
Pagi ini Rifky berangkat ke kantornya sembari mengantarkan Naira ke sekolah. Rifky menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah Naira dan menatap istrinya itu.
"Nanti kalau udah pulang, tungguin Mas, ya?" ucap Rifky disertai senyuman.
"Iya, Mas," jawab Naira, "aku masuk, ya. Muach ...." Naira mencium pipi Rifky dengan gemes dan keluar dari mobil.
Rifky memegangi pipinya yang dicium Naira dan tersenyum senang. Ada-ada saja istrinya itu.
Naira berjalan menelusuri koridor hendak menuju kelasnya. Ketika dia berbelok tiba-tiba dia menabrak seseorang.
Bruk!
"Aww, hesss," ringis Naira yang terduduk akibat tabrakan itu.
"Lo, nggak papa?" tanya seseorang yang menabraknya.
Naira mendongak menatapnya, seorang cowok bertubuh tinggi nan tampan sedang tersenyum menatapnya sembari mengulurkan tangan.
"Gue nggak papa," ketus Naira dan berdiri sendiri.
Dia membersihkan roknya yang kotor terkena debu.
"Kenalin, gue Rizal." Pria itu mengulurkan tangannya pada Naira.
Sementara Naira langsung pergi meninggalkan Rizal dan sama sekali tak peduli.
"Huh! Sombong amat tu cewek. Liat aja," ucap Rizal tersenyum smirk.
"Hellooo ... good morning everyone. Naira yang cuantik jelita sudah kembali hadir di sekolah ini!" cerocos Naira saat memasuki kelasnya, tak lupa dia membentangkan kedua tangannya.
Semua siswa di kelas menertawakan tingkah Naira yang konyol itu. Lain dengan ketiga sahabatnya yang berlari menghambur memeluk Naira.
"Hellooo juga, Sindy yang imoot dan manis ini hadir menyapa. Bhahhha!" teriak Sindy memeluk Naira. Begitu juga Kiki dan Kinta, semuanya bergantian memeluk Naira.
Maklum! Tiga hari Naira tak masuk sekolah karena sakit.
"Lo ke mana aja, sih? Perasaan liburan teros ...?" tanya Kiki setelah mereka semua duduk.
"Gak tau, nih anak, nggak ngasih kabar juga!" ketus Kinta.
"Ehh, kalian tau nggak?"
"Enggak ...." Kinta, Kiki, dan Sindy menggeleng serempak.
"Gue belum selesai ngomong, Bego!" kesal Naira.
"Iya, apa?" ucap Sindy sambil menopang dagunya.
"Gue kemarin sakit, tiga hari tau nggak!" adu Naira pada tiga sahabatnya itu.
"Hah!"
"Kalau, lo sakit, kenapa nggak bilang sama kita-kita? Jadinya, 'kan nggak tau," sewot Kinta.
"Iya, maaf. Mana gue tau kalau gue bakalan sakit," jawab Naira memutar bola matanya.
"Tapi di absen, keterangan lo izin, loh," ucap Kiki sambil melirik Kinta dan Sindy.
__ADS_1
"Iya!"
"Dia, 'kan diizinkan sama cowok ganteng itu, ya, 'kan?" tanya Kinta pada Kiki dan Sindy.
"Iya, bener," jawab Sindy.
"Siapa, sih tu cowok? Kakak lo, ya?" tebak Sindy.
"Yang mana?" Naira pura-pura tak tahu.
"Ada ... pokoknya," ucap mereka.
"Tau, ahh!" ketus Naira.
"Huh!"
"Ehhh, kalau itu kakak lo. Kenalin dong ama gue, ganteng banget soalnya." Kinta pecicilan sambil menopang dagunya.
"Gue mana punya kakak. Kan gue anak tunggal." Naira memasang muka kesalnya. Pasti yang dimaksud sahabatnya itu Rifky---suaminya!
"Ya, kali aja kakak sepupu, gitu," ucap Sindy.
"Udah ahh, gak usah bahas soal itu!" Kiki yang malas berdebat memilih membaca komiknya. Sedangkan Kinta menatap jengah Kiki.
Kini waktu jam pelajaran dimulai, seorang guru memasuki kelas Naira dengan diikuti seseorang di belakangnya.
"Assalamualaikum, anak-anak!" sapa guru tersebut.
"Wa'alaikumussalam," jawab semuanya.
Yaps! Orang itu adalah Rizal.
"Kenalin, gue Rizal Adhi Wardana!" ucapnya memperkenalkan diri.
Semua siswi merasa kagum dengan ketampanan Rizal, sementara dia sendiri sibuk memperhatikan Naira yang duduk di bangku nomor dua.
"Cogan, tuh?" Kinta berbalik menatap Naira dan kiki sambil senyam-senyum tak jelas.
"Segala ... lo embat," ketus Naira malas.
"Elah, lo!"
"Rizal! Kamu duduk di samping Fandi!" titah Bu Guru.
Rizal berjalan menuju kursinya dengan tatapan tak lepas dari Naira.
"Liatin lo, tuh," bisik Kiki.
"Apaan, sih?!" Naira memalingkan wajahnya jengah.
"Sekarang Ibu mau ke luar, kalian jangan ribut. Tunggu guru yang akan mengajar!" ujar Bu Sita pamit.
"Ehh, bisa tukar tempat nggak?" tanya Rizal pada Fandi. Karena tempat duduk Fandi bersebelahan dengan tempat Naira.
"Emang kenapa?" tanya Fandi heran.
"Ahh, udah. Ayo tukar." Rizal yang tak mau ambil pusing langsung menukar tempat duduknya.
__ADS_1
Alhasil dia duduk bersebelahan dengan Naira.
"Hay," sapa Rizal mengedipkan matanya pada Naira.
"Hay juga," jawab Kinta. Sedangkan Naira memilih diam, malas sekali dia berhadapan dengan pria ini. Kenapa, sih, selalu ada saja yang mengganggunya.
****
Di kantor, Rifky terlihat sibuk menangani tugasnya yang sudah menumpuk. Sejak Naira sakit, dia tak pernah datang ke kantornya karena memilih menemani istrinya itu.
Untung saja sekretarisnya dapat menangani dengan baik, sehingga masalah kantornya cepat selesai.
"Selamat siang, Pak," sapa salah seorang karyawan di sana.
"Siang!" jawab Rifky dingin.
"Maaf, Pak. Ini saya bawakan makan siang untuk Bapak." Perempuan yang bernama Ayu itu memberikan rantang berisi makanan pada Rifky.
"Tidak usah! Saya makan di luar saja," jawab Rifky dan berlalu pergi.
Ayu menghela nafasnya kasar, sesulit itukah menaklukkan seseorang seperti Rifky.
Sudah berapa kali Ayu mencoba mendekati Rifky. Namun, tak ada hasilnya sama sekali.
Wanita itu sudah menyukai Rifky sejak pertama kali Rifky bekerja di sana. Sikap Rifky yang berwibawa dan bijaksana itu mampu menggetarkan hati seorang Ayu, ditambah lagi dengan ketampanan yang dimilikinya, yang dapat memikat setiap hati wanita.
Ayu mendudukan diri di kursi miliknya, dan menyantap makanan yang dia bawa tadi.
Tak apalah! Meskipun Rifky menolak untuk yang kesekian kalinya, tapi Ayu tak akan menyerah dengan semuanya. Dia akan berusaha untuk membuat Rifky jatuh hati padanya.
****
"Rumah lo, di mana?" Tama bertanya pada Kiara agar memberi tahu alamatnya. Saat ini gadis itu sudah sembuh total dari sakitnya dan sudah dibolehkan pulang.
"Jalan Melati nomor 37," jawab Kiara. Tama melajukan mobilnya dan tak lama mereka sampai di tempat yang dituju.
Rumah yang cukup mewah, tapi tampak sepi sekali seperti tak ada penghuninya.
"Ini rumah, lo?" Tama menatap Kiara dan mendapat anggukan darinya.
"Kok sepi amat?"
"Emang gue lagi sendirian di rumah. Papa, Mama gue lagi pergi," jawab Kiara menjelaskan.
'Pantasan nggak ada yang jenguk lo, pas lagi sakit!' ucap Tama membatin.
Mereka berdua melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Meskipun Tama sempat menolak, tapi Kiara tetap memaksanya sehingga menunda waktunya lagi untuk bertemu dengan Naira. Apakah Tama tak punya pekerjaan lain sampai-sampai waktunya hanya dihabiskan untuk Naira?
Namanya juga Pratama Wijaya!
.
.
.
_TBC_
__ADS_1