Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 55


__ADS_3

Sampai di rumah, Rifky turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Naira. Dia merangkul pinggang istrinya itu untuk memasuki rumah bersama.


Karena mood yang masih buruk, Naira hanya diam saja sampai mereka terhenti di kamar. Naira mencuci tangan dan kakinya, kemudian merebahkan diri di atas kasur.


"Mandi dan siap-siap sholat!" Belum sempat Naira memejamkan matanya, Rifky sudah menariknya kembali dan menyuruhnya duduk.


"Ih! Apaan, sih, Mas? Nanti!" bantah Naira. Kepalanya kembali miring untuk dijatuhkan ke bantal, lalu mengatupkan kelopak matanya.


"Naira!" Panggilan Rifky terdengar dingin. Naira membuka matanya dan menatap Rifky, segera mungkin dia mendudukan diri saat mendapati tatapan tak biasa dari suaminya itu. Apalagi dengan berkacak pinggang.


"Iya, Mas ...," jawabnya menunduk. Kemudian melangkah ke kamar mandi sesuai apa yang Rifky suruh.


'Tidur dikit aja marah. Galak banget lagi!' omel Naira dalam hati. Sebelum menutup pintu kamar mandi, matanya sempat menatap Rifky yang masih menatapnya juga.


Rifky yang sudah menyelesaikan mandinya, langsung mengenakan pakaian untuk ke masjid. Sarung biru muda yang berpadukan dengan baju senada sudah cukup menambah kharisma dalam diri laki-laki itu.


Beberapa menit dia duduk di sofa menantikan Naira yang belum selesai mandi, dan waktu itu, dia habiskan untuk berdzikir dalam hati.


Ceklek!


"Sudah?" tanya Rifky saat Naira sudah keluar dengan rambut basahnya.


"Sudah!" ketus Naira. Namun, sedikit pelan tentunya.


"Itu bajunya." Rifky menunjuk baju Naira yang sudah ia siapkan di atas ranjang. Naira mengangguk dan menatap Rifky sejenak, rasa bersalah mulai menggelayuti hatinya karena sudah bicara ketus pada suaminya itu. Padahal Rifky baik sekali, bahkan bajunya pun disiapkan.


Seakan tahu apa isi pikiran Naira, Rifky tersenyum manis menanggapinya. Untuk beberapa kali terbukti, bahwa kelembutannya dapat meluluhkan hati istrinya yang tampak kesal itu.


Naira memakai pakaiannya dengan cepat. Setelah itu mengantar Rifky ke bawah untuk berangkat ke masjid.


"Mas berangkat, ya?" pamit Rifky.


"Iya, Mas. Hati-hati," balas Naira tersenyum. Senyum teduh itulah yang Rifky harapkan dari istrinya itu. Hatinya akan lebih sejuk bila mendapati senyuman Naira yang amat mendamaikannya.


Naira masuk ke rumah ketika mobil Rifky hilang dari pandangannya, matanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 11.38. Dengan satu helaan nafas, dia tersenyum gusar. Rasanya tak ingin berpisah dengan Rifky walau sebentar saja.


***


Dua jam lebih berlalu begitu saja, tapi Rifky belum pulang juga dari masjid. Naira terus mondar-mandir di depan rumahnya menantikan kepulangan suaminya itu, dan dia rasa ini sudah terlewat dari waktu biasanya Rifky pulang. Ke mana sebenarnya Rifky?


"Bentar lagi jam dua, Mas Rifky ke mana, sih? Nggak mau berangkat ngaji apa?" gumam Naira resah. Beberapa kali dia celingukan menatap pintu gerbang rumahnya, tapi tak ada tanda-tanda kedatangan suaminya itu.


"Tunggu di dalam saja, Neng. Mungkin Den Rifky lagi ada urusan di masjid," kata Bi Ira yang tiba-tiba datang. Wanita itu terkekeh melihat Naira yang tidak sabar menunggu suaminya.

__ADS_1


"Iya, Bi. Hehe. Tapi biasanya Mas Rifky pulang cepat, kok. Kalaupun ada kesibukan, pasti dia telepon." Naira sedikit mencuitkan bibirnya.


"Ya udah. Mendingan Neng Naira makan duluan aja, ya? Pasti udah laper lagi, 'kan?" Bi Ira menuntun Naira untuk masuk. Namun, Naira menggeleng.


"Jangan begitu, Neng. Kasihan bayinya kalau kelaparan ...," ucap Bi Ira. Naira sedikit terkejut mendengar ucapan Bi Ira, mengapa dia tidak memikirkan bayinya dari tadi? Ah, kok dia mendadak lupa kalau dia sedang hamil?


"Iya, Naira lupa." Naira menggaruk kepalanya sambil nyengir kuda.


"Tu, 'kan? Ayo makan dulu. Den Rifky nggak usah ditunggu."


Naira mengangguk. Bi Ira mengikuti Naira yang sudah berjalan menuju dapur, wanita itu segera menyiapkan makanan kesukaan Naira yang masih terasa hangat. Apa lagi kalau bukan kangkung tumis dan tahu goreng? Naira memang suka lauk itu semenjak dia hamil. Enak katanya.


"Bibi temani Naira makan, ya?" Naira juga mengambilkan nasi untuk Bi Ira. Meskipun Bi Ira menolak, tapi dia tetap melakukannya.


Akhirnya mereka makan bersama tanpa Rifky. Entah kapan laki-laki itu akan pulang.


Sementara itu, Rifky masih sibuk dengan mobilnya yang tiba-tiba macet di jalanan, padahal tadi tidak ada apa-apa dengan kendaraannya itu. Laki-laki itu dilanda kebingungan sekarang, jalanan yang jauh dari bengkel, juga tak ada yang bisa membantunya. Sedari tadi Rifky terus mengutak-atik mesin mobilnya. Namun, tak juga mau menyala.


"Astaghfirullah ... ini mobil kenapa, sih? Yang rusak apanya?" Rifky menepuk jidatnya dan kembali turun setelah mencoba menyalakan mesin. Dia kembali menggeledah kap depan dan berharap menemukan permasalahannya.


Bugh!


"Akh!" Rifky menjerit pelan saat merasakan pukulan keras yang mendarat di tengkuknya. Belum sempat dia menoleh, kesadarannya mulai hilang karena mendapat pukulan untuk ke dua kalinya. Tanpa tahu siapa pelakunya.


"Cepat! Masukkan dia ke mobilku dan jangan berlama-lama di sini!" Rani memelototkan mata memerintah anak buahnya yang tak lain adalah karyawannya sendiri.


Mobil Rifky sudah diurus oleh suruhannya yang lain. Mereka memang sengaja menjebak Rifky demi melancarkan rencana licik bos mereka itu.


"Cepat! Nanti Rifky keburu sadar!" desak Rani.


Laju mobil semakin dicepatkan, dan tak beberapa lama mereka sampai pada tempat yang dituju. Yaitu rumah Rani.


Suruhannya menurunkan Rifky dan memapahnya ke dalam kamar wanita itu, sementara Rani berjalan dengan senyum sinisnya.


"Tolong buatkan aku minuman!" titahnya pada seorang pembantu di rumahnya.


"Baik, Nya."


"Bagaimana?" tanya Rani pada dua orang yang telah keluar dari kamarnya.


"Beres!" jawab mereka serempak.


"Sekarang pergilah. Cepat datang jika aku butuh bantuan!" Rani menyodorkan amplop berisi uang yang jumlahnya cukup membuat mereka tersenyum. Wanita itu bersedekap dada saat karyawannya telah ke luar rumah.

__ADS_1


"Ini, Nya." Pembantu rumahnya memberikan segelas minuman. Rani hanya mengambil gelasnya saja, dan menyuruh wanita paruh baya itu pergi.


Ceklek!


Wanita itu berjalan santai ke arah Rifky setelah mengunci pintu. Senyum tipis terbit dari bibirnya saat memandang wajah Rifky yang sudah membuatnya tergila-gila itu.


"Ha, Sayang ... maafkan aku sudah melukaimu," bisik Rani sembari tanggai-tanggai kukunya menyentuh wajah Rifky.


Rani mendekatkan wajahnya pada wajah Rifky yang terpingsan. Hampir saja bibirnya hendak menyentuh bibir Rifky, sebuah suara yang berasal dari ponsel Rifky mengurungkan niatnya.


Wanita itu mengalihkan pandangannya dan mengambil alih ponsel Rifky. 'Sayangku', nama yang tertera di layar datar itu.


"Istrinya?" Rani menebak sembari melipat kaki kanannya di atas kaki kiri. Wanita itu memandang Rifky yang terpejam dan kembali menatap ponsel Rifky yang berdering. Dia tidak mengangkatnya, melainkan memutuskan panggilan dari Naira. Rani kembali menatap Rifky, membuka kancing baju teratas laki-laki itu secara perlahan-lahan.


****


"Kok dimatiin, sih?" Naira menatap kesal handphonenya. Bisa-bisanya Rifky mematikan panggilannya tanpa bicara dahulu.


Naira kembali menghubungi suaminya, dan setelah beberapa panggilan tak terjawab, barulah Rifky mengangkat teleponnya.


"Assalamu'alaikum, Mas? Kamu di mana?" tanya Naira. Tak ada sahutan dari Rifky, bahkan salamnya pun tak dijawab.


"Mas?"


"Akh ... hati-hati, Sayang ...." Jelas. Suara itu terdengar.


"Mas?!" Naira mulai meninggikan suaranya mendengar suara des*han wanita. Hatinya mulai panik dan was-was.


"Sebentar, Sayang. Berhenti dulu." Naira kembali mendengar suara aneh di balik teleponnya. Berkali-kali ia memanggil Rifky, dan hanya suara itu yang muncul.


"Mas Rifky! Kamu di mana, Mas? Sedang apa?" tanya Naira yang mulai menangis. Naira menutup mulutnya yang terasa keluh. Handphonenya tetap menempel di telinga untuk mendengarkan suara-suara di seberang sana.


"Mengganggu!"


Tut!


Suara yang terakhir Naira dengar sebelum sambungan diputuskan sepihak.


"Hah!" Naira melempar handphonenya di ranjang. Dia memegangi kepalanya yang berkunang-kunang saat membayangkan suara-suara manja di balik telepon tadi.


"Mas Rifky ...!" Jeritan panjang yang disertai suara tangis memenuhi ruangan kamar Naira.


"Ada apa, Neng?" tanya Bi Ira yang datang tergesa-gesa.

__ADS_1


Wanita itu memeluk Naira dan berusaha menanyakan apa yang terjadi, tapi Naira hanya menangis dan tak bisa berbicara apa pun.


Naira menggeleng-geleng sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, wajahnya bermandikan peluh bercampur air mata. Dia yang sejak tadi menantikan kepulangan Rifky, tapi ternyata suaminya itu berbuat yang sama sekali tidak ia duga. Tanpa tahu di mana, dan bersama siapa?!


__ADS_2