
Setelah melakukan persiapan yang matang, akhirnya pernikahan Tama dan Kiara dilangsungkan.
Semua tamu undangan telah hadir memeriahkan hari tersebut. Tampak senyuman kebahagiaan tersungging di bibir kedua mempelai, hari yang mereka nantikan telah tiba. Yaitu menjalin cinta dalam ikatan yang halal dan direstui.
"Selamat, Kak Tama, Kak Kiara ...." Naira memberi ucapan selamat pada pengantin, lalu menyalami Tama dan Kiara. Tak lupa kedua perempuan itu berciuman pipi kanan dan kiri.
"Semoga menjadi keluarga bahagia, sakinah, mawdawah--eh, apa, Mas?" tanya Naira menatap Rifky yang berdampingan dengannya.
"Sakinah, mawadah dan warahma," jawab Rifky terkekeh.
Semua orang sentak tertawa melihat tingkah Naira. Huh! Gadis ini meriuhkan suasana saja.
"Iya, hehe," balas Naira tersenyum malu. Rifky mengelus pucuk kepala istrinya dan tertawa geli.
Sehabis menyalami dan mengucapkan selamat kepada pengantin baru, semuanya kembali duduk di kursinya masing-masing sambil menikmati makanan dan minuman yang telah tersaji.
Tiba-tiba Naira merasakan sakit di bagian kepalanya serta perut yang terasa mual. Mungkin karena bau makanan atau wewangian yang dipakai para tamu undangan di sana.
"Mas, aku ke toilet bentar, ya," pamit Naira pada Rifky. Rifky hanya mengangguk dan duduk di kursinya.
Pesta ini meriah sekali sehingga suasananya menjadi riuh dan ricau. Orang-orang yang hadir berbincang-bincang membahas obrolan mereka masing-masing.
Ayu yang sedari tadi duduk sendiri melihat ke belakang dan mendapati Rifky sedang sendirian. Ya, Ayu juga ikut hadir dalam pesta besar ini, karena semua karyawan di kantor Rifky diundang ke acara tersebut.
Wanita itu melangkah menuju meja di mana Rifky berada. Maksudnya hanya ingin mengajak Rifky mengobrol karena Rifky tidak terlihat dengan istrinya. Dipikirnya, mungkin Naira tak ikut.
"Permisi, Pak," sapa Ayu pada Rifky. Laki-laki itu mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang memanggil.
"Aws!"
Bruk!
Ketika Ayu hendak duduk, tiba-tiba seseorang tak sengaja mendorong tubuhnya. Karena memakai high heels, Ayu kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di tubuh Rifky dengan minuman yang sudah mengenai baju Rifky hingga basah.
Rifky sendiri terperanjat dan Refleks menahan tubuh wanita itu, beberapa detik kejadian itu berlangsung karena Ayu kesusahan berdiri, dan hal itu disaksikan Naira yang baru kembali dari toilet.
__ADS_1
Perlahan Naira mendekati suaminya dan wanita yang tidak dia ketahui namanya itu.
"Ah, maaf, Pak. Saya tidak sengaja," ucap Ayu dan mengelap baju Rifky yang tertumpah minumannya.
"Apa yang terjadi ...?" tanya Naira lirih. Matanya mulai membendung embun.
"Naira?!" Rifky dan Ayu spontan berdiri menatap Naira yang tanpa disadari sudah ada di hadapan mereka. Sedangkan semua orang menatap mereka cengo. Semua hanya menyaksikan, tak ada yang memberi penjelasan.
"Ini tidak seper---"
Belum selesai Rifky melanjutkan ucapannya, Naira telah berlari menjauh dengan derai air mata. Meskipun dia tidak ingin menangis, tapi tetap saja, dia merasa sakit menyaksikan kejadian itu.
Sementara Ayu hanya tertunduk dan merasa bersalah melihat perseteruan Rifky dan istrinya. Andai dia tak menghampiri Rifky, mungkin semua akan baik-baik saja!
"Naira, berhenti!" panggil Rifky mengejar istrinya yang terus berlari.
"Naira!"
Tangan Rifky berhasil meraih pergelangan tangan Naira, dia menarik Naira agar kembali ke dekapannya.
"Sayang, kamu nggak usah marah, ya. Ini hanya---"
"Itu tidak sengaja, Sayang," ujar Rifky menghapus air mata Naira dan menangkup pipinya.
"Sudah dua kali hal ini terjadi, dulu ... pas di kantor. Masa nggak sengaja terus? Benar, 'kan? Dia itu adalah wanita yang ada di foto waktu itu?" Naira tersenyum getir.
"Sayang, aku benar-benar tidak sengaja." Rifky memegang bahu Naira, mencoba meyakinkan istrinya itu.
"Pandang-pandangan, tatap-tatapan. Lantas ... itu yang dinamakan ketidaksengajaan? Bahkan kamu membiarkan dia mengelap bajumu," lirih Naira tetap dengan senyum getirnya.
Rifky tak dapat berkata apa-apa lagi. Itu memang benar terjadi, tapi dia sama sekali tak menyangka. Argh!
"Sayang, kamu dengerin Mas." Rifky menarik pinggang Naira dan menatap lekat mata Naira.
"Aku mau pulang," pinta Naira pelan. Rifky mengangguk dan mengajak Naira pulang. Setelah berpamitan pada Tama dia segera melajukan mobilnya dari tempat itu menuju rumahnya.
__ADS_1
Di perjalanan Naira hanya diam dan sesekali mengusap kasar air matanya. Tatapannya hanya tertuju pada jalanan.
"Sayang, kejadian itu tidaklah seperti yang kamu kira." Rifky mencoba berbicara pada istrinya yang sejak tadi hanya bungkam.
"Aku tidak ingin mendengar apa pun! Kepalaku pusing," sarkas Naira tak ingin mendengar penjelasan Rifky.
Rifky mempercepat laju mobilnya agar segera sampai. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya, tapi dia harus bisa meyakinkan Naira!
Saat mobil mereka terhenti, Naira langsung turun dan melangkah masuk.
"Naira tunggu!" Rifky segera menyusul istrinya itu. Dilihatnya Naira terus memegangi kepalanya dan sedikit meringis.
"Naira." Rifky meraih tangan Naira untuk membimbingnya, tapi Naira menepisnya dan meneruskan jalannya sendiri.
Namun, apa daya! Rasa sakit di kepalanya terus menyerang, hingga ia tak dapat lagi berdiri.
Bruk!
Tubuhnya ambruk di lantai, untung Rifky sigap menangkapnya. "Naira!" Rifky menapuk-nepuk pipi Naira, dan mendapati Naira terpingsan.
"Ya Allah. Neng Naira!" Bi Ira yang kaget langsung menghampiri mereka. "Kenapa, Den?" tanya wanita paruh baya itu.
Rifky hanya menghembuskan nafas gusar dan segera mengangkat tubuh Naira untuk membawanya ke kamar.
"Panggilkan Dokter, Bi!" titah Rifky dan diangguki oleh Bi Ira.
Rifky membaringkan Naira di ranjang, keringatnya sudah mulai bercucuran memenuhi tubuh kekarnya.
Entahlah! Dia tengah bingung sekarang. Khawatir terhadap kondisi Naira saat ini.
"Astagfirullah hal'azim," ucap Rifky sembari mengusap kasar wajahnya. Kenapa kejadian yang sama harus terulang kembali ...?
.
.
__ADS_1
.
TBC.