MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
PENOLAKAN


__ADS_3

Entah apa yang ada di pikiran mbak Ayu. Aku benar-benar kehabisan kata-kata untuk bicara dengannya. Tapi yang jelas, aku sudah bertekad dan akan berusaha untuk semaksimal mungkin memperbaiki semua ketidak benaran dalam rumah ini, terutama yang diperbuat oleh mbak Ayu. Semuanya semata-mata demi anak-anak. Meskipun mereka belum bisa bersikap baik padaku, tapi aku bisa merasakan perasaan mereka yang juga berantakan karena ulah ibunya.


Sore ini, sepulang berbelanja kebutuhan rumah tangga yang kini jadi tugas rutin bulananku diantar mas Ilham, tiba-tiba di rumah sudah ada mbak Sita. Mbak Ayu yang mengundangnya untuk makan malam bersama kami. Dari bahasa tubuhnya, aku meyakini mbak Sita juga menginginkan pernikahan ini, entah apa penyebabnya, padahal ia cantik, cerdas dan kaya raya. Pasti banyak laki-laki yang ingin jadi pendamping hidupnya.


Mbak Sita membawa banyak oleh-oleh untuk anak-anak. Tapi sikap mereka sama dinginnya saat aku datang ke rumah ini. Ku harap anak-anak tidak trauma karena ulah ibunya.


"Bagaimana mas, senang tidak bisa kembali bertemu dengan Sita? Dia sengaja pulang kembali ke Indonesia hanya untuk ketemu, mas lho!" Ungkap mbak Ayu.


"Oh ya?" mas Ilham menganggukkan kepalanya. "Kalian silakan lanjutkan ngobrolnya, saya harus ke atas dulu." Mas Ilham pamit ke kamarnya dengan alasan ingin memeriksa pekerjaan. Melihat antusias mas Ilham yang biasa saja, tentu saja mengukir kekecewaan di wajah mbak Ayu dan mbak Sita. Aku hanya tersenyum kecil sembari geleng-geleng kepala.


Acara makan malam ini benar-benar terjadi. Mbak Ayu sampai memesan menu spesial dari restoran terkenal yang jadi langganannya ketika menjamu tamu-tamu penting. Kembali, kami disuguhi dengan pemandangan dimana mbak Ayu berusaha begitu maksimal untuk mengakrabkan kembali mbak Sita dengan mas Ilham. Aku tak habis pikir, bagaimana mbak Ayu bisa begitu cemburu padaku, tapi dia malah mendatangkan rival baru, yaitu mbak Sita. Kalau harapannya bisa menyingkirkan aku dengan kehadiran mbak Sita, apa ia tak berpikir kelak juga harus melakukan hal yang sama pada mbak Sita yang digadang-gadang olehnya bisa merebut hati mas Ilham karena pernah memiliki posisi istimewa.

__ADS_1


"Sebenarnya apa maksud semua ini?" Pertanyaan mas Ilham yang sepertinya menyadari ada maksud terselubung dari acara makan malam ini.


"Kenapa, mas? Aku hanya ingin menyambut kepulangan Sita dan sekaligus sebagai kejutan untuk mas sebab aku dan Sita punya rencana." tutur mbak Ayu. Pelan-pelan ia menjelaskan pada mas Ilham tentang rencana pernikahan ketiga mas Ilham yang sudah disetujui mbak Sita sebagai calon istri ketiganya.


"Apa? Saya nggak salah dengar, kan? Sita, apa itu benar?" mas Ilham minta penjelasan dari mereka berdua.


"Ya mas. Itu semua benar. Sebenarnya aku yang menghubungi Sita beberapa waktu lalu, menawarkan padanya untuk menjadi istri ketiga mas sebab aku tahu dahulu mas memiliki perasaan pada Sita. Siapa sangka, ternyata gayujg bersambut. Sita pun sama seperti mas, hanya saja dahulu ia ingin fokus pada karir dan pendidikannya. Makanya sekarang aku berniat menjadi penghubung antara kalian berdua. Lagipula, jika mas terpilih jadi ketua yayasan nanti, mas pasti membutuhkan pendamping yang cerdas dan aku yakin posisi itu sangat tepat di duduki oleh Sita!" ungkap mbak Ayu, tentu saja dengan diselipi sindiran terhadapku yang tak berpendidikan.


"Sebelumnya saya minta maaf Sita atas kelancangan istri saya sebab semua rencana ini tak pernah dibicarakan sebelumnya oleh Ayu. Ia yang merancang sendiri semuanya." kata mas Ilham.


"Bukan begitu Sita, tapi, sejujurnya saya tak punya niat untuk menikah lagi. Cukup dua saja. Itupun rumah tangga kami masih banyak kekurangan. Kami benar-benar masih belajar," jelas mas Ilham.

__ADS_1


"Tidak apa-apa mas, saya paham kok. Saya malah senang sekali jika diajak ikut belajar bersama dengan kalian bertiga," sambung mbak Sita. "Sudah lama sebenarnya saya ingin sekali mengajukan diri menjadi madu untuk Ayu. Tapi saya tak berani, takut menyakiti perasaannya, makanya saya putuskan untuk menyimpan semuanya dalam diam dan menyibukkan diri saya dengan segala urusan kantor. Siapa sangka, ternyata Allah jawab doa-doa saya, tiba-tiba ia menghubungi saya dan mengajukan tawaran yang telah lama menjadi impian saya. Mungkinkah itu petunjuk dari Allah? Wallahu a'lam."


"Tapi maaf Sita, saya benar-benar tidak siap untuk menikah lagi. Mungkin tidak untuk selamanya." ucap mas Ilham dengan tegas.


"Kenapa mas? Bukankah Sita adalah perempuan yang pernah mas sukai. Ia juga sosok yang tepat untuk jadi pendamping mas. Ia akan jadi partner yang tepat untuk memajukan yayasan nantinya." ucap mbak Ayu. "Latar belakang pendidikan serta pengalaman-pengalaman Sita akan membawa mas dan keluarga kita menggapai semua mimpi-mimpi yang sudah lama kita idam-idamkan."


"Kan sudah saya katakan kalau saya tak ingin menikah lagi. Tolong jangan memaksakan kehendak kamu seperti sebelumnya, Yu. Nanti malah kamu menyesal sendiri. Jangan menambah masalah lagi. Bisa, kan? Lagipula kenapa kamu bisa ceroboh memutuskan semuanya sendiri tanpa bicara dengan saya terlebih dahulu? Kamu kira menikah itu perkara mudah?" mas Ilham mengintrogasi mbak Ayu.


"Mas, niatku itu baik. Aku hanya ingin membantu mas mewujudkan mimpi mas. Kenapa mas nggak memahaminya? Lihatlah Sita, ia orang yang tepat untuk menjadi istri ketiga, mas." mbak Ayu kehabisan kata-kata, merasa bahwa usahanya tak akan membuahkan hasil.


"Mas Ilham ... tolong, jangan tolak saya sebab saya sangat berharap bisa ikut berjuang di sisi mas demi mewujudkan apa yang kalian harapkan. InshaAllah saya siap menjadi istri seperti apa yang mas harapkan. Ayu sudah memberikan gambaran besar tentang visi misi keluarga kalian dan sejauh ini semuanya sesuai dengan apa yang saya harap-harapkan. Lagipula kita sudah saling mengenal sebelumnya jadi ...." belum selesai m ak Sita melanjutkan pembicaraannya, kuputuskan untuk menghentikan pembicaraannya.

__ADS_1


"Maaf mbak jika saya lancang memotong pembicaraan mbak, tapi alangkah baiknya membicarakan masalah ini secara pribadi saja." Kataku, sambil memberikan isyarat pada mereka bahwa ada beberapa pasang mata anak-anak yang ikut menyimak pembicaraan mereka dan dari gerak tubuhnya terlihat betul kalau mereka gelisah, tak nyaman dengan pembahasan masalah ini. Sayangnya, orang-orang yang harusnya melindungi mereka justru tak peka dengan ini semua hingga membuatku harus turun tangan, ikut campur urusan mereka.


Mbak Ayu dan mbak Sita terlihat kesal ketika aku menghentikan pembicaraan mereka. Sementara mas Ilham berdehem, menyetujui apa yang aku katakan barusan.


__ADS_2