Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 51


__ADS_3

Dua hari berlalu begitu singkat, dan hari ini adalah hari kebahagian Riyan Syahid dan Ayu Anggaraini, dimana keduanya telah menjadi sepasang suami istri.


Walau pernikahannya atas dasar perjodohan oleh Om dan tantenya, Iyan menerimanya dengan senang.


Benar saja. Seperti yang Rifky duga, ternyata nama wanita yang tertera di undangan waktu itu adalah Ayu---asistennya di kantor. Rifky juga turut bahagia melihat Ayu bersanding dengan sahabatnya.


"Alhamdulillah! Selamat atas hari bahagianya, Yan. Semoga samawa, ya?" ucap Rifky sambil memeluk sahabatnya.


"Makasih, Ky. Kalau udah gini kamu nggak akan bilang aku jomblo lagi," balas Iyan bergurau. Tak lupa tangannya mencubit pelan pinggang Rifky yang membuat Rifky terkekeh.


"Selamat, Kak." Naira mengatupkan kedua tangannya pada Iyan. Lalu beralih pada Ayu dan bersalaman sambil cipika-cipiki dengan wanita itu.


"Terima kasih," balas keduanya tersenyum.


Usai mengucapkan selamat kepada sang pengantin, para tamu undangan dipersilahkan menduduki kursi masing-masing dengan berbagai jamuan makanan di atas meja.


Rifky dan Naira menduduki kursinya. Laki-laki itu tersenyum menatap kedua mempelai yang duduk di pelaminan.


Naira yang berada di samping Rifky hanya cemberut tak jelas melihat suaminya yang begitu senang. Dia cemburu! Apalagi yang bersanding itu adalah wanita yang dijumpainya bersama Rifky dulu saat pernikahan Tama dan Kiara. Apa Rifky benar-benar menyukai wanita itu? Pertanyaan itu yang ada di benak Naira sekarang.


Iyan tersenyum bahagia dan sekali lagi melambaikan tangannya pada Rifky yang dibalas lambaian juga oleh sahabatnya itu.


Sebenarnya Naira ingin sekali memukul suaminya, tapi melihat suasana yang begitu ramai, membuat dia berfikir dua kali. Ditambah ada Mama dan papanya beserta mertuanya yang ikut menghadiri pesta itu.


'Liat aja nanti!' batin Naira kesal. Naira bersedekap dada dan menggerling tak suka pada Rifky.


"Minum, Sayang?" Rifky menawarkan segelas minuman pada Naira. Naira menerimanya dengan tatapan sinis. Malas sekali dia melihat tampang Rifky.


Rifky yang tidak mengerti apa-apa tidaklah bermasalah. Dia tetap menikmati makanan dan minumannya tanpa mempedulikan Naira yang kian cemberut.


"Huek! Huek! Bau ...!" Naira langsung ingin muntah-muntah saat seseorang duduk di sampingnya membawa sayur ayam.


"Naira?! Kamu kena---"


Belum selesai Rifky bertanya Naira sudah berlalu pergi meninggalkannya. Rifky menyusul istrinya itu yang mengarah pada toilet. Dilihatnya Naira memuntahkan semua makanan yang baru masuk ke perutnya tadi.


Laki-laki itu memijit tengkuk Naira agar Naira memuntahkannya dengan lancar. Rifky baru ingat, kalau Naira tidak suka bau ayam.


"Huek! Ah!" Naira terkapar lemas setelah muntah-muntah. Untung saja Rifky bergerak cepat menangkap tubuh istrinya itu. Jika tidak, Naira akan terjatuh dan itu akan berbahaya bagi perutnya yang mungkin tidak kuat menahan guncangan.


"Naira? Sayang?" Rifky menepuk-nepuk pipi Naira. Namun, tak ada respons dari istrinya itu.

__ADS_1


Rifky mengangkat tubuh Naira dan membawanya keluar dari toilet. Marlin yang melihat Naira muntah-muntah menyusul anaknya untuk memastikan keadaannya. Wanita itu memang tahu apa saja yang akan dialami oleh ibu hamil, tapi tetap saja dia merasa khawatir pada putrinya.


"Naira kenapa, Ky?" tanya Marlin cemas.


"Nggak papa, Ma. Naira cuman muntah karena bau ayam," jawab Rifky tersenyum. Dia tak ingin mertuanya mengkhawatirkan Naira.


"Oh, ya, Ma. Bilang sama Iyan aku pulang duluan, ya," pesan Rifky yang mendapat anggukan dari Marlin. Lagipula Rifky sudah bertemu dengan shabatnya itu, jadi tak apalah kalau pulang sebelum waktunya.


Rifky membawa Naira masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Erna. Niatnya sekarang akan menuju rumah sakit.


Begitu sampai, cepat-cepat Naira dibaringkan di brankar dan langsung diperiksa oleh dokter.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Rifky yang tak sabar.


Dokter itu tersenyum. "Tidak perlu dikhawatirkan, Pak. Memang inilah proses ibu hamil," jawab dokter itu dengan ramah.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Rifky lega.


"Nanti Bapak perlu membeli beberapa vitamin untuk istrinya, ini resepnya!" Dokter itu menyerahkan secarik kertas pada Rifky.


"Terima kasih, Dok." Rifky menerimanya. Kemudian menghampiri istrinya yang mulai membuka mata.


"Sayang, Kamu nggak papa, 'kan?" tanya Rifky dan membantu Naira untuk duduk.


"Kami sudah boleh pulang, Dok?" tanya Rifky.


"Boleh, Pak ...."


Rifky mengangguk dan membatu istrinya turun dari brankar. Kemudian mengajaknya pulang setelah membelikan beberapa vitamin untuk Naira.


"Masih pusing?" tanya Rifky. Laki-laki itu menoleh istrinya yang duduk di sampingnya. Naira menggeleng, tapi masih memegangi kepalanya sambil meringis.


Hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka. Beberapa kali Rifky berdehem. Namun, Naira tetap tak peduli.


Begitu sampai di depan rumah mereka, Naira cepat-cepat turun dari mobil meninggalkan Rifky. Lalu berhenti di depan pintu karena pintunya masih terkunci, sebab Bi Ira juga turut memeriahkan pesta pernikahan Iyan dan Ayu.


Dengan wajah yang masih cemberut, Naira memasuki rumahnya tanpa bicara sepatah katapun. Bahkan mengucap salam pun tidak.


Rifky juga terheran melihat tingkah istrinya. Apalagi mendapati wajah Naira yang cemberut itu? Punya salahkah dia?


Ceklek!

__ADS_1


Bugh!


Naira membuka pintu kamar dan langsung merebahkan diri di kasur empuknya. Tak lupa menutupi wajahnya dengan bantal.


"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Rifky mendekati istrinya. Naira enggan menjawab, malah semakin memeluk erat bantalnya.


"Sayang? Hey? Kamu kenapa? Sakit? Perlu Mas pijit?" tanya Rifky beruntun. Begitu tangannya berhasil menyentuh pundak Naira, sang istri langsung menepisnya.


"Nggak usah pegang-pegang! Kamu jelek!" larang Naira dibumbui cacian untuk suaminya itu.


Rifky mengerutkan keningnya. Di mana salahnya?


"Naira?"


"Kalau mau pergi, pergi aja sana! Mas, 'kan belum puas pandangin istri orang!" sergah Naira. Dengan perasaan kesal dia memukul suaminya itu.


"Masudnya apa, sih? Mas nggak ngerti," tanya Rifky heran.


"Bodo'amat!" ketus Naira dan tidur membelakangi Rifky.


"Kamu ini bicara apa, sih, Sayang ...?" bujuk Rifky pelan. Rifky memeluk Naira dan menatap wajah istrinya itu. Ada air mata di sana. Naira kenapa?


"Kamu kenapa nangis? Ada yang sakit?" Rifky masih terus membujuk Naira.


"Nggak! Nggak ada! Mas pergi aja sana! Temuin Mbak Ayu!" Naira menangis sambil menunjuk ke arah pintu, tapi dengan posisi tetap membelakangi Rifky.


"Huft ...! Astaghfirullah ... itu lagi masalahnya," keluh Rifky.


"Ngapain masih di sini? Pergi sana!" usir Naira. Kali ini suaranya lebih lantang.


Rifky yang bingung pun tak tau harus berbuat apa. Mau bagaimanapun ia membujuk Naira, pasti akan nol hasilnya. Hapal sekali dia dengan tabiat Naira.


"Pergi!" Naira menyergah lagi.


"Ya udah kalau itu mau kamu! Aku pergi sekarang!" Rifky beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ketika hendak membukanya, dia malah mendengar tangisan Naira makin menjadi.


"Disuruh pergi malah pergi beneran ... nggak sayang sama aku ...?" ratap Naira sedih. Rifky melihat istrinya yang terduduk di sisi ranjang sambil menghapus air matanya.


Laki-laki itu menghela nafas. Akhirnya dia berhasil mengelabui Naira. Dia tahu, mana mungkin Naira membiarkannya pergi.


"Tadi nyuruh pergi?" Rifky mendekati Naira kembali.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Naira langsung berdiri dan memeluk tubuh kekarnya.


Rifky mengerti kalau Naira ingin disayang. Laki-laki itu tersenyum dan membalas pelukan istrinya dengan mesra.


__ADS_2