
"Apa Mila?" mas Ilham menatapku tanpa kedip, terlihat betul bahwa ia begitu penasaran.
Ini saatnya membalas mbak Ayu. Pikirku. Lagipula aku juga punya hak yang sama dan kurasa ini bukan bagian dari menzolimi mbak Ayu. Makanya ku sampaikan keinginanku pada mas Ilham.
"Astaghfirullah, saya kira kamu mau minta apa, Mil. Saya benar-benar deg-degan. Sampai panas dingin menantunya." ujar mas Ilham.
"Memang mas kira saya mau minta apa?" tanyaku, sambil mengerutkan kening. Mencoba menebak isi pikiran suamiku.
"Enggak." ia tersenyum. "Tapi tumben kamu minta ditemani malam ini, kamu tidak ...?"
"Apa?" Aku langsung membelalakkan mata pada mas Ilham, khawatir ia berpikir tidak-tidak..apalagi diikuti oleh tawanya. Oh, berarti dugaanku tadi jangan-janhan benar, ia mengira aku berpikiran yang tidak-tidak.
"Benar kamu mau saya tidur di sini malam ini? Nanti malah nyesal lalu menyuruh saya kembali ke kamar Ayu seperti dulu itu. Ingat lho, saya tidak mau ditolak dua kali!"
"Kali ini saya nggak akan mengusir mas, janji!"
"Kamu nggak kasihan sama Ayu kalau malam ini ia kerepotan ngurusin Ibed?"
"Memang mas pernah ikut ngurus Ibed?"
Mas Ilham geleng-geleng kepala. Aku memang ingat ia pernah mengatakannya saat akan menginap bersamaku, tapi aku menyuruhnya ke tempat mbak Ayu sebab khawatir mbak Ayu butuh teman mengurus Ibed.
"Ya sudah, kalau begitu malam ini tidurlah di sini." pintaku.
__ADS_1
"Baiklah istriku tercinta, bidadariku. Malam ini saya milik kamu!" ucapnya, sembari mengecup keningku.
"Ehhh, jangan mikir yang macam-macam karena nggak akan terjadi hal-hal yang tidak-tidak!" tegasku.
Saat mas Ilham mencandaiku, tiba-tiba Pintu kamarku di ketuk. Rupanya Sabrina, ia disuruh mbak Ayu untuk memanggil ayahnya agar segera ke kamar. Mbak Ayu memakai alasan kalau Ibed rewel. Suatu alasan yang selalu jadi andalan agar mas Ilham segera menemuinya..padahal sebenarnya Ibed tak benar-benar rewel. Entahlah, untuk malam ini aku tak ingin terlalu peduli padanya sebab masih kesal usai dikerjai mbak Ayu kemarin.
"Saya ke tempat ayu dulu, setelah itu langsung ke sini lagi." Pamit mas Ilham.
"Baik. Tapi nggak boleh lama-lama. Kalau mas datangnya lama, pintunya akan saya kunci dan saya nggak akan memaafkan mas!" aku menegaskan.
***
Permintaan yang ku ajukan pada mas Ilham ternyata dinilai lancang oleh mbak Ayu. Ia bahkan sangat marah, padahal itu juga hakku sebagai istri kedua mas Ilham.
"Kamu nggak mikir bagaimana perasaan anak-anak kami dengan mengajak suamiku untuk menginap di kamarmu. Kamu tahu kan kalau Iqbal, Asad dan Hana itu sudah beranjak remaja, mereka terguncang sekali saat tahu ayahnya bersama dengan kamu!" bentak mbak Ayu.
"Mila ... jangan pernah meminta maa Ilham untuk menginap di kamar kamu lagi, atau ...."
"Atau apa, mbak?"
"Kamu masih punya hati, kan?"
Mbak Ayu terus mengancam, memaksa agar aku tak lagi dekat-dekat dengan mas Ilham dengan memakai anaknya sebagai alasan.
__ADS_1
"Harusnya mbak tahu, itu resiko kalau kita tinggal serumah. Mau tidak mau anak-anak memang harus tahu kalau mas Ilham bukan lagi hanya milik mbak, tapi ia juga suami saya!" kataku dengan tegas.
"Aku benar-benar nggak nyangka, perempuan kampung seperti kamu ternyata licik juga. Aku kira kamu berbeda, setidaknya kamu masih punya hati terhadap anak-anak yang belum tahu apa-apa. Ternyata kamu sama saja, sama-sama egoisnya seperti perempuan perusak rumah tangga orang lain!"
"Siapa yang merusak rumah tangga siapa, mbak? Mbak yang mengundang saya ke sini, jangan pernah lupakan itu. Sejujurnya saya sudah muak mendengar ocehan mbak yang hanya mutar-mutar di sana terus. Menjadikan anak-anak sebagai tameng padahal mbak tahu apa yang saya lakukan itu merupakan hak saya sebagian istri mas Ilham dan nggak ada yang berhak menghalanginya!"
Entah kenapa, akhirnya aku pun ikut terpancing. Tak mau lagi mengalah hingga perdebatan yang berujung pada perkelahian mulut pun terjadi.
"Duh Bu Ayu ... Bu Mila, tolong jangan bertengkar seperti ini. Anak-anak melihat lho!" pinta mbok Asih yang mencoba menengahi kami.
"Diam kamu mbok. Jangan ikut campur urusan kami. Lagipula kamu di sini kerja untuk aku, bukan untuk perempuan kampung ini. Jadi jangan sekali-kali mencoba membelanya atau aku akan memecat kamu!" Mbak Ayu mengancam mbok Asih.
"Mbak nggak perlu marah-marah begitu pada mbok Asih," aku semakin kesal dengan sikap tidak sopan mbak Ayu. Tapi ia masih tetap merasa paling berkuasa sebab ini adalah rumahnya, makanya bisa berbuat seenaknya pada siapapun di sini. Apalagi status kami memang di bawahnya secara perekonomian.
Berdebat dengan mbak Ayu benar-benar menguras energi ku. Badan ini rasanya sangat lemas. Makanya ku putuskan untuk mengakhiri. Toh selama kami tak sama-sama bisa menerima antara kedua belah pihak, yang ada akan tetap seperti ini. Jadi perdebatan yang tak akan menemui jalan keluarnya.
"Maaf mbak, saya sudah tidak tertarik berdebat dengan mbak lagi. Saya pamit mau istirahat ke kamar." kataku.
"Mau kemana kamu? Jangan pergi dulu! Kamu kan sudah janji akan mengikuti semua kata-kataku!" Mbak Ayu mencoba mencegat langkahku. Ia sepertinya belum puas, masih tetap ingin memaksakan kehendaknya meski sudah ku katakan Dengan tegas bahwa aku gak akan mengikuti keinginannya itu sebab apa yang aku minta pada mas Ilham adalah hakku tanpa melanggar norma apapun. "Mila!" mbak Ayu tetap tak ingin menyerah begitu saja, ia bahkan mencekal lengan kiriku hingga aku kesulitan berjalan.
"Mbak, apa-apaan sih. Lepaskan saya." pintaku. Rasanya badanku sudah semakin lemas. Aku tak bisa lagi menopang badan ini hingga jatuh ke lantai meski masih sadar, tapi rasanya kepalaku benar-benar berputar seperti ingin runtuh.
"Bu Mila!" terdengar suara teriakan mbok Asih. Sepertinya ia yang menopang agar tubuhku tak ambruk begitu saja.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Mila! Jangan pura-pura deh, kamu sengaja pura-pura mau pingsan supaya bisa kabur dari aku, kan?" tuduh mbak Ayu dengan suara agak keras.
Aku tak bisa menjawab lagi. Hanya bisa mendengar suara-suara dari mbak Ayu dan anak-anaknya yang saling berdebat. Sementara mbok Asih berusaha membuatku agar tetap tersadar dengan mengusap-usap kening serta memijit lengan dan jemariku.