Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 47


__ADS_3

Kembali sang rembulan malam menggantikan posisi matahari. Langit cerah yang dihiasi dengan keindahan bintang-bintang membuat mata takjub bila menatapnya.


Pukul 20.00 WIB. Ayu telah siap dengan setelan baju mahalnya. Malam ini adalah malam spesial baginya, karena dia akan berangkat ke rumah Erna sesuai janji mereka tadi sore.


Gadis itu tersenyum kilas menatap dirinya di cermin. Kemudian meraih tas kecilnya dan menjalankan mobil ke tempat yang dituju.


Ayu mengikuti petunjuk yang diberikan Erna padanya. Dia memang belum tahu di mana tempat tinggal wanita itu, sehingga sedikit sulit untuk bertemu langsung.


"Nomor 27? Ini kali, ya?" gumamnya ketika terhenti di depan rumah bernuansa putih abu. Karena masih ragu, gadis itu menelepon Erna agar menjemputnya ke luar.


Tak lama pintu rumah itu terbuka, dan benar saja, sosok wanita paruh baya yang dia cari telah tersenyum menyambut kedatangannya.


"Ayo sini, Yu!" panggil Erna sembari melambaikan tangannya. Ayu membalas senyumannya, lalu menghampiri wanita itu.


"Wah ... kamu cantik banget!" puji Erna menatap Ayu penuh takjub.


"Ah, makasih, Tante," balas Ayu tersenyum. Dia menunduk dan tersipu malu saat Erna menatapnya begitu.


"Ya udah, ayo masuk!" Kedua wanita itu memasuki rumah mewah tersebut dengan bergandengan tangan. Erna tak henti-hentinya tersenyum atas kedatangan Ayu. Apalagi dia melihat keponakannya telah menunggu mereka sejak tadi.


"Nah, silahkan duduk, Sayang!"


"Terima kasih, Tante. Om?" Ayu mendudukan dirinya dan tersenyum ramah pada suami Erna---Rahman. Kemudian menjadi kikuk saat tatapannya teralih pada pemuda tampan yang duduk di sebelah laki-laki itu.


"Riyan! Kamu jangan hanya menunduk! Disapa Ayu-nya!" Erna menatap Iyan dengan sengit, karena dari tadi keponakannya itu tak ada respon sama sekali.


Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Ayu sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada. Ayu menanggapinya dengan anggukan pelan, dia benar-benar gugup. Kalau bukan permintaan Erna mungkin dia tidak akan datang, tapi wanita itu sudah sangat baik padanya. Apalagi keponakan yang dia maksudkan itu sangatlah tampan. Ayu rasa tak cocok jika Erna menjodohkannya dengan pemuda itu.


"Iyan! Ini yang namanya Ayu. Yang sering Tante ceritaain ke kamu ... dia cantik, 'kan?" Erna tersenyum sambil merangkul bahu Ayu. Sedangkan yang dirangkul sudah gugup bukan main mendengar penuturan Erna. Jadi selama ini Erna sering bercerita tentangnya?


"Iya, Ma. Cantik sekali! Papa senang kalau dia bersedia menjadi istri Riyan," timpal Rahman memuji.


Ayu dan Iyan sama-sama tertunduk mendengar perbincangan mereka. Meskipun Iyan seorang lelaki, tapi dia belum pernah dihadapkan dengan perempuan. Apalagi sekarang mendadak dijodohkan oleh Om dan tentenya.


Lama mereka berbincang-bincang sembari menikmati minuman hangat di malam hari. Sesekali Ayu tertawa lepas mendapat hiburan dari Erna.


"Bagaimana? Apa kalian bersedia?" tanya Erna di ujung ucapannya.


Ayu menatap Erna dengan senyuman, seutas harapan begitu terlihat dari mata wanita itu. Namun, dia bimbang, terlebih jika ia dan Iyan baru pertama kali bertemu.


"Maaf, Tante. Apa tidak sebaiknya ini dipikirkan matang-matang dulu? Terutama meminta pendapat dari keluarga ...." Iyan menatap Ayu sebagai maksud dari pembicaraannya. Sementara Ayu langsung tertunduk sedih.


"Iyan ... Ayu sudah tidak punya keluarga, dia hidup sendiri sekarang." Erna memberi tahu. Wanita itu mengelus punggung Ayu dengan sayang, lalu menghapus air mata yang sudah jatuh dari pelupuk mata gadis itu.


Deg!

__ADS_1


Iyan terhenyak mendengar penuturan tantenya. Dia salah telah berbicara begitu, harusnya dia tidak mengatakannya tadi.


"Maaf, Tan. Iyan nggak tau ...," jawab Iyan menunduk. Namun, sebelum itu matanya sempat menatap Ayu yang sedang menangis.


"Iya. Itulah sebabnya Ayu menerima usulan Tante kamu. Karena dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan. Besar harapan Om dan Tante sama kamu, Iyan ...," sambung Rahman dan menatap dalam keponakannya itu. Lelaki paruh baya itu sudah faham tentang Ayu karena Erna telah banyak bercerita padanya.


"Iya, Om. Iyan tau bagaimana rasanya ... karena Iyan juga tidak punya orang tua lagi. Iyan sangat berterima kasih pada Om dan Tante, yang sudah bersedia mengurus Iyan dari kecil." Iyan berucap pelan dan tertunduk. Tak terasa air mata membasahi kedua pipinya.


"Jadi, bagaimana?" tanya Erna memastikan. Iyan mengangkat kepalanya dan mengangguk mantap, dia benar-benar yakin dengan keputusannya. Meskipun dia baru mengenal Ayu, tapi dia percaya pada pilihan tantenya.


"Alhamdulillah, Yan! Om bangga sama kamu!" Rahman menepuk pundak Iyan dan tersenyum bangga pada keponakannya itu.


Begitu juga Erna dan Ayu, keduanya berpelukan hangat. Bahkan Ayu memeluk erat tubuh Erna sambil terisak, sebagai rasa terima kasihnya pada wanita itu karena telah hadir sebagai sosok pengganti dari ibunya.


"Ya udah. Kalian ngobrol dulu biar lebih akrab. Om sama Tante mau pergi." Erna hendak beranjak dari duduknya. Namun, Ayu menahan tangannya sambil memberengut.


"Tante ... jangan gitu, dong." Ayu merengek dan memanyunkan bibirnya. Erna tertawa lepas menyaksikan ekspresi Ayu yang begitu lucu. Sementara Iyan hanya bisa menikmatinya dalam diam.


Sekitar jam 9 malam, Ayu pamit untuk pulang dari rumah Erna. Awalnya Erna menyuruh Iyan untuk mengantarkannya, tapi Ayu menolak karena alasan merepotkan. Padahal bukan itu masalahnya, tapi karena ia merasa malu jika harus berdua saja dengan Iyan, lelaki yang baru dikenalnya malam ini.


****


Tengah malam Naira terjaga dari tidurnya. Gadis itu mengucek-ngucek matanya dan bangkit dari tempat tidur. Naira melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1 malam, lalu beralih menatap Rifky yang masih terlelap di sampingnya.


"Nyenyak ternyata. Kesempatan."


Cup!


"Maafin aku, ya, Mas? Aku mau cari mangga dulu!"


Setelah mencium pipi Rifky sekilas, Naira beranjak dari ranjang dan pergi menuju dapur. Dia berjalan pelan dan mengendap-ngendap agar tidak mengusik tidur Rifky.


Sampai di dapur, Naira segera menuju sasarannya. Dia meraih plastik berisikan buah-buahan dan mengambil satu buah mangga mengkal.


"Untung nggak disimpan rapat-rapat sama Mas Rifky," gumam Naira sembari mengupas buah mangganya. Sejak tadi sore dia menginginkan buah asam itu, tapi Rifky tidak memperbolehkan dia memakannya. Sekaranglah waktunya, mumpung Rifky sedang tidur.


Tak butuh waktu lama, satu iris buah mangga itu telah masuk ke mulut Naira. Naira begitu menikmati setiap gigitannya tanpa merasakan asam sedikitpun.


Sementara itu, Rifky meraba-raba tempat tidur dengan mata yang masih terpejam. Laki-laki itu langsung membuka matanya ketika tidak merasakan adanya Naira di sampingnya.


"Naira!" panggil Rifky. Namun, tak ada sahutan apa pun.


Rifky menyibak selimutnya dan berjalan ke kamar mandi, tapi tidak menemukan istrinya di sana.


"Naira!" Matanya menatap ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka, lalu melangkah ke luar untuk mencari Naira.

__ADS_1


"Naira!" Naira yang mendengar suara Rifky cepat-cepat membereskan makanannya agar tidak ketahuan. Bisa kena marah dia kalau Rifky sampai tahu.


"Sedang apa kamu?" Terlambat. Baru saja dia hendak menyimpan semuanya, Rifky sudah berada di belakangnya.


Naira menggigit bibirnya dan membalikan badan untuk menghadap Rifky. Tangannya masih menenteng plastik berisi buah mangga yang baru setengah ia makan.


"Mas Rifky?" ucap Naira lirih. Kemudian menunduk saat Rifky menatapnya tajam.


"Siapa yang suruh kamu makan ini malam-malam?!" Rifky meraih plastik yang ada di tangan Naira dan menghempaskannya di meja.


Naira hanya menunduk sambil meremas bajunya. Dia begitu takut mendengar suara Rifky yang terkesan dingin itu. Apalagi bila Rifky marah padanya.


"Mas sudah bilang, 'kan? Besok lagi! Kenapa nggak nurut?!" Rifky meraih pelan dagu Naira agar menatapnya. Namun, suaranya sedikit membentak.


"Cu--cuma sedikit, kok, Mas ...," jawab Naira gugup.


"Sedikit kamu bilang? Sudah hampir habis kamu bilang sedikit? Hm?" Rifky memegang pundak Naira dan menariknya untuk lebih dekat. Naira hanya bisa pasrah atas kemarahan Rifky padanya, salahnya juga kenapa membantah.


"Ma--maaf, Mas ...," ucap Naira menangis. Rifky dapat merasakan kalau tubuh Naira sedikit bergetar. Dia menjadi tak tega melihat Naira menangis karenanya, tapi ini demi kebaikan Naira juga.


"Huft! Sudah, jangan menangis," bujuk Rifky. Lalu menarik Naira ke dalam dekapannya.


Naira menenggelamkan wajahnya dan memeluk erat tubuh Rifky. Isakan kecil masih keluar dari bibir mungilnya, dia benar-benar takut.


"Lain kali jangan diulangi, ya? Apalagi kamu makan sebanyak itu. Nanti kalau kamu sakit gimana?" Rifky melepas pelukannya dan menghapus pelan air mata Naira.


Naira hanya mengangguk, tak berani menatap mata Rifky yang menurutnya menyeramkan itu.


Rifky tersenyum dan mengelus kepala istrinya, kemudian sebuah kecupan singkat mendarat begitu saja di kening Naira.


"Ya udah. Sekarang kita sholat dulu, ya!" ajak Rifky. Naira mendongak menatapnya dan mendapati senyuman manis dari bibir laki-laki itu.


Tanpa menunggu jawaban dari Naira, Rifky segera mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya kembali ke kamar. Naira tersenyum menatap Rifky, suami pilihan orang tuanya ini benar-benar baik. Padahal, barusan tadi Rifky memarahinya. Namun, sekarang telah tergantikan dengan sikap lembut dan mesra, membuat hatinya mendapat ketenangan.


Cup!


Naira mencium sekilas bibir Rifky, kemudian menenggelamkan wajahnya di leher Rifky saat suaminya itu menatapnya. Naira benar-benar malu, apalagi jika Rifky tersenyum menggoda padanya.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2