MENJADI ADIK MADU

MENJADI ADIK MADU
MALAM DAN SENDIRI


__ADS_3

Akhirnya acara pesta berakhir juga. Rasanya benar-benar lega saat para tamu satu-persatu pamit pulang hingga akhirnya tinggal kami yang tertinggal.


Mas Ilham dan anak-anak telah kembali ke kamar masing-masing, tertinggal aku, mbak Ayu dan mbok Asih yang masih merapikan sisa perkakas pesta usai orang-orang catering selaku penanggung jawab urusan makanan pulang.


"Aku ke kamar dulu, kalian tolong selesaikan semua ini ya!" pinta mbak Ayu, lalu beranjak naik menuju kamarnya.


"Bu Mila kalau mau istirahat, silakan. Biar mbok yang selesaikan semuanya." kata mbok Asih.


"Kita beresin sama-sama saja, Mbok."


"Bu Mila pasti lelah. Istirahatlah."


"Mbok juga pasti lelah. Kita istirahat bareng-bareng."


Mbok Asih tak bicara lagi, dengan gesit ia membereskan sisa pesta. Tepat pukul sepuluh malam akhirnya semua selesai. Aku dan mbok Asih langsung kembali ke kamar masing-masing. Hari ini cukup melelahkan, ada banyak agenda yang sudah dilakukan, rasanya badan ingin segera beristirahat. Tapi tidak jadi saat melirik layar Hp dan ada banyak panggilan tak terjawab dari kampung. Ada apakah gerangan?


Meski ini sudah malam, aku tetap menghubungi ayah, khawatir ada sesuatu yang penting. Ternyata Yumna yang menelepon. Ia ingin bicara denganku, untung saja aku kembali menghubungi sebab ternyata Yumna tidak mau tidur sebelum bicara denganku.


"Maafin Umi ya karena tadi telepon Yumna tidak Umi angkat." kataku.


"Memang Umi kemana? Na telepon berkali-kali enggak dijawab. Na kangen Umi." kata Yumna.

__ADS_1


"Umi juga, nak. Kangen banget sama putri saliha Umi. Tadi lagi ada acara, Umi nggak bawa Hp, makanya nggak tahu ada telepon dari Na. Setelah tahu langsung Umi telepon balik."


"Umi kapan jemput, Na?"


"InsyaAllah segera ya."


Usai berbincang dengan Yumna, aku beralih pada ibu yang masih menemani putriku. Meski sebenarnya Ibu masih kesal, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Apakah aku di sini baik-baik saja.


"Semua baik kok, Mi. Baik banget. Ini saja mbak Ayu mengadakan acara pesta walimahan yang dihadiri teman-teman Mbak Ayu dan Mas Ilham untuk memperkenalkan Mila pada mereka semua. Jadi ibu enggak perlu khawatir lagi. Secepatnya pun Mila akan jemput Yumna supaya kami bisa bersama kembali." kataku, menjelaskan.


"Tapi kamu yakin, Mil?" ibu masih tidak percaya.


"Apa yang Mila ceritakan sesuai dengan apa yang Mila rasakan."


"Oh itu, kalau mertuanya Mila, kami belum bertemu, Bu."


"Lho kenapa? Kayanya hari ini ada pesta syukuran pernikahan kamu, harusnya orang tua dan kerabatnya datang dong. Apa jangan-jangan ada yang disembunyikan, Mil?"


"Enggak Bu, ibu tenang saja. Semua baik-baik saja. Mungkin ibunya mas Ilham masih sibuk."


"Sibuk bagaimana? Kalian kan satu kota. Kamu sudah dua harian di sana, masa nggak ada inisiatif untuk ketemuan? Masa ibunya nggak ingin tahu bagaimana menantu keduanya? Atau jangan-jangan memang dia tidak setuju?"

__ADS_1


"Astagfirullah, Mila enggak tahu Bu. Enggak berani menyimpulkan apapun juga sebab Mila belum tahu tentang ibunya mas Ilham."


"Kamu itu seperti membeli kucing dalam karung, Mil. Harusnya dari awal semuanya dicari tahu dulu. Yang namanya pernikahan, nggak hanya antara kamu dan Ilham saja. Tapi keluarganya juga kamu harus tahu. Lagian seperti orang yang belum pernah nikah saja. Kalau sudah sejauh ini, taunya ibunya nggak suka sama kamu bagaimana?"


"Semoga saja hal-hal buruk yang ibu khawatirkan tidak terjadi ya Bu. Ibu doakan Mila terus ya." pintaku.


Sejak awal rencana pernikahan keduaku ini, ibu memang memperlihatkan sikap yang berbeda dibandingkan saya aku hendak menikah dengan bang Hasan dahulu. Sekarang ibu terlihat lebih menentang dan menampakkan secara terang-terangan ketidak sukaannya. Sementara saat aku bersama bang Hasan, ibu adalah orang yang paling mensupport, bahkan meski keadaan perekonomian keluarga kecil kami pas-pasan.


Usai berbincang dengan ibu, aku jadi kepikiran apa yang dikatakan oleh perempuan yang sudah melahirkan aku. Benar juga, sudah dua hari di Jakarta, kenapa mbak Ayu ataupun mas Ilham tak mengajakku menemui ibunya? Bukankah awal datang, mbak Ayu menitipkan anak-anak pada mertuanya? Berarti harusnya ibunya juga tahu kalau aku sudah berada di Jakarta. Atau jangan-jangan apa yang diprediksi ibu benar, ibunya mas Ilham tidak menyukaiku? Tidak menginginkan pernikahan antara aku dan putranya. Buktinya malam ini pun ia tak datang.


"Duh, kenapa jadi berpikiran jelek lagi. Astagfirullah ... Astagfirullah ... Astagfirullah. Jangan berprasangka buruk terus Mila!" aku mengingatkan diri sendiri agar hati-hati dengan prasangka. Jangan sampai apa yang kulakukan pada mbak Ayu, sempat berpikiran buruk tapi ternyata ia baik, terulang pula pada ibu mertuaku.


Sekuat apapun aku berusaha menepis berbagai prasangka yang muncul, entah kenapa perasaan aneh dan merasa ada yang tidak wajar pada pernikahan kedua ini tetap saja muncul. Aku dan mas Ilham kan sudah menikah, sudah sah di hadapan Allah, tapi kenapa sampai sekarang ia tak pernah mendatangi ku? Kenapa ia bersikap seolah-olah aku ini tak ada. Selalu saja menghadap pada mbak Ayu. Meskipun aku tak berharap apapun darinya, tapi ini agak janggal bagiku. Setidaknya ia berbicara, bukan bersikap seolah-olah aku tak ada.


Malam ini rasanya begitu panjang. Bodohnya, usai acara syukuran pernikahan tadi, aku malah menantikan mas Ilham di kamar ini. Perasaanku seperti sedang digantung, bimbang dan benak ini dipenuhi banyak tanda tanya.


Apakah ia benar-benar sedingin itu? Tapi kan mas Ilham tahu agama, harusnya ia tahu apa yang harus dilakukan saat memutuskan untuk menikah lagi meskipun tawaran menikah kembali itu berasal dari mbak Ayu.


Lagipula, mbak Ayu juga tak seharusnya menahan mas Ilham untuk terus bersamanya. Kalau ia belum siap berbagi suami, setidaknya ia berbicara padaku. Tidak mengabaikan seolah-olah aku ini tak ada dalam kehidupan rumah tangga mereka, padahal merekalah yang menghadirkan aku dalam kisah mereka.


"Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini, Mila? Bukankah agar mas Ilham memberi santunan untuk keluarga kamu agar ayah tak perlu lagi bekerja banting tulang?" pertanyaan itu aku hadirkan. Jujur saja, malam ini, saat sendiri, dua sisi di hatiku saling berdebat. Satu sisi berharap pernikahan yang aku jalani ini sesuai dengan pernikahan yang seharusnya meski sebenarnya beluyada rasa cinta untuk mas Ilham. Tapi namanya pernikahan, seorang istri harus taat dan meyanai suaminya.

__ADS_1


Sementa sisi yang lain bersikap cuek. Kalau memang mas Ilham menginginkan aku, ia akan datang sendiri. Kalau tidak ya sudah. Yang terpenting ia menepati janjinya untuk keluargaku saja.


__ADS_2