
"Bu Mila sabar, ya." mbok Asih mengusap pelan pundakku. Sementara aku masih hanyut dalam kekhawatiran hingga tanpa sadar air mata menetes. Jujur aku bingung harus melakukan apa. Berada di tempat yang nyaris semua orang memusuhiku, kecuali mas Ilham dan mbok Asih.
Pelan, aku menyeka air mata. Berusaha menenangkan diri, InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Aku akan mengakui kesalahanku pada mas Ilham dan meminta maaf pada Hana meski mungkin akan sulit baginya untuk memberiku maaf.
"Mbok, kenapa buburnya dibawa lagi?' aku melirik mangkok bubur yang kini berada di atas meja tak jauh di hadapanku. "Bukannya itu untuk mbak Ayu?"
"Eh iya Bu. Saya malah lupa mengatakan kalau tadi Bu Ayu berpesan minta Bu Mila yang mengantarkan buburnya ke kamar."
"Hah, saya? Memang kenapa harus saya mbok?"
"Entahlah, Bu. Saya juga bingung. Saya cuma menyampaikan pesan."
"Ya sudah, saya antarkan sekarang." kataku, sebab tak ingin mendapatkan masalah baru. Sebelum pergi, aku kembali menghapus sisa air mata, memastikan tak ada jejak yang tertinggal agar tak memancing rasa ingin tahu mbak Ayu.
Tok tok tok. Aku mengetuk pelan pintu kamar mbak Ayu. Tak lama terdengar suaranya menyuruhku masuk.
Kamar berukuran sangat besar, tiga kali lebih besar dari kamar yang ku tempati sekarang itu kini terbuka lebar. Ini untuk pertama kalinya aku melihat langsung isi dalamnya. Di depan ada jendela besar dengan tirai berwarna putih dihiasi jumbai keemasan. Di tengah ruangan, ada kasur ukuran besar, dengan bed cover berwarna senada putih gold. Di sampingnya, ada meja rias dengan kaca besar. Banyak makeup tertata rapi di sana.
Sementara di dinding, ada dua lemari besar, tak jauh dari sana ada box bayi yang pastinya tempat tidur Ibed. Persis di hadapan tempat tidur as sofa besar berwarna putih menghadap ke arah televisi dengan layar sangat lebar. Benar-benar kamar mewah yang sangat sempurna.
"Kenapa, suka dengan kamar ini? Suka sih boleh-boleh saja. Itu tandanya selera kamu tinggi. Tapi kamu juga harus tahu diri, Mil. Kamu itu asalnya dari mana? Kamu bukan siapa-siapa. Jangan sampai lupa diri ya. Jangan bermimpi terlalu tinggi!" tegas mbak Ayu yang tengah duduk di atas tempat tidur bersama Ibed yang sudah terlelap tak jauh darinya.
"Enggak sih mbak. Kamar seperti ini bukan selera saya," kataku, sambil tertawa kecil. Aku sadar diri, kok. Aku juga tak akan betah tinggal di kamar seluas ini sendirian. Lagipula repot juga membereskannya. "Ini mbak, saya mau nganterin bubur untuk mbak Ayu. Dimakan ya." kataku, setanah mungkin, sambil meletakkan bubur di atas meja yang berada di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Pergilah dari kehidupan kami, Mil!" tegas mbak Ayu.
"Kenapa mbak? Bukankah mbak yang mengajak saya ke sini?"
"Tapi sekarang saya sudah tidak butuh kamu."
"Lagipula saya sudah menikah dengan mas Ilham. Menyuruh saya pergi tak akan semudah itu. Mas Ilham harus menceraikan saya dulu agar saya bisa pulang."
"Kamu bisa menggugatnya. Itu akan lebih mudah."
"Astagfirullah, pernikahan tidak untuk dipermainkan seperti itu, mbak. Lagipula kenapa mbak harus membawa saya dalam rumah tangga mbak kalau akhirnya harus seperti ini!"
"Mila ... saya tidak nyaman dengan kamu. Saya tidak suka perempuan yang lancang dan terlalu berani. Kamu nggak nurut apa yang aku katakan!"
"Bagian mana, mbak?"
"Astagfirullah, nggak pernah saya berpikir seperti itu, mbak!"
"Kamu bisa saja terus mengelak, tapi kenyataannya berkata lain. Kamu juga sengaja tidak membawa putri kamu ikut serta agar bisa bebas menggoda suamiku."
"Ya Allah ... nggak seperti itu, mbak. Kalau mbak tahu bagaimana tersiksanya saya jauh dari Yumna. Saya juga ingin tinggal bersama dengannya. Makanya sekarang saya ingin menerima tawaran ibu agar bisa membawa Yumna ikut serta bersama saya. Sungguh mbak. Lagipula bisa kah mbak menyadari bahwa sekarang mas Ilham bukan hanya jadi suami mbak, tapi juga suami saya dan itu semua atas perjodohan yang mbak Atut. Mbak ikut punya andil atas pernikahan kami. Tapi kenapa sekarang bersikap sebaliknya?"
"Kamu pergi dari hidupku, Mil. Pergi! Kamu itu ular berbisa! Kamu ingin menghancurkan pernikahanku, kan? Kamu ingin merebut suamiku?" tuduhan-tuduhan itu kembali dilontarkan oleh mbak Ayu, ia yang semula masih bisa menahan diri kembali histeris. Tentu saja teriakannya membuat gaduh seisi rumah yang sebenarnya sangat besar. Ibed yang semula tidur pun ikut terbangun. Balita dua tahun itupun kembali menangis histeris. "Aaaaaaaa ...." Mbak Ayu benar-benar histeris. Sikapnya tentu saja membuatku kebingungan.
__ADS_1
"Ya Allah mbak, mbak itu kenapa sih mbak? Kalau saya ada salah, kita bicara baik-baik. Bukankah semuanya dimulai dengan baik-baik. Kenapa harus jadi begini, mbak?" aku berusaha memegangi mbak Ayu yang sudah tak bisa mengendalikan emosinya.
Mbak Ayu tak hanya berteriak-teriak. Ia mencoba membenturkan kepalanya ke tiang tempat tidur berulang kali.
"Umi ...." Iqbal dan adik-adiknya ikut masuk ke kamar saat melihat ibunya berteriak-teriak. Tak lama mbok Asih pun ikut datang.
"Mbok, bagaimana ini?" tanyaku.
"Ibu kenapa, Bu Mila?" tanya mbok Asih.
"Tadi marah-marah lagi, terus histeris hingga begini." kataku
"Kamu apakan umi?" Iqbal mendorongku agar segera menjauh dari ibunya.
"Kamu pasti menyakiti Umi kami, kan? Dasar jahat ... jahat ... jahat kamu!" Hana tak bisa menahan diri untuk tak kembali menyerangku dengan pukulan-pukulan kecilnya.
Kehebohan terjadi beberapa saat di kamar mbak Ayu hingga akhirnya ia jatuh pingsan ke lantai. Anak-anaknya semakin histeris. Aku sendiri ikut terbawa emosi karena terus diserang oleh mereka dengan tuduhan-tuduhan yang tak benar.
"Diam!" akhirnya aku ikut berteriak. Tak sanggup bicara pelan sebab tak ada yang mau mendengarkan. "Kalau kalian semua berisik, saya akan adukan semua pada Abi kalian supaya kalian mendapatkan hukuman!" kataku, tegas.
Anak-anak itu sepertinya takut dengan ancaman yang kuberikan. Mereka diam. Meski Hana dan Sabrina menangis memegangi ibunya.
"Mbok, tolong panggil Farid untuk membantu saya membawa mbak Ayu ke rumah sakit. Mbok Asih tolong jaga anak-anak. Saya akan menghubungi mas Ilham juga agar menyusul kami ke rumah sakit." Kataku.
__ADS_1
Kami bertindak cepat. Membawa mbak Ayu ke rumah sakit yang biasa ia kunjungi jika kondisinya kambuh. Sebenarnya anak-anak mbak Ayu memaksa untuk ikut, terutama Iqbal dan Hana. Tapi aku berhasil menolak permintaan mereka. Tentu saja masih dengan ancaman.
Yang pergi hanya aku, mbak Ayu dan Farid. Membawa serta anak-anak yang masih berprasangka buruk padaku hanya akan menambah masalah. Aku tak yakin nanti tak akan ada perdebatan antara kami. Di perjalanan, tak lupa ku hubungi mas Ilham. Ia berjanji akan langsung kembali pulang meski butuh waktu sebab perjalanan dari Bogor ke Jakarta.