Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 22


__ADS_3

Ayu membuka matanya yang terasa perih itu, kemudian dia melihat sekeliling dan mendapati dirinya berada di rumah sakit.


"Sudah sadar?" Pertanyaan itu muncul dari seorang pria yang berstatus sebagai dokter di rumah sakit itu.


"Siapa yang membawaku kemari?" Ayu malah balik bertanya.


"Saya juga tidak tahu, tadi kamu sudah berada di sini dan saya hanya bertugas memeriksa keadaanmu," jelas dokter itu dan memberikan semangkuk bubur pada Ayu.


"Makasih." Ayu tersenyum dan menerima bubur itu.


Baru satu suapan, kembali dia memikirkan tentang Rifky yang membuat nafsu makannya menurun.


Air matanya jatuh kembali saat teringat perkataan Rifky bahwa dia sudah menikah.


Haruskah sesakit ini?


Wanita itu tersenyum getir mengingat bayangan Rifky yang melintas di benaknya. Harapannya untuk memiliki Rifky telah pupus tertelan kenyataan yang begitu pahit untuk dia terima.


Ah, haruskah dia mengikhlaskan takdir yang telah tertulis dalam hidupnya? Meskipun begitu menggores mata hatinya.


'Ayolah Ayu ... cobalah melupakan Rifky! Dan temukan kebahagiaanmu sendiri!' Wanita itu menghela nafas, berusaha menguatkan hatinya.


****


Selesai sholat dzuhur, Rifky masih terus menjaga Naira yang belum tersadar selama tiga hari ini. Pria itu menggenggam erat tangan istrinya dan mengelus pucuk kepala Naira dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Tiba-tiba jari-jari mungil itu bergerak perlahan, dan sedikit demi sedikit mata yang sudah lama tertutup itu terbuka.


"Naira!" panggil Rifky dengan raut wajah berseri. "Kamu sadar, Sayang." Rifky menatap mata Naira yang terlihat sendu itu dan tak melepaskan genggaman tangannya.


"Mas, Rifky ...," panggil Naira pelan.


"Iya, Sayang. Ini, Mas." Rifky mengecup kening Naira, membuat Naira kembali memejamkan matanya sebentar menikmati sentuhan itu.


"Kepalaku sakit, Mas," adu Naira sambil meringis dan memegangi kepalanya.


"Sebentar, Mas panggil dokter dulu." Rifky berjalan ke luar untuk memanggil dokter.


"Bagaimana, Dok?" tanya Rifky pada dokter yang baru selesai memeriksa Naira.


"Keadaannya sudah membaik, nanti saya buatkan resep. Tapi jangan biarkan dia terlalu banyak bergerak dulu karena berpengaruh pada rasa nyeri di kepalanya," jelas dokter itu dan segera membuatkan resep untuk Naira.


"Baik, Dokter." Rifky tersenyum senang.

__ADS_1


Rifky terus menciumi tangan Naira saking senangnya melihat Naira tersadar. Setelah tiga hari terkapar lemah, dia merasa rindu dengan sosok istrinya itu.


Tak lama, datang seorang suster dengan nampan di tangannya. Dia memberikan bubur dan obat pada Rifky, lalu ke luar meninggalkan mereka berdua.


"Kamu makan dulu, ya, Sayang." Rifky meminumkan air putih dan mulai menyuapi Naira.


"Apa aku, bakal dikasih obat lagi, Mas?" tanya Naira menatap Rifky.


"Iyalah, Sayang. Biar cepat sembuh," jawab Rifky tersenyum. Dengan lembut tangannya membersihkan sisa-sisa makanan di tepi bibir Naira.


"Tapi itu pahit, Mas. Aku nggak mau." Air mata Naira mulai mengisi sudut matanya.


"Sayang ... kamu nggak boleh gitu, ah. Minum obatnya biar cepat sembuh, ya!" ucap Rifky membujuk istrinya.


Tak mungkin jika dia harus memaksa Naira seperti sebelumnya, istri kecilnya itu baru saja tersadar dari koma.


Akhirnya Naira menerima rayuan Rifky meskipun susah payah menelan obat pahit itu.


"Pahit ...." Naira menyipitkan matanya dan merapatkan bibirnya menahan rasa pahit, rasa yang tak enak sekali di lidah. Apalagi kondisinya sekarang baru siuman, bahkan bubur pun terasa pahit, bagaimana obat?


Melihat Naira seperti itu, Rifky dengan cepat menyambar bibir cherry-nya.


"Udah ilang, 'kan, pahitnya?" tanya Rifky setelah mencium bibir istrinya.


"Mas! Baru juga sembuh udah main nyosor aja!" kesal Naira. Namun, tak dapat melakukan apa-apa selain mencibirkan bibirnya.


Senyuman kembali terlukis di bibir Rifky saat mendapati Naira sudah seperti dulu.


"Mama sama Papa mana, Mas?" tanya Naira yang tidak melihat orang tuanya sejak tadi.


"Mama baru aja pulang tadi, abis kamu lama banget tidurnya," jawab Rifky dengan raut muka yang dibuat-buat, hanya ingin menarik perhatian Naira saja. Dia ingin bermanja-manja dengan istrinya itu.


"Owh." Naira ber-oh saja dan menatap langit-langit ruangan tersebut.


"Hanya, oh saja?" tanya Rifky dan menatap Naira.


"Terus?" Naira menaikan alisnya.


Rifky tak menjawab, dia mengangkat tangan kanan Naira dan menyentuhkan ke pipi kirinya.


"Cepat sembuh, ya, Sayang," ucap Rifky dan tersenyum manis pada Naira.


Naira membalas senyuman suaminya itu dan mengelus pelan pipi Rifky.

__ADS_1


"Mas ...?" Naira merengek.


"Kenapa, Sayang, hm?"


"Pengen ice cream," pinta Naira memelas.


"Kamu nggak boleh makan ice cream dulu, 'kan belum pulih. Nih, masih agak panas," ujar Rifky sambil menyentuh kening Naira.


"Mas ... aku udah sembuh. Pengen ice cream ...." Naira meminta sambil tersenyum dan mengerjabkan matanya.


Tak lupa tangannya menggenggam tangan Rifky agar mau memenuhi keinginannya.


"Nggak boleh pokoknya!" tegas Rifky, tapi dengan nada yang sedikit lembut.


"Mas!" Naira menghempaskan tangan Rifky dan membuang muka.


"Sayang ... nggak usah gini, dong. Ntar kalau udah sembuh Mas beliin, kok." Rifky menghadapkan wajah Naira untuk menatapnya, dan mendapati Naira yang sudah mengerucutkan bibirnya.


"Beneran, ya?" Naira memastikan.


"Iya," jawab Rifky tersenyum. Lalu memeluk Naira dengan posisi tidur.


Naira mengelus kepala suaminya yang membuat Rifky terbuai atas sentuhan lembut Naira. Rifky memegang pipi Naira dan mengelus pelan pipi chubby itu.


Netra mereka bertemu dan mengisyaratkan kerinduan masing-masing. Rifky mengangkat kepalanya, lalu mendekatkan wajahnya pada Naira. Deru nafas keduanya menyatu, dan ....


Terulang lagi!


Rifky m*****t pelan bibir mungil Naira yang selalu membuat candu baginya. Detik demi detik mereka menikmatinya, tapi sayang ....


Ceklek!


"Nai---"


"Astaghfirullah! Aku nggak liat!"


Rifky melihat ke arah pintu yang sudah tertutup kembali.


Siapa?


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2