
Siang yang cerah telah berganti menjadi malam dengan langit dipenuhi bintang-bintang yang kemerlap indah. Semua rumah telah diterangi oleh berbagai macam pencahayaan untuk menerangi para penghuninya.
Begitu juga Naira dan Rifky, kedua insan itu tengah bersantai dan menonton TV sambil menikmati minuman dan makanan yang disajikan oleh Bi Ira.
Bersanda gurau dan tertawa bersama layaknya pasangan yang sangat romantis. Membentuk keluarga yang bahagia.
"Oh, ya. Tadi, Mas dapat undangan, loh," ujar Rifky kala teringat salah satu temannya memberi undangan untuknya.
"Undangan apa?" tanya Naira sambil mengunyah camilannya.
"Undangan pernikahan. Kamu tahu nggak siapa yang mau nikah?" Rifky menatap Naira dan tersenyum penuh tebak.
Naira menggeleng pelan.
"Kan, belum dikasih tahu ...," jawab Naira mencuitkan bibirnya.
"Kan tebak-tebakan ...." Rifky sedikit terkekeh melihat bibir Naira yang mengerucut.
"Emang siapa, sih?" Naira penasaran dan menatap Rifky penuh selidik. Ada rasa kesal yang terlintas di hatinya saat mendapati ekspresi Rifky terhadapnya.
"Mas kasih tahu. Yuk! Undangannya ada di kamar." Rifky menapaki anak tangga yang langsung disusul oleh Naira.
"Nih." Rifky menyerahkan undangan berwarna merah hati itu kepada istrinya.
Naira membukanya, dan sedikit terkejut saat mendapati nama yang tertera di kertas itu.
'Pratama Wijaya & Kiara Priscillia'.
"Wah, akhirnya Kak Tama sama Kak Kiara mau nikah juga." Naira tersenyum senang sembari melihat-lihat undangan itu.
Tadi siang Tama memang ke kantor Rifky untuk memberikan undang pernikahannya, bukan hanya Rifky yang dapat, tapi seluruh karyawan kantor juga.
Sejak kejadian waktu itu, hubungan mereka memang semakin erat. Tama benar-benar menyesali perbuatannya dan sudah meminta maaf pada Rifky dan Naira. Jadi, tak ada salahnya jika mereka diundang dalam acara pernikahannya.
"Iya, aku juga turut senang." Rifky duduk di samping Naira dan merangkul bahu istrinya itu. Sesekali mengelus kepala Naira dan tersenyum manis.
"Iya," balas Naira, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Rifky. Sementara Rifky memeluknya dengan hangat.
"Mereka udah mau nikah. Kita kapan punya dede bayi?" Pertanyaan Rifky berhasil membuat Naira mengangkat kepalanya. Naira menatap wajah Rifky dan mendapati senyumanan yang tak pernah memudar dari bibir indah itu.
"D--dede bayi?" ulang Naira gugup. Rifky hanya mengangkat kedua alisnya menanggapi perkataan Naira dan kembali menarik Naira ke dalam dekapannya.
"Iya. Mau, 'kan punya dede bayi?" Rifky mengecup kepala Naira dan membelai rambut indahnya. Naira merasa risih sendiri diperlakukan seperti itu, dia berusaha menetralkan detak jantungnya yang kian berdegub kencang.
"Ehh, Mas!" Naira berusaha melepaskan pelukan suaminya, tapi Rifky semakin mempererat dan menidurkan Naira di sofa tempat mereka duduk.
"Kenapa?" tanya Rifky tersenyum simpul. Lalu menyibak poni Naira kebelakang kepala hingga menampakkan kening Naira.
__ADS_1
Kecupan singkat ia tempatkan di kening gadisnya itu.
Naira tak dapat berbuat banyak karena Rifky mengunci pergerakannya. Bahkan, salah satu tangannya telah dipegang erat oleh Rifky.
"Mas, mau ngapain?" Naira terlihat tegang saat Rifky mendekatkan wajah mereka.
Tanpa menggubris pertanyaan Naira, Rifky langsung memegang tengkuk Naira dan m*****t bibir pink istrinya.
Naira kebingungan, ingin berontak tak bisa, menolak juga dosa. Karena memang sudah waktunya dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Mungkin sudah lama juga Rifky menunggu.
Permainan Rifky semakin memanas, bahkan tangannya sudah bergriliya ke mana-mana. Sesekali Naira terlihat memberontak karena kesusahan bernafas.
Melihat hal itu, Rifky langsung mengangkat tubuh mungil istrinya dan menidurkannya di ranjang. Naira susah payah menelan salivanya saat Rifky membuka bajunya dan menampakkan badan kekar yang mempesona itu.
Tubuhnya bergetar hebat karena Rifky langsung menindihnya, tak memberikan sedikitpun kesempatan untuk Naira.
Aksinya terulang kembali.
Tubuh Naira menegang seketika. Kini bibir Rifky telah berhasil menyentuh lehernya dan membentuk tanda kepemilikan di situ.
Naira hanya pasrah atas apa yang akan terjadi malam ini. Dia memang tidak dapat menghindari ini karena Rifky tidak memberi tahunya terlebih dahulu.
Puas dengan leher jenjang istrinya, Rifky menatap baju Naira yang sedikit terbuka, sedangkan Naira sudah menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya pasrah.
Dret ... dert ....
Rifky melepaskan Naira dan meraih ponselnya yang berbunyi lalu mengangkat telfon dari sang Papa. Ternyata Papa mertuanya.
"Huh!" Naira menghembuskan nafasnya kasar, dengan tubuh sedikit bergetar dia melangkah ke kamar mandi.
"Assalamualaikum, Pa. Ada apa?" tanya Rifky menempelkan handphonenya di telinga dan duduk di tepi ranjang.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, kalian belum tidur 'kan, Nak?" ucap Herman di seberang telfon.
"Belum, Pa," balas Rifky.
"Begini ... Mama sama Papa meminta kalian untuk datang besok ke sini, sudah lama juga kalian tidak kemari, 'kan?" Herman menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Iya, Pa," jawab Rifky sedikit tertawa.
"Mama yang minta, katanya besok pagi kalian ke sini dan makan bersama," sambung Herman.
"Iya, Pa. Insyaa Allah." Rifky menampilkan senyum meskipun ia tahu Herman tak dapat melihatnya.
"Ya udah. Maaf Papa telfon malam-malam. Takutnya besok pagi kelupaan." Terdengar suara Herman tertawa di seberang sana.
__ADS_1
"Iya, Pa. Nggak papa," balas Rifky ramah.
"Kalau gitu, Papa tutup, ya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Herman mematikan sambungan telfon saat Rifky selesai menjawab salamnya.
Rifky melihat ke belakang dan tidak ada Naira di sana. Ke mana dia? Apa kabur?
Bola mata itu melirik jam dinding yang terpajang di kamar mereka. Memang baru jam 9 malam. Sepertinya Rifky salah memilih waktu.
Ah, sangat disesalkan dia tidak memperhatikan jam dulu sebelum mulai, tapi, ya sudahlah.
"Naira!" panggil Rifky dan melihat ke arah pintu, tapi masih terkunci seperti semula, artinya Naira tak ke luar.
"Apa?" sahut Naira dari dalam kamar mandi. Dia tak berani keluar dari sana, takut Rifky melakukannya lagi.
"Ngapain di dalam?" Terdengar derap langkah Rifky mendekati pintu kamar mandi.
Naira hanya diam sambil menggigit jarinya. Bagaimana jika Rifky menyuruhnya membuka pintu?
Ceklek!
Rifky memutar knop pintu, ternyata dikunci oleh Naira.
"Kamu ngapain di dalam? Ayo keluar! Ntar masuk angin kalau lama-lama di situ," panggil Rifky dengan nada lembut. Dia tahu, pasti Naira takut padanya.
Ceklek!
Naira membuka pintu dan menunduk. Rifky langsung menarik tangan istrinya itu dan memeluknya santai.
"Nggak usah takut," ujar Rifky mengelus kepala Naira dan mendapat anggukan pelan dari sang empu.
"Tidur, yuk!" Rifky spontan mengangkat tubuh Naira dan membawanya kembali ke ranjang.
Naira membelalakkan matanya dan kembali memerangi rasa gugup di dadanya.
"Hahaha, udah ... Mas cuma mengajakmu tidur, nggak usah tegang!" ucap Rifky terkekeh lalu membaringkan Naira.
Huh! Kalau saja bukan suami. Ingin sekali Naira menonjok wajah Rifky. Dia sudah sangat malu dan kesal sekarang.
Tangan kekar Rifky masih setia memeluk Naira, dan perlahan memejamkan matanya untuk istirahat.
Sementara mata Naira masih tetap terbuka, beruntung malam ini tak terjadi apa-apa. Huh!
.
.
__ADS_1
.
TBC.