
Mungkin aku sedang futur. Makanya sangat sensitif sekali. Kondisi hamil, tengah jauh dari anak, ditambah tak sengaja mendengar pembicaraan mbak Ayu dengan teman-temannya tentang sandiwaranya menerimaku, membuatku kecil hati bahwa aku bisa bertahan di sini, semnetara sudah terlanjur hamil anak mas Ilham. Makanya, untuk menyerah dan kembali ke kampung halaman seperti apa yang dikatakan ibu, rasanya hanya akan menambah masalah baru. Mas Ilham tak mungkin melepasku begitu saja, kalaupun ia bersedia, tapi tidak dengan calon bayinya. Bisa-bisa aku berkumpul dengan Yumna, tapi terpisah dengan calon adiknya. Sama saja jadi masalah berat untukku.
Sudah tiga hari Yumna menghindari aku. Setiap ku telepon, ia enggan menjawab. Selalu saja dikembalikan pada kakek atau neneknya. Kata ibu, Yumna sekarang berubah drastis. Ia jadi pendiam, kalau malam, tidurnya selalu mengigau. Dua kali ibu pernah memvideokan. Ia menangis begitu menyayat hati, memanggil-manggil Umi dan Abinya. Melihat dan mendengar itu, hancur hatiku.
"Siapa itu?" tiba-tiba, Hana sudah berdiri di belakangku. Ia mengintip ke arah Hp yang ku pegang.
Aku langsung mematikan video Yumna yang tengah mengigau. Kemudian menghapus sisa air mata. Aku benar-benar tak tahu kalau ada Hana di sana. Kedatangannya benar-benar tidak ku sadari..ku kira, aku hanya sendirian di taman belakang rumah, makanya berani melihat video putriku.
"Itu ... anak tante?" tanya Hana. Ia makin mendekat. "Siapa namanya?"
"Yumna." jawabku.
"Usianya?"
"Lima tahun."
"Masih kecil. Kenapa ditinggal? Dia pasti rindu uminya."
"Saya pun juga rindu dia."
"Kenapa tak dijemput saja?"
Andai semudah itu, aku pasti menjemputnya sekarang. Tapi, bagaimana kalau ia juga jadi sasaran kebencian mereka? Hatiku yang masih sensitif ingin melampiaskan kekesalan yang aku rasakan pada Hana karena ia salah satu anak yang juga menolak kehadiranku mentah-mentah. Ia bahkan mengatakan hal yang tidak sopan padaku, yang aku sendiri tak siap jika Yumna harus mendengarnya.
__ADS_1
Yumna, adalah segala-galanya bagiku. Sebagia ibu, aku tak akan bisa sabar jika nanti putriku harus tersakiti. Itulah kenapa aku belum bisa membawanya ke sini.
"Kok nggak dijawa?" Hana duduk di sampingku.
"Apa Hana akan bersikap baik kalau ia ada di sini?" tanyaku.
Hana diam. Ia memainkan jemarinya.
"Ia adalah putri satu-satunya yang saya miliki. Saya sangat menyayanginya. Kalau ada yang menyakitinya, saya pun akan merasakan sakit yang bahkan berkali lipat dari rasa sakit yang ia rasakan. Putri saya sudah tak punya ayah, meninggal beberapa waktu lalu. Saya tak ingin menambah luka di hatinya. Makanya saya memilih berada jauh darinya meski taruhannya adalah kami berdua sama-sama menahan rindu yang sangat dalam." aku tak peduli Hana mengerti atau tidak, tapi yang jelas, aku hanya ingin menumpahkan kesedihanku. "Sekarang pergilah, biarkan saya sendiri." pintaku. Membiarkannya sendiri di sini, aku khawatir akan banyak sampah yang keluar dari lisanku hingga ia bisa tersakiti.
Dalam kondisi labil seperti ini, sebaiknya menjauh dari mereka. Sendiri hingga kondisi hatiku kembali membaik.
"Apa Tante marah sama kami?" tanya Hana.
"Kami hanya tidak ingin kehilangan Abi, kebanyakan anak-anak yang ayahnya dicuri perempuan pencuri bersikap kasar pada perempuan ayahnya."
"Kalian tak akan kehilangan Abi kalian. Ia tak akan kemana-mana. Ia selalu di sini. Tapi kenapa masih membenci saya? Ditambah kamu ikut berbohong. Itu sama saja kamu menyakiti Abimu dan ikut membantu agar kedua orang tuamu berpisah. Bukan saya yang membuat mas Ilham ingin pergi dari sisi mbak Ayu, tapi sikapnya sendiri! Lagipula siapa yang mencuri siapa? Kamu bicara sudah terlalu jauh, Hana."
"Kata Umi begitu adalah cara agar Tante pergi dari Abi. Umi juga bilang, Tante adalah pencuri yang akan mengambil Abi."
Aku tersenyum. Miris. Dugaanku benar, mbak Ayu yang memprovokasi anak-anaknya untuk membenciku. Padahal ia juga yang membawaku ke sini. "Tapi yang terjadi sebaliknya, kan? Abi kalian malah marah dan hendak pergi karena tidak suka kamu berbohong, Hana. Bukan karena saya, kan? Kalau kamu tidak percaya, silakan tanyakan Abimu." Aku menantangnya.
"Ya. Tapi ..
__ADS_1
"Apakah sejak pertama datang saya sudah bersikap jahat sehingga kalian juga membalas dengan sikap jahat? Enggak, kan? Sejak awal saya berusaha bersikap baik pada kalian karena saya benar-benar ingin jadi keluarga kalian! Saya juga punya anak, saya tak akan sejahat itu. Harusnya kalian memberi kesempatan pada saya, kalau tuduhan kalian terbukti, silakan lakukan hal buruk pada saya dengan memusuhi seperti yang biasa kalian lakukan."
"Tapi ... kenapa Tante harus masuk dalam keluarga kami? Kenapa Tante harus menikah dengan Abi, padahal kami masih punya umi! Kami kan tidak butuh Umi yang lain!"
"Tapi Umi kalian yang datang kepada saya, meminta saya menikah dengan Abi kalian. Tapi, begitu sampai sini, ia juga yang mengajari kalian untuk membenciku. Jadi, siapa sebenarnya yang jahat? Harusnya kamu tanyakan semua itu pada mbak Ayu. Ialah yang bertanggung jawab untuk semua ini! Kamu dan saya, kita sama-sama korban ibumu."
"Tante ... bisakah Tante memaafkan Umi?"
Aku tak tahu harus menjawab apa. Kekecewaan yang dibuat ibunya sudah terlalu dalam, namun aku juga sulit untuk membencinya hingga aku tak tahu harus menentukan sikap seperti apa. Makanya aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri.
"Kamu nggak ngerti rasanya jauh dari anak," kataku.
"Pasti rindu. Kami pernah jauh dari Umi saat Umi dirawat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri. Sekarang pun sebenarnya Hana rindu Umi. Lebih rindu dibandingkan saat Umi di rawat di rumah sakit karena meski sekarang Umi ada di sini, tapi Umi nggak pernah sayang lagi sama Hana. Umi hanya membicarakan Abi, setiap Hana ingin cerita, Umi selalu menolak untuk mendengarkan. Umi ...." Hana menundukkan kepalanya, tak lama aku mendengar Isak tangisnya.
Gadis kecil ini juga menyimpan luka. Aku bisa merasakan bahwa ia sedang tak baik-baik saja. Ternyata masih ada banyak rahasia tentang mbak Ayu yang belum aku ketahui. Ia sempat mencoba bunuh diri? Ya Tuhan, apakah begitu besar rasa cintanya pada mas Ilham hingga ia mengorbankan banyak kebahagiaan yang lainnya.
"Hana," kataku. "Kamu mau peluk Tante?" tanyaku. "Tante rindu sekali dengan putri Tante, kamu sendiri rindu pada umimu. Ayo, kemarilah. Kalau kamu mau kamu bisa ...." Aku tak sampai hati melanjutkan, takut ia salah paham.
"Bolehkah Hana menganggap Tante seperti ibu Hana?" ia menatapku.
Aku mengangguk. Hana langsung menghambur dalam pelukanku. Ia memelukku erat sembari menangis.
"Sudah lama Hana nggak dipeluk Umi, dipeluk Umi Mila mengobati rindu Hana pada Umi Ayu." katanya.
__ADS_1