
Pukul delapan pagi. Rombongan calon pengantin pria sudah berada di gubuk kami. Entah siapa saja yang ikut, tapi kata Uni Siti ada dua mobil yang datang. Satu mobil kecil yang entah apa mereknya, tapi sepertinya untuk mobil pengantin, sementara satunya lagi mobil minibus dengan penumpang penuh. Kira-kira dua puluh orangan.
Aku sendiri belum bisa memastikan sebab masih berada di dalam kamar. Usai dihias mengenakan pakaian abaya putih yang dikirimkan oleh mbak Ayu, Ini Dewi tidak mengizinkan aku keluar kamar lagi hingga akad diucap.
"Tapi Mil, istrinya nggak kelihatan." bisik Uni Siti.
"Hah, maksudnya Uni, mbak Ayu nggak datang?" aku langsung cemas, khawatir terjadi sesuatu pada perempuan yang beberapa menit lagi akan menjadi maduku.
"Iya, di antara rombongan itu tidak ada istrinya. Ibu saja sampai kebingungan."
"Uni yakin? Tapi kenapa nggak datang. Sebelumnya nggak bilang apa-apa."
"Mungkin dia nggak sanggup melihat suaminya menikah lagi."
Hatiku yang semula sudah diliputi kebimbangan semakin bertambah galau mendengar penuturan Uni Siti. Benarkah mbak Ayu tak mau suaminya menikah lagi denganku? Jika memang tidak sanggup kenapa tidak bicara jujur saja? Ini lebih mudah jika ia yang membatalkan semuanya ketimbang aku.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Hatiku semakin diliputi perasaan tidak nyaman. Benarkah ini jalan yang terbaik? Apa jangan-jangan ini salah. Sungguh, aku tak ingin merebut suami orang atau menjadi penyebab kesedihan perempuan lain.
Dari luar kamar, kini terdengar suara bapak mengucapkan ijab, tak lama disambut dengan qobul oleh mas Ilham. Diikuti oleh ucapan sah dari dua orang saksi. Resmilah aku menjadi istri kedua mas Ilham.
"Mil, ayo keluar." Uni Dewi datang menjemput ke kamar. Ia dan Uni Siti membimbingku menuju meja akad dimana di sana sudah duduk mas Ilham, bapak, penghulu dan dua orang saksi.
"Ayo Mil," Uni Dewi mengarahkan agar aku menerima seserahan berisi mahar.
Tangan itu terulur ke hadapanku. Untuk beberapa detik ia menggantung di hadapanku hingga akhirnya uni Dewi mengingatkan agar aku menyambutnya. Perlahan tangan itu kusambut, entah mengapa bayangan bang Hasan muncul di hadapanku. Air mataku langsung menetes.
"Ikhlas Mila, ikhlas. Sekarang kamu adalah istri dari mas Ilham, bukan istri bang Hasan lagi." aku membisiki diri sendiri agar tak berpikiran macam-macam.
Usai akad, tak ada pesta layaknya pernikahan biasanya. Tetapi tetap ada hidangan yang disajikan untuk para tamu-tamu. Bahkan juga sudah disiapkan kotakan untuk tetangga sekitar yang bisa dibawa pulang.
__ADS_1
"Ayo silakan ke bilik kalau mau berganti pakaian." uni Dewi mengarahkan aku dan Mas Ilham menuju kamar. Meski ini bukan pernikahan pertama tapi tetap saja aku masih kaku.
Kini, di kamar ini hanya ada aku dan mas Ilham. Uni Dewi sudah meninggalkan kami berdua agar mas Ilham bisa membimbingku untuk salat Sunnah dua rakaat seperti yang dilakukan oleh pengantin yang baru menikah.
"Mbak Ayu mana?" pertanyaan itu terlontar begitu saja. Sejenak ekspresi wajah mas Ilham yang semula tenang berubah agak kaget.
"Oh, dia di hotel." jawab mas Ilham.
"Kenapa tidak ikut?"
"Ayu masih harus mempersiapkan banyak hal untuk menyambut kedatangan kamu."
"Oh begitu. Harusnya mbak Ayu nggak perlu repot-repot."
"Kamu sudah mempersiapkan semuanya?"
"Besok pagi kita berangkat ke Jakarta. Penerbangan pagi. Siang ini kita langsung ke kota. Kamu bisa mempersiapkan semuanya, termasuk izin pada orang tuamu."
"Ya." aku mengangguk. Sebelumnya mbak Ayu juga sudah mengatakan bahwa setelah akad nikah, siangnya kami akan berangkat ke kota. Menginap semalam di hotel, lalu besoknya langsung berangkat ke Jakarta. Tiba-tiba saja aku teringat pada Yumna. Sejak mempersiapkan acara pernikahan ini, waktu bersamanya berkurang drastis. Bahkan tidur malampun ia bersama Ibu.
Kini hanya tersisa beberapa jam, aku akan berangkat. Setelah itu tak akan bertemu Yumna entah untuk berapa waktu.
"Maaf, saya permisi dulu ya. Saya mau ketemu anak saya dulu." aku langsung bangkit dari duduk, meninggalkan mas Ilham sendiri. Berjalan keluar kamar mencari sosok Yumna.
Ruangan rumah kami masih dipenuhi tamu-tamu. Halaman pun begitu. Orang-orang yang berdatangan, saat melihatku keluar langsung menyongsong ingin mengucapkan selamat, tapi ku abaikan karena aku ingin mencari Yumna. Dimana ia sekarang? Rasanya tiba-tiba hati ini diliputi rindu pada gadis kecilku itu.
"Lho Mila, kamu mau kemana? Mas Ilham mana?" tiba-tiba Uni Dewi menghadang langkahku.
"Ada di kamar. Aku mau cari Yumna." jawabku, tanpa peduli pada Uni Dewi.
__ADS_1
"Kenapa ditinggalkan sendirian?"
"Aku harus ketemu Yumna dulu, Ni."
"Nanti saja."
"Enggak bisa," langkahku semakin cepat, berubah menjadi lari kecil sebab erhalang oleh abayaku. Kini, langkah itu baru terhenti saat melihat sosok Yumna. Rupanya ia tengah duduk-duduk be dua dengan emak di bawah pohon rambutan tak jauh dari gubuk kami. "Yumna!" panggilku.
"Umi?" Yumna menengok ke arahku.
"Yumna!" Aku berlari ke arahnya. Saking kencangnya hampir terjatuh, untung saja dipegangi oleh Uni Dewi.
Harusnya, sebagai pengantin baru, hari ini menjadi hari paling bahagia untukku. Setidaknya sama bahagia seperti saat dipersunting bang Hasan. Tapi aku tak bisa memungkiri bahwa yang terasa justru sebaliknya. Sedih, hampa, bimbang, galau bahkan penuh penyesalan. Apalagi setelah melihat sosok gadis kecilku.
Sebagai seorang ibu, yang menikah lagi, bukankah wajar jika ia diliputi gelisah sebab setelah pernikahan ini ia akan berpisah dengan putri yang selama ini selalu bersamanya. Perpisahan yang entah untuk berapa lama.
"Yumna!" panggilku lagi. Kali ini aku tak bisa membendung tangis. Selama ini ada banyak kesedihan yang meliputi hati ini setelah kepergian bang Hasan, namun rasanya tak sesedih ini, saat harus berpisah dengan putriku sendiri. Anak yang ku kandung, dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta. Entah aku sanggup atau tidak melanjutkan hidup nantinya tanpa kehadiran Yumna. Aku melakukan semua ini juga salah satunya karena ingin memberikan hidup yang terbaik untuk Yumna, tapi berada jauh darinya apakah akan jadi yang terbaik?
"Mil, ayo balik ke rumah." ajak Uni Dewi.
Aku menggelengkan kepala. "Ni, emak ... boleh aku minta waktu bicara berdua dengan Yumna. Sebentar saja." pintaku. "Sebentar lagi kami akan berpisah, entah kapan akan bertemu. Aku ingin menghabiskan waktu beberapa saat bersama putriku." pintaku, sambil menatap wajah Yumna yang mengguratkan kebingungan.
"Mi," panggil Yumna.
"Tapi Mil, mas Ilham tidak ada yang menemani. Tidak enak ditinggalkan sendirian." ujar Uni Dewi.
"Sebentar saja ni," pintaku lagi.
"Ya sudah. Wi, biarkan Mila dan Yumna berdua dulu. Biarkan mereka bicara. Kita jangan sibuk memikirkan perasaan orang lain terus tapi abai dengan perasaan ibu dan anak. Mereka juga penting!" tegas emak, lalu menggandeng tangan Uni Dewi yang masih berat meninggalkan aku dan Yumna berduaan.
__ADS_1