
Mimpikah ini? Meski selama ini aku selalu berdoa agar suatu hari bisa menemukan pelaku tabrak lari bang Hasan, tapi entah kenapa, saat ini aku begitu berharap pengakuan mbak Ayu adalah sebuah mimpi atau ia sedang membohongiku, seperti yang beberapa waktu lalu pernah ia lakukan padaku. Tapi, melihatnya dengan linangan air mata membuatku gemetaran, aku tak tahu harus mengatakan apa, hanya kepala ini yang menggeleng, tanda tak ingin mendengar kelanjutan ceritanya, aku belum siap. Namun mbak Ayu memilih untuk menuntaskan semua rahasianya saat ini juga agar beban yang ditanggung selama ini hilang, namun ia malah memberikan beban ke pundakku. Beban yang secara spontan memporak-porandakan hatiku.
Waktu itu, ia sengaja datang ke Sumatera Barat untuk menemui mas Ilham yang lebih dulu menyusul ibu. Kala itu mbak Ayu sedang kalut karena sempat terjadi pertengkaran antara mereka, kepergian mas Ilham pun tanpa pamit. Berhari-hari mbak Ayu menanti kepulangan mas Ilham, tapi memasuki hari ketiga ia tak juga pulang, kabarpun tak ada.
Mbak Ayu meminta bantuan Uni Dewi. Berdua mereka menjelajah kampung halamanku karena menurut berita mas Ilham menyusul ibu yang mengunjungi keluarganya di kampungku. Ketika bertemu, bukannya menerima kehadiran mbak Ayu, mas Ilham malah mengabaikan, bahkan ia menyuruh mbak Ayu kembali ke Jakarta. Tentu saja mbak Ayu emosi, ia mengendarai mobil menuju hotel dengan ugal-ugalan hingga menabrak bang Hasan. Melihat kondisi bang Hasan yang cukup parah membuat nyali mbak Ayu ciut, ia memutuskan untuk kabur meski uni Dewi sudah menyarankan membawa bang Hasan ke rumah sakit sebab uni Dewi juga mengenal ayahnya Yumna. Tapi mbak Ayu menolak dengan alasan ia tak siap menghadapi masalah yang batu.
Usai melakukan tabrak lari, mbak Ayu yang semula ingin bertahan di Padang terpaksa kembali ke Jakarta karena ia takut. Sebelum pergi, Mbak Ayu meminta Uni Dewi untuk tutup mulut dan tak pernah menceritakan masalah ini pada siapapun.
Namun, perasaan bersalah terus menghantui Mbak Ayu. Ditambah masalah rumah tangganya yang semakin rumit, juga isi menikah untuk kedua kalinya yang terus digaung-gaungkan teman-teman pengurus yayasan hingga membuat mbak Ayu memutuskan menjodohkan aku dengan suaminya. Selain sebagai bentuk tanggung jawab karena sudah menghilangkan nyawa suamiku, juga supaya mas Ilham tak beralih ke lain hati sebab mbak Ayu menilai aku jauh di bawahnya. Baik dari segi pendidikan hingga perekonomian.
"Ya Allah ... jadi uni Dewi juga tahu?" aku semakin kecewa dengan kenyataan ini, pantas saja ia yang paling bersemangat membujukku agar mau menerima lamaran yang diajukan mbak Ayu. Ternyata ia juga menyimpan perasaan bersalah. "Tega kalian!" kataku. Tak bisa ku bayangkan bagaimana bang Hasan kala itu meregang nyawa usai menahan rasa sakit di jalanan. Tetapi pelakunya malah pergi meninggalkan dirinya sendiri padahal mereka mampu untuk menolongnya.
"Mila, aku benar-benar menyesal. Kala itu aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku benar-benar egois. Tapi aku menyesalinya, Mil. Makanya aku mencari tahu tentang keluarga kalian. Begitu tahu ia mempunyai istri dan anak, aku berusaha mencari cara untuk menolong kalian meski aku tak tahu bagaimana caranya." kata mbak Ayu. "Satu-satunya cara yang masuk akal adalah menikahkan kamu dengan mas Ilham."
"Mbak kira dengan berbagi suami maka mbak bisa mengganti bang Hasan yang sudah mbak tabrak? Enggak mbak. Bang Hasan itu tak akan tergantikan. Apalagi untuk Yumna!" aku meradang.
"Maafkan aku Mil,"
"Maaf saja tak akan bisa menghapus semua kesalahannya mbak!"
__ADS_1
"Kalau begitu laporkan aku ke polisi, Mil, agar aku bisa mempertanggungjawabkan perbuatanku."
"Ya Allah .... Aaaaaaa!" Aku berteriak sekencang mungkin. Rasanya kepalaku ditimpa oleh batu yang teramat besar. Entah sikap seperti apa yang harus aku pilih untuk menghadapi semua ini. Aku benar-benar kecewa dengan kenyataan ini.
Kenapa semuanya begitu rumit? Kenapa juga mbak Ayu baru memberitahu semuanya sekarang. Saat aku sudah begitu menyayangi semua anggota keluarga ini, saat aku sudah mengandung anaknya mas Ilham.
Aku tak tahu harus mengambil sikap seperti apa. Saat ini mbak Ayu sedang sakit parah, entah berapa lama waktu yang ia miliki. Di sisa waktu itu, apakah aku bisa memenjarakannya, memisahkan ia dari anak-anaknya, padahal kebersamaan mereka tak akan lama.
Tetapi aku juga tak bisa diam saja sebab hatiku belum bisa menerima. Aku juga tak bisa melihat Yumna saat ini. Ia pasti akan sangat kecewa jika suatu saat nanti mengetahui semuanya..begitu juga dengan emak, bang Hasan adalah satu-satunya anak yang ia miliki. Harapannya di hari tua. Tapi mbak Ayu sudah membuat emak dan Yumna kehilangan bang Hasan.
"Lalu bagaimana dengan Yumna dan ibunya bang Hasan? Siapa yang akan mbak jadikan pengganti ayah dan anak mereka? Ayo jawab, mbak!" kataku.
"Iya. Kenapa jugabharus teriak-teriak seperti di hutan saja. Apalagi Umi sedang sakit." Iqbal menggerutu.
"Saya ingin kembali ke kampung." Kataku.
"Ke kampung? Kenapa Mil?"
"Pulang sekarang!" kataku dengan suara tegas sehingga membuat semuanya kaget.
__ADS_1
"Astagfirullah, bicara yang sopan dong!" Iqbal makin nyolot.
"Bal," tegur mbak Ayu. "Mas, tolong antarkan Mila pulang ya." pinta mbak Ayu.
"Tapi kenapa Yu? Kenapa Mila tiba-tiba minta pulang? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya mas Ilham.
"Enggak usah diantar. Saya pulang berdua dengan Yumna." kataku. Aku bergegas kembali ke kamar, mengebas pakaian yang tak seberapa, lalu mempersiapkan Yumna.
"Mi, kenapa kita pulang? Umi bertengkar lagi dengan umi Ayu?" tanya Yumna.
"Na, maafkan Umi. Tapi kita tak bisa tinggal di sini. Mulai sekarang kita akan memulai hidup baru di kampung bersama kakek dan nenek." rasanya akan sangat berdosa sekali jika aku menikmati kehidupan di sini sementara suamiku tak mendapatkan keadilan atas kecelakaan yang menimpanya.
"Mi?"
"Sudah yuk, kita pulang!" Kataku, sambil menggandeng tangan Yumna.
***
Langit berwarna mendung saat pesawat sudah berada di atas. Sesekali terjadi gesekan cukup keras sehingga membuat pesawat agak oleng, tapi semuanya bisa teratasi oleh pilot hingga kami mendarat di bandara Minangkabau.
__ADS_1
Kali ini, entah alasan apa yang harus ku berikan pada ayah dan ibu atas kepulangan ku yang tak akan pernah kembali lagi ke sana. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri, makanya ku putuskan untuk tak langsung kembali ke kampung, melainkan menginap dulu di hotel untuk beberapa malam hingga aku benar-benar tenang.