
Pagi-pagi sekali, usai salat Subuh, aku meminta izin mas Ilham untuk pergi ke rumah ibu ditemani oleh Yumna. Tak lupa aku membawa satu tas cukup besar berisi pakaian kami berdua karena memang tujuanku adalah untuk mengungsi untuk jangka waktu yang belum bisa aku tentukan.
Kami berdua diantar oleh Farid. Awalnya mas Ilham berat mengizinkan, tapi setelah ku bujuk, akhirnya ia menyerah juga. Ini demi kenyamanan kami berdua. Mbak Ayu masih masa menenangkan diri, tidak melihatku akan membuatnya lebih cepat memperbaiki hatinya.
Ini pertama kalinya aku datang ke rumah ibu mertua setelah hampir lima bulan menjadi menantunya. Sebenarnya sudah lama ibu mengajakku sekedar main atau menginap di rumahnya, tetaoi belum bisa terwujud karena mbak Ayu selalu punya cara untuk menghalangiku.
Rumah ibu sangat besar, tak kalah dengan rumah mbak Ayu. Bahkan rumah ini lebih hijau sebab tamannya ditumbuhi banyak tanaman hijau yang sangat menyenangkan di pandang oleh mata. Aku sangat yakin sekali ibu suka sekali dengan tanaman.
"Akhirnya kalian datang juga. Ibu senang sekali kalian mau main kemari. Apalagi sampai menginap. Semoga saja kalian betah dan mau menginap lebih lama agar rumah ini tak lagi sepi sebab sejak Ilham menikah hanya ibu dan pembantu yang mengisi rumah ini. Nyaris tanpa suara karena tak ada yang mau bercanda dengan ibu." keluh ibu.
"Ibu tenang saja, kami akan menginap lebih lama. Kalau perlu menetap, tapi kalau ibu izinkan." aku bergurau.
"Tentu saja boleh, Mil. Semalam saat kamu mengirimkan ibu pesan, ibu senang sekali, sampai susah tidur karena tak sabar menunggu pagi, menanti kedatangan kalian. Untungnya kalian datang pagi, kalau tidak mungkin ibu semakin gelisah menunggu kalian." ibu membawa kami masuk ke dalam rumah. Kami berjalan berjejer.
Rupanya ibu sudah menyiapkan semuanya untuk kedatangan kami. Selain menyediakan kamar yang sangat nyaman, ibu juga sudah memasakkan makanan khas Sumatera Barat yang menggugah selera. Kami bertiga sarapan sambil berkelakar. Aku dan Yumna sangat menikmati menu sarapan yang bisa jadi obat untuk melepas rindu pada kampung halaman.
"Coba ada Ilham di sini, makin senang ibu. Sarapan di temani anak, menantu dan cucu." kata ibu. Sejak mas Ilham menikah dengan mbak Ayu, putranya itu memang jarang ke rumah ibu, apalagi menginap sebab mbak Ayu selalu berusaha menghalang-halangi. Makanya, ibu senang sekali saat kelima cucunya di titipkan pada beliau ketika mbak Ayu dan mas Ilham ke kampungku untuk acara lamaran dan pernikahan.
"Semoga setelah ini mas Ilham, mbak Ayu dan anak-anak akan sering ke sini ya Bu." kataku.
"Ahhh, itu tidak mungkin. Kamu tahu kan bagaimana manipulatifnya Ayu. Ia tak akan mungkin membiarkan Ilham ke rumah ibu. Ia akan melakukan segala cara. Bahkan nekat mengakhiri hidupnya pun ia tak takut asal Ilham mengikuti maunya. Benar-benar sakit dia itu."
__ADS_1
"Bu, sebenarnya maksud saya ke sini juga mau minta tolong sesuatu dan ibu."
"Kamu mau minta tolong apa, Mil? Katakanlah, ibu dengan senang hati akan menolong kamu. Kamu itu sudah ibu anggap seperti putri kandung sendiri, jadi jangan sungkan-sungkan pada ibu ya. Mintalah apapun yang kamu mau, kalau ibu sanggup pasti akan ibu kabulkan."
"Saya ingin ibu menemui mbak Ayu. Berbaikanlah dengannya. Bantu ia untuk sembuh atau setidaknya menjadi lebih baik menghadapi penyakitnya."
"Kamu nggak lagi bercanda, kan Mil?"
"Enggak Bu. Saya serius. Saat ini, saya dan mas Ilham sepakat untuk memperbaiki semuanya. Kami ingin mbak Ayu bisa melewati semuanya dan sembuh dari sakitnya. Mbak Ayu berhak untuk bahagia, ia melakukan hal-hal yang menurut kita salah karena posisinya tertekan. Masalah di hidupnya sudah sangat banyak dan selama ini ia menghadapinya sendiri. Saya ingin, kita semua, sebagai anggota keluarganya membantu mbak Ayu. Merangkulnya kembali agar ia tahu bahwa sebenarnya masih banyak yang menyayanginya. Saya sudah meminta bantuan mas Ilham, Bu Sila dan anak-anak. Mereka semua setuju untuk memulai kembali semuanya dari awal. Sekarang tinggal ibu. Maukah ibu ikut membantu?"
"Tapi kenapa harus ibu?"
"Ibu kan mertuanya mbak Ayu juga. Lagipula ibu merasa kan selama ini hubungan ibu dan mbak Ayu tidak baik. Jadi sekarang waktunya kita perbaiki semuanya. Bagaimana Bu?"
"Setidaknya demi mas Ilham dan anak-anak, Bu. Cucu-cucu ibu memerlukan ibu yang sehat jasmani dan rohaninya. Kasihan anak-anak, saat ini sudah terkena dampaknya. Mungkin kita orang dewasa bisa mengatasinya, tapi bagaimana dengan anak-anak? Mereka masih terlalu kecil untuk menghadapi semuanya."
Aku terus membujuk ibu. Mengupayakan agar ibu menyetujui permintaan ku. Kalau ibu tidak ikut membantu, maka rasanya masih kurang karena ibu juga salah satu orang yang dibenci mbak Ayu padahal seharusnya mereka menjalin hubungan yang dekat.
"Baiklah baiklah. Ibu coba. Ibu akan bersikap baik padanya. Tapi hanya sekali, Mil. Kalau Ayu tak menunjukkan sikap yang baik atau membuat ibu jengkel maka ibu tak akan mau lagi mencobanya. Lagi pula ibu melakukan semuanya karena kamu!"
"Benarkah Bu? Alhamdulillah. Saya benar-benar senang mendengarnya. Jadi, jam berapa ibu akan menemui mbak Ayu?"
__ADS_1
"Apa? Jadi ibu harus pergi sekarang juga?"
"Lebih cepat lebih baik, Bu."
"Tapi tidak sepagi ini juga kan Mil?"
"Bu, tolonglah."
"Ya sudah, tapi nanti kamu tetap temani ibu supaya kalau dia bersikap sinis atau menyebalkan maka kamu bisa jadi saksi dan kamu tak boleh lagi meminta ibu untuk dekat dengan Ayu."
"Ibu ... sayangnya saya ngga akan ke sana."
"Lho, maksud kamu Mil?"
"Kan saya sudah malam ini akan menginap di sini. Makanya saya enggak akan kembali ke sana dulu."
"Mila!"
"Bu, saya melakukan semuanya demi kebaikan kita bersama. Saat ini biar saya menghilang dulu dari kehidupan mbak Ayu agar ia bisa merasakan kalau orang-orang di sekitarnya, yaitu keluarganya, begitu menyayanginya. Saya adalah saingan mbak Ayu. Kalau saya berada di sekitarnya, maka ia akan resah dan sulit merasakan ketulusan kita semua. Jadi izinkan saya untuk menjauh sejenak, bersembunyi di rumah ibu. Boleh kan Bu?"
"Lalu kapan kamu akan kembali ke sana?"
__ADS_1
"Kalau keadaan mbak Ayu sudah membaik, Bu "
"Ya Allah ... kamu berkorban terlalu banyak Mil. Saya benar-benar beruntung punya menantu yang hatinya sangat baik seperti kamu."