MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
SALAH PAHAM


__ADS_3

"Bu, kapan-kapan ngobrol juga seperti ibu sama mbak Ayu ya." pintaku, yang kini menyenderkan kepala di pangkuan ibu.


"Ya tergantung." jawab ibu, sembari mengusap pelan kepalaku.


"Tergantung apa? Ya jangan digantung dong Bu."


"Mil ... Ayu itu berbeda dengan kamu. Ibu menyadari kamu belum paham betul karakternya. Kamu hanya melihat sisi lemahnya makanya kamu iba. Ibu sudah menjadi mertuanya puluhan tahun, sudah hafal karakter Ayu seperti apa. Lagipula, mendekatkan dua orang itu nggak bisa hanya dari satu pihak saja, dua-duanya harus sama-sama saling mau dekat." ibu menegaskan kalau ia tetap peduli dengan mbak Ayu, sebab bagaimanapun juga mbak Ayu adalah ibu dari cucunya, tapi tetap ia tak bisa janji untuk bersikap sedekat ini meski aku sudah memohon-mohon.


***


"Kenapa kamu nggak bilang kalau ibu datang?" tiba-tiba mbak Ayu menghampiri aku yang sedang membersihkan piring-piring di dapur.


"Eh, mbak Ayu. Maaf mbak, tadi saya lihat mbak masih asyik ngobrol sama teman-teman mbak." Jawabku.


"Alasan. Kamu kan bisa ngasih tahu. Kamu sengaja ya Mil? Lagian, apa-apaan ini? Kenapa kamu di dapur? Kenapa nggak di kamar saja?"


"Lho, kan mau jam makan malam mbak. Biasanya juga saya ikut beberes. Memang kenapa mbak? Lagipula tadi ibu request pengen dibikinin sambal, makanya saya buatkan."


"Kan bisa mbok Asih yang membuatkan."


"Ibu maunya saya yang membuatkan, mbak. Entah kenapa." kataku lagi.


"Halah, alasan kamu saja. Kamu mau cari muka di hadapan ibu, kan? Mila, dengar ya baik-baik. Kalau ada ibu ataupun mas Ilham, kamu harus berhenti cari-cari perhatian seperti ini. Ingat baik-baik kalau kamu itu hanya perempuan kedua, kamu nggak lebih berhak dari pada aku. Ngerti kamu!"

__ADS_1


"Ya mbak, maafkan saya kalau apa yang saya lakukan salah. Saya cuma mau bantu-bantu saja."


"Emang ya, kerjaan yang cocok untuk kamu cuma tukang bantu-bantu. Kamu nggak pas jadi istrinya mas Ilham."


"Ya Allah, mbak."


"Ternyata apa yang dikatakan teman-temanku benar, istri kedua itu memang selalu licik. Kamu bersembunyi di balik wajah polos kamu untuk menusuk saya dari belakang. Kamu ingin merebut apa yang sudah saya miliki. Iya, kan? Ngaku saja Mila!"


Astaghfirullah. Berulang kali aku mengucapkan istighfar. Kalau tak ingat apa kata dokter, ingin sekali ku jawab semua tuduhan mbak Ayu. Bahwa semua itu tidaklah benar. Aku tak pernah punya niat untuk menyingkirkan siapapun juga.


"Mila ... kalau kamu benar-benar peduli pada saya seperti apa yang kamu katakan. Sekarang juga, pergilah dari kehidupan kami. Saya mohon padamu. Saya memang sudah melakukan kesalahan dengan mendatangkan kamu ke kehidupan kami dan saya menyesalinya. Apa yang saya perkirakan ternyata salah. Dengan adanya kamu di sini, justru semuanya menjadi kacau. Saya nyaris kehilangan suami saya dan sekarang juga kehilangan mertua saya. Kamu sudah berhasil merebut semuanya dari saya, Mil." ucap mbak Ayu.


"Astaghfirullah mbak, jangan berpikiran begitu. Kita kan sudah saling bicara di rumah sakit dan sama-sama sepakat bahwa tak akan ada yang pergi ...." kataku.


"Astagfirullah Mbak, bagaimana saya bisa memutuskan semuanya. Saya nggak bisa mbak. Semua harus dibicarakan dengan mas Ilham juga."


"Kalau kamu melakukannya sama saja kamu menggali kubur untukku. Dan berarti apa yang dikatakan oleh teman-temanku itu benar kalau kamu itu sebenarnya perempuan licik. Aku benar-benar benci sama kamu Mil!"


"Ayu!" tiba-tiba terdengar suara ibu yang sudah berada di belakang kami.


"Ibu?" mbak Ayu terlihat kaget sebab apa yang dibicarakannya didengarkan oleh ibu. "Se ... sejak kapan ibu di sana?" Tanya mbak Ayu dengan suara terbata-bata.


"Sejak kamu mengusir Mila. Sejak kamu memintanya untuk pergi dari kehidupan Ilham. Ternyata kamu nggak berubah juga ya Yu. Kamu masih saja jadi perempuan egois yang hanya mementingkan keinginan kamu sendiri. Harusnya kamu bertaubat, Yu. Sejak awal kan sudah ibu ingatkan agar tidak menjalani poligami, tapi kamu terus saja mendesak Ilham hingga semuanya terjadi. Sekarang setelah ada Mila, kamu malah mengusirnya, menuduhnya hal yang bukan-bukan padahal ia sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk kamu. Bahkan ia sampai membujuk ibu agar mempedulikan kamu. Tapi ini balasan kamu!" ibu tampak marah sekali.

__ADS_1


"Bu," mbak Ayu mulai terlihat cemas, ia menggigit ujung jarinya. Pertanda yang menurutku mengatakan kalau mbak Ayu kembali merasa tertekan.


"Bu, sudahlah. Ini hanya salah paham saja." Aku mencoba menengahi agar mbak Ayu bisa tenang.


Tapi ibu tetap tidak terima, bahkan ingin mengadukan semua ini pada mas Ilham hingga membuat mbak Ayu makin cemas.


"Mbak Ayu hanya terpengaruh teman-temannya saja, Bu." Kataku.


"Dari mana kamu tahu, Mil? Ayu tidak sebodoh itu. Bukan ianyang terpengaruh teman-temannya, tapi teman-temannya lah yang dia pengaruhi. Ini hanya salah satu caranya untuk meraih simpati kamu, dengan begitu ia bisa terus menekan kamu!" Tegas ibu.


"Enggak Bu, saya dengar sendiri kok kalau ...." lagi-lagi ibu memotong pembicaraan aku.


"Sudah Mila. Kamu diam saja. Sekarang biar ibu yang bicara pada Ilham. Ia harus tahu semuanya. Ibu tidak mau rumah tangga anakku berantakan oleh orang-orang yang egois dan zolim!" tegas ibu, sambil berjalan menuju ruang tengah


Mbak Ayu berusaha menghentikan langkah ibu. Ia terus memohon agar tidak mengadukannya pada mas Ilham. Tapi ibu sangat tegas, apapun rengekan mbak Ayu tak didengarnya.


"Lihat kan, lihat Mila. Semuanya jadi kacau karena kamu!" tiba-tiba mbak Ayu berteriak sekeras mungkin hingga semua yang ada dalam rumah mendekat.


"Ada apa ini?" mas Ilham ikut mendekat.


"Seperti biasa, Ham. Istri kamu mulai drama. Sudah ibu bilang kan, susah membuatnya untuk berubah." ujar ibu.


"Ibu bilang apa sih, Bu? Mila .... kamu mau tahu kenapa aku melakukan semua ini, ya, karena sikap ibu yang selalu menekan aku dan kalau aku punya sedikit saja kesalahan pasti ibu akan sangat bersemangat untuk mengadili tanpa pernah mau mendengarkan penjelasanku." ungkap mbak Ayu.

__ADS_1


"Oh, sekarang kamu mau mengadu antara ibu dan Mila?" ucap ibu. Menatap tajam pada mbak Ayu.


__ADS_2