Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 20


__ADS_3

"Naira ... Naira bangun ...! Jangan tinggalin aku!" Rifky terus menepuk-nepuk wajah Naira, berharap gadis itu membuka matanya.


"Dokter! Dokter bangunkan istri saya, Dokter! Bangunkan Naira!" Mata yang sudah basah oleh bening embun itu menatap ke arah dokter agar segera membangunkan istrinya.


Namun, dokter hanya menggeleng dan menutup seluruh tubuh Naira dengan kain putih.


"Naira ...!"


"Rifky! Rifky kamu kenapa, Nak?" Rasya menepuk-nepuk pundak Rifky yang sedang berteriak-teriak dalam tidurnya.


"Hah!" Rifky mengangkat kepalanya yang ditidurkan di brankar Naira.


Keringat dingin bercucuran membasahi pelipis dan keningnya disertai nafas yang naik turun tak beraturan lagi.


Ternyata ini mimpi, dia tertidur saat menjaga Naira semalam. Syukurlah! Ketakutan yang dia alami itu ternyata hanya sebatas halusinasi.


Dia melihat Naira yang masih terbaring di brankar. Wajah dengan mata tertutup itu terlihat begitu tenang dan damai seperti seseorang yang sedang tidur, bukan sakit.


"Kamu kenapa, Nak?" Marlin juga menghampiri Rifky dan bertanya pada menantunya itu.


"A--aku mimpi, hemps." Rifky berkata dengan tarikan nafas yang terlihat begitu cepat. Pertanda gugup dan takut, dia takut jikalau Naira benar-benar pergi meninggalkannya.


"Naira, nggak papa, 'kan, Ma?" Rifky memeriksa seluruh tubuh Naira yang terbaring di brankar.


Sedangkan Rasya dan Marlin, menatap Rifky dengan heran.


"Ada apa?" tanya Herman yang baru datang bersama Ustadz Hanan, terlihat wajah pria itu sudah basah oleh air wudhu.


Rifky hanya menggeleng dan mengecup kening Naira yang tertidur. Sementara yang lain dibuat bingung oleh Rifky, mimpi apa dia sebenarnya?


"Udah, kamu sholat dulu sana! Biar Mama yang jaga Naira di sini," ucap Rasya yang diangguki oleh Rifky.


Ustadz Hanan, Herman dan Rifky melaksanankan sholat malam berjamaah di sana. Sementara Marlin dan Rasya menjaga Naira di ruangannya.


Derai air mata mulai jatuh bersusulan tanpa permisi, saat Rifky mengangkat tangannya, berdo'a untuk kesembuhan istrinya.


Isak tangis kepedihan juga terdengar di ruangan itu. Ustadz Hanan dan Herman saling pandang, ikut merasakan pilu saat melihat anak dan menantunya itu mengalami ini semua, tapi mereka bisa apa?


"Sabar, Nak," ucap Herman sambil mengelus punggung Rifky.

__ADS_1


Dalam heningnya malam ini, dengan pelupuk mata yang sudah basah, ketiga pria itu hanya bisa saling menguatkan dan saling merangkul satu sama lain ....


Rifky kembali mengecup tangan mungil Naira, tatapannya tak dapat diartikan. Hanya sendu yang tertebak.


"Maafkan aku, ya Allah. Bukan tak ikhlas akan takdir yang kau tetapkan, tapi karena aku manusia yang juga punya hati rapuh." Rifky berucap dengan pelan sambil jari-jari kekar itu menghapus tiap tetes air mata yang mulai berjatuhan lagi.


"Cepat sadar, Sayang. Aku menantimu." Rifky membelai kepala Naira yang masih terlapisi hijab. Kemudian menggenggam erat tangan mungil Naira yang terasa kaku dan dingin.


Cup!


Suara itu kembali muncul dari sentuhan bibir Rifky dan kening Naira. Begitu mesra. Sayang! Naira tak dapat merasakan itu.


***


Saat pulang sekolah, Kinta, Kiki, Sindy dan Rizal datang ke rumah sakit untuk menjenguk Naira. Rizal diberitahu oleh kakaknya tentang keadaan Naira sekarang.


Tama dan Kiara sejak tadi pagi sudah ada di rumah sakit, mereka juga akan turut bertanggung jawab atas apa yang menimpa Naira.


Mereka ikut merasakan sedih saat melihat sahabatnya itu dalam keadaan koma.


"Naira ... lo kenapa lagi ...?" Tangisan itu keluar dari bibir mereka bertiga. Ketiga sahabat itu saling berpelukan diiringi tangis dan isakan kecil.


Marlin dan Rasya juga sama-sama merasakan haru, air mata yang tak dapat ditahan jatuh begitu saja. Rasa sakit kembali mengisi rongga dada, dengan lidah yang terasa begitu keluh.


Ceklek!


Rifky datang dengan dua kantong kresek di tangannya, dia menyerahkan plastik berisi makanan itu pada mamanya dan kembali duduk di dekat Naira.


Cup!


Kinta, Kiki dan Sindy membelalakkan matanya bersamaan, saat menyaksikan Rifky mencium dahi Naira. Ketiga sahabat itu berpandangan, seakan saling tanya akan apa yang mereka saksikan sekarang.


Pelan-pelan mereka mendekati Marlin dan bertanya pada wanita itu.


"Tante, kenapa dia disuruh cium Naira? Emang dia siapa?" tanya Kinta memberanikan diri sembari ekor mata melirik Rifky.


"Nanti kalian tahu," jawab Marlin tersenyum.


"Ih, Tante. Bikin penasaran aja." Kiki memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Sudah! Makan dulu, yuk! Nih, udah dibeliin," ajak Rasya pada mereka, lalu membuka makanan yang diberikan Rifky padanya tadi.


"Eh, iya, Tante," jawab mereka bersamaan. Mereka semua duduk berkumpul, tapi penglihatan ketiganya tak lepas dari Rifky dan Naira.


Sering kali mereka bertiga saling senggol, hingga membuat Rasya dan Marlin tersenyum lucu.


Namun, tidak dengan Kiara, gadis itu selalu memasang muka khawatir, meskipun Marlin dan Rasya telah menenangkan Kiara, tidak membuat gadis itu berhenti memikirkan tentang Naira. Rasa kegundahan terus mengitari fikirkan gadis itu.


Kasihan juga, Kiara ....


Sedangkan Rizal dan Tama berada di luar bersama Ustadz Hanan dan Herman, Tama menceritakan semuanya kepada mereka tentang kejadian itu.


Namun, tangis penyesalan tak mampu mengubah segalanya, biarkan waktu yang menjawab bagaimana kejadian selanjutnya.


Papa Naira sama sekali tidak marah pada Tama, dia menerima ini semua dengan hati yang lapang dan fikiran yang terbuka. Untuk apa marah? Bukankah Tama sudah meminta maaf?


Tentunya sebagai orang tua, Ustadz Hanan dan Herman memaafkan kesalahan yang pernah Tama lakukan, dan menasehatinya agar kejadian itu tak terulang kembali.


Mulia orang minta maaf, lebih mulia yang memaafkan. Namun, tak kalah mulia orang yang mudah meminta maaf.


Maka, saling memaafkan adalah perbuatan yang sangat terpuji.


Meskipun demikian, Tama belum sempat berbicara pada Rifky. Mengingat keadaan yang sekarang tidak memungkinkan untuk berbicara langsung dengan Rifky.


Biarlah, dia akan menyampaikan maafnya nanti, setelah Naira benar-benar pulih dari sakitnya.


Entah dimaafkan atau tidak, setidaknya Tama akan mencoba hal itu, dan memang seharusnya dia merelakan orang yang dicintai menemukan kebahagiaannya tersendiri. Meskipun bukan bersamanya.


Cinta itu hadir dengan sendirinya, tanpa disuruh dan tanpa diduga. Cinta tak akan karena keterpaksaan!


Bukankah sesuatu yang dipaksakan itu sering kali berakibat tidak baik? Maka mengikhlaskan adalah jalan terakhir yang harus Tama pilih ....


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2