
Hari ini adalah hari pernikahan Naira dan Rifky. Kini, Naira tengah duduk di kursi rias dan sedang di make up. Beberapa kali Naira menitikkan air mata sehingga make up yang menempel ikut luntur.
"Naira ...." Marlin mendekati Naira, "kamu kenapa nangis, Sayang?" Marlin menghapus air mata Naira menggunakan tisu.
"Mama." Naira langsung memeluk mamanya erat dan kembali menangis sesugukan.
"Shut shut shut. Udah, Sayang, kamu jangan nangis, ya. Liat ini make up kamu luntur semua," bujuk Marlin menenangkan Naira.
"Naira nggak mau nikah, Ma ...," ucap Naira masih menangis.
"Sayang, anak Mama yang paling cantik, dengerin Mama!" Marlin menatap lekat mata Naira dan menghapus jejak air mata anaknya.
"Maafin Papa sama Mama, Sayang. Mama tahu ini sulit untuk kamu, tapi Mama yakin kamu akan bahagia bila menikah sama Rifky. Mama sama Papa memang egois, tapi ini semua kami lakukan untuk kebaikan kamu, Sayang. Mama sama Papa ingin kamu bahagia dan memiliki suami yang bisa membimbing kamu," ujar Marlin yang ikut menangis.
Marlin tahu perasaan Naira sekarang, tapi dia bisa apa?
Dia juga hanya bisa menuruti kehendak suaminya.
Naira terharu mendengar penuturan mamanya. "Mama nggak usah nangis, Ma. Naira percaya, kok sama Papa dan Mama, apa yang kalian pilih itu pasti yang terbaik buat Naira," ucap Naira tersenyum dan menghapus air mata mamanya.
"Makasih, Sayang." Marlin tersenyum dan kembali memeluk putrinya.
Naira membalas pelukan hangat mamanya, ia akan berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu dan menampakkan Bi Ijah yang berdiri di sana.
"Maaf, Nyonya. Tamu undangan dan pengantin pria sudah menunggu," kata Bi Ijah memberi tahu Marlin.
"Iya, Bi. Bentar lagi kami segera turun," tutur Marlin tersenyum pada Bi Ijah.
Bi Ijah mengangguk dan segera berlalu dari sana.
"Ayo, kita turun, Sayang!" ajak Marlin pada Naira, yang mendapat anggukan pelan dari sang putri.
Mereka menuruni anak tangga dan segera para tamu undangan menatap Naira takjub.
"Cantiknya, calon mantuku!" ucap Rasya dan membantu Marlin membimbing Naira untuk duduk di samping Rifky.
Segera acara dimulai, tamu undangan yang hadir hanya pihak keluarga dan beberapa lainnya untuk menjadi para saksi.
Hal ini karena pernikahan Naira dilakukan secara rahasia agar Naira bisa melanjutkan sekolahnya yang beberapa bulan lagi akan selesai.
"Rifky Alfarezi, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Naira Astika Sari, dengan mahar surah Ar-rahman dan emas seratus gram dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Naira Astika Sari dengan mahar tersebut tunai!"
"Bagaimana, para saksi?"
"SAH!"
"Alhamdulillah." Semua orang mengucap syukur atas pernikahan Rifky dan Naira.
Degh!
Naira mematung, dan perlahan air mata membasahi pipinya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Marlin yang melihat Naira menangis.
__ADS_1
"A--aku baha--gia, Ma," ucap Naira terputus-putus karena menahan isak. Sesekali bibir manisnya menampilkan senyuman yang indah.
Bahagia yang dia ucapkan tidaklah sesuai dengan apa yang dirasakannya.
Namun, Naira memilih untuk tersenyum agar tidak mengecewakan orang yang sangat ia sayangi---Papa dan mamanya.
Naira memeluk erat mamanya. Marlin mengelus punggung Naira dengan sayang dan mengecup berkali-kali kepala Naira yang dilapisi hijab.
Sesaat kemudian, Rifky membacakan surah Ar-rahman dengan suara yang merdu, membuat hati tergetar bagi semua yang hadir di sana.
Sekarang saatnya Rifky memasangkan cincin untuk Naira, cincin itu melingkar pas di jari manis milik Naira, bibir gadis itu sedikit terangkat menampilkan senyuman.
Cup!
Rifky mengecup kening perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu.
Degh!
Jantung Naira berpacu lebih cepat dari sebelumnya, ini pertama kalinya dia merasakan sentuhan laki-laki selain papanya.
Rifky tersenyum melihat Naira yang terdiam, dia tahu bagaimana perasaan istrinya itu setelah mendapat kecupan singkat darinya.
Sementara para tamu undangan juga sudah mengeluarkan gelak tawa mereka masing-masing.
***
Acara pernikahan kini telah usai dan satu demi satu tamu undangan izin undur diri, menyisakan keluarga Naira dan keluarga Rifky yang akan menginap malam ini.
Naira masuk ke dalam kamarnya, dan terlihat pria yang baru menjadi suaminya itu tengah bersandar di atas ranjang sembari memainkan ponselnya.
Naira bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia berjalan menunduk tanpa melirik Rifky sedikitpun.
Sementara Rifky memperhatikan Naira sejak tadi dan senyungging senyum terukir di bibirnya.
"Mau ngapain?" tanya Rifky menatap Naira bingung.
"Aku mau tidur, Pak Ustadz," jawab Naira pelan dan sedikit menunduk.
"Ngapain tidur di sana, Neng?" Rifky tersenyum mengoda dan berhasil membuat Naira gugup.
"Ayo, tidur di sini!" ajak Rifky menepuk ranjang di sebelahnya.
"Tapi, Pak Ustadz?"
"Membantah sama suami itu dosa, loh," ujar Rifky lembut.
"Ayo, cepat Naik!" titah Rifky pada Naira.
"Tap---"
"Naik sendiri, atau aku gendong?" ancam Rifky mengedipkan sebelah matanya.
'Ihh! Ustadz, kok genit?' batin Naira kesal.
"Iya!" balas Naira.
Naira segera naik ke ranjang dan tidur di sebelah Rifky. Dia cepat-cepat menarik selimut dan membelakangi suaminya itu.
"Tidur membelakangi suami itu juga nggak boleh," sindir Rifky tersenyum jahil.
__ADS_1
Naira menekuk mukanya, dia tampak kesal dengan perlakuan Rifky terhadapnya.
Dia berbalik menghadap Rifky, dan tiba-tiba tangan kekar itu telah menjadi bantalnya.
Rifky tak memberikan kesempatan pada Naira untuk menghindar, segera ia lingkarkan tangan kanannya ke pinggang ramping milik istrinya itu.
Naira membelalakkan matanya kala mendapat pelukan hangat itu, apalagi dari laki-laki yang baru menjadi suaminya.
"Kenapa?" tanya Rifky memperhatikan wajah Naira. Wajah mereka sangat dekat sekarang, hembusan Nafas keduanya terasa menusuk di kulit.
"Nggak papa," elak Naira yang susah payah menelan salivanya. "Pak Ustadz, jangan peluk-peluk, Naira nggak biasa," ucapnya dengan gugup.
"Justru itu dibiasakan!" jawab Rifky dengan santainya.
"Tapi, Pak Ust---"
"Shut!" Rifky meletakkan telunjuknya di bibir mungil Naira. "Jangan membantah, Sayang," ucap Rifky tersenyum manis.
Naira hanya diam tak bergerak, bisa apa dia sekarang? Sungguh! Naira sangat gugup berhadapan dengan suami sekaligus ustadznya itu.
"Ini malam pertama kita, loh," ujar Rifky berniat menakut-nakuti Naira.
"Pak Ustadz jangan macam-macam!" Naira memelototkan matanya pada Rifky.
"Haha, iya. Aku hanya ngingetin kamu, kok," jawab Rifky terkekeh.
Rifky tahu kalau itu tak mungkin dia lakukan sekarang, hanya ingin membuat Naira baper saja.
"Ngak perlu diingetin!" ketus Naira dan berpaling ke arah lain. Dia terus berusaha menyembunyikan rasa gugupnya saat berhadapan dengan Rifky. Apalagi mereka belum sepenuhnya saling kenal.
Cup!
Benda kenyal itu berhasil mendarat di bibir Naira. Naira tersentak kaget dan memegangi bibirnya yang dicium Rifky.
"Itu hukumannya kalo kamu galak sama aku!" ucap Rifky membuang pandangnnya.
Naira terdiam dan menatap wajah Rifky. "Maaf," ucapnya lirih.
Rifky yang melihat itu tersenyum kemenangan. "Nggak papa," balasnya mencubit hidung Naira.
"Tidur, sekarang!" titah Rifky pada Naira.
"Iya, Pak Usta---"
"Jangan panggil aku Ustadz, aku ini, 'kan suamimu!" potong Rifky, menoel pipi mulus gadisnya.
"Terus, panggil apa?" tanya Naira polos.
"Apa aja! Panggil sayang juga boleh," ujar Rifky tersenyum.
Naira menggeleng cepat pertanda tidak. Rifky hanya terkekeh pelan melihat ekspresi Naira sekarang.
"Panggil, Mas aja!" usul Rifky.
Naira hanya mengangguk dan perlahan memejamkan matanya, sedangkan Rifky tersenyum tipis dan semakin mempererat pelukannya.
.
.
__ADS_1
.
TBC.