Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 69


__ADS_3

Rani dibawa ke rumah sakit oleh pihak kepolisian. Sudah berjam-jam wanita itu terpingsan dan dirawat, tapi belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Bahkan sekujur tubuhnya begitu pucat dan kedinginan.


Sepertinya malam ini dia akan bermalam di rumah sakit tanpa ada yang menjaga, kecuali dokter dan suster saja.


Sementara itu, Naira baru saja menyelesaikan salat isya. Kalau biasanya dia menunggu kepulangan Rifky di ruang tamu, kali ini Naira memilih berada di kamarnya sambil bergulingan di ranjang.


Tak lama mobil Rifky terdengar memasuki garasi. Namun, Naira seakan tuli dengan suara yang biasanya ia nanti-nantikan itu. Dia masih fokus pada ponselnya, bahkan ketika Rifky sudah memasuki kamar.


Hanya jawaban salam yang Rifky dengar dari mulut Naira, selebihnya tidak. Istrinya itu juga tidak meliriknya sedikitpun, apalagi berhambur memeluknya seperti malam-malam yang lalu.


"Naira?" Walau sedikit ragu, Rifky mencoba memanggil. Tak ada sahutan dari Naira, malah yang Rifky dapat hanya raut wajah cemberut dan kesal.


"Kamu kenapa?" tanya Rifky mendekat. Naira hanya duduk bersandar di headboard tanpa melihat ke arah Rifky. Kemudian menolak kasar tangan Rifky yang hendak menyentuh wajahnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rifky lembut. Lelaki itu tetap memeluk istrinya walaupun merasa diabaikan.


"Nggak papa. Kenapa kamu nggak mampir ke rumah sakit buat jenguk Mbak Rani?" jawab Naira seraya menyindir. Rifky yang lebih dulu faham hanya menggeleng dan tersenyum, lalu mencium pipi Naira yang cemberut.


"Maafin Mas, ya, Sayang? Tadi itu nggak sengaja, kok. Mas nggak niat peluk Mbak Rani atau apa pun, tapi buat nolongin dia aja. Kamu, 'kan udah liat sendiri?" ucap Rifky membujuk. Wajahnya yang tersenyum sengaja ia hadapkan pada Naira agar istrinya itu mau menatapnya.


"Tapi Mas diemin aku tadi. Nggak peduliin aku!" sungut Naira mengadu. Bibirnya tampak mengerucut lucu saat Rifky mengelus sayang kepalanya.


"Siapa yang diemin kamu? Itu perasaan kamu aja, Sayang." Rifky tersenyum dan kembali mencium Naira agar bisa meluluhkan hati istrinya yang super pencemburu itu.


"Sayang-sayang! Giliran aku ngambek panggil sayang!" Naira bersedekap dada sambil membuang muka. Rasanya bujukan Rifky kali ini tidak berhasil meluluhkan hatinya, malah membuatnya bertambah kesal.


"Emangnya nggak mau dipanggil sayang?" tanya Rifky menggoda, dan belum sempat Naira menjawab, dia lebih dulu tertawa sembari menciumi bibir istrinya itu.


Naira tetap cemberut tak karuan, tapi satu yang tak dapat dia ingkari, bibir Rifky yang terbuka karena menertawakannya sangatlah manis dan menambah ketampanannya. Apalagi tatapan mata yang merayu hati itu, Naira sangat ingin menenggelamkan wajahnya di dada Rifky, tapi dia tak berani karena malu. Naira hanya diam sambil menikmati senyum Rifky, sementara Rifky yang mengerti, secepat mungkin menarik tubuh mungil istrinya itu untuk masuk ke pelukannya.


Tidak ada penolakan dari Naira, bahkan Naira menggigit pelan dada Rifky untuk menghilangkan rasa malunya, hingga tawa renyah pecah di antara mereka berdua.


"Ih! Nyebelin! Jelek! Jelek!" Naira memukul-mukul dada Rifky dan sesekali mencubit pelan. Dia sangat kesal saat Rifky berhasil membuatnya tersenyum malu.


"Hahaha, makanya jangan suka ngambek-ngambek. Gitu aja marah, dasar cemburuan!" ejek Rifky mencibir.


"Siapa suruh bikin cemburu! Huh!" Naira membalas sengit. Namun, lagi-lagi ingin kembali ke pelukan Rifky yang mendamaikan hatinya.

__ADS_1


Rifky tidak lagi membalas ucapan istrinya itu, dia berpikir akan lebih panjang masalahnya jika membalas perkataan Naira yang ingin menang sendiri. Bibir Rifky terangkat dan membentuk senyuman, telapak tangannya yang hangat mengelus pelan kepala Naira tanpa dikomando. Lalu mengecupnya lama.


"Makan malam, yuk! Kamu udah lapar, 'kan?" ajak Rifky kemudian. Naira membalas dengan anggukan dan mengikuti Rifky yang menuntunnya untuk turun.


"Ini apa, Mas?" Naira menunjuk sebuah plastik hitam di atas meja makannya.


"Itu bakso buat kamu," jawab Rifky simpul. Lalu menyiapkan bakso Naira ke dalam mangkuk untuk disantap.


"Wah, tumben Mas pengertian. Biasanya---"


"Sejak kapan Mas nggak pengertian?" pungkas Rifky cepat.


"Hahaha. Iya, Mas selalu pengertian, kok. Eum, pengertian apa takut aku ngambek?" tanya Naira jahil.


"Dua-duanya," balas Rifky.


"Mas takut, ya, kalau aku ngambek?" Naira mendekatkan wajahnya pada Rifky.


"Iya. Takut nggak dapat ini! Hahaha!" Rifky tertawa melihat ekspresi Naira yang seketika berubah saat dia mendaratkan kecupan di bibirnya.


"Dasar!" Naira bergumam kesal.


"Mas ... ih! Udah aku nggak mau makan!" Naira berpaling sebal.


"Ya udah. Nggak aku kasih!" balas Rifky cuek. Dia mulai mengunyah tanpa melihat Naira yang menatapnya.


Akhirnya Naira mengalah dan membuka mulut, bermaksud agar Rifky menyuapi. Dengan senyum manis, Rifky menyuapi istrinya sampai suapan terakhir mereka. Senang sekali dia memiliki istri manja seperti Naira.


"Udah. Sini baksonya!" pinta Naira dengan bibir manyun. Kemudian tersenyum saat Rifky memberikannya.


"Ajak Bi Ira aja makannya, ya? Mas mau istirahat dulu," tutur Rifky sembari bangkit dari duduk. Dua mangkuk bakso sudah tersaji di atas meja, menunggu untuk disantap.


Naira mengangguk pelan dan berjalan memanggil Bi Ira. Sementara Rifky menuju sofa tengah setelah mengambil handphonenya.


Lelaki itu tampak melepas beban saat ia menyandarkan punggung di sofa, tangannya bertindak meraih remote dan menyalakan televisi sebagai penghibur.


[Yan! Besok kita ketemuan, bisa nggak?] Satu pesan yang Rifky ketik berhasil terkirim. Tanpa menunggu lama, sudah ada balasan di WhatsApp-nya itu.

__ADS_1


[Boleh, Ky. Bisa diatur,] balas Iyan. Pesannya itu disertai stiker tawa satu biji, membuat sudut bibir Rifky ikut tertarik. Syukurlah jika sahabatnya itu sudah kembali ceria.


[Ya udah. Kamu istirahat aja sama istrimu. Assalamualaikum.]


Rifky mematikan handphone saat Iyan membalas salamnya. Lelaki itu menyibak rambut ke bagian belakang hingga nampak sedikit acak-acakan.


'Astaghfirullah ...," batinnya berucap. TV yang menyala sedari tadi tidak terdengar lagi, karena terlalu larut dalam pemikiran.


"Kenapa, Mas?" tanya Naira. Istrinya itu tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


"Nggak papa, Sayang. Udah makannya?" tanya balik Rifky. Tak lupa senyum manis ia tampilkan pada Naira.


"Udah. Pinjem handphonenya!" Naira meraih handphone Rifky yang ada di meja. Namun, Rifky tidak membolehkan.


"Buat apa? Mending nonton TV, tuh!" elak Rifky halus.


"Ih! Pasti ada rahasianya!" tuduh Naira sambil melotot.


"Rahasia apa, sih?"


"Mukanya Mas Rifky kek ditekuk gitu? Kenapa kalau bukan ada rahasia?" Naira terus mendesak.


"Ditekuk gimana? Orang ganteng gini." Rifky menautkan kedua alisnya dan menatap Naira dengan kekehan. Namun, seberapa pun mengelabui Naira, istrinya itu tetap menaruh curiga.


"Mas kenapa, sih? Nggak percaya sama aku? Apa ada hal penting yang aku nggak perlu tau?" tanya Naira beruntun. Ekspresinya setengah marah sambil bersedekap dada.


Rifky menghela nafas. Ada rasa bersalah saat dia tidak jujur pada Naira, tapi dia tak ingin Naira memikirkan masalahnya.


"Nggak gitu, Sayang ... kamu jangan salah faham terus. Mas, 'kan udah bilang sama kamu, nggak boleh berburuk sangka," tutur Rifky lembut. Kedua tangannya menangkup pipi Naira untuk meyakinkan.


"Tapi kenapa nggak boleh pinjem handphone?" desak Naira. Wajah manis itu masih merengut kesal, dan semakin kesal karena Rifky hanya tersenyum.


"Merah banget bibirnya. Kepedasan, ya?" tanya Rifky mengalihkan pembicaraan.


Naira mengelap bibirnya sebentar dan kembali menatap Rifky. Dia diam, memilih untuk tidak menanyakan prihal yang membuatnya sangat penasaran. Mungkin Rifky memang tidak ingin membaginya.


'Kenapa, sih, Mas? Kenapa kamu menganggapku sebagai istri kecilmu saja? Kenapa kamu tidak mau berbagi jika ada masalah? Aku faham, Mas! Aku ngerti! Bukannya Mas sendiri yang bilang kalau aku harus belajar jadi dewasa?' batin Naira menjerit. Dia menggigit bibirnya sendiri untuk mengimbangi rasa yang tersimpan di dadanya.

__ADS_1


"Mas nggak papa, Sayang. Nggak usah dipikirin, ya?" ucap Rifky memandang teduh. Lalu menarik tubuh Naira di saat menyaksikan matanya mulai berkaca-kaca.


Keduanya membisu menikmati pelukan masing-masing. Lantas, senyum indah muncul dari tepi bibir Naira sebagai bentuk rasa terima kasihnya karena memiliki Rifky---suami yang memberikan kasih sayang yang tak pernah pamrih untuknya. Naira tahu itu.


__ADS_2