
Di kantor, Ayu baru saja selesai membereskan barang-barangnya karena dia tidak lagi dipekerjakan di perusahaan itu oleh Herman. Wanita itu sempat berfikir apakah dia melakukan kesalahan sehingga Herman tiba-tiba memecatnya. Namun, dia mencoba berpikir positif.
Ayu menyeka keringat di dahinya. Kemudian memasuki ruangan Herman untuk berpamitan pulang sebab hari sudah sore.
"Assalamualaikum, Pak?" salamnya pelan.
"Waalaikumussalam," balas Herman tersenyum. Pria itu mempersilahkan tamunya duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Maaf, Pak. Saya mohon pamit untuk pulang sekarang. Dan terima kasih atas kebaikan Bapak selama ini dalam memperlakukan saya selama bekerja di sini. Saya minta maaf kalau seandainya selama saya bekerja ada yang kurang berkenan di hati Bapak dan karyawan-karyawan di sini," ucap Ayu pelan. Dia bingung hendak memulainya dari mana, tapi akhirnya kalimat itu yang dapat dia ucapkan.
"Iya, Ayu. Saya juga mohon maaf sama kamu kalau kamu kurang nyaman. Tapi, em ... ini! Ambil ini sebagai hadiah dari saya atas kerja keras kamu untuk perusahaan ini." Herman berucap sembari memberikan dua amplop coklat pada Ayu.
"Apa ini, Pak? Bukankah bulan ini saya sudah menerima gaji?" tanya Ayu dengan kening mengernyit.
"Tidak. Itu bukan gaji, tapi hadiah dari saya pribadi untuk kamu," balas Herman tersenyum.
Ayu menatapnya dan mengangguk ragu. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Ayu. Kamu boleh pulang sekarang," ucap Herman ramah.
Dengan membawa beberapa barang miliknya, Ayu keluar dari gedung itu untuk menuju lantai bawah. Lalu duduk di kursi depan menunggu Iyan yang akan menjemputnya pulang.
Wanita itu melirik jam tangannya beberapa kali dan mendapati hampir pukul lima sore. Kepalanya celingak-celinguk memastikan kedatangan suaminya, sampai sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya kala melihat seseorang yang ia tunggu.
"Mas!" panggil Ayu sembari mendekati Iyan.
"Iya, Sayang? Udah lama nunggunya, ya?" tanya Iyan menyambut uluran tangan istrinya.
"Lumayan," jawab Ayu tersenyum.
Iyan membukakan pintu mobil untuk Ayu dan menyuruhnya masuk, setelah itu mengemudi kembali. Laki-laki itu tak sadar kalau ada seseorang yang menguntitnya sejak tadi, dan diam-diam memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Kamu kenapa bawa barang-barang keperluan kerja kamu? Biasanya ditinggal, 'kan?" tanya Iyan melirik beberapa barang yang Ayu pegang. Bahkan barang kecil seperti pena pun dibawa oleh istrinya itu.
"Nanti aja aku ceritain, Mas. Aku mau belanja dulu, boleh?" Ayu menatap wajah suaminya itu.
"Boleh, Sayang. Masa enggak?" kata Iyan terkekeh. Ayu mengangguk dan memberi tahu di mana tempat belanja favoritnya, yang tak lain adalah toko dari tante Iyan sendiri.
"Kamu suka belanja di toko Tante? Kok aku nggak pernah liat?" tanya Iyan bingung.
"Emangnya Mas pernah ke sini?" Ayu bertanya balik.
"Sering, dong. Kan Mas yang disuruh Tante Erna buat jagain ini toko," jawab Iyan memberi tahu. Lalu membimbing tangan istrinya untuk masuk.
__ADS_1
Mereka menghabiskan sedikit waktu di tempat tersebut. Sampai seseorang yang masih menguntit ke mana mereka pergi, merasa bosan dan kesal.
"Apa saja yang dilakukan mereka di dalam? Lama sekali!" gumam orang itu yang masih ada di dalam mobil.
Beberapa menit menunggu waktu yang membuatnya jengkel, akhirnya ia kembali mengikuti mobil yang dikendarai Iyan. Matanya terus menatap ke mana mobil Iyan melaju, bahkan ketika lampu merah pun, orang itu sangat berhati-hati kalau-kalau incarannya tersebut terlepas dari pengamatannya. Hingga sampai di depan rumah, Iyan memasukan mobilnya di garasi dan melangkah masuk bersama istrinya. Sama sekali tak menyadari kalau orang yang menguntit mereka tersenyum kemenangan.
***
Tiba waktunya tidur, Ayu berjalan ke arah Iyan yang duduk santai di tepi ranjang. Wanita itu mengambil sesuatu dalam tas kerjanya dan mengelurkan amplop pemberian Herman tadi sore.
"Sebenarnya aku dipecat, Mas," ucapnya memulai percakapan.
"Hm? Dipecat?" Iyan menoleh ke arahnya.
"Iya. Pak Herman kasih ini sama aku. Nggak tau isinya apa." Ayu membuka amplopnya satu per satu.
"Uang. Aku sudah tebak kalau ini pasti uang," gumam Ayu saat melihat isi amplop itu. Dia menghitung jumlah uang tersebut yang melebihi gajinya selama tiga bulan. Herman memang baik, tapi kenapa dia dipecat?
"Nggak papa, Sayang. Tugas kamu itu memang bukan bekerja, tapi jadi ibu rumah tangga." Iyan berucap sambil merengkuh pundak istrinya itu. Dia seakan tahu apa yang ada di pikiran Ayu sekarang.
"Itu apa?"
Ayu kembali membuka amplop yang tersisa. Terlihat kertas putih yang bertuliskan surat panggilan kerja dari Herman, dan itu ditujukan untuk suaminya---Iyan.
"Loh? Pak Herman ...?" Ayu menatap Iyan dengan ekspresi bingung. Dia menangkap sebait senyum dari laki-laki yang tak lain adalah suaminya itu.
"Iya, Sayang .... Tadi pagi Om Herman telepon dan bilang soal ini sama Mas. Tapi Mas pengen liat reaksi kamu dulu," jelas Iyan terkekeh lagi.
"Ih ... nggak bilang-bilang dari tadi. Bikin orang kepikiran aja!" Ayu menatap kesal.
"Kepikiran apa?"
"Ya kepikiran. Aku kira aku punya salah. Makanya dipecat!" Ayu menggerling kesal. Baru kali ini dia berbicara ketus.
"Hahaha, kamu lucu juga kalau lagi kesal. Maafin Mas, ya ...?" Iyan membujuk dengan lembut. Laki-laki itu menarik tubuh istrinya untuk masuk ke dalam dekapan hangatnya.
"Aku mau tidur!" kata Ayu. Masih ada kekesalan yang terdengar.
"Tidurlah," balas Iyan sambil mengecup singkat pipi istrinya itu. Tak lupa memberikan elusan pelan di kepala Ayu sebagai bentuk kasih sayangnya yang tulus.
***
Di tempat lain, Naira dan Rifky berada di kamar mereka dengan kegiatan masing-masing. Rifky bersandar di kepala ranjang sembari memainkan ponselnya, sedangkan Naira tak henti-hentinya bercermin. Entah apa yang dilihat Naira dari penampilannya, terkadang dia tersenyum sendiri menatap pantulan tubuh mungilnya itu.
__ADS_1
"Naira ...?"
"Hm?"
"Ngapain kamu? Sini tidur!" ajak Rifky menatap Naira yang sama sekali tidak mempedulikannya.
"Kok aku makin gemuk, Mas?" tanya Naira.
"Hah ... segala kamu pikirkan. Ayo tidur!" Rifky meletakkan handphonenya dan menghampiri Naira.
"Nggak tinggi-tinggi juga ...." Naira terus mengomel. Bahkan tidak mempedulikan Rifky yang ada di belakangnya.
"Udah ... ayo tidur! Ini udah malam, loh?" Rifky menatap wajah istrinya yang becermin. Laki-laki itu berkacak pinggang karena sudah merasa ngantuk.
"Bilang dulu kalau kamu jelek!" ucap Naira berniat menjahili.
"Apaan, sih, kamu? Mas udah ngantuk, nih. Tidur!"
"Bilang dulu kalau kamu jelek!" Naira menekankan.
"Iya, aku jelek! Udah," kata Rifky tak ambil pusing. Tangannya meraih tangan Naira untuk mengajaknya ke ranjang.
"Liat muka kamu di cermin!" bantah Naira.
"Kamu ini kenapa, sih?" tanya Rifky mulai kesal.
"Bilang dulu kamu jelek! Sambil liat muka di cermin!" jelas Naira memelototi suaminya.
Rifky terdiam sejenak. Apakah dia akan ikut-ikutan gila bersama istrinya ini?
"Ayo!"
"Iya-iya. Aku jelek!" Rifky mengatakan sesuai yang Naira minta.
"Tapi aku cinta ...." Naira tersenyum bangga dan berbalik. Kemudian memeluk leher suaminya itu sembari mengerucutkan bibirnya. Rifky yang sudah faham langsung mengecup sekilas benda kenyal milik istrinya itu, dan dengan sigap mengangkatnya ke tempat tidur. Ternyata istrinya itu ingin dimanja terus-terusan, bahkan melakukan hal konyol sekalipun.
"Mau peluk ...." Naira menenggelamkan wajahnya di dada Rifky, dan dengan senang hati Rifky menerima pelukan istrinya itu sembari membawanya ke alam mimpi malam ini.
***
Hallo, Author balik lagi setelah beberapa bulan nggak nongol-nongol 😅
Bukannya apa-apa, lagi males aja buat UP. Apalagi author masih pelajar SMA, tentunya banyak tugas sekolah, 'kan?
__ADS_1
Juga ada beberapa part yang harus disunting ulang karena kesalahan yang tak disengaja.
Nah, Author cuma mau bilang, klo UP cerita ini nggak tentu meski naskahnya sudah ada. Maaf, ya. 😊🙏