Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 63


__ADS_3

Suasana pagi yang dingin membuat tubuh begitu nyaman bila dibalut selimut tebal. Apalagi ditambah pelukan hangat orang tersayang, tentu tidak ingin beranjak dari tempat tidur, 'kan?


Begitulah Naira, meskipun Rifky berusaha melepaskan pelukannya, Naira tetap memeluk suaminya itu dengan erat. Bahkan kakinya pun ikut menindih tubuh Rifky.


Tampak kekesalan di raut wajah pria tampan yang sudah lama terjaga itu, jam sudah menunjukkan pukul 4.25 pagi, tapi dia tak bisa bangun karena ulah istrinya.


"Naira ... ayo bangun, Sayang. Kita salat subuh!" ajak Rifky sambil menyingkirkan tangan dan kaki Naira. Namun, istrinya itu semakin rapat saja padanya.


"Naira ...?"


"Nanti, Mas. Sebentar lagi," jawab Naira dengan mata terpejam. Sedari tadi itu-itu saja jawabannya.


"Ini hampir jam lima, nanti kita kesiangan, lagi ...." Masih dengan nada lembut Rifky membujuknya.


Naira hanya diam. Kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya yang manis itu.


"Naira."


"Lima menit lagi, Mas. Janji!" jawab Naira tanpa menggerakkan tubuhnya.


Rifky menatap Naira yang masih memejamkan mata. Bukan dia tak mampu menggeserkan tubuh mungil istrinya itu, tapi dia lebih senang membujuk Naira. Lagi pula Rifky tidak ingin melihat bibir mungil itu mengerucut kesal.


Menuruti perintah dari istrinya, Rifky malah mengelus pelan punggung kecil Naira. Mata Naira terbuka sempurna ketika bibir Rifky menyentuh lembut keningnya, dilihatnya Rifky tersenyum, lalu mengecup pipi chubbynya.


"Udah lima menit, yuk bangun!" Perlahan Rifky melepas pelukan mereka.


"Gendong ...," pinta Naira manja. Naira merangkak ke arah Rifky saat Rifky tersenyum menggodanya.


"Masa jam segini masih ngantuk? Biasanya lebih awal dari ini bangunnya?" kata Rifky setelah menurunkan Naira di kamar mandi.


"Pengen peluk kamu, Mas ...." Suara manja Naira semakin menggemaskan bagi Rifky. Apalagi jika sambil merengek seperti sekarang.


"Udah, udah, udah. Ambil wudhu sekarang!" titah Rifky menyudahi, dan sebelum dia menghidupkan kran air, Naira menyempatkan diri untuk menciumnya.


"Udah?" tanya Rifky sebelum memulai wudhunya. Naira mengangguk polos, lalu memukul pelan tangan Rifky saat hidungnya ditarik pelan.


Rifky menyuruh istrinya berwudhu duluan dan menyuruhnya menunggu di tempat salat. Pagi ini laki-laki itu tidak berangkat ke masjid karena sedikit kesiangan.


Selepas melaksanakan salat dua rakaat tersebut, Naira kembali memeluk tubuh suaminya yang sedang berdzikir. Seperti tak ingin Rifky meninggalkannya ke manapun.


Gumaman pelan dari mulut Naira membuat Rifky tersenyum. Tidak pernah ia sangka kalau akan memiliki istrinya lucu seperti Naira. Walaupun dia sudah hapal dengan tingkah Naira, tetap saja membuatnya gemas.


"Kamu nggak bantu Bi Ira masak?" tanya Rifky sambil merapikan sarungnya.


"Enggak," jawab Naira cemberut. Pasalnya Rifky melepas pelukannya.


"Kenapa? Biasanya kamu masak buat Mas sarapan. Mas mau masakan kamu, loh," ucap Rifky tersenyum.


"Maunya masak sama kamu. Ayok!" Naira menarik tangan Rifky menuju dapur. Kalau Rifky tidak mau, dia juga tidak akan mau. Akhirnya Rifky menuruti keinginannya.


"Neng? Tumben pagi-pagi udah turun berdua? Nggak kayak biasanya," goda Bi Ira menggerlingkan mata.


"Itu apa, Bi?" tanya Naira mengabaikan pertanyaan Bi Ira.


"Ini ikan bandeng. Baru Bibi rebus kemaren sore, belum digoreng," jawab Bi Ira.


"Owh. Mas Rifky mau makan ubi ungu?" Naira beralih menatap suaminya.


"Boleh." Rifky mengangguk.


"Ya udah. Ayo kita goreng!"

__ADS_1


"Iya, ayo."


Bi Ira sedikit berpaling menyembunyikan gelak tawanya. Biarlah Rifky repot sendiri karena ulah Naira.


Tak ingin mengganggu mereka, Bi Ira menyelesaikan gorengan ikannya dengan cepat. Setelah itu meninggalkan dapur dan menyapu ruang tengah.


"Mas Rifky, nyalain apinya!"


"Udah."


Naira menyelupkan beberapa potong ubi ungu ke dalam minyak panas. Seperti tujuannya yang ingin membantu Naira memasak, Rifky memeluk istrinya itu sambil membolak-balik gorengan mereka. Ternyata itu disukai Naira, sebagaimana dia memang menginginkan hal tersebut.


***


Hari ini adalah hari pertama Riyan akan memulai kerjanya di perusahaan Herman. Laki-laki itu tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri yang sedang memakaikan dasinya.


Wajah bulat milik Ayu dapat ia lihat dengan jelas kala istrinya itu sedikit mendongak. Sesuai dengan namanya, orangnya ayu sekali.


"Mas kenapa, sih?" tanya Ayu risih.


"Enggak. Mau cium aja," kekeh Iyan sembari menarik tubuh istrinya agar lebih dekat.


"Udah. Ayo sarapan!" Ayu tersenyum dan meraih tangan kekar suaminya. Mereka berjalan pelan sambil sedikit bercakrama tentang pekerjaan kantor. Iyan memang pernah ikut omnya bekerja seperti ini, tapi tidak berlangsung lama karena omnya lebih banyak kegiatan di luar kota, sementara dia harus mengajari anak-anak mengaji.


"Hari ini aku ikut Bi Yati ke pasar, Mas. Nggak papa, 'kan?"


"Nggak papa, Sayang." Iyan tersenyum sembari menduduki kursi yang disediakan Ayu. Lalu mengajak Bi Yati sarapan bersama, dan mulai menyantap makanan yang terhidang.


Hanya perlu beberapa menit mereka menyelesaikan sarapan. Kini sepasang suami-istri itu berada di teras rumah untuk berangkat kerja.


"Hati-hati, Mas. Yang semangat, ya?" Ayu terkekeh sehabis menyalami punggung tangan suaminya.


"Iya, Sayang. Kamu juga baik-baik di rumah." Iyan mengecup kening istrinya, kemudian melambaikan tangannya ketika akan memasuki mobil.


***


Berjam-jam di rumah tanpa ada yang menemani, sangat membosankan. Naira mengelilingi sekitar rumahnya, ke balkon kamar, ke halaman depan, ke taman, bahkan membantu Bi Ira beres-beres. Namun, hal itu masih membuatnya kurang puas, sampai dia meminta Kinta dan Sindy untuk datang ke rumahnya.


Sudah lama juga Naira tidak bertemu sahabat-sahabatnya, semenjak mereka sudah mempunyai kegiatan dan tanggung jawab masing-masing. Naira rindu, terlebih dengan Kiki yang jauh di Singapura. Butuh waktu bertahun-tahun agar bisa berkumpul kembali.


"Lama banget, sih? Perasaan udah setengah jam nungguin." Naira mengomel sendiri.


Tit! Tit!


Suara klakson mobil membuat Naira berdiri dari duduknya. Dia melambaikan tangannya saat Kinta dan Sindy turun dari mobil.


"Ra! Gue kangen ...." Kinta berhambur memeluk Naira.


"Sama, Kin. Gue juga kangen banget sama kalian!" balas Naira haru.


"Em ... peyuk duyu ...." Sindy memanyunkan bibirnya sambil melentangkan kedua tangan pada Naira. Meski umur hampir menginjak 19 tahun, mereka tidak melepaskan kekonyolan semasa SMA dulu.


"Ih? Perut kamu?" Tatapan Kinta menuju perut Naira saat Sindy berkata demikian.


"Kenapa perut aku?" tanya Naira bingung.


"Kok, beda ...?" Sindy memicingkan mata dan menggaruk kepalanya.


"Iyalah, beda. Udah ada dedeknya!" kata Naira tersenyum lebar.


"Hah?!"

__ADS_1


"Udah, ah. Yuk masuk!" Naira berbalik meninggalkan kedua sahabatnya yang tercengan.


"Ra!"


"Naira! Lo hamil?" Kinta dan Sindy menyamakan langkah mereka.


"Iya. Kenapa, sih? Kek terkejut amat," jawab Naira santai.


"Ya ... ya-iyalah terkejut. Kita baru tau!" ucap Kinta.


"Udah, duduk dulu! Gue ambil minum bentar, ya?"


"Lah? Naira ...?" Sindy dan Kinta saling pandang saat Naira pergi ke dapur. Kemudian menatap Naira yang kembali dengan tiga gelas minuman.


"Diminum dulu. Pasti haus, 'kan?" tawar Naira pada keduanya.


"Gimana rasanya, Ra?" Kinta bertanya. Kedua sahabatnya itu makin merapatkan jarak mereka.


"Rasa apa?" Naira mengernyit.


"Rasa pas hamil?! Mual-mual kayak yang di TV-TV, nggak?" Wajah kedua gadis itu tampak tegang menantikan jawaban Naira. Namun, menjadi kesal karena Naira menertawakan mereka.


"Serius amat, sih nanyanya? Santai aja kenapa?" kekeh Naira geli.


"Ih! Elo!"


"Ini diminum dulu. Hilangkan dulu hausnya," kata Naira sambil mendekatkan kembali minuman yang ia sajikan.


"Nanti! Sekarang lo beri tau kita dulu. Gimana?" Kinta mengangguk, menyetujui ucapan Sindy.


"Ya ... nggak gimana-gimana. Biasa aja, kok. Apalagi Mas Rifky makin sayang sama gue ...," ujar Naira sembari membayangkan kemesraannya dengan Rifky. Pamer!


"Asiikk .... Ih, elo! Gue, 'kan jadi pengen juga," balas Kinta geli. Begitu pun Sindy.


"Nikah kalau mau! Rizal-mu mana?" tanya Naira meledek.


"Gue putus!" aku Kinta.


"Iya, dia udah putus!" sambung Sindy mengangguk.


"Putus? Bisa?" Naira menatap Kinta penuh tanya.


"Iya. Kita putus secara baik-baik, kok. Lagian, 'kan lo sendiri yang bilang kalau pacaran itu zina?" jelas Kinta tersenyum. Tidak ada beban apa pun saat dia mengatakan itu.


"Iya, bagus, deh kalau gitu," imbuh Naira.


"Sekarang udah berapa bulan, Ra?"


Naira langsung menoleh pada Sindy. Untung dia cepat mengerti pertanyaan itu.


"Bentar lagi 2 bulan," jawab Naira lembut.


"Loh? Kok kita baru tau sekarang, sih?" sanggah Kinta.


"Dulu gue belum sempat cerita."


"Oh. Boleh sentuh nggak?"


"Kalian apaan, sih?"


"Sedikit, Ra. Pengen banget ...," ucap Sindy berbisik. Kedua sahabat Naira itu masing-masing sudah duduk di sisinya.

__ADS_1


"Kok nggak ada tendangan, sih?" tanya Kinta polos.


"Belum, Markonah! Emangnya 2 bulan udah bisa nendang?!" sentak Sindy pada Kinta. Sementara Naira menutup mulutnya karena menertawakan kedua sahabatnya itu.


__ADS_2