MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
HANA DAN PENYESALANNYA


__ADS_3

"Apakah Hana anak durhaka?" tanya gadis kecil itu, sembari menghapus kasar air mata yang masih deras tumpah membasahi pipinya.


"Kenapa bicara begitu?" tanyaku, sembari membelai lembut kepalanya.


"Umi ... Umi pergi. Itu karena Hana, kan?"


"Kata siapa? Itu tidak benar, sayang. Umi pergi mungkin karena ada sesuatu hal yang penting yang ...."


"Enggak Umi Mila. Umi pergi karena Hana. Umi sedih mendengar cerita Hana. Harusnya Hana tidak mengatakan semuanya pada Umi, harusnya Hana bisa menahan diri. Hana benar-benar anak yang durhaka. Hana anak yang jahat!"


"Maksudnya bagaimana, Hana?"


"Tadi Hana ke kamar Umi. Hana meminta Umi untuk mencegah Tante Sita agar tidak menikah dengan Abi sebab Hana sudah lelah dijadikan bahan cemoohan teman-teman di sekolah. Umi marah pada Hana, menganggap Hana lancang sudah mengatur-atur Umi. Tapi Hana tak bermaksud begitu, Hana hanya ingin Umi tau kalau Hana tidak nyaman dengan adanya ibu baru. Hana lelah melihat Umi dan Abi berkelahi terus. Hana ingin orang-orang di rumah ini berdamai dan bisa rukun seperti dulu lagi. Tapi ternyata apa yang Hana harapkan tak bisa diwujudkan. Umi malah pergi dari rumah. Sekarang harus bagaimana? Hana tak ingin kehilangan Umi, Hana takut Umi tak kembali. Hana sayang sama Umi." rengek Hana.


"Tenanglah sayang, sekarang biar Umi Mila bicara dengan Abi dulu ya. Kami akan berusaha supaya Umi Ayu bisa segera pulang


" janjiku pada gadis kecil itu.


"Terimakasih Umi, tolong temukan Umi dan bawa pulang. Hana mohon."


***


Sudah tiga jam aku dan mas Ilham berputar-putar mengelilingi kota Jakarta. Selain kami berdua, mas Ilham juga menyuruh Farid dan meminta tolong bu Sila untuk ikut mencari, namun hingga sekarang belum juga ada hasilnya. Sementara itu, pesan dan panggilan terus datang dari Hana, mempertanyakan hasil usaha kami.

__ADS_1


"Kasihan Hana, dia benar-benar merasa bersalah." kataku pada mas Ilham.


"Ini bukan salahnya. Ayu pergi karena merasa keinginannya tak terwujud, makanya ia memilih jalan seperti ini untuk menekan saya." Jawab mas Ilham.


"Mas!"


"Kenapa Mil?"


"Kalau mas mau masalah ini cepat selesai, tolong saling menghargai. Jangan hanya melihat sisi salahnya mbak Ayu. Memang benar kadang apa yang dilakukannya keterlaluan, tapi kita juga harus lihat alasan ia melakukan itu semua. Apa selama ini mas merasa sudah menjadi suami yang baik untuk mbak Ayu?"


Mas Ilham menghentikan mobil di pinggir jalan sesuai permintaanku. Semuanya harus dibicarakan kembali. Aku ingin ia benar-benar sungguh-sungguh memperbaiki semuanya. Bahwa perempuan itu juga terkadang rapuh, rentan melakukan kesalahan sebab mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, jadi wajar kalau butuh bimbingan dari laki-laki.


"Lalu saya harus bagaimana, Mil?" ia menceritakan kembali apa yang sudah terjadi pada rumah tangganya, serta hal-hal yang memicu terjadinya pertengkaran antara mereka. "Kamu tahu kan bagaimana menyebabkan kekacauan sekali ulah Ayu."


"Apakah semua kesalahannya sudah fatal dan tidak bisa dimaafkan oleh, mas? Sebelum mas menjawabnya, ingat juga bahwa mas dan mbak Ayu sudah punya lima orang anak." kataku.


"Sebenarnya masih bisa diperbaiki, tapi itu jika Ayu juga sungguh-sungguh mau berubah. Kamu lihat sendiri kan, bagaimana dia. Baru saja kita semua membuat perjanjian damai, tiba-tiba ia sudah punya rencana untuk menjodohkan saya dengan Sita. Hal yang membuat saya semakin kesal adalah ia bertindak tanpa bicara terlebih dahulu, lalu ia membahas masa lalu yang benar-benar sudah saya lupakan. Itu aib bagi saya, Mil, dan saya tidak suka ia membicarakannya di depan siapapun, apalagi di depan kamu!" tegas mas Ilham.


"Ya, saya mengerti mas. Tapi apa mas tak bisa memaafkan? Kita sama-sama tahu bahwa mbak Ayu punya masalah mental. Kalau mas mau semuanya membaik, kita perbaiki semuanya kembali dari awal dengan sama-sama sepakat tak akan mengungkit yang lalu-lalu. Bagaimana?"


Mas Ilham tak memberi jawaban. Ia masih terlihat kesal, tapi setelah aku mengungkit masalah anak-anak, terutama Hana yang terlihat tertekan, barulah ia menyetujuinya.


"Kita berdua sama-sama membantu mbak Ayu. Mas juga harus mulai untuk menunjukkan rasa sayang mas padanya. Bagaimana?"

__ADS_1


"Rasanya akan sulit, Mil, kami sudah banyak masalah. Bicara pun saya sudah malas."


"Ingatlah masa-masa awal pernikahan kalian. Ingat juga bagaimana bahagianya kalian saat Iqbal dan satu-persatu adik-adiknya lahir ke dunia. Bangkitkan kembali momen yang bisa membuat cinta mas bisa tumbuh pada mbak Ayu. Bisa, kan?"


"Saya akan mencobanya."


"Ingat mas, setidaknya lakukan ini demi anak-anak dan ingatlah bagaimana perjuangan mbak Ayu untuk membuat mas bahagia meski kadang cara yang ia tempuh salah. bisa juga ia melakukan kesalahan-kesalahan karena sikapnya mas yang terlalu dingin padanya."1"


"Ya, semoga saya bisa, Mil."


Ku harap ini kesalahan terakhir yang dibuat mbak Ayu.


***


Mobil memasuki halaman rumah. Belum sempurna berhenti, kami sudah bisa mendenfar suara teriakan dari dalam rumah. Pemiliknya adalah Iqbal dan Asad. Entah apa yang membuat dua anak itu berteriak-teriak.


Tak ingin terjadi sesuatu, aku dan mas Ilham melompat dari mana vik, berlari menuju rumah. Tak lama kami bisa melihat pemandangan yang benar-benar membuat emosi naik turun ketika Iqbal dan Asad bersama-sama memarahi Hana hingga matanya bengkak karena menangis. Di kiri kanan Hana ada Sabrina dan Yumna yang mencoba membela kakaknya.


"Kenapa dengan kalian berdua? Siapa yang mengizinkan kalian untuk memarahi adik kalian, hah?" tanya mas Ilham, tak kalah emosi sehingga aku perlu memberinya peringatan untuk bisa menahan amarah agar tak perlu lagi terjadi adegan marah-marah. "Masalah di keluarga kita sudah terlalu banyak, jadi tolong berisjao baiklah. Jangan tambah lagi dengan ulah kalian sebab Abi sudah benar-benar pusing menghadapi semuanya!" Tegas mas Ilham.


"Kalau Abi tak menikah lagi, semua ini tak akan terjadi." ucap Iqbal, dengan suara pelan namun terdengar jelas di telinga kami semua.


"Bal, Abi tak bisa menjelaskannya padamu sekarang karena kamu tak akan paham. Usiamu masih muda untuk mengerti semua ini. Tapi yang jelas tak ada yang salah dengan pernikahan Abi dan Umi Mila."

__ADS_1


"Lalu Abi mau bilang kalau yang salah itu Umi? Bi, Umi sudah berusaha keras untuk membahagiakan Abi tapi kenapa Abi tidak bisa juga memahami Umi dan membuatnya bahagia? Kenapa Bi?" teriak Iqbal.


__ADS_2