
"Mas! Hari ini kamu nggak boleh pergi ke kantor!" Naira merampas baju yang hendak dipakai Rifky dan menggantinya dengan baju lainnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rifky lembut, meskipun dia heran dengan sikap Naira.
"Pokoknya nggak boleh! Aku mau jalan-jalan hari ini?" Naira memakaikan baju biasa pada Rifky dengan muka yang cemberut.
"Tapi, 'kan Mas harus kerja? Masa baru beberapa hari kerja udah libur lagi?" ucap Rifky pelan.
"Nanti aku telepon Papa." Naira mencari ponselnya untuk menghubungi Herman.
"Nanti sore aja, ya, jalan-jalannya?" Rifky membujuk sambil meraih pundak Naira dan mencium pipinya sekilas.
"Nggak mau pokoknya! Aku nggak mau!" Naira menghentak-hentakkan kakinya sambil menangis.
"Iya-iya. Udah jangan nagis, ya?" Rifky membawa Naira ke dalam dekapannya dan mengelus punggung istrinya itu dengan lembut.
Laki-laki itu masih terheran atas sikap istrinya. Sejak kemarin Naira bertingkah aneh padanya.
"Ya udah. Sekarang kamu man---"
"Nggak mau mandi!" tukas Naira cepat. Kemudian naik ke ranjang dan tidur kembali.
"Loh? Kok tidur lagi? Ini masih pagi, Sayang. Ayo bangun dan cepat mandi!" Rifky meraih bahu Naira yang membelakanginya.
"Nggak mau. Nanti aja aku mandinya," elak Naira dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Rifky menatap istrinya dan menghembuskan nafas pelan. Laki-laki itu menggeleng sebentar dan berlalu pergi ke luar kamar. Sedngkan Naira sudah memejamkan matanya kembali.
Rifky menuju dapur menemui Bi Ira untuk menanyakan keseharian Naira, barangkali wanita itu tahu apa yang terjadi pada istrinya. Karena tidak biasanya Naira bersikap tidak tentu seperti itu.
"Den Rifky? Mau sarapan? Neng Naira mana?" tanya Bi Ira beruntun. Wanita itu juga terheran saat mendapati Rifky tidak mengenakan baju kerjanya.
"Itu dia, Bi. Emang abis ada kejadian apa, sih sama Naira? Sikapnya mendadak aneh begitu. Aku juga nggak disuruh berangkat kerja hari ini," adu Rifky pada Bi Ira.
Bi Ira mengernyitkan keningnya dan berfikir sejenak. Kemudian membuka mulut dan melebarkan matanya saat teringat akan sesuatu. Sedangkan Rifky menatapnya serius.
"Kemarin Neng Naira muntah-muntah karena bau ayam. Itu artinya ...?" Bi Ira menerka-nerka.
"Iya, semalam Naira nggak mau makan ayam. Nggak tau kenapa?" jawab Rifky sembari menyantap pisang goreng yang baru disajikan Bi Ira.
"Apa jangan-jangan ... Neng Naira hamil?" Rifky langsung menatap Bi Ira saat mendengar perkataannya barusan. Raut wajah Bi Ira terlihat senang mengatakan hal itu pada Rifky.
"Beneran, Bi?" tanya Rifky serius.
"Ya udah. Bawa aja ke dokter untuk memastikan semuanya," usul Bi Ira dan diangguki oleh Rifky. Ah, mengapa dia tidak berfikir ke arah sana sejak tadi?
Rifky berdiri dari duduknya dan berjalan ke kamar untuk menemui Naira. Senyungging senyum terbit dari bibir laki-laki itu ketika melihat istrinya yang tertidur.
"Sayang?" panggil Rifky lembut. Tangannya mengelus perut rata Naira dan berharap sudah ada bayinya di sana.
Rifky mengecup singkat kening Naira dan memandangi wajah istrinya itu.
"Ayo bangun dulu!"
__ADS_1
"Em ... apaan, sih, Mas? Aku mau tidur ...." Naira merengek dan memeluk tangan Rifky.
"Katanya mau jalan-jalan? Kalau nggak jadi Mas mau kerja, nih." Rifky menarik tangannya yang dipeluk Naira dan berpura-pura pergi.
"Mas! Kalau kamu pergi aku nggak akan bolehin pulang!" Naira bangun dari tidurnya dan menatap tajam Rifky. Nair semakin memelototkan matanya kala mendapati Rifky tertawa.
"Mas nggak takut sama aku?!" tanya Naira berkacak pinggang di depan Rifky.
"Gimana mau takut kalau marahnya aja menggemaskan?" Rifky memeluk dan mencium istrinya sambil terkekeh.
"Mandi sana! Katanya mau jalan-jalan?"
"Nggak ma---"
"Kalau nggak mau nggak usah jalan-jalan!" Rifky melipat tangannya di dada dan membuang muka. Mungkin itu cara yang jitu untuk menyuruh Naira mandi.
"Ih! Iya!" ketus Naira. Lalu meraih handuknya dan mulai berjalan ke kamar mandi.
Sementara Rifky tersenyum sambil menggeleng pelan, kemudian mengganti bajunya dan menyiapkan baju untuk Naira juga.
***
"Mas, aku mau ke pasar buah. Beliin aku buah, ya?" Naira bergelayut manja di tangan Rifky sambil menatap harap pada suaminya itu.
"Iya ...," jawab Rifky yang masih fokus menyetir. Kemudian melihat Naira sekilas sambil mengelus pucuk kepala istrinya itu.
Naira tersenyum senang dan menyenderkan kepalanya di bahu Rifky. Tangannya mengelus-ngelus tangan kiri Rifky sambil bernyanyi pelan. Rifky sendiri terkekeh mendengar nyanyian Naira, sejak kapan istrinya itu suka lagu anak-anak? Apakah itu bawaan bayi yang ada di perut Naira? Ya, Rifky berfikir begitu walaupun dia belum tau Naira hamil atau tidak.
"Mas! Aku mau mangga, yang mentah tapi!" Naira menatap Rifky sambil menunjuk buah mangga.
"Ya udah, ayo!" Rifky mengangguk dan menggandeng tangan istrinya. Kemudian membeli buah-buahan yang diinginkan Naira.
Naira memilih beberapa jenis buah yang masih mentah dan terlihat asam bagi Rifky. Wajah Naira tampak sumringah mengambil apa yang dia mau. Berbeda sekali dengan Rifky, mata laki-laki itu sedikit memicing melihat buah-buahan yang Naira beli. Apa sanggup memakannya nanti?
"Udah, Sayang! Nggak, usah banyak-banyak!"
"Ih, bentar, dong. Jeruknya belum!" Naira kembali berjalan menuju pedagang jeruk, sedangkan Rifky ia suruh membawa belanjaannya.
'Ih! Gini, nih kalau udah jalan. Keliling sana-sini!' Rifky berkata dalam hati sambil menepuk jidatnya. Kemudian tersentak saat Naira berteriak memanggilnya.
"Cepat, Mas!"
"Iya, Sayang, iya ...." Rifky berjalan menghampiri Naira. Kemudian menerima kantong plastik berisi jeruk dari istrinya itu.
"Udah?" tanya Rifky. Naira menatanya dan tampak berpikir, kira-kira apa lagi yang harus dia beli?
"Udah kayaknya. Yuk, pulang!" Rifky berbafas lega saat Naira mengajaknya pulang. Mereka meletakkan belanjaan di bagasi dan masuk ke dalam mobil.
"Nanti buatin aku rujak, ya, Mas? Aku mau makan rujak!" kata Naira. Lalu menatap Rifky sengit saat mendapati wajah suaminya itu. Awas saja kalau Rifky tidak mau menurutinya.
"Iya-iya," jawab Rifky pasrah.
"Cepatan dikit, dong. Aku mau cepat sampek!" omel Naira.
__ADS_1
Rifky menghembuskan nafasnya sejenak dan menatap istrinya itu. "Sabar, Sayang. Kamu kenapa, sih?" Naira hanya memanyunkan bibirnya sambil menggerling ke arah Rifky.
"Eh-eh! Ini mau ke mana? Kok berhenti?" Naira bertanya dan melihat-lihat sekeliling, kenapa mereka berhenti tepat di depan rumah sakit? Apa Rifky sedang sakit? Pikir Naira.
"Ayo turun!" Rifky yang sudah turun duluan membukakan pintu mobil untuk Naira. Lalu menarik tangan Naira yang masih bertanya-tanya padanya.
"Kita mau ngapain ke sini, Mas? Emang siapa yang sakit?" tanya Naira bertubi-tubi. Namun, Rifky tidak menjawab pertanyaan bawel dari istrinya itu.
Naira membelalakkan matanya saat Rifky mengajaknya ke dokter kandungan. Emangnya dia hamil? Atau mau melahirkan?
"Mas hamil?" tanya Naira konyol.
"Ya enggak, lah. Ada-ada aja kamu ini?"
"Terus ngapain ke sini?"
Naira berhenti mengoceh ketika salah satu dokter tersenyum pada mereka. Terlihat di sana banyak sekali para ibu-ibu yang meriksa kandungan. Naira menjadi heran sendiri, mengapa Rifky mengajaknya ke sini?
Tibalah giliran Naira untuk diperiksa. Awalnya Naira tidak mau, tapi Rifky membujuknya dengan lembut. Setelah Naira berbaring di brankar, dokter segera melakukan pemeriksaan. Mulai dari mengecek darah, detak jantung, dan kondisi Naira saat ini.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Rifky melihat dokter yang sudah melepas stetoskopnya.
"Alhamdulillah, Pak. Hasilnya positif! Dan sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua," jawab dokter itu tersenyum.
"Beneran, Dok?"
"Iya, Pak!"
"Alhamdulillah ... makasih, ya, Sayang." Rifky memeluk dan mencium Naira yang sejak tadi terpelongo. Mereka membicarakan apa sebenarnya?
"A--aku, hamil, Mas?" tanya Naira menatap Rifky.
"Iya, Sayang. Makasih banyak, ya?" Rifky mengangguk dan tersenyum.
"Selamat, ya!" ucap Bu Dokter.
"Terima kasih, Dok," balas Rifky. Kemudian mengajak Naira pulang setelah menerima vitamin dari dokter.
Sepanjang menelusuri koridor rumah sakit, Naira terus memegangi perutnya. Masih tak percaya dengan apa yang dokter katakan. Kalau dia hamil, kenapa dia tidak tahu? Bahkan tidak merasakan apa-apa?
"Kenapa, Sayang. Mual?" tanya Rifky yang melihat Naira memegangi perutnya.
"Nggak, kok, Mas." Naira menggeleng dan tersenyum kikuk.
Setelah sampai di luar, Rifky membuka pintu mobil untuk Naira. Kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan pekarangan rumah sakit itu. Rifky tak henti-hentinya mengucap syukur atas nikmat yang telah Allah berikan pada mereka. Dia berharap, agar anak mereka nanti dapat lahir ke dunia dengan sehat dan selamat.
.
.
.
TBC.
__ADS_1