Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 07


__ADS_3

Kedua insan yang baru sah menjadi suami istri itu masih tertidur sangat pulas, dengan posisi tetap berpelukan. Naira bahkan membalas pelukan suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Rifky. Sangat nyaman!


Tring ... tring ... tring.


Suara alarm yang berada di atas nakas terdengar memekakkan telinga.


Rifky membuka matanya perlahan dan melirik jam yang menunjukkan pukul 03.00 WIB. Waktunya sholat malam, dia memang sengaja menghidupkan alarm agar tidak telat bangun untuk beribadah.


Mata itu melirik ke arah Naira yang masih tertidur nyenyak. Rifky memperhatikan wajah damai Naira saat tidur. Perlahan ... tangannya terulur untuk menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


'Cantik!' batin Rifky tersenyum, lalu mengecup singkat kening Naira.


Sementara Naira yang tidak sadar masih setia memejamkan matanya, dengkuran halus terdengar dari deru nafas Naira, dia benar-benar menikmati tidurnya saat ini.


"Sayang, bangun!" Rifky menepuk pelan pipi chubby Naira. Ah, sangat romantis! Bahkan kenalpun belum sepenuhnya kenal, tapi panggilannya 'Sayang'.


Naira yang merasa tidurnya terganggu menggeliatkan tubuhnya. "Eugh ...." Lenguhan kecil keluar dari bibir mungil itu.


Saat Naira membuka matanya, tampaklah seorang pria yang tengah menatapnya.


"Hah!" Naira terperanjat dan refleks menjauhkan tubuhnya dari Rifky.


"Ustadz ... aduh! Aku lupa!" ucap Naira menepuk jidatnya.


Rifky sedari tadi hanya mengernyitkan keningnya, kenapa dengan Naira? Mimpi buruk, kah?


"Kamu, kenapa?" tanya Rifky heran melihat tingkah aneh Naira.


"Nggak papa, Mas. Aku lupa kalau aku udah punya suami, jadinya aku kaget ...," jawab Naira nyengir kuda.


"Hmm ... suami ganteng gini dilupain," ucap Rifky dengan PD-nya.


"Geer!" ketus Naira menatap Rifky.


"Geer dikit nggak papa, dong. Ya, nggak?" tanya Rifky menaik turunkan alisnya.


"Tau, ah." Naira menggaruk kepalanya, bosan! "Ngapain bangunin aku, sih. Ini, 'kan masih malam?" tanya Naira mengucek-ngucek matanya.


"Sholat tahajud, yuk!" ajak Rifky.


"Tapi aku masih ngantuk," tolak Naira sambil menguap menahan kantuknya.


"Kalau udah wudhu, nanti ngantuknya ilang, Sayang," tutur Rifky lembut disertai senyuman manisnya.


"Emmm ...." Naira mengerucutkan bibirnya manja, malas sekali rasanya diajak sholat. Apalagi malam-malam, kena air, 'kan dingin?


"Mau sholat apa aku cium?" tawar Rifky tersenyum jahil.


Naira langsung membolakan matanya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Rifky yang membuatnya gugup, Naira segera menyibak selimutnya dan bergegas pergi ke kamar mandi mendahului Rifky.


Rifky hanya terkekeh melihat Naira yang lucu menurutnya, mudah sekali menaklukkan gadis itu.


Begitu sudah siap, mereka melaksanakan sholat tahajud berjama'ah. Ini kali pertamanya Naira sholat berdua dengan Rifky.


Setelah selesai sholat, Naira mencium punggung tangan suaminya malu-malu, ia melepaskan mukenahnya dan segera tidur kembali.


"Nggak mau baca Al-qur'an?" tanya Rifky yang melihat Naira kembali tidur.


"Ngantuk, ah," jawab Naira menenggelamkan kepalanya dalam selimut.


Rifky hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istri kecilnya itu.


Namun, Rifky merasa bersyukur memiliki istri seperti Naira. Menurutnya, Naira sangatlah menghibur dan sangat berarti dalam hidupnya sekarang.


***


Menjelang pagi hari, dengan dibantu oleh Marlin dan Rasya, Bi Ijah sudah menyiapkan sarapan untuk mereka semua, terlebih jika keluarga Ustadz Hanan menginap di sini.


"Pagi Mama ...," sapa Naira pada kedua mamanya itu. Ya, Naira, 'kan punya mama mertua sekarang.


"Pagi juga, Sayang," ucap mereka bersamaan, tak lupa dengan senyungging senyuman yang ditampilkan pada Naira.


"Mantuku yang cantik udah turun," kata Rasya tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Naira.


Marlin dan Rasya mengajak semua yang ada di rumah untuk sarapan bersama, apalagi hari ini adalah hari perpisahan mereka. Jadi, mereka menikmati kebersamaan itu dengan penuh suka cita atas ikatan halal putra dan putri mereka.


Kini, mereka semua berkumpul di ruang tamu, sementara Naira berada di kamarnya sejak selesai sarapan tadi.

__ADS_1


Semuanya larut dalam obrolan mereka, kecuali Rifky yang sejak tadi diam dan memilih memainkan ponselnya.


"Rifky!"


Rifky spontan menoleh dan mematikan ponselnya, ternyata yang memanggil itu Herman---ayah mertuanya.


"Iya, Pa?" balas Rifky menanggapi.


"Bagaimana, perasaanmu? Apa kamu senang?" tanya Herman tersenyum pada menantunya itu.


Rifky tersenyum canggung dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Saya tahu, kamu pasti belum bisa menerima semuanya sepenuhnya, tapi saya harap kamu akan memperlakukan putri saya dengan baik.


Naira itu sikapnya masih seperti anak-anak, tegur dia jika melakukan kesalahan, jangan membentaknya tapi jangan pula terlalu memanjakannya, bersikaplah lemah lembut padanya.


"Jangan pernah menyakitinya, karena saya sudah membesarkannya selama 18 tahun, dan saya percaya kamu adalah laki-laki yang baik yang tidak akan melakukan hal itu," pesan Herman, dan tanpa ia sadari air matanya telah jatuh menetes.


Begitu juga dengan Marlin, mendengar ucapan suaminya, dia tak sanggup menahan tangis.


"Saya akan berusaha membahagiakannya, Pa, dan menyayanginya sepanjang hidup saya!" jawab Rifky, dia terharu mendengar penuturan papa mertuanya.


"Ya, setelah kamu bersamanya, kamu pasti tahu bagimana tingkah lakunya itu, dan saya harap kamu bersabar dalam mendidiknya," sambung Herman seraya menghapus air matanya.


Rifky hanya mengangguk faham dengan perkataan Papa mertuanya.


Dalam hati ia berkata bahwa dia akan mencintai dan menyayangi Naira sepenuhnya.


Semuanya tersenyum bahagia bercampur haru, apalagi Marlin, selaku mama Naira pasti ia akan rindu jika sudah berpisah nanti.


***


Akhirnya, setelah melewati hal-hal yang cukup melelahkan, Rifky dan Naira sampai di rumah baru mereka.


Rumah itu sudah disediakan sejak dua minggu yang lalu sebelum mereka menikah. Orang tua Naira dan Rifky memang sudah merencanakan semuanya untuk kehidupan anak mereka kedepannya.


"Sini, aku bantu, Mas!" tawar Naira saat melihat Rifky membawa dua koper besar di tangannya.


"Nggak usah, kamu mana bisa bawa koper sebesar ini, badan kamu aja kecil," ucap Rifky sambil terkekeh dan melihat ukuran badan istrinya.


"Ihh, ngejek!" ucap Naira dengan bibir sedikit manyun.


"Tapi nggak usah bilang aku kecil, kenapa? Aku nggak kecil, kok," bela Naira melihat-lihat tubuh mungilnya itu, kalau dibanding Rifky dia memang kecil, sih.


Rifky hanya menahan tawa melihat Naira yang menggemaskan baginya.


Sedangkan Naira yang melihat Rifky senyum-senyum langsung memasang wajah kesalnya.


"Aku ngambek!" Naira menghentakkan kakinya dan memberenggut.


"Ngambek, kok bilang-bilang?" goda Rifky yang masih menahan tawanya.


"Ehh, nyebelin banget!" geram Naira menggepalkan kedua tangannya di depan dada.


Dia berlari ke depan rumah meninggalkan Rifky.


"Naira, kamu kenapa?" tanya Rifky tertawa renyah.


"Bodo!" balas Naira tanpa menoleh.


"Kuncinya ada di aku, loh. Emang kamu bisa masuk tanpa kunci?"


Naira membalikkan badannya melihat Rifky, "Mana kuncinya?" ucap Naira kembali menghampiri suaminya.


"Nanti, ayo jalan!" ajak Rifky menyeret kopernya dan diikuti Naira. Gadis itu memutar bola matanya sebal.


"Ustadz menyebalkan!" pekik Naira, tapi cuma dalam hati. Mana berani dia ngomong secara langsung.


Rifky membuka pintu rumah mereka dan mengajak Naira masuk.


"Rumah, Mas, bagus banget!" puji Naira sembari melirik sekeliling.


"Rumah kita," ujar Rifky tersenyum.


"Iya, hehe." Naira menampakkan deretan gigi putinya itu. Dia sudah lupa dengan kekesalannya pada Rifky, entah di mana dia meletakkan rasa marahnya tadi.


"Ya udah. Yuk, ke atas!" Rifky mengajak Naira naik ke atas di mana kamar mereka berada, Naira hanya mengangguk dan terus menatap rumah baru mereka itu.

__ADS_1


Setelah sampai di kamar, Rifky meletakkan koper di dekat lemari dan duduk di sofa untuk melepas lelah.


"Kamu senang, nggak?" tanya Rifky pada Naira.


"Senang banget!" jawab Naira tersenyum simpul dan duduk di dekat suaminya.


Rifky mengangguk dan memebalas senyuman istrinya.


"Di dapur ada nggak bahan buat dimasak? Aku mau masak," ucap Naira semangat.


"Emang bisa masak?" tanya Rifky memastikan kalau Naira bisa masak.


"Hehe, nggak, sih," jawab Naira jujur dan menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Nggak usah masak, biar beli aja makanannya!" Rifky melarang Naira memasak, dia takut terjadi apa-apa pada Naira, apalagi yang harus dihadapi adalah api.


"Nggak papa, sambil belajar juga," kata Naira meyakinkan.


"Kamu, 'kan nggak bisa masak, Sayang. Lain kali aja belajarnya. Nanti malah kenapa-napa," tutur Rifky membujuk.


"Aku mau belajar, nggak mungkin kalau aku terus-terusan gini!" Naira tetap ngotot dengan keinginannya. "Izinin, ya?" pinta Naira memohon.


"Ya udah, tapi hati-hati!" Akhirnya Rifky memperbolehkan Naira memasak.


"Siap, Bos," jawab Naira berdiri dan memberi hormat,


Rifky hanya bisa tertawa kecil atas tingkah Naira.


Naira segera turun untuk mencari di mana letak dapur, ketika ia menemukannya Naira melihat di sana ada mie goreng dan beberapa telur.


Langsung saja Naira memasaknya, dia menyalakan kompor dan memasak mie goreng, tahap pertama berhasil.


Namun, saat dia menggoreng telur, minyak goreng itu muncrat dan mengenai tangannya.


"Aaa ... kenapa, nih?" Naira mulai panik.


Dia menjauh dan tak sengaja menjatuhkan piring yang ada di atas meja.


Tar!


"Hah! Mas Rifky ...!" pekik Naira ketakutan, karena gorengan telurnya sudah gosong, ditambah lagi pecahan piring yang sudah berserakan di lantai.


"Naira, kamu kenapa?" tanya Rifky menghampiri istrinya.


Dia mematikan api yang menyala dan memeluk Naira yang ketakutan.


"Kamu, nggak papa?" tanya Rifky khawatir, lalu menangkup pipi Naira.


"Haa ... sakit ...." Naira memperlihatkan tangnnya yang memerah sembari menangis.


"Ini kenapa?" tanya Rifky mengelus-ngelus tangan istrinya.


"Kena minyak," jawab Naira.


"Ya ampun, Sayang. Makanya hati-hati, tadi dibilang nggak usah masak, malah ngeyel!" Rifky mengajak Naira duduk dan mengobati tangannya.


"Mas nggak usah marah ...," rengek Naira kembali menangis.


"Nggak. Mas nggak marah, Sayang." Rifky membawa Naira ke dalam dekapannya.


Naira menangis sesugukan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Rifky.


Rifky mengelus pucuk kepala Naira, sepertinya Naira sangat takut sekarang, takut Rifky marah padanya, padahal Rifky tak akan memarahinya.


"Shut, shut!" Rifky mengelus punggung istrinya yang masih setia memeluknya. "Udah, nggak usah nangis, Sayang. Kamu nggak usah masak, biar kita beli aja untuk makan siang ini," ucap Rifky meredakan tangis Naira.


Naira mendongkkan kepalanya dan menatap Rifky. "Mas, nggak marah, 'kan?" tanya Naira dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Nggak, kamu nggak salah, kenapa harus dimarah?" Rifky tersenyum dan menghapus air mata Naira, dia mengecup singkat tepi bibir istrinya itu dan kembali memeluknya dengan sayang.


Sepertinya itu memang harus dilakukan Rifky untuk membuat Naira tenang, sabar Rifky ... Naira masih kecil, kok.


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2