Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 40


__ADS_3

"Eugh ...." Lenguhan itu keluar dari bibir mungil Naira. Sudah pagi begini, tapi Naira masih bergelut dengan selimutnya. Rasanya enggan sekali beranjak dari tempat tidur. Naira merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat ulah Rifky.


Perlahan Naira membuka matanya dan menetralkan penglihatan. Tatapannya langsung tertuju pada Rifky yang sedang duduk di tepi ranjang. Terlihat Rifky sudah berganti pakaian dengan rambut yang masih basah.


"Selamat pagi, sayangku ...," sapa Rifky sambil terkekeh. Naira memanyunkan bibirnya dan berpaling dari tatapan Rifky.


Ada perasaan malu dan kesal bercampur menjadi satu. Apalagi Naira mengingat kejadian yang tidak terduga tadi malam, membuat dia enggan bertemu dengan suaminya.


"Ayo bangun! Ini udah pagi," titah Rifky yang hendak menarik selimut Naira. Namun, secepat mungkin Naira menarik kembali selimutnya dan menatap tajam Rifky.


"Mas keluar aja!" usir Naira.


"Kenapa, Sayang? Hmm." Bukannya ke luar, Rifky malah mendekatkan wajahnya ke wajah Naira. Naira memegang selimutnya erat-erat supaya tidak tersingkap.


"Hahaha, tenang aja. Udah pagi, kok," ucap Rifky dengan tawanya.


"Ih, keluar sana ...." Mata Naira sudah berkaca-kaca. Rifky tersenyum dan menghapus air mata istrinya itu, lalu memberikan kecupan singkat di bibir Naira.


"Jangan nangis, dong," bujuk Rifky dan mengelus kepala Naira sayang. Naira yang masih terbaring tak dapat berbuat banyak. Dia menghapus kasar air matanya dan berusaha untuk duduk.


"Bisa nggak?" Rifky mengulurkan tangannya hendak membantu Naira, tapi dengan cepat Naira menepisnya pelan.


"Mas keluar dulu, aku mau mandi," ucap Naira.


Rifky mengangguk patuh. Istrinya seperti ini juga karena ulahnya.


"Iya, Sayang. Kalau perlu apa-apa panggil, ya?" Rifky tersenyum pada Naira dan meninggalkan Naira ke luar kamar.


Naira bangkit dari duduknya dan segera ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya. Tatapan sayu sempat terlihat saat Naira bercermin. Namun, tak lama dia mengukir senyum yang berarti ketulusan.


Selesai mandi, Naira memakai bajunya dan turun untuk menemui Rifky. Ternyata Rifky bangun pagi-pagi sekali, dapat dilihat dari kamar mereka yang semalam berantakkan telah tertata rapi seperti sedia kala.


Saat sampai di ruang tengah, Naira telah disambut oleh mamanya dan Bi Ira yang juga sudah kembali.


"Selamat pagi, Sayang." Marlin melentangkan kedua tangannya untuk memeluk anaknya dan tersenyum sumbringah. Raut bahagia terpancar di kedua mata wanita itu.


"Mama ...?" Naira berjalan pelan dan memeluk mamanya, begitu juga dengan Bi Ira.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kejutannya, Sayang?" tanya Marlin tersenyum kecil.


"Mama jahil!" ketus Naira dengan bibir mengerucut. Marlin dan Bi Ira menanggapinya dengan tertawa. Sedangkan Rifky mengulum senyumnya menyaksikan pertunjukan ketiga wanita itu.


Sebelum pulang, pagi itu Marlin ikut sarapan bersama di rumah mereka. Sesekali bergurau untuk menggoda Naira dan Rifky.


***


"Mama pulang, ya, Sayang?" ucap Marlin berpamitan pada Naira dan Rifky. Tujuannya ke sini hanya untuk mengantar BI Ira sekaligus menjenguk Naira.


"Iya, Ma. Hati-hati!" balas Naira dan mencium punggung tangan mamanya.


Marlin pulang ke rumahnya menggunakan taxi online yang telah dipesan oleh Rifky. Sebelum mobil yang dia naikki melaju, Marlin melambaikan tangannya dan memberi kiss jarak jauh untuk Naira.


"Yuk, masuk!" ajak Rifky setelah mobil yang Marlin tumpangi sudah tak terlihat.


Rifky merangkul bahu Naira untuk mengajaknya masuk. Naira sendiri enggan berbicara karena merasa malu pada Rifky.


Naira memilih pergi ke taman belakang rumahnya untuk mengusir kebosanan. Sedangkan Rifky berada di ruang kerjanya dan mengurus pekerjaan kantornya. Sebab hari ini dia tidak masuk kantor karena memilih menemani istrinya di rumah.


"Apaan ini taman? Nggak ada indahnya sama sekali, bunga nggak ada, kupu-kupu juga nggak ada!" omel Naira saat melihat kondisi taman rumahnya. Memang dia tidak pernah menanam bunga atau jenis tanaman apa pun di sana. Karena selama ini Naira hanya fokus pada sekolahnya.


Naira berkacak pinggang dan tampak berfikir apa yang akan dia lakukan pada tamannya itu. Sepertinya Naira harus menyewa tukang kebun untuk merawat taman rumahnya. Agar terlihat cantik dan penuh dengan warna-warni bunga.


Naira masih larut dalam pikirannya, sampai-sampai tak menyadari kalau Rifky memanggilnya. Karena tak menyahut, Rifky langsung menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Eh!" Naira sedikit kaget melihat tangan Rifky sudah memeluk pinggangnya.


"Kamu mikirin apa, Sayang? Serius amat. Sampai-sampai Mas manggil nggak menyahut," tanya Rifky dengan suara seraknya.


Naira menatap wajah Rifky dengan tersenyum. Lalu memegang tangan Rifky yang masih melingkar di pinggangnya. "Kenapa kita nggak rawat taman ini, Mas? Biar cantik," usul Naira, berharap Rifky mau menuruti keinginannya.


"Kamu mau bikin taman?" tanya Rifky menatap Naira.


"Iya ...," balas Naira. Tentunya sedikit manja pada Rifky.


"Baiklah, nanti kita panggil tukang kebun," ucap Rifky tersenyum. Kemudian mengecup tepi bibir Naira.

__ADS_1


"Kalau gitu, nanti kita beli bunganya, ya?" Naira tampak sumbringah.


"Iya, Sayang. Apa yang enggak buat kamu?"


"Makan ice cream pas aku lagi sakit. Mas nggak bolehin, 'kan?" Naira mengingat masa itu kala Rifky melarangnya memakan ice cream.


"Hahaha, kamu masih ingat aja." Rifky tertawa dan mencubit hidung mancung istrinya. "Itu, 'kan pas lagi sakit," sambungnya. Lalu kembali memeluk Naira.


Naira memejamkan matanya menikmati pelukan Rifky. Semilir angin yang berhembus menggugurkan dedaunan kering, semakin menambah kesan keromantisan mereka.


***


Sore harinya, Naira dan Rifky bersiap-siap menanam bunga di taman mereka. Kini, taman itu telah bersih dan rapi oleh tukang kebun yang dipekerjakan Rifky tadi pagi. Hanya tersisa pohon jambu biji yang tidak ditebang atas permintaan Naira.


Naira terlihat begitu bersemangat menanam berbagai jenis bunga, tangannya tampak kotor karena terkena tanah. Begitu juga dengan Rifky.


Naira juga menanam jenis buah-buahan di bagian sudut taman. Seperti pohon mangga dan pohon jeruk. Tak lupa juga Rifky menyiapkan bangku panjang, kalau-kalau mereka ingin duduk di taman itu.


Sedikit lagi taman mereka akan jadi.


"Huh! Selesai juga," ucap Naira lega. Sekarang taman itu telah penuh oleh bibit bunga yang baru ditanam. "Pasti besok bunganya udah tumbuh segar," sambungnya antusias.


"Iya, tapi harus rajin menyiramnya," ucap Rifky menanggapi perkataan Naira.


"Iya, dong. Biar tumbuh cantik!"


"Kayak kamu."


Cup!


Rifky mencium pipi Naira sekilas. Naira yang hanya mendapat gombalan receh seperti itu saja, pipinya sudah memerah. Ah, kenapa Rifky harus gombal segala, sih? Naira, 'kan malu!


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2