
Naira masih belum sadar dari pingsannya, sekarang dokter tengah memeriksa keadaan gadis itu diikuti Rifky di sampingnya.
"Dia sakit apa, Dokter?" tanya Rifky setelah dokter selesai memeriksa Naira.
"Tidak ada yang serius darinya. Istri Anda hanya kelelahan," jawab dokter itu yang diketahui bernama Vanya.
"Alhamdulillah!" Rifky bernafas lega.
"Tapi maaf, apa dia pernah mengalami luka di kepalanya?" tanya Dokter Vanya.
"Iya, Dok. Beberapa bulan lalu, dia pernah dioperasi," jelas Rifky pada Dokter Vanya.
"Owh begitu."
"Tapi dia akan baik-baik saja, 'kan, Dok?" Raut wajah Rifky begitu khawatir, dia tak ingin terjadi apa-apa pada istrinya.
"Tidak perlu dicemaskan, dia akan baik-baik saja! Tapi saran saya, jangan biarkan dia terlalu banyak berpikir. Karena itu akan berpengaruh pada rasa nyeri di kepalanya," ujar Dokter Vanya sembari menyerahkan beberapa bungkus obat untuk Naira.
"Baik, Dokter."
"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Vanya dan diangguki oleh Rifky.
"Saya antar, Bu Dokter," tawar Bi Ira tersenyum. Dokter Vanya hanya mengangguk dan berterima kasih.
Setelah mereka berlalu, Rifky mendudukkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Laki-laki itu memandang istrinya yang sedang terlelap dalam pingsannya dan mengelap keringat Naira yang ada di pelipis.
Rifky menghembuskan nafas gusar dan mengecup kening Naira cukup lama.
"Maafkan aku ...," lirihnya.
***
Satu jam kemudian, Naira terbangun dan memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Hal yang pertama dia dapati adalah Rifky yang menunggunya tersadar.
Naira membuang muka saat tatapan mereka tak sengaja bertemu. Dia marah pada Rifky! Sedangkan Rifky menghembuskan nafasnya pelan. Rifky mencoba membantu Naira untuk bangun, tapi Naira menolaknya dan memilih bangun sendiri.
"Aku bisa sendiri!" ketus Naira menepis tangan suaminya. Sedangkan tangan kanannya memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Naira ... nggak boleh gitu." Rifky menasehati Naira sambil memegang tangan mungil istrinya itu.
"Minggir! Aku mau ke kamar mandi." Naira tak menghiraukan ucapan suaminya dan memilih berdiri sendiri, tapi belum juga melangkah, tubuhnya yang kecil itu hampir terhuyung ke belakang.
"Jangan membantah!" ucap Rifky dingin, dan langsung mengangkat Naira untuk mengantarnya ke kamar mandi.
Naira sempat kaget saat Rifky berbicara dingin padanya, biasanya Rifky selalu membujuk dan merayunya, tapi sekarang ...?
__ADS_1
Apa karena wanita itu? Mungkin Rifky akan berubah terhadapnya, mungkin dia tak akan disayang lagi?
Berbagai fikiran buruk menghampiri Naira. Perlahan, air matanya membasahi pipi mulusnya.
Rifky meninggalkan Naira di kamar mandi dan menunggunya sampai selesai.
"Aduh!" Naira meringis saat dia mencoba untuk berdiri. Dia tak mau minta tolong pada Rifky karena masih marah.
"Sudah selesai?"
Tanpa menunggu jawaban, Rifky mengangkat kembali Naira dan membawanya ke tempat tidur. Meskipun Naira memberontak tidak mau, Rifky tetap memaksanya, bahkan sedikit kasar pada Naira.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Naira sambil menangis. "Apa karena wanita itu?!" Naira kembali membentak.
"Makan sekarang!" titah Rifky dan mengambil alih piring nasi yang sudah disiapkan Bi Ira.
"Nggak mau!"
"Aku memaksa!" Rifky sedikit memelototkan matanya melihat Naira yang terus membantahnya.
"Kamu jahat, Mas ...," lirih Naira sesugukan.
"Makanya jangan membantah, cepat buka mulutnya!" Rifky mengarahkan sendok ke mulut Naira berniat menyuapi istrinya itu.
"Nggak ma---"
"Berhenti menangis," ucap Rifky sembari jari-jarinya menghapus air mata Naira. Lalu kembali menyuapi istrinya itu sampai suapan terakhir.
Rifky meminumkan Naira air putih dan membuka obat yang diberikan oleh Dokter Vanya tadi.
"Aku nggak mau!" tolak Naira dengan mata yang masih berkaca-kaca. Sentak Rifky menatapnya tajam yang membuat Naira menangis kembali.
Naira menutup matanya sambil mengeluarkan isakan kecil.
"Naira," panggil Rifky membuka tangan Naira untuk menatapnya dan mendapati wajah Naira sudah penuh oleh air mata.
"Minum obatnya, ya," bujuk Rifky tersenyum.
Namun, mendapat gelengan pelan dari Naira.
Melihat hal itu, Rifky spontan menarik tangan Naira untuk mendekatnya dan membuka mulut Naira, lalu memasukkan obat itu secara paksa. Sehabis itu, dia memberi Naira air untuk minum.
"Simple, 'kan?" Rifky tersenyum menang. Dia tak memperdulikan Naira yang menangis karena ulahnya.
"K--kenapa, Mas, j--jahat banget?" tanya Naira sesugukan. Matanya menatap lekat mata Rifky.
__ADS_1
"Tidak ada yang jahat, Sayang. Justru, Mas sayang sama kamu." Rifky tersenyum dan menarik Naira ke dalam dekapannya.
"T--tapi ... ke--kenapa ma--maksa?" Naira berkata dengan suara serak dan tertahan oleh dada Rifky, karena Rifky memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di sana.
Rifky mendongakkan kepala istrinya dan mengecup kedua mata yang sedikit sembab itu.
"Biar kamu mau," jawab Rifky terkekeh dan memeluk Naira kembali. Naira yang mendapat elusan tangan Rifky di kepalanya, merasa nyaman, dan tanpa sadar dia membalas pelukan suaminya.
Sebenarnya Rifky tidak ada niatan untuk memarahi istrinya. Apalagi membuat Naira menangis, tapi karena sikap Naira yang suka membantah membuat Rifky harus melakukannya.
"Nggak usah marah lagi, ya, Sayang," pinta Rifky dan terus membelai lembut surai istrinya.
"Jelaskan dulu siapa dia?" Naira mendongak dan memanyunkan bibirnya.
"Dia teman kantor Mas. Nggak lebih, kok," balas Rifky tersenyum.
"Beneran?"
"Iya."
Naira kembali memeluk tubuh kekar Rifky dan menggesek-gesekkan wajahnya di dada bidang milik Rifky, membuat Rifky sedikit tersenyum.
"Mas sayang, 'kan sama aku?" tanya Naira tiba-tiba.
"Mas sayang banget sama kamu," timpal Rifky menatap Naira yang tersenyum padanya.
"Kalau gitu, beliin aku bakso ...," pinta Naira lirih. Suaranya yang terkesan manja itu membuat Rifky tak tega jika tidak menuruti permintaannya.
Sebenarnya Rifky senang jika Naira bersikap manja padanya. Bisa menang banyak dia.
"Udah ganti? Nggak ice---"
"Ice cream juga," potong Naira cepat dan berhasil membuat Rifky gemes padanya.
"Oke!"
"Makasih, Mas." Naira tersenyum manis pada suaminya.
Rifky membalas senyuman Naira dan menatapnya intens. Seketika tatapan mereka beradu, beberapa detik kemudian, tatapan Rifky tertuju pada bibir mungil Naira. Ah, menggoda sekali, rasanya tidak tahan jika tidak menciumnya.
Rifky yang masih memeluk Naira mengalihkan tangannya memegang tengkuk Naira dan mencium istrinya itu. Karena tak dapat menghindar akhirnya Naira menerimanya dan membalas ciuman Rifky.
.
.
__ADS_1
.
TBC.