
Sejujurnya aku sangat kesal dengan mbak Ayu. Ia benar-benar tidak dewasa. Sudah tahu penyebab semua adalah dirinya, bukannya menyadari dengan menerima malah meminta agar aku mundur. Ini benar-benar tidak masuk akal. Bukannya berharap ucapan terima kasih, tapi setidaknya ia bisa menghargai bagaimana aku berusaha agar mereka bersatu kembali.
"Selalu saja merasa paling berhak menentukan semuanya. Padahal, meski aku istri kedua, akupun punya hak yang sama sepertinya!" aku hanya bisa membatin. Kalau nggak ingat dosanya mengumpat orang lain, mungkin hati ini masih terus membahas sifat mbak Ayu yang hingga sekarang tak bisa ku pahami.
***
Meski hubunganku dengan mbak Ayu belum membaik, kini aroma persaingan antara kami mulai terasa. Sebenarnya mbak Ayu yang menantang ku untuk sama-sama berusaha merebut kembali hati mas Ilham. Kami berdua berlomba, siapa yang bisa menang.
Semula aku menolak kompetisi tersebut sebab takut kalau ini hanya jalan mbak Ayu untuk mengusirku dari sisi mas Ilham, tapi setelah diyakinkan barulah aku mau menerima tantangan tersebut.. lagipula setelah dipikir-pikir tak ada salahnya, toh tak ada hal-hal yang kami jadikan taruhan. Kami hanya perlu sama-sama bersaing menjadi istri yang terbaik. Lagipula bukankah pernikahan dengan lebih dari satu istri biasanya seperti itu. Antara para istri akan sama-sama bersaing memberikan pelayanan terbaik untuk mendapatkan hati suaminya.
Pagi ini persaingan itu dimulai. Aku sudah menyiapkan menu sarapan kesukaan mas Ilham. Nasi sup lengkap dengan kerupuk merahnya. Ini menu favorit yang aku tahu dari ibu. Sebenarnya aku bersyukur bisa dekat dengan mertua sebab bisa tahu banyak hal tentang suamiku meski kami batu saling mengenal.
"Apa itu?" tanya mbak Ayu. Ia menatap aneh makanan yang kini aku hidangkan di meja makan.
"Lho, mbak nggak tahu? Inikan menu favorit mas Ilham." ujarku.
"Favorit? Oh, kamu tahu darimana?"
"Ibu." jawbaku. "Ngomong-ngomong, kemana mas Ilham? Jam segini kenapa belum turun juga, mbak?"
"Hah, oh. Kamu tunggu saja. Mungkin lagi siap-siap." mbak Ayu tersenyum. Sementara itu ia pamit pergi, mengantarkan anak-anak terlebih dahulu sebelum bertemu kliennya.
***
Sudah pukul delapan pagi. Satu setengah jam sudah aku menunggu mas Ilham. Belum ada tanda-tanda ia akan turun. Rasanya sangat bosan sekali. Perutku juga mulai keroncongan sebab belum sarapan. Tapi aku memutuskan tetap menunggu sebab aku ingin sarapan bersama mas Ilham dengan menu kesukaannya.
__ADS_1
"Ibu makan saja dulu, nanti maghnya kambuh lho." kata mbok Asih, yang baru selesai berbelanja. Memang tiap sekali sepekan, mbok Asih keluar ke pasar tradisional untuk berbelanja kebutuhan keluarga ini. Sebenarnya tadi pagi aku ingin ikut, tapi karena ingat membuatkan sarapan untuk mas Ilham, akhirnya aku mengurungkan diri untuk ikut.
Benar saja apa yang dikatakan oleh mbok Asih. Kini perutku terasa tidak nyaman. Rasanya sangat mual sekali.. perasaan yang agak berbeda dengan biasanya kalau penyakit lambungku kambuh, tapi tetap saja sama tidak nyamannya.
"Hoek," akhirnya aku muntah-muntah juga. Mbok Asih sampai harus menuntun ke kamar mandi sebab tubuhku rasanya sangat lemas.
"Ibu sarapan dulu ya. Saya buatkan teh hangat." tawar mbok Asih.
"Buatkan teh hangat saja kalau boleh mbok." kataku.
"Terus mau sarapan jam berapa Bu?"
"Nanti nunggu mas Ilham dulu."
"Duh Bu, kenapa ngga ke kamar bapak saja. Dari pada nunggu di sini."
Segera saja aku ke atas, menuju kamar utama. Di depan pintu kamar, aku mengetuk pintu perlahan. Memanggil nama mas Ilham. Beberapa menit menunggu tak juga ada sahutan, bahkan ketika suara ketukan agak ku keraskan.
"Duh, mas Ilham kemana sih? Kok dipanggil-panggil nggak nyahut. Masa jam segini masih tidur?" aku masih menerka-nerka. Tak ingin dipenuhi oleh banyak pertanyaan, akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan pesan padanya karena tak mungkin menerobos masuk ke dalam. Bisa-bisa nanti malah jadi masalah baru.
[Mas dimana? Kok nggak keluar kamar juga? Aku udah nunggu di meja makan sejak tadi. Aku masakin menu favorit mas lho. Nasi sup dengan kerupuk merah. Ayo buruan keluar, aku tunggu. Aku juga belum sarapan nih, maghnya sudah nggak nyaman.] pesan kukirim.
[Lho, Mil. Ayu nggak bilang sama kamu kalau saya sudah berangkat sejak ba'da Subuh. Saya harus ke Bogor karena ada rapat pengurus untuk penentuan ketua yayasan.] balas mas Ilham.
Apa? Mas Ilham ke luar kota dan mbak Ayu tahu tapi ia tak memberitahu aku. Malah berpura-pura seolah-olah mas Ilham masih ada di kamar.
__ADS_1
Sebenarnya, harusnya aku curiga saat mbak Ayu melepas aku menunggu mas Ilham begitu saja setelah persaingan antara kami dimulai sebab setelah itu mbak Ayu benar-benar berusaha keras bahkan sampai mengarahkan anak-anaknya agar perhatian mas Ilham tak pernah tertuju padaku.
[Mil ... jadi kamu belum sarapan?] pesan kedua dari mas Ilham.
[Belum mas, saya kira mas di kamar, makanya saya tungguin mas dari tadi.] balasku.
[Ya ampun. Kamu nggak perlu melakukan semua itu. Kalau sudah masuk jam makan atau sudah lapar ya makan dulu saja..tidak perlu menunggu saya segala.]
Aku tak membalas pesan terakhir mas Ilham, segera berlalu menuju kamar. Melempar Hp kenatas kasur, lalu ikut menyusul.
Rasanya kecewa sekali. Sehingga mengalahkan rasa lapar yang sempat ku rasakan tadi. Selera makan langsung hilang saat tahu mas Ilham tidak bisa sarapan bersamaku.
Alih-alih menyalahkan mbak Ayu yang sengaja menyembunyikan kepergian mas Ilham, aku justru menyalahkan mas Ilham sendiri yang tak pamit padaku. Aku mengerti ia pergi pagi-pagi, tapi tak ada salahnya ia mengabari lewat pesan. Toh aku sekarang juga istrinya. Diam-diam, tanpa aku sadari, ada rasa cemburu muncul di hati. Aku merasa tak dianggap.
***
"Maafin saya Mil.. bukannya saya tidak menghargai kamu sebagai istri, tapi ...." mas Ilham membujuk agar aku tak lagi marah padanya. Begitu pulang dari Bogor, ia langsung menghampiri aku yang seharian mengurung diri di kamar.
Tadi, aku memang langsung menyampaikan kekecewaan yang aku rasakan pada mas Ilham. Ia sudah beberapa kali mengirim pesan permohonan maaf, tapi tidak ku balas satupun juga. Bahkan mas Ilham mencoba menelepon, lagi-lagi teleponnya tidak ku angkat.
"Mil, sungguh, jangan diam begini. Saya benar-benar tidak sanggup didiamkan oleh kamu." ia masih mengemis permohonan maaf. "Saya harus melakukan apa agar kamu mau memaafkan?
"Janji mas akan memenuhinya?" tanyaku.
"Memang kamu mau minta apa? Jangan meminta sesuatu yang dilarang syariat ya Mil. Saya mohon." pintanya, sembari menautkan kedua tangan di depan.
__ADS_1
"Tergantung!" Jawabku, sambil tersenyum penuh kemenangan.