saat hendak berbelok Rifky tak sengaja menabrak salah satu karyawan kantornya.
"Ayu! Tidak apa-apa?" tanya Rifky membantu Ayu memunguti berkas yang berserakan di lantai.
"Tidak, Pak," jawab Ayu tersenyum.
Kemudian tanpa sengaja mereka memegang sehelai kertas bersamaan, detik itu juga seseorang menyaksikannya.
Cekrek!
"Permainan yang menarik!" ujarnya tersenyum miring.
****
Rifky pulang agak larut malam dikarenakan tugas di kantornya masih banyak yang harus dia selesaikan. Dia juga sudah mengatakan pada papanya kalau dia dan Naira tidak ikut mengaji hari ini. Ustadz Hanan juga memaklumi pekerjaan anaknya.
Sekitar pukul 21.00 WIB, Rifky sampai di rumah dan memberi salam.
"Assalamualaikum," ucap Rifky saat pintu dibukakan oleh Bi Ira.
"Wa'alaikumussalam, baru pulang, Den?" sahut Bi Ira sekaligus bertanya pada Rifky.
"Iya, Bi, Naira mana?" tanya Rifky. Dia mengernyitkan keningnya saat melihat muka Bi Ira yang tampak Masam.
"Ada. Neng Naira nangis terus di kamar," jawab Bi Ira yang membuat Rifky semakin bingung.
"Lho, kenapa?" tanya Rifky sambil berjalan menuju kamarnya.
Bi Ira hanya diam dan memilih pergi ke kamarnya. Sepertinya wanita itu tahu apa yang akan terjadi malam ini.
Ceklek!
"Sayang," panggil Rifky mendekati Naira. "Kamu kenapa?" tanyanya dan menghapus air mata Naira.
Naira langsung menepis kasar tangan Rifky.
"Nggak usah pegang-pegang aku!" bentak Naira dengan penampilan yang sudah acak-acakan, mungkin terlalu banyak menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Rifky pelan.
"Kamu yang kenapa? Baru pulang jam segini, biasanya nggak pernah pulang malam. Pasti kamu enak-enak jalan sama pacar kamu, 'kan?" tanya Naira mengubah kosa katanya dari 'mas' menjadi 'kamu'.
"Naira, kamu ngomong apa, sih? Mas nggak ngerti," ucap Rifky heran atas tingkah Naira.
Sedangkan Naira masih tetap dengan kemarahannya.
"Nggak ngerti? Hah! Iyalah nggak ngerti, orang kamu itu penuh dengan kepura-puraan!" hardik Naira pada suaminya. Padahal, 'kan nggak boleh ngomong kasar sama suami, ya, tapi Naira terlalu larut dalam emosinya.
"Naira, kamu ini kenapa? Salah Mas apa? Coba jelasin pelan-pelan. Nggak baik bentak-bentak gitu," tutur Rifky yang berusaha menyentuh pundak Naira. Namun, Naira malah memukulnya dengan guling.
"Kamu bilang bentak-bentak nggak baik? Terus kalau selingkuh baik? Gitu?!" tangkas Naira dengan nafas Naik turun.
"Selingkuh? Selingkuh apa maksudnya." Rifky sedikit linglung sekarang, ada apa dengan istrinya ini?
"Ini apa kalau bukan selingkuh?!" Naira memperlihatkan foto di layar ponselnya dan membuat Rifky sedikit terkejut.
Bagaimana tidak, di sana jelas sekali terlihat dia dan Ayu sedang bertatapan.
Dari mana Naira dapat foto itu? Apakah dia melihat kejadian tadi siang? Ah, tak mungkin!
"Dari mana kamu dapat foto itu?" Rifky berusaha meraih ponsel di genggaman Naira, tapi Naira mematikan dan menajuhkan benda pipih itu.
"Nggak perlu tahu aku dari mana dapatnya! Tapi benar, 'kan, kamu udah selingkuh ...." Naira menangis sambil menunduk, menyembunyikan handphonenya di sela-sela paha dan perutnya.
Dia tersedu sedan saat mengingat bayangan dari foto itu, tak menyangka pada Rifky---suaminya telah tega berbuat demikian.
"Naira ... Sayang kamu dengerin, Mas dulu." Rifky berusaha membujuk Naira agar menatapnya.
"Nggak! Aku nggak mau! Aku benci sama kamu, Mas. Aku benci ...!" Naira menggoyang-goyangkan bahunya saat Rifky berusaha memeluknya.
__ADS_1
"Sayang, coba liat Mas," ujar Rifky sambil memeluk Naira. Gadis itu berusaha memberontak. Namun, Rifky tak melepaskannya, malah semakin erat memeluknya.
"Lepasin, aku," ucap Naira dengan suara yang agak melemah.
Dengan cepat Rifky mendongakkan kepala Naira untuk menatapnya dan menciumnya berkali-kali.
"Jangan sentuh aku! Aku jijik!" Naira mendorong dan memukul-mukul dada Rifky.
Matanya sedikit terpejam diiringi air yang terus berderai di sana.
Rifky yang melihat Naira merasa sangat bersalah, dia tak tega jika harus melihat Naira menangis seperti ini. Hatinya ikut teriris, tapi ... apa ini salahnya? Tidak, ini hanya salah faham saja.
"Naira ... udah, Sayang. Jangan nangis terus. Liat mata kamu udah bengkak gini." Rifky menghapus air mata Naira dan meninggalkan kecupan mesra yang berhasil memenuhi wajah Naira.
"Mas bisa jelaskan semuanya," sambung Rifky sambil menyibak rambut Naira yang menutupi wajahnya. Rambut itu juga sudah basah oleh air mata, sepilu itukah hati Naira sekarang?
Naira hanya diam menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan Rifky. Bukan tak mau menjawab, tapi dia sudah sangat lelah. Biarkan dia memberi kesempatan pada Rifky untuk berbicara.
"Apa yang ada di foto itu sama sekali tidak benar, Sayang. Memang itu sempat terjadi, tapi hanya sesaat saja." Rifky menatap manik mata Naira, saat ini Naira tengah di pangkuan Rifky, bersandar pada tangan kirinya, dan tangan kekar itu sedikitpun tak melepaskan pelukannya.
"Kami tak sengaja bertabrakan, dan Mas bantuin dia punguti berkas-berkas yang berhamburan. Sama sekali tak ada unsur kesengajaan, Sayang. Kamu percaya, 'kan sama Mas?" jelas Rifky panjang lebar.
Tangan Pria itu kembali menghapus jejak air mata istrinya.
"Apa benar, Mas ...?" tanya Naira dengan lirihnya.
"Iya, Sayang. Mas nggak bohong," jawab Rifky dan kembali mengecup kening Naira.
Naira kembali menangis, tapi tak ada iringan sesugukan dari dirinya. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rifky.
"Jangan nangis, Sayang. Mas nggak mau liat kamu nangis." Rifky mempererat pelukannya sambil mengelus surai Naira lembut. Membuat Naira terbuai atas ketenangan yang dia dapatkan, dan perlahan pelupuk mata yang sembab itu terpejam.
Rifky melihat wajah istrinya yang sedang terlelap dalam pangkuannya, dan pelan-pelan menidurkan Naira.
Sebelum dia membersihkan dirinya, bibir pria itu sempat mengecup kelopak mata yang sedikit bengkak.
Setelah selesai dengan urusan mandinya, Rifky keluar dari kamar menuju meja makan. Di sana terlihat Bi Ira yang sedang menyiapkan makan malam untuknya.
"Makan dulu, Den," ujar Bi Ira saat Rifky sampai di dapur.
"Iya, Bi." Rifky mendudukan dirinya di kursi, tapi sama sekali tak menyentuh makanan yang telah tersaji di depannya. Tujuannya bukan untuk makan, tapi untuk memperjelas kejadian yang menimpa Naira malam ini.
"Bi," panggil Rifky.
"Iya, Den." Bi Ira yang tadinya membuat kopi langsung menoleh.
"Apa Bibi tahu kenapa Naira?" tanya Rifky menatap Bi Ira.
"Bibi juga nggak tahu, Den. Tadi pas pulang sekolah, Neng Naira langsung masuk ke kamar dan nggak turun-turun. Pas Bibi coba panggil, Bibi liat dia udah nangis," jelas Bi Ira.
"Bibi tahu kenapa dia menangis?" tanya Rifky lagi.
"Nggak tahu bener, sih, Den. Tapi dia melihatkan foto Den Rifky sama perempuan lain. Itu siapa? Jangan bikin Neng Naira sakit hati, kasian dia!" Suara Bi Ira yang tadinya halus berubah menjadi sedikit menekan.
"Iya, Bi. Ini hanya salah faham," jawab Rifky.
"Apa Naira sudah makan, Bi?" tanya Rifky memastikan.
"Belum, Den. Dari tadi Neng Naira belum makan." Bi Ira menggeleng.
"Astagfirullah haladzim," Rifky mengusap wajahnya. Dia khawatir jika Naira sakit lagi karena belum makan.
"Dari tadi Neng Naira nggak berhenti menangis," ucap Bi Ira.
Rifky hanya diam, dan beranjak dari duduknya.
"Mau ke mana, Den. Makan dulu!" ujar Bi Ira.
Rifky menggeleng. Nafsu makannya telah hilang, saat ini yang memenuhi fikirannya adalah Naira.
Siapa yang mengambil gambar itu saat dia di kantor? Awas saja! Kalau dia sampai tahu siapa pelakunya!
.
.
.
TBC.
__ADS_1