
Sampai di rumah, Rifky membawa belanjaan mereka ke dapur diikuti Naira di sampingnya. Sesuai permintaan Naira, Rifky harus membuatkan rujak untuk istrinya itu. Dia begitu bersemangat menuruti permintaan Naira, karena Naira sekarang sedang hamil anaknya. Mungkin ini permintaan dari bayinya itu.
Naira duduk di kursi menunggu Rifky yang sedang mencuci buah. Sedangkan Bi Ira menyiapkan bahan-bahan untuk bumbu rujaknya.
Awalnya Bi Ira ingin segera membuatkan bumbunya, tapi Naira melarangnya dengan alasan hanya ingin buatan Rifky. Terpaksa Bi Ira membantu menyiapkannya saja. Naira ada-ada saja! Tak lihat apa Rifky yang kerepotan karena ulahnya?
"Mas! Lama banget, sih? Aku udah mau makan ...," rengek Naira.
"Sabar, Sayang. Ini juga lagi dibuat, kok," jawab Rifky tersenyum. Kemudian melanjutkan kegiatannya.
Bi Ira yang sedang mengupas buah hanya bisa menggeleng dan mengulum senyum. Sesekali dia melirik Naira yang memanyunkan bibirnya menatap Rifky.
"Bi! Minta pepayanya sepotong! Kecil ... aja." Naira tersenyum pada Bi Ira yang mengiriskan pepaya untuknya.
"Ini, Neng!" Bi Ira memberikan pepaya yang Naira minta. Setelah menerimanya, Naira langsung melahap pepaya manis itu.
Rifky sendiri melotot melihat istrinya yang begitu cepat menghabiskan potongan pepaya. Serakus itukah Naira sekarang?
"Pelan-pelan aja makannya!" ucap Rifky menatap Naira.
"Apaan, sih? Cepatan itu ...." Naira menatap tajam Rifky sambil menunjuk bumbu rujak yang disiapkannya.
"Iya iya iya. Bawel, ah!" Rifky kembali mengulek dan mengiris gula merah.
"Yang pedas!"
"Iya ...."
"Bi Ira aja udah selesai! Mas lelet banget!" omel Naira menggerling ke arah Rifky.
Rifky hanya bisa menghela nafasnya mendengar ocehan Naira. Dia rasa istrinya sekarang mulai cerewet dan perlu ekstra sabar menghadapinya.
__ADS_1
"Udah belum?" Naira kembali mendesak Rifky.
"Iya, udah. Ini mau ditaruh di piring!" Naira berdecak mendengar jawaban Rifky. Kemudian menarik piring buah-buahan yang sudah dipotong-potong kecil oleh Bi Ira.
"Nih! Yang itu aja, ya? Yang ini simpan." Rifky menyimpan buah-buahan yang masih tersisa. Naira hanya disuruh memakan yang sudah disiapkan Bi Ira saja. Dia takut Naira jatuh sakit jika memakan buah terlalu banyak.
"Iya!" ketus Naira sambil mencicipi rujaknya.
Naira mengangguk-angguk merasakan gigitan pertamanya, lalu menghabiskan irisan buah mangga duluan. Sementara Rifky ngilu sendiri melihatnya, mangga seasam itu dimakan dengan begitu lahapnya oleh Naira? Sebenarnya apa yang Naira rasakan dari setiap gigitan-gigitannya? Ah, hamil memang beda.
"Mas! Mangganya mau lagi ...." Naira menatap Rifky yang duduk di sebelahnya.
"Udah! Habisin aja pepaya sama jambunya," jawab Rifky dan mendekatkan kembali piring yang Naira berikan padanya.
Bi Ira sengaja memotong pepaya lebih banyak untuk Naira. Sebab pepaya banyak vitaminnya dan tidak asam. Pepaya yang sudah matang dianggap aman dan dapat bermanfaat bagi ibu hamil. Kandungan vitamin A, B, C, kalium, dan betakaroten menjadi fungsi antioksidan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Baik untuk kesehatan Naira.
"Mas ... dikit ... aja." Naira membujuk Rifky dengan lembut. Namun, hanya gelengan pelan yang ia dapatkan dari Rifky.
Naira menghela nafasnya dan terdiam. Bagaimanapun, dia juga masih merasa takut dengan suaminya itu. Rifky mengelus kepala Naira yang masih terbalut rapi oleh hijab. Kemudian mengecup singkat pipi kanannya.
Namun, Rifky tidaklah gampang untuk dikecohkan Naira, dia sudah tahu arti dari tatapan istrinya itu.
Rifky menahan senyumnya menyaksikan ekspresi Naira, mungkin sedikit kesal karena rencananya tidak terlaksana.
"Udah?" tanya Rifky saat melihat piring Naira yang sudah kosong. Naira mengangguk menanggapinya, lalu membuang pandangannya kala melihat raut wajah suaminya itu. Sebenarnya kesal sekali dia pada Rifky, tapi tidak berani untuk membantah perkataan suaminya itu.
"Ayo! Mas mau siap-siap berangkat ke masjid. Kamu istirahat dulu sebentar!" Rifky merangkul pinggang Naira menuju kamar mereka.
Naira mengangguk dan tersenyum girang saat mendengar ucapan Rifky. Kalau Rifky pergi, dia akan mengulangi memakan mangganya, tanpa harus meminta pada Rifky yang pelit menurutnya.
Sayangnya, Rifky sudah tahu jalan pikiran istrinya itu. Mana mungkin dia membiarkan Naira berhasil dengan rencananya. Huh! Naira-Naira .... Rifky tersenyum dan menggeleng.
__ADS_1
"Duduk di sini! Jangan tidur dulu sebelum selesai sholat dzuhur, ya?" ucap Rifky yang diangguki oleh Naira. Laki-laki itu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi ke masjid.
Naira duduk santai sambil membaca bukunya. Kemudian ke kamar mandi saat Rifky telah selesai. Naira juga ingin menyegarkan diri sekaligus akan sholat dzuhur juga nanti.
Beberapa menit berlalu, Rifky sudah siap untuk berangkat. Dia sudah memakai baju putih berlengan panjang dengan sarungnya. Tak lupa sebuah peci hitam bertengger pas di kepalanya.
"Mas berangkat, ya, Sayang. Jangan lupa sholat nanti!" pamit Rifky.
"Tapi pulangnya bawain bakso!" pinta Naira tersenyum.
"Insyaa Allah." Rifky membalas senyuman Naira dan melambaikan tangannya. Kemudian masuk ke mobil meninggalkan halaman rumah.
"Yes! Yes! Yes!" Naira berbalik dan segera menuju dapur. Tujuannya tak lain untuk mencari buah mangga yang disimpan Rifky. Berhubung Rifky tak di rumah, jadi tidak ada yang melarangnya lagi.
"Di mana, ya, Mas Rifky nyimpennya?" Naira bergumam sambil terus mencari mangganya. Dia sudah menggeledah semua isi dapur, tapi tetap tidak menemukannya.
"Ish! Ke mana, sih?" Naira menggaruk-garuk kepalanya.
"Nyari apa, Neng?" tanya Bi Ira yang tiba-tiba datang.
"Nyari mangga ... Bibi tau nggak di mana Mas Rifky naronya?" tanya balik Naira.
"Nggak tau, Neng. Nanti aja, nunggu Den Rifky pulang," jawab Bi Ira.
"Ah, lama, Bi. Lagian nggak bakal dikasih!" Naira memanyunkan bibirnya dan berlalu sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Neng, Neng! Kamu ini ...." Bi Ira berkata pelan dan menggelang menatap kepergian Naira. Dia jadi teringat kembali pada anaknya yang seumuran dengan Naira. Wanita itu sangat sayang pada anak dan suaminya, tapi Tuhan lebih menyayangi mereka sehingga memanggil mereka lebih dulu untuk menghadap-Nya.
.
.
__ADS_1
.
TBC