
Rifky mengendarai mobil menuju rumahnya untuk mengajak mamanya ke rumah sakit. Sebagai tetangga dari Erna, Rasya pastinya turut prihatin atas musibah yang menimpa keluarga itu. Rasya juga meminta anaknya untuk mengajak Marlin, dan Rifky menyetujui.
Marlin dan Rasya duduk di kursi belakang sambil berbincang-bincang seperti ibu-ibu pada umumnya. Sementara Naira hanya diam dan menatap lurus ke depan. Terkadang Naira menatap Rifky yang fokus pada kemudi, tapi Rifky sama sekali tidak melihatnya.
Ingin merengek pun Naira malu pada kedua mamanya yang satu mobil dengan mereka. Lagi pula keadaan sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya hembusan nafaslah yang terdengar dari Naira.
"Udah sampai, Ma. Ayo!" ujar Rifky sembari membuka seatbelt. Lalu berjalan ke samping dan membuka pintu mobil Naira.
"Ayo, Sayang!" Naira mengangguk dan menerima uluran tangan Rifky. Sebuah senyum kecil menyungging di sudut bibirnya saat menatap mata Rifky.
"Assalamualaikum." Marlin dan Rasya berucap salam, dan dibalas oleh semuanya.
"Astaghfirullah ... parah sekali ini," ucap Marlin setengah terkejut. Begitu juga dengan yang lain.
Rifky menyuruh Naira untuk bersama mamanya terlebih dahulu, sedangkan dia menemui Iyan yang duduk dengan ekspresi murung. Tepukan lembut dari Rifky membuat Iyan tersenyum, lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat.
Semua yang menyaksikan menatap haru kedua lelaki itu, terlebih Rasya dan Erna. Sedari kecil Iyan dan Rifky berteman dan menuntut ilmu bersama, hingga sampai sekarang pun masih sama.
"Makasih, Ky," ucap Iyan sambil menghapus air matanya.
"Iya. Boleh ke luar sebentar? Aku ingin bicara." Rifky menatap Iyan dan mendapat anggukan darinya. Kemudian mereka berjalan ke luar menuju taman rumah sakit.
"Aku tau kalau kamu sudah menemukan pelakunya. Siapa, Yan?" tanya Rifky pelan.
Sentak Iyan langsung menatap sahabatnya itu sembari berpikir apa yang harus dia katakan. Tidak mungkin jika dia mengatakan semuanya pada Rifky, dia tidak ingin Rifky mengetahui kalau masalah ini masih bersangkutan dengannya.
"Yan?"
"Em? Tapi berjanjilah untuk tidak memikirkan hal ini lagi. Jika tidak, aku tidak akan mengatakan apa pun!" ucap Iyan serius.
"Insyaa Allah."
Iyan menghela nafasnya sesaat. "Rani ... Rani-lah yang terlibat di balik semua ini."
"Apa?!"
"Iya."
"Kenapa bisa?" tanya Rifky bingung. Tentunya dia tak habis pikir kalau pelakunya seorang perempuan.
__ADS_1
"Dia dendam padaku, Ky. Masih dengan masalah waktu dia menjebakmu." Pengakuan itu berhasil membuat Rifky menahan nafas sejenak. Dia yang semula ingin menguatkan sahabatnya, tapi malah ikut bersedih saat mengetahui kebenarannya.
"Astagfirullah ... Rani ...." Rifky berucap sambil mengusap kasar wajahnya. Benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan wanita itu.
"Sudahlah, Ky. Semua sudah terjadi, dan Rani sudah menerima hasil dari usahanya itu," kata Iyan lembut. Senyumnya tak pernah pamrih untuk Rifky.
"Maaf, Yan. Aku---"
"Ini yang aku tidak suka darimu. Belajarlah untuk membuang rasa tak enak hati, Rifky." Iyan menatap kesal. Kemudian bangkit dari duduknya karena tak ingin mendengarkan kata maaf dari Rifky.
"Ayo! Masuk saja!" ajak Iyan yang sudah berjalan duluan. Sedangkan Rifky tetap mematung di tempatnya. Tidak mungkin jika dia tidak memiliki rasa bersalah pada Iyan, yang sudah jelas-jelas jika sahabatnya itu menerima ujian ini karena dirinya juga.
Selama berjam-jam mereka di rumah sakit, dokter terus bolak-balik memeriksa Ayu. Keadaan wanita itu sudah cukup membaik dari sebelumnya. Namun, dokter mengatakan kalau Ayu mungkin belum bisa tersadar untuk beberapa hari lagi.
***
Sepulang salat isya, biasanya Rifky akan ke bawah untuk makan malam. Namun, kali ini pria itu memilih berdiam diri di kamar.
Naira melihatnya, tapi dia tidak mengerti apa yang Rifky pikirkan. Walau umurnya sudah 18 tahun lebih, dia hanyalah gadis kecil yang masih bersikap kekanak-kanakkan, selalu ingin dimanja, bahkan mungkin hanya merepotkan.
"Mas ...." Naira memanggil pelan suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Mas kenapa?" tanya Naira pelan. Sekarang posisinya sudah berada di pangkuan Rifky.
"Nggak papa," jawab Rifky terkekeh.
"Nggak papa, tapi murung terus!" Naira memanyunkan bibirnya dengan tatapan penuh selidik. Namun, Rifky hanya tersenyum dan mencubit hidung mancungnya.
"Ayo makan, Mas! Aku lapar ...." Naira merengek memegangi perutnya. Kemudian tersenyum saat mendapat anggukan dari Rifky.
Rifky membimbing lembut tangan Naira untuk menuruni anak tangga. Terkadang lelaki itu tersenyum menatap wajah istrinya, benar-benar nampak polos dan lugu. Tidak mungkin Rifky membagi ceritanya dengan Naira, karena hal itu hanya akan membuat Naira terus-menerus memikirkannya.
Seperti biasanya, Naira meminta Rifky menyuapinya dan satu piring berdua. Bibirnya yang disengaja membentuk kerucut itu sangatlah membuat Rifky tergelitik, bukan tidak mungkin Rifky akan tertawa melihat tingkah lucu Naira yang sangat menggemaskan.
Beberapa menit mereka menonton televisi setelah menyelesaikan makan malam. Naira masih dengan sikap manjanya, menidurkan kepalanya di pangkuan Rifky sembari menatap wajah tampan suaminya itu.
"Mas!"
"Awss!" Tangan mungil Naira menarik jenggot tipis milik Rifky, hingga suaminya itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ah, masa gitu aja sakit!" protes Naira yang hendak mengulangi perbuatan jahilnya. Namun, tangan kecil itu sudah ditahan oleh Rifky.
"Sakitlah, Sayang. Nariknya kuat banget juga," ucap Rifky sambil mengelus dagunya. Kemudian tatapan laki-laki itu tertuju pada jari-jari istrinya.
"Astaghfirullah ... kuku kamu panjang banget, sih? Nggak dipotong?" tanya Rifky memeriksa setiap jari tangan Naira.
"Males!" jawab Naira enteng.
"Hari senin dipotong, ya? Kuku panjang jorok banget, ah!" ucap Rifky geli.
"Tapi bersih, kok. Nggak hitam." Naira meregangkan jari-jarinya untuk diperlihatkan pada Rifky.
"Walaupun nggak hitam pasti ada kumannya. Nggak boleh kuku panjang, ya."
"Iya, tapi potongin ...," pinta Naira tersenyum. Matanya mengerjab beberapa kali saat tatapan mereka beradu.
"Kamu wangi banget, Mas." Naira memeluk pinggang Rifky dan menenggelamkan wajahnya di perut suaminya itu.
"Iya, lah. Nggak kayak kamu, bau!" canda Rifky.
"Alah! Tapi kamu suka, 'kan?" Naira menggerlingkan mata dengan tatapan menggoda. Hal itu sukses membuat Rifky greget dan menciumnya berkali-kali. Ada-ada saja tingkah Naira yang membuat dia terhibur.
"Tidur, yuk! Udah waktunya tidur!" ajak Rifky sembari mendudukkan Naira. Namun, Naira sengaja memberatkan tubuh kecilnya itu.
"Naira ...?"
"Aku nggak mau jalan!" Rifky yang sudah mengerti sedikit menghela nafas. Lalu mengangkat istrinya itu dan membawanya ke kamar.
Puluhan anak tangga tidaklah gampang untuk dijejaki, apalagi jika Naira ada di dalam gendongannya. Walaupun kecil, tetap saja tubuh istrinya itu terasa berat.
"Biar kamu sehat, Mas. Nggak perlu olahraga lagi," ucap Naira terkekeh, menyembunyikan wajahnya saat Rifky menatapnya cukup lama.
Rifky menurunkan Naira dengan lembut, dan ikut berbaring di sebelahnya. Terlihat Naira mengintip lewat sela-sela jari tangan, dan kembali bersembunyi karena Rifky masih terus menatapnya. Lelaki itu menggeleng pelan dan tersenyum kecil, menjadikan tangan kanannya sebagai bantal untuk Naira, dan merengkuh mesra tubuh mungil istrinya itu.
.
.
.
__ADS_1
Yang minta visualnya, author nggak dapet yang cocok, ya 😅 Jadi kalian bayangin aja menurut gambaran masing-masing 😁