Menikahi Ustaz Ganteng

Menikahi Ustaz Ganteng
Episode 36


__ADS_3

Dua minggu sudah Naira menikmati liburannya. Kini, dia harus memenuhi panggilan dari pihak sekolah untuk menerima surat kelulusan alias perpisahannya dan teman-teman yang lain.


Dengan ditemani oleh Rifky, Naira melaksanakan perpisahan sekolahnya.


Setelah beberapa tahun menempuh pendidikan, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Ya, meskipun hari ini adalah hari bahagia bercampur haru. Bahagia karena bisa menyelesaikan sekolah mereka, dan haru karena harus berpisah dari teman dan para sahabat.


Setelah salah satu guru membacakan nilai para siswa dan siswi, tak disangka Naira mendapat juara kelasnya, dan menduduki posisi kedua dari nilai yang terbesar untuk keseluruhan kelas Xll.


Hemm ... bangga pastinya! Selama ini mana pernah Naira jadi juara kelas. Apalagi bermimpi mendapat nilai tertinggi kedua dari berapa banyak siswa kelas Xll.


Setelah di akhir acara dan saling mengucapkan selamat kepada teman-teman, Naira menghampiri Rifky yang sedari tadi duduk di kursi khusus wali murid.


Terlihat Rifky tersenyum bangga padanya. Lalu melentangkan kedua tangannya untuk memeluk Naira. Tentunya beberapa pasang mata menyaksikan itu. Namun, tidak ada yang tahu jika Rifky adalah suami dari Naira, kecuali teman-temannya. Mereka pikir Rifky adalah kakak Naira. Lagipula tak ada waktu untuk memikirkan hal itu.


"Selamat, ya, Sayang," ucap Rifky memeluk Naira hangat.


"Makasih, Mas ...." Naira menangis dalam pelukan Rifky. Haru! Itu yang dia rasakan saat ini. Terlebih mendengar Rifky mengucapkan selamat padanya.


"Loh, kok nangis?" Rifky menghapus air mata istrinya. Naira hanya tersenyum dan kembali memeluk suaminya itu.


Tahap demi tahap acara telah selesai. Para murid dan wali mereka juga sudah mulai beranjak untuk pulang. Sebelum itu, Naira dan ketiga sahabatnya menyempatkan diri untuk berceloteh sebentar, tentunya Naira sudah meminta izin pada Rifky.


Banyak kenangan yang mereka lalui bersama, dan hal itu berhasil mengisi sesak di rongga dada kala hari perpisahan ini. Entah mereka ada yang akan melanjutkan pendidikan, atau bekerja. Yang pasti mereka akan jarang bertemu.


Keempat sahabat itu menangis dan saling merangkul. Tak lupa juga mereka mengabadikan beberapa momen sebelum benar-benar berpisah.

__ADS_1


Begitulah sahabat. Sedih jika harus berpisah dan terhalang jarak. Suka dan duka yang selama ini mereka lewati, pastinya akan menyakitkan untuk di kenang kala rindu menyapa, tapi ... pepatah mengatakan, di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan.


"Udah, ya nangisnya? Jelek, loh," ledek Rifky menghapus jejak air mata Naira. Kini mereka bersiap untuk pulang.


"Biarin!" Naira mengerucutkan bibirnya dan menghapus kasar air matanya.


Cup!


"Kita pulang, ya?" ajak Rifky setelah mencium pipi chubby Naira. Naira mengangguk, lalu Rifky membukakan pintu mobil untuk Naira.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Naira yang menyadari kalau mobil mereka tidak menuju ke rumah.


"Ke rumah Mama. Di sana semuanya udah nungguin kamu," jawab Rifky tersenyum simpul. Namun, sangat manis bagi Naira. Hari ini memang Rifky tampil istimewa dari biasanya. Sangat tampan!


"Owh, iya," balas Naira dan fokus menatap ke luar jendela.


"Mama ... Papa ...."


Grep!


"Sayang ... anak Mama, em." Marlin dan Herman bergantian memeluk dan mencium putri kesayangan mereka. Setelah itu Naira menyalami punggung tangan mertuanya yang juga ada di sana. Begitu juga dengan Rifky.


Bahkan, Bi Ijah dan Bi Ira juga turut hadir menyambut kedatangan Naira dan Rifky. Rasanya sangat bahagia menjadi Naira.


"Papa dengar, kamu jadi juara kelas dan mendapatkan nilai yang bagus?" selidik Herman ketika semuanya terlihat tenang.

__ADS_1


Memang Rifky sudah memberi tahu mereka sejak tadi.


"Alhamdulillah, Pa," jawab Naira. Semuanya tersenyum bahagia, kosa kata Naira sudah terlihat lebih baik. Tentunya semua sangat berterima kasih pada Rifky.


"Karena itu ... Papa mau kasih kamu hadiah!" ucap Herman dengan sumbringah dan mengelus pucuk kepala anaknya.


"Beneran?" tanya Naira senang.


"Iya."


"Hadiah apa?" Naira terlihat penasaran dengan wajah yang berseri-seri.


"Rahasia, dong," balas Herman, dan mengundang tawa semua orang yang ada di sana.


"Ih, Papa!" Naira memanyunkan bibirnya dengan ekor mata yang menggerling ke arah papanya.


"Nanti, Sayang. Anak Papa masih aja nggak sabaran." Naira kembali memeluk Papa dan mamanya. Sepertinya sudah rindu sekali Naira dengan orang tuanya.


"Kalau gitu Naira ke atas dulu, mau bersih-bersih," pamit Naira dan ditemani oleh Rifky menuju kamarnya yang dulu.


Setelah lama berbincang-bincang, kini waktunya mengisi perut yang mulai keroncongan. Yah, akhirnya mereka melaksanakan santap siang itu bersama.


.


.

__ADS_1


.


TBC.


__ADS_2