
Hari ketujuh di rumah besar itu. Ditambah satu hari, selama itu pula aku menjadi istri dari mas Ilham. Tapi tak pernah ada kata apalagi kunjungan darinya. Aku benar-benar seperti orang asing, atau lebih tepatnya orang yang ditugasi membantu mengurus urusan rumah tangga bersama mbok Asih.
Aneh sekali rasanya. Meski belum ada cinta di hati untuk mas Ilham, bagaimana mau muncul cinta jika sikapnya cuek seperti itu, tapi aku juga butuh kepastian. Sebab ini berkaitan dengan putriku kelak. Kalau posisiku belum jelas, bagaimana aku bisa membawa Yumna ke sini sementara rindu sudah semakin menumpuk. Yumna pun sudah beberapa kali bertanya, bahkan mulai merengek minta dijemput.
Selama itu aku terus berdoa agar diperjelas semuanya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku.
Entah ini kebetulan atau memang cara Allah menjawab doa-doaku, tiba-tiba sore ini, aku kembali dipanggil untuk menemui seseorang. Ialah ibunya mas Ilham, ibu mertua yang belum pernah kuketahui sebelumnya.
"Mila?" tanya perempuan berusia enam puluhan tahun itu. Meski sudah berumur namun terlihat masih muda dengan abaya berwarna hijau tua. Ia mendekati, melihatku lekat, lalu menarikku dalam pelukannya. "Kamu adalah menantuku juga." ucapnya.
"Iya Bu," aku menjawab salamnya. Rasanya tenang ketika beliau menyebutku sebagai menantinya. Aku menganggap ia menerimaku dalam rumah tangga putranya.
Perempuan itu, menceritakan mengapa baru datang sekarang. Ia butuh waktu untuk menerima semua keputusan anak dan menantunya. Meski mereka adalah keluarga yang paham agama, tapi menjalani kehidupan poligami bukanlah hal yang biasa dalam keluarga besar. Ini pertama kalinya, jadi semua masih kaget dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Memang, saya ini syariat poligami menjadi asing bagi kaum muslimin.
"Kamu jangan berpikiran macam-macam, apalagi menganggap ibu tak peduli denganmu sebab baru datang sekarang. Sejujurnya ibu butuh waktu untuk menerima menantu baru. Kamu mungkin sudah tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Ilham dan Ayu, mereka selama ini baik-baik saja, sudah punya anak-anak juga. Keputusan poligami menurut ibu adalah sesuatu hal yang tidak urgent, tanpa mereka lakukan pun sebenarnya rumah tangga mereka tetap bisa baik-baik saja. Ahhh, sudahlah, ibu tak tahu lagi harus bicara apa. Yang jelas ibu cuma mau mengatakan, inilah keluarga besar Ilham, ibu sebagai mertua ingin mengucapkan selamat datang padamu, Mil. Kamu baik-baik ya, bersabar menjalani semuanya." kata beliau.
"Terimakasih juga ibu sudah menerima saya." aku menjawab kehangatan yang ia curahkan.
"Setelah menikah, kalian sudah kemana saja?" pertanyaan yang hampir sama seperti yang ditanyakan Bu Sila.
"Kami makan siang bersama di sebuah resto, bersama anak-anak juga."
"Oh begitu." perbincangan berlanjut. Tak berapa lama, saat mas Ilham pulang, ibu memanggil putra dan menantu pertamanya. "Ilham, Ayu, Mila ... maafkan kalau ibu baru bisa datang sekarang. Seperti yang pernah ibu katakan sebelumnya pada Ilham dan Ayu bahwa ibu tak akan menentang apapun yang telah kalian putuskan, termasuk ketika akan menjalani poligami. Sebagai bentuk bahwa ibu mendukung kalian, ibu akan memberikan hadiah pernikahan yang sama untuk Ilham dan Mila."
__ADS_1
"Maksudnya ibu?" tanya mbak Ayu, sambil menatap ibu.
"Yu, dahulu ketika kamu menjadi pengantin Ilham, ibu memberikan dua hadiah untukmu. Ibu juga akan berikan hadiah yang sama pada Mila." kata ibu mertua sembari mengeluarkan sebuah bingkisan untukku. "Bukalah Mil!"
"Tapi kenapa Bu?" tanya mbak Mila lagi.
"Bukankah kamu yang mengatakan agar tak membedakan istri-istri mas Ilham? Ibu akan menuruti semuanya, Yu." ibu beralih padaku. "Bagaimana, apa kamu suka, Mil?"
Sebuah kotak perhiasan berwarna merah. Begitu kubuka, isinya cincin berlian. Aku begitu terpukau saat benda mungil yang pastinya bernilai mahal itu berkilau. Benar kata ibu mertua, hadiah ini sama seperti yang ia berikan pada mbak Mila.
"Suka nggak Mil?" Tanya ibu mertua lagi.
"Su ... Suka Bu. Tapi kan ini harganya pasti mahal." aku masih belum percaya, ketika akhirnya cincin itu disematkan ibu di hari manisku.
"Tidak lebih mahal dari seorang menantu." ungkap ibu. "Oh ya, satu lagi. Ibu sudah siapkan hadiah kedua untuk kamu dan Ilham. Nanti malam, kalian bisa melakukan perjalanan ke puncak. Ibu sudah memesan hotel terbaik di sana. Ini sebagai hadiah pernikahan, sekaligus untuk bulan madu. Kamu dan Ilham belum melaksanakan bulan madu, kan?" tanya ibu lagi.
"Kenapa, Yu?" tanya ibu.
"Mas Ilham sedang banyak pekerjaan, aku rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan perjalanan. Ia sedang mencalonkan menjadi ketua yayasan. Bukan begitu, mas?" tanya mbak Ayu.
"Kamu tenang saja Yu. Ibu sudah komunikasikan dengan Tante kamu. Bu Sila sudah setuju. Mereka tak keberatan jika Ilham dan Mila berbulan wadu sepekanan." jelas ibu.
"Sepekan? Lama sekali!" mbak Ayu menggelengkan kepalanya. Ia tak terima dengan rencana bukan madu itu. "Mas nggak bisa kan, Mas?" mbak Ayu beralih ke mas Ilham.
__ADS_1
"Semua sudah diputuskan. Nanti malam Ilham dan Mila akan melakukan perjalanan. Selama itu, ibu akan menemani Ayu dan anak-anak di sini." tegas ibu. Tak ada yang bisa menyangkal. Meski terlihat benar kalau mbak Ayu keberatan. "Mil, sekarang kamu beberes, supaya ba'da Maghrib bisa langsung melakukan perjalanan." perintah ibu.
***
Tok tok tok. Pintu kamar diketuk. Belum sempat bangkit untuk membukakan, tiba-tiba sadelnya sudah terbuka. Mbak Ayu masuk. Ia segera mendekat ke arahku.
"Kamu pasti senang sekali dengan apa yang sudah diberikan ibu. Iya, kan?" tanya mbak Ayu.
"Alhamdulillah mbak. Saya benar-benar nggak nyangka dengan respon ibu." jawabku jujur.
"Hihh, benar-benar kamu ya Mil. Jangan kesenangan dulu, apalagi sampai besar kepala. Walau bagaimanapun juga kamu hanyalah istri kedua. Kamu tak akan bisa melebihi aku!" tegas mbak Ayu.
Sesaat aku diam, mencerna kata-kata mbak Ayu barusan. Ada apa dengannya? Kenapa malah membicarakan tentang persaingan? Aku tahu kalau aku adalah istri kedua dan aku akan tetap menempatkan diri sebagai istri kedua.
Apakah mbak Ayu cemburu? Sepertinya iya, makanya kuputuskan untuk bersikap hati-hati agar tak melukainya sebagai kakak maduku.
"Ingat, jangan macam-macam Mil!" tegas mbak Ayu lagi.
Apa yang harus dimacam-macamkan? Lagi-lagi aku hanya bisa menggelengkan kepala. "Saya akan tetap mengikuti apa yang mbak Ayu arahkan. Saya nggak akan melangkahi mbak kok. InsyaAllah." Kataku.
"Tapi kamu sudah melakukannya!" mbak Ayu menatapku tajam.
"Melakukan apa sih, mbak?"
__ADS_1
Tiba-tiba amarah mbak Ayu meledak. Sehingga membuatku makin tak paham. Apa ia marah karena aku menerima hadiah yang sama seperti yang diberikan ibu padanya? Atau ia merasa tersaingi, merasa tak seharusnya aku mendapatkan semua itu sebab kedudukanku adalah yang kedua.
Ada banyak hal yang membuatku bingung terhadap sikap mbak Ayu. Sangat sulit untuk memahaminya. Memang benar, pasti tak mudah menerima seorang madu dalam pernikahan kita. Tapi jika ia benar-benar tak sanggup, kenapa harus mengizinkan suaminya menikah lagi. Bahkan memilihkan sendiri calon istrinya.