Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 12


__ADS_3

"Rifky! Naira kenapa, Nak?" Marlin yang baru datang bersama Herman sangat khawatir dengan keadaan putrinya.


Begitu juga Ustadz Hanan dan Rasya. Mereka semua ikut mengkhawatirkan Naira yang kini terbaring lemah tak berdaya.


"Naira sakit, Ma," jawab Rifky dengan raut sedih.


Mereka mendekati brankar tempat tidur Naira, dan mengelus kepala Naira sayang.


"Sayang, kamu kenapa, Nak?" Marlin menggenggam erat tangan Naira. Sangat tidak mungkin jika dia tidak bersedih sekarang.


"Rifky, kamu ganti baju dulu sana!" Rasya memberikan baju ganti pada Rifky dan diangguki olehnya.


Rasya mengelus pundak Marlin, berusaha menenangkan wanita itu agar tidak terlarut-larut dalam kesedihan.


"Sudahlah, Ma. Kita berdoa saja agar Naira cepat sadar dan segera sembuh." Herman merangkul istrinya yang sudah terisak itu.


Marlin tersenyum, tapi air matanya tak mampu untuk ditahan, wanita itu begitu menyayangi putrinya dan sangat khawatir dengan keadaannya. Ibu yang mana, sih, yang nggak panik saat melihat anaknya terbaring lemah dan tak sadarkan diri? Pastinya semua akan seperti Marlin.


"Mama ...." Suara itu mengejutkan semua yang ada di sana. Mereka spontan menoleh dan mendapati Naira yang tengah berusaha untuk duduk.


"Sayang, kamu udah sadar?" Marlin segera menghampiri Naira, disusul juga oleh yang lainnya.


"Jangan bangun dulu, Sayang! Kamu harus istirahat," ujar Marlin sambil menahan tubuh Naira. Naira kembali menidurkan dirinya dan menatap semua yang ada di situ.


"Aku kenapa, Ma?" tanya Naira bingung, kenapa dia ada di rumah sakit ini.


"Tadi kata Bi Ira, kamu pingsan, Sayang. Terus Rifky langsung bawa kamu ke sini," ujar Marlin sambil mengelus kepala Naira.


"Mas Rifky, mana?" tanya Naira saat melihat Rifky tak ada di ruangan itu. Dia berbicara dengan sangat pelan karena keadaannya yang belum stabil.


"Rifky lagi ganti baju, Sayang." Rasya menimpali ucapan menantunya dan tersenyum pada Naira.


"Ohh." Naira merasa lega kala mendapat jawaban itu. Tadinya ia berfikir kalau Rifky tidak ada dan tak mempedulikan keadaannya. Karena dia tahu jika Rifky masih marah padanya.


Ceklek!


"Naira, kamu udah sadar, Sayang?" Rifky yang baru masuk langsung menuju brankar Naira.


Dia segera menghampiri istrinya, dan ....


Cup!


Tanpa mempedulikan keadaan di sekeliling, Rifky mengecup kening Naira. Cukup lama, sampai mereka mendapat deheman dari sang Papa.


Rifky menghentikan aksinya dan tersenyum canggung, malu sekali dia saat ini. Sementara Naira tersenyum geli melihat tingkah Rifky, ternyata tahu malu juga suaminya ini.


"Papa ganggu aja." Rasya menyenggol lengan suaminya itu sambil berusaha menahan tawa.


Ustadz Hanan dan Herman hanya bisa tersenyum geli dengan situasi sekarang.


Sedangkan Marlin keluar mengambilkan bubur untuk Naira, karena Naira belum makan sejak ia terpingsan pagi tadi.

__ADS_1


"Ini buburnya! Rifky suapin Naira, ya," pinta Marlin pada menantunya itu.


"Iya, Ma." Rifky menerima bubur yang diberikan Marlin dan mulai menyuapi Naira.


"Kita pulang dulu, ya, Sayang. Soalnya Mama mau beres-beres, nanti ke sini lagi, kok," pamit Marlin pada Naira. Naira hanya mengangguk sambil memakan bubur yang disuapkan Rifky.


"Kamu jaga Naira, ya, Ky!" Herman menepuk pundak Rifky pelan dan tersenyum ramah.


"Pasti, Pa," jawab Rifky tersenyum.


Mereka semua pamit pulang dari rumah sakit itu, meninggalkan Rifky dan Naira yang belum di bolehkan keluar.


"Udah, Mas!" Naira memalingkan wajahnya saat Rifky menyodorkan sesendok bubur ke mulutnya.


"Loh, ini belum habis. Dikit lagi, nih," ujar Rifky membujuk istrinya.


"Aku nggak mau, Mas. Udah!" Naira tetap saja menolak, karena dia sudah eneg dengan rasa bubur itu.


Rifky yang melihat ekspresi Naira hanya bisa menurut, dia menaruh mangkuk bubur di atas meja dan beralih mengambil obat yang sudah tersedia.


"Sekarang minum obat!" titah Rifky membuka bungkusan obat-obatan yang harus Naira telan.


Naira membelalakkan matanya kala melihat obat itu, kapsul bubuk?!


"Mas, aku nggak bisa nelan kapsul itu," ucap Naira yang terlihat ketakutan.


"Kalau gitu dibuka aja, biar bubuknya aku campur air," usul Rifky.


Naira memang tak biasa minum obat karena dari dulu gadis itu jarang sekali sakit, apalagi menelan kapsul yang ukurannya sebesar itu. Mana bisa dia! Bisa-bisanya nyangkut di kerongkongan.


"Terus bagaimana?" tanya Rifky yang terlihat bingung.


"Nggak usah minum obat, lagian aku udah sembuh, kok." Naira mengerjabkan matanya sambil tersenyum.


"Harus!" tekan Rifky memaksa dan memasukkan kapsul itu ke mulut Naira.


Segera Naira menelannya dengan air putih.


Meskipun sempat menolak, tapi tidak ada pilihan lain bagi Naira selain menurut, karena Rifky memaksanya. Dia begitu takut kalau-kalau Rifky marah padanya.


Rifky tersenyum puas saat kapsul itu berhasil Naira telan. Dia mengelus pucuk kepala istrinya dan tersenyum hangat. Sedangkan Naira hanya manyun-manyun tak jelas, dia begitu kesal dibuatnya.


****


Di tempat lain, terlihat seorang gadis yang belum sadarkan diri sejak tadi.


Tama masih setia menunggu kesadaran gadis itu. Sebenarnya dia sangat tidak ingin berlama-lama di ruangan dengan bau obat-obatan yang menyeruak di indra penciumannya, tapi ini salahnya juga, kenapa harus menabrak gadis itu?


"Eughh ...." Suara lenguhan itu terdengar dari seorang gadis yang ada di atas brankar.


Tama mengangkat kepalanya yang ia tidurkan di sana dan menatap orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Tama menghembuskan nafasnya pelan. "Sudah sadar?" tanyanya.


"Di mana aku?" tanya gadis itu memperhatikan sekeliling. Sesekali dia meringis memegangi kepalanya yang masih berdenyut.


"Kamu di rumah sakit," jawab Tama. Gadis itu melirik ke arah Tama dan mengernyitkan keningnya.


"Kamu siapa? Dan kenapa aku ada di sini?"


"Maaf, aku telah menabrakmu tadi." Tama mengatakan yang sesungguhnya.


"Menabrak?" gadis itu tampak berfikir, mencoba mengingat apa yang terjadi.


"Iya. Tidak usah bahas soal itu dulu, tunggu di sini dan jangan ke mana-mana! Aku akan pergi sebentar," ucap Tama dan keluar dari ruangan itu.


Tak lama dia kembali dengan semangkuk bubur di tangannya.


"Ayo makan dulu, habis ini minum obat!" Tama menyendokkan bubur dan mengarahkan pada gadis itu.


"Tapi, aku tidak suka bubur," jawabnya menggeleng.


"Untuk saat ini saja, ayo buka mulutnya!" Tama terus membujuk. Dia ingin gadis itu cepat sembuh dan urusan ini cepat terselesaikan.


"Siapa namamu?" tanya Tama setelah selesai meminumkan obat.


"Kiara Priscillia!" jawab gadis itu memperkenalkan diri.


"Kamu?" tanya Kiara.


"Pratama Wijaya, panggil aja Tama!" Kiara mengangguk dan kembali menidurkan dirinya. Rasa sakit di kepalanya mulai menyerang kembali.


"Kenapa?" Tama bertanya pada Kiara saat melihat gadis itu terus memegangi kepalanya.


"Ini sakit," ucap Kiara sedikit meringis.


Tama segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Kiara.


"Kondisinya baik-baik saja. Namun, benturan di kepalanya mungkin membuat sedikit nyeri. Untuk itu saya sarankan jangan dulu terlalu banyak gerak," ujar dokter setelah memeriksa Kiara.


Tama mengangguk, berarti dia akan lebih lama berada di rumah sakit ini.


Padahal dia ingin cepat keluar untuk menemui Naira, dalam benaknya dia terus memikirkan Naira. Apa yang dilakukan Naira sekarang? Apa dia baik-baik saja?


Ahh, Tama! Bahkan dalam keadaan seperti ini dia masih memikirkan Naira. Sebegitu dalam, kah rasa cintanya pada Naira?


Entahlah, mungkin waktu yang akan menjawabnya!


.


.


.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2